
Hiruk pikuk para siswa yang antusias menyambut datangnya ujian olahraga, menjadikan suasana lapangan tampak ramai dan dipadati oleh siswa dari seluruh kelas di sekolah tersebut.
Kelas akhir yang melakukan ujian sudah berada di tempat yang telah disediakan, sedangkan siswa yang lain duduk berbaris di pinggir lapangan. Penguji didatangkan dari tempat-tempat tertentu dan pastinya orang-orang ahli selain tiga orang itu.
Chendrik, Sebastian, dan Laki-laki dari Black Shadow itu bertindak sebagai pelatih bukan penguji. Mereka berdiri memberi instruksi dan semangat untuk para peserta ujian.
Mereka menyimpan mutiara di paling akhir. Zena menjadi siswa penutup dalam ujian, dan kelompok macan putih menjadi pembukanya. Mereka ahli, dan juga dari kelas tertinggi di sekolah. Sudah sewajarnya mendapat urutan pertama.
"Mirah, apa kau tahu soal ini?" bisik Zena pada Mirah. Ia menatap meja penguji, memperhatikan wajah-wajah yang tak satupun dari mereka pernah ia lihat sebelumnya.
"Soal apa?" Mirah balas berbisik karena tidak mengerti apa yang dipertanyakan Zena.
"Kenapa bukan pelatih yang menguji kita? Kupikir saat ujian tiba, mereka juga yang akan menguji," jelas Zena masih berbisik.
"Oh, entahlah. Memang biasanya seperti ini setiap tahunnya, pelatih dan penguji berbeda. Mereka bertiga hanya melatih kita saja sebelum memasuki ujian." Mirah menjelaskan.
Zena menjauh setelah mengerti, memperhatikan jalannya ujian. Semua harus dilakukan secara sempurna, tak boleh tertinggal satu langkah pun.
Sejauh ini, menurut penilaian Zena kelompok macan putih itu yang memimpin dengan nilai nyaris sempurna. Itu bukanlah hal aneh karena semua siswa tahu siapa mereka dan bagaimana keahlian mereka dalam bidang olahraga.
"Mereka memang pantas membanggakan diri. Lihat saja nilai yang mereka dapatkan nyaris sempurna. Mulai dari olahraga kebugaran sampai berkuda sambil memanah," celetuk Zena menilai.
Mirah yang duduk di sampingnya mengangguk setuju, nama mereka belum disebut. Hanya menunggu giliran saja. Mata Zena berbinar saat melihat sosok Adhikari dan Canaya di antara penonton. Banyak orang tua siswa yang turut hadir termasuk orang tua ketiga temannya.
Zena melambaikan tangan ketika mereka melambai padanya.
"Mereka juga datang?" Mirah tersenyum senang.
"Ini kejutan, aku sendiri tidak tahu jika mereka akan datang untuk melihat. Pagi tadi, keduanya tidak mengatakan apapun soal acara ini," ucap Zena tak dapat menutupi rasa bahagia di hatinya.
Mirah ikut senang, dalam hati membuat rencana pertemuan orang tua setelah ujian selesai. Sekalian agar mereka saling mengenal satu sama lain, tapi siapa yang tidak mengenal dokter Adhikari? Semua penduduk di kota Elang ini mengenalnya meskipun tidak sering bertemu.
"Mirah!"
Nama Mirah disebut, gadis itu beranjak menatap Zena dengan gugup.
"Kau terlihat gugup sekali? Tenanglah, kawan. Kudoakan kau akan dengan mudah melewati semuanya," ucap Zena memberikan kepalan tangannya tanda semangat.
Mirah menarik napas dalam sebelum melangkah memasuki arena ujian. Meski nampak gugup, tapi ia cukup baik melakukannya.
Zena menatap sekitar, Sarah sudah berhasil melewati semuanya. Ia gagal dalam ujian berkuda sambil memanah, sedangkan Ben, mendapatkan nilai yang cukup bagus dalam bidang menembak.
Ia melambai saat keduanya menoleh. Di kejauhan, mereka memberi semangat karena hanya Zena teman mereka yang belum terpanggil bersama tiga orang peserta lainnya yang tergolong lemah.
"Sungguh sayang, kau berada di urutan paling belakang. Itu artinya, kau sama seperti mereka. Lemah dan tidak becus apa-apa," cibir para siswa perempuan yang menjadi fans fanatik macan putih.
Zena tak acuh, semuanya biasa saja. Ia bahkan tidak peduli akan ditempatkan di mana, semua itu bukanlah masalah yang penting dia bisa melewati semua ujian.
"Minum? Mungkin akan menghilangkan gugupmu." Sebuah tangan yang menggenggam sebotol jus muncul di depan wajahnya. Ia mendongak dan mendapati Sebastian membungkuk kemudian duduk di sampingnya.
Matanya melirik para gadis yang mencibirnya, tersenyum penuh kemenangan karena mendapat perhatian salah satu pelatih yang menjadi incaran hampir semua siswi perempuan.
"Terima kasih."
"Kau gugup?" Sebastian menoleh, pandang matanya penuh arti. Meski ia tahu Zena akan dapat melakukannya dengan baik, tapi tetap saja ingin bertanya sebagai bentuk perhatian.
"Tidak sama sekali. Aku sudah sering melakukannya bahkan saat usiaku lebih muda dari Cheo. Semua ujian itu sudah aku lewati," jawab Zena sejujurnya.
Binar mata Sebastian menyorot penuh kekaguman. Ia tak bertanya lagi, asik memandangi wajah cantik Zena yang nampak polos seperti remaja lainnya. Padahal, usianya di atas dua puluh tahun.
Dua pasang mata di kejauhan memancarkan api cemburu. Terutama manik coklat milik pemimpin markas itu, ia kalah cepat oleh adiknya sendiri.
"Alzena Izz!" Namanya disebut. Riuh rendah suara siswa yang pernah menyaksikan secara langsung aksi memukau Zena saat latihan menggaung keras. Sorak-sorai dan tepuk tangan menggema di seluruh penjuru. Para penguji nampak kebingungan, pasalnya yang mereka tahu adalah siswa yang mendapat giliran paling akhir adalah siswa yang paling lemah di antara yang lain.
"Aku pergi. Doakan aku, Master!" Sebastian mengangguk pasti. Tersenyum penuh arti. Ia ikut beranjak, berdiri sambil berpangku tangan di belakang. Matanya mengejek dua orang yang menggeram di kejauhan.
Zena melangkah ke hadapan para penguji, membungkuk memberi salam sebelum memperkenalkan diri.
"Alzena Izz, siswi kelas D." Ia kembali menegakkan tubuh.
Desas-desus terdengar bagai ribuan nyamuk yang mengganggu. Kebanyakan dari mereka mencibir, mengejek, dan mengatakan hal buruk tentang kelas D. Namun, semua itu tak membuat Zena lemah lantas putus asa dan mundur.
Ia mulai melakukan gerakan-gerakan kecil sebagai pemanasan. Sebelum berlari melintasi halang rintang di seluruh lapangan tersebut. Kaki jenjangnya mengayun cepat nyaris tak terlihat. Ia menapak pada sebuah jembatan, sebesar balok kayu yang harus dilalui tanpa terjatuh.
Disaat semua siswa melangkah dengan hati-hati, tidak begitu dengan Zena. Ia terus saja berlari tanpa takut terjatuh. Melompat tinggi menyambar sebuah tali dan berayun di atasnya. Melintasi kubangan lumpur di tanah.
Semua orang tertegun bahkan para penguji pun ikut terperangah dengan aksi Zena. Mereka-mereka yang mencibir, baik siswa maupun orangtua menahan napas menyaksikan betapa gesitnya peserta ujian terakhir itu.
"Zena! Aku padamu! Ugh ...." Ben berteriak sangat keras hingga menyadarkan semua orang dari lamunannya. Termasuk macan putih dan pelatih dari Black Shadow itu.
Puk!
Chendrik memukul kepalanya dengan tongkat di tangan. Ben meringis, ia hampir menangis saat menoleh ke belakang dan melihat wajah menyeramkan sang pemimpin markas besar itu.
"Sakit, Mastah! Kenapa memukul kepalaku?" ringisnya dengan wajah menyedihkan penuh penderitaan. Chendrik mendelik.
"Kau dengar suara Ben? Sepertinya dia menyukai gadis itu, tak apa. Dia cantik dan menarik."
"Juga energik."
Suara sepasang orang tua mengusik Adhikari yang duduk di sebelahnya. Mereka tertawa garing, membicarakan soal anak bernama Ben dan Zena.
Enak saja kalian. Siapa yang akan menyerahkan Zena pada anak kalian!
Cana mendengus kesal.