
"Cemburu? Apa itu ... cemburu?"
Wajah polos itu membuat Chendrik mengerang frustasi. Satu tangannya mengepal dan melayangkan pukulan pada dinding dapur. Zena tersentak, ia memejamkan mata terkejut dengan kemarahan laki-laki di depannya.
Berikutnya, Chendrik mendesah. Ia menurunkan emosi dan menempelkan dahi mereka, Zena membeliak terkejut.
"Kenapa wajahmu menempel di wajahku? Aku dapat mencium bau napasmu, menjauh!" Zena mendorong dada Chendrik hingga meninggalkan jarak beberapa senti.
Pandangan Chendrik nampak sendu, sang renjana telah pun meraja dalam jiwa. Berharap terbalas dengan sempurna. Nyatanya, asmara masih bertepuk sebelah tangan.
Zena memandang wajah lain dari sosok pemimpin markas sambil meneguk saliva. Pandangan Chendrik yang sayu dan penuh gejolak mengganggu pikiran Zena.
"Kau menakutiku!" lirih Zena dengan bibir yang gemetar halus.
Sekonyong-konyong, tangan Chendrik menarik tubuhnya merapat hingga tak menyisakan jarak antara mereka. Sigap kedua tangan Zena menahan bahu Chendrik untuk tidak semakin dekat. Kedua matanya membelalak dengan belah bibir yang terbuka.
Laki-laki itu menjatuhkan kepala di bahu Zena, menyesap nakal kulit pundaknya meninggalkan bekas kemerahan di sana. Zena menggigit bibir merasakan sensasi lain yang tak pernah ia rasakan.
"Kau ingin tahu seperti apa cemburu itu?" Zena meneguk saliva saat suara parau Chendrik menggugah rasa dalam jiwanya.
Pemimpin markas itu semakin lancang, ia mengendus leher Zena membuat tubuhnya meremang seketika.
"Itu sama seperti kau melihat Cheo yang lebih dekat denganku daripada dirimu," lanjutnya lagi dengan napas hangat menerpa permukaan kulit Zena. Jantung gadis itu berdebar tak karuan, memukul rongga dada meninggalkan sesak di dalam sana. Zena menahan napas untuk beberapa saat sambil menggigit kuat bibir bawahnya.
Tanpa mereka sadari, Cheo menonton sambil tersenyum tanpa berniat mengganggu. Ia tak sengaja melintasi dapur dan mendapati pemandangan asing di dalam sana.
"Jangan ada yang mendekati dapur dan tutup mata kalian!" titahnya pada pekerja di mansion Chendrik.
"Baik, Master Kecil!" Cheo melengos pergi, berharap Zena akan menjadi Ibu pengganti untuknya untuk selamanya.
Kelopak mata Zena kembali terpejam, bibirnya tanpa sadar berdesis lirih disaat Chendrik memberikan gigitan kecil pada daun telinganya. Rasa hangat menjalar meninggalkan semu merah di pipi hingga daun telinga. Peluh pun terasa rembes di belakang tubuhnya.
Sadar apa yang dilakukan Chendrik mengganggu, ia mendorong kuat-kuat tubuh laki-laki itu hingga sedikit menjauhinya.
"Apa yang kau lakukan? Kau membuat tubuhku merasa aneh," bentak Zena dengan tatapan nyalang.
"Bukankah kau ingin tahu apa itu cemburu? Apa yang kau rasakan disaat Cheo lebih memilih dekat denganku? Sedih? Marah? Itulah cemburu. Setelah kau merasakan cemburu, kau pastinya akan marah dan tidak suka sekaligus tidak terima, bukan?" ucap Chendrik masih menatap wajah yang memerah seperti kepiting rebus di hadapannya.
Zena mengernyit, berpikir dan mencerna apa yang baru saja dikatakan laki-laki di depannya itu.
"Sedih? Ya, aku akui memang sedih, tapi marah? Kurasa tidak. Kenapa aku harus marah melihat Cheo lebih dekat denganmu? Itu wajar saja, bukan? Karena kau adalah Ayahnya," timpal Zena.
Chendrik termangu tanpa kata, berbicara tentang asmara dengan gadis polos itu sungguh sangat menguras persediaan sabar dalam hatinya. Di medan tempur dialah pengendali, tapi dalam urusan perasaaan dia nol besar.
"Eh, jangan meledak! Ekhem-ekhem ... tenggorokanku kering, biarkan aku minum terlebih dahulu," sergah Zena melihat Chendrik yang membuka mulut geram, wajahnya menghitam dan ada kepulan asap menyembul di antara helai rambutnya.
Gadis itu melangkah, sengaja menyenggol bahu Chendrik supaya menyingkir dari jalannya. Terus berlanjut menuju lemari es mengambil sebotol minuman segar dari dalam sana, lantas meneguknya hingga tandas. Ia bahkan sedikit membantingnya saat meletakkan botol tersebut di atas meja. Chendrik melipat bibir menahan geram dalam hati.
"Bersabar, Chendrik! Bersabar!" ucap Chendrik sembari mengelus dada menenangkan jantungnya yang berdegup. Ia berbalik, menatap punggung sang pujaan yang menjauh dan terus hilang dibalik sebuah pintu.
"Disaat semua wanita menginginkan dekat denganku bahkan mereka rela naik ke atas ranjangku, tapi kau ... sepolos itukah dirimu, Zena? Atau hanya berpura-pura saja untuk menutupi perasaanmu?" Ia tersenyum penuh cinta.
Berbunga hatinya karena dapat bersentuhan secara langsung dengan kulit lembut gadis itu. Ia mengusap bibirnya, sebelum berbalik meninggalkan dapur. Sejenak lupa pada masalah yang menjadi kemelut di dalam markas dan tak kunjung menemukan titik terang.
Zena berlari masuk dan menutup pintu dengan kasar, ia memegangi dada bagian kiri yang tak henti berdegup. Menekannya agar tak berlanjut menyakiti rongga dada. Sesak! Itulah yang ia rasakan hingga harus menarik napas pendek-pendek untuk mengurainya.
Zena melanjutkan langkah, melempar tas sekolah dengan asal dan gegas masuk kamar mandi.
"Astaga! CHENDRIIIIKKKK!" Zena memekik kuat disaat melihat tanda merah di salah satu bagian pundaknya.
"Awas saja kau, sialan!"
"Ah, bagaimana cara menghilangkannya? Chendrik sialan! Apa ini bekas gigitan? Tapi tidak ada bekas gigi, ini bekas bibirnya. Sialan! Menjijikkan!" Zena terus menggerutu sambil mengusap-usap bekas tersebut dengan sabun beberapa kali, tapi tak kunjung enyah dari kulit putihnya.
Tanda itu nampak kontras dan jelas terlihat. Kesal, Zena menceburkan diri ke dalam bak berisi air hangat guna membuat tubuhnya rileks. Menikmati setiap aliran air yang menyentuh kulit lembutnya.
Lama terpejam, ia membuka mata tiba-tiba disaat teringat macan putih dan William.
"Laila! Aku harus menemuinya dan bertanya tentang macan putih itu padanya," gumamnya seraya menyudahi acara mandi dan membersihkan tubuhnya dengan segera.
"Tidur sejenak sebelum kutarik urat saat melakukan interogasi kepada Laila." Ia membanting diri di atas kasur membentang kedua tangan lebar-lebar.
Tubuh yang lelah terus membawanya ke alam impian tanpa perlu waktu lama.
Malam pun datang membawa kegelapan yang menyelimuti dunia. Zena sudah bersiap pergi ke markas guna melakukan interogasi pada gadis tawanan itu. Ia tak ingin menundanya, semoga gadis itu mau bekerjasama karena dia hanya sendirian di sini.
Zena yang tak mengenakan seragam pergi meninggalkan kamarnya. Ia bahkan melewatkan makan malam karena enggan bertemu muka dengan Chendrik. Hanya mengenakan piyama dan rambut panjang yang dibiarkan tergerai, ia menaiki motornya menuju markas.
Chendrik yang sejak tadi menunggunya mengernyit, gegas ia turun dan mengeluarkan motor miliknya membuntuti ke mana Zena pergi.
"Mau ke mana gadis nakal itu? Malam-malam begini hanya mengenakan piyama saja. Apa dia sadar penampilannya itu mengundang para penjahat untuk mengganggunya," gerutu Chendrik sambil berdecak kesal.
Ia mengernyit saat motor Zena berbelok ke jalan markas.
"Untuk apa dia ke markas malam-malam begini? Apa ada hal penting yang mengganggu?" ia kembali bergumam sambil terus membuntuti Zena masuk ke gerbang markas.
Gadis itu terus membawa dirinya ke ruang tahanan di mana Laila berada. Dikawal tiga orang prajurit yang menatap heran pada sosoknya yang selalu berpenampilan biasa itu. Chendrik mengekor dari belakang masih belum mengerti ke mana tujuan Zena.
"Buka! Aku ingin berbicara dengannya!" titah Zena pada dua orang penjaga di pintu masuk ruang tahanan. Zena melangkah, ketukan langkahnya mengusik Laila yang sedang duduk meringkuk di salah satu sudut ruangan.
"Hallo, Laila. Bagaimana kabarmu?"