
"Ben! Bagaimana bisa kau terluka? Apa kalian lengah?" pekik Sarah dikala dua sahabatnya itu telah berada di dalam ruangan.
Ben meringis, tak henti berdesis. Keringat bercucuran di wajahnya yang pucat pasi.
"Aku tidak tahu. Saat itu kami sedang menggiring mereka untuk sampai di sini, tapi tiba-tiba sebuah letusan terdengar dan peluru itu mengenai kakinya. Mereka datang bergerombol, aku meminta semua siswa untuk pergi lebih dulu karena jika tidak, mereka semua akan menangkap kami," ucap Mirah sembari membantu Ben duduk bersandar di dinding.
"Lalu, bagaimana?"
"Mereka mengejar kami, dengan terpaksa kami harus bersembunyi untuk menghindari mereka semua. Mereka mafia, Sarah. Mereka bersenjata, kami juga melihat master Chendrik dan yang lainya bahu membahu melawan semua mafia itu. Dan apa kalian tahu ... macan putih adalah satu kelompok kecil mafia," lanjut Mirah menatap serius pada mereka semua.
"Benarkah?" Ada yang tak percaya.
"Yah, aku melihatnya sendiri. Mereka mata-mata mafia yang ingin menguasai sekolah ini. Tidak, lebih tepatnya menginginkan kota ini," ucap Ben terputus-putus.
"Di mana teman kalian yang satunya?"
"Murid baru itu?"
Satu per satu mereka menanyakan keberadaan Zena. Ben, Mirah, dan Sarah saling menatap satu sama lain sebelum menggelengkan kepala.
"Kami tidak tahu di mana dia, sebelum penyerangan terjadi dia sudah menghilang. Kami dan markas Mata Elang sedang mencarinya." Sarah menjawab panik.
Pikiran buruk menghantui mereka, menambah rasa cemas di dalam hati.
"Mungkin dia juga sama seperti mereka. Seorang mata-mata, entah dari musuh ataukah dari Mata Elang. Kita tidak tahu, tapi kita harus waspada mulai saat ini," celetuk asal seorang siswa laki-laki.
"Dia teman kita, bukan termasuk musuh. Jika dia musuh, tak akan master Chendrik kelabakan mencarinya. Dia bertanya ke sana kemari hanya untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan Zena. Jangan berpikir yang macam-macam tentangnya," sambar Mirah sedikit emosi.
Dia bungkam diikuti yang lainnya turut terdiam tak berbicara. Semua siswa menunggu diselamatkan, tapi letusan senjata masih terdengar jelas menggeram di seluruh sudut sekolah.
Jerit ketakutan semakin histeris dari siswa perempuan dalam ruangan itu. Mereka saling berpelukan menguatkan satu sama lain.
"Tenang! Jika kalian menjerit terus seperti itu mereka akan mendengarnya. Diamlah, tenang! Jika kita diam mereka tidak akan menemukan kita," Mirah bersuara lantang untuk mendiamkan semua mulut wanita yang menjerit-jerit.
"Kalian ingin kita semua tertangkap sama seperti teman kita yang lainnya? Mereka dibawa entah ke mana, diapakan kita tidak tahu. Jadi, diamlah! Selama kita di sini dan bersama-sama tak akan terjadi sesuatu pada kita. Tenang! Setelah semua berakhir kita semua akan selamat," lanjutnya dengan nada lebih pelan.
Mereka juga panik, tapi sebisa mungkin menahan kepanikan agar semua orang yang bersamanya ikut tenang seperti mereka.
Sementara di luar, Chendrik dan Cheo bahu-membahu melawan para mafia. Tak sedikit dari prajurit Chendrik yang diturunkan ke medan tersebut untuk menekan para mafia yang menyegel sekolah. Mereka menyandera para guru yang tidak terlibat, mempersempit ruang gerak Chendrik.
Namun, tidak dengan Cheo. Tubuh kecilnya berlari gesit sambil mengayunkan nunchaku di tangan. Selain ikut mengurangi jumlah mafia yang menyerang, ia juga mencari tahu keberadaan Zena.
Berbekal apa saja yang bisa dijadikan senjata, Chendrik melawan satu kelompok mafia bersenjata tajam, terkepung, tapi pemimpin markas besar itu tetap tenang. Keadaan menegang disaat Chendrik hanya diam mematung. Padahal, matanya melirik sebuah potongan kaki meja yang bisa digunakan untuk senjata.
Chendrik menggerakkan kaki kanannya, kayu itu melayang sebelum tangannya sigap menangkap tepat disaat orang-orang yang mengepungnya bergerak menyerang. Chendrik mengayunkan kayu di tangan, memukul tangan-tangan yang memegang senjata tajam hingga terjatuh ke lantai.
Tak berhenti sampai di situ, Chendrik terus bergerak. Mengayunkan kayu di tangan menyerang, di lain kesempatan tangannya menyambar satu senjata yang tergolek di lantai. Mengayunkannya menebas para musuh yang memblokir jalannya.
Satu per satu tubuh itu berjatuhan di lantai, dengan kondisi yang berbeda. Dia harus cepat mengakhiri semuanya, jika tidak Cheo yang sendirian akan tertangkap.
Bocah nakal itu terus bergerak, sesekali akan menyembunyikan dirinya saat melewati area pertempuran. Ia berinisiatif membebaskan para guru yang disandera.
Ruang guru dijaga ketat empat orang bersenjata lengkap. Cheo memegangi dadanya yang berdegup. Ia pandangi nunchaku di tangan, tak sebanding dengan senjata yang mereka miliki.
"Kakak, di mana kau? Keadaan kacau begini, tapi Kakak justru menghilang," gumam Cheo sembari menyandarkan punggungnya pada dinding.
Anak Chendrik itu sedang bersembunyi di dekat ruang guru, tapi tak dapat melakukan apapun karena kalah senjata. Di saat itu, ia membuka mata. Dahi kecilnya mengernyit ketika bayangan hitam melintas di depannya.
"Apa itu tadi? Apakah itu ninja?" Mata Cheo membelalak. Ia semakin dalam menyembunyikan dirinya, ninja termasuk salah satu kelompok mafia yang bersembunyi dalam gelap.
Hanya saja, di kota Elang belum pernah ditemukan sosok ninja.
Tak lama banyak suara yang terdengar, ketika tiba-tiba sekelompok orang berlarian dengan panik dari lorong tersebut. Cheo memejamkan mata, tak berani membukanya. Dia menggigit bibirnya takut-takut, peperangan ini yang terbesar kedua setelah penyerangan mafia narkoba di pulau Liman beberapa tahun lalu.
"Gedung olahraga, kita hanya harus ke sana?"
"Yah, dia mengatakan semua siswa ada di sana. Satu-satunya tempat yang aman."
Kelompok tersebut terus bergerak, sekitar lima belas orang dewasa dan satu di antaranya berusia lanjut. Mereka terus bergerak, sesekali akan bersembunyi saat mendengar suara mencurigakan.
"Astaga! Bukankah itu semua siswa berprestasi? Apakah mereka ...?"
"Ya ampun, aku tidak menyangka mereka yang selama ini kita banggakan ternyata mafia."
Geleng-geleng kepala mereka saat melihat kelompok macan putih kebanggaan sekolah, terlibat pertempuran melawan markas besar Mata Elang.
Mereka kembali bergerak ketika keadaan sudah memungkinkan. Terus maju dan berbelok. Lalu, kembali sembunyi di bawah tangga.
"Ah, darah! Darah!" Seorang wanita di antara mereka memekik tanpa sadar melihat darah menggenang dan terinjak kakinya.
"Diam! Kau bisa membuat kita Ketahuan!" Yang lain menggeram kesal.
Srek!
Tiga senjata ditodongkan pada mereka, wajah-wajah itu mendongak terkejut. Sontak saja berubah pucat pasi, kaki gemetar ketakutan. Tubuh bergetar hebat. Guru wanita menangis, mereka kembali tertangkap.
"Keluar!"
Satu perintah dengan gerakan senjata, membuat kelima belas orang itu berhamburan keluar tanpa melawan. Mereka digiring dipaksa untuk terus berjalan.
Sementara semua siswa di dalam mulai tenang kembali. Berkat kegigihan Mirah dan Sarah mereka semua memiliki tekad yang sama untuk selamat dan bebas.
Tiba-tiba ....
Tok-tok-tok!
"Buka pintunya, cepat!"
Semua mata tertuju pada pintu, suara kepala sekolah dan guru yang lainnya terdengar dari luar.
"Cepat buka! Mereka guru kita!" seru seorang siswa laki-laki yang sigap berlari ke arah pintu.
"Tunggu! Bagaimana jika itu hanya pancingan? Kita tidak tahu siapa saja yang berdiri di luar gedung ini!" sergah Mirah dengan cepat menghentikan langkah murid tersebut.
"Anak-anak! Cepatlah, tolong kami. Buka pintunya!" Kali ini suara guru wanita yang terdengar sambil menangis.
"Mirah?"
"Aku hanya takut itu hanya umpan saja."
"Mereka guru kita, Mirah!"
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi, kita harus menolong mereka!"
Siswa laki-laki itu membuka pintunya, dan seketika saja guru mereka berhambur masuk diikuti sekelompok orang bersenjata lengkap.
"Tidak!"