
Seorang gadis terbaring di atas ranjang rumah sakit dalam keadaan tak berdaya. Sudah tiga hari lamanya kelopak mata itu terpejam, tak ada tanda geliat ia akan bangun. Bunga di atas nakas samping ranjangnya, setiap hari selalu berganti segar. Berharap ia akan mencium aromanya dan terbangun.
Sudah menjadi kebiasaannya, setiap pagi akan selalu datang membawa beberapa tangkai bunga segar untuk menggantikan bunga kemarin. Ia menghela napas saat membuka pintu ruangan, gadis itu masih sama seperti dua hari yang lalu.
Chendrik mengayun kakinya mendekati nakas, mengganti bunga yang layu seraya duduk di kursi samping ranjang gadis itu berbaring. Digenggamnya tangan Zena, dikecupnya cukup lama dan mesra. Dibelainya dahi Zena dengan lembut, seraya tak lupa mendaratkan sebuah kecupan di atasnya.
"Hei, bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau baik-baik saja?" lirih Chendrik dengan suara yang bergetar.
Ia melipat bibir menahan laju tangis yang merangsek akan keluar. Dieratkannya genggaman tangan, menyalurkan rasa rindu yang tak bertepi.
"Zena, kapan kau akan bangun? Apa kau tidak merindukan kami? Kau tidak ingin melihat Cheo? Dia kesepian karena Ibunya terus terbaring tanpa tahu kapan akan bangun. Bangun, Zena! Aku ... aku merindukanmu," ucapnya.
Chendrik menyembunyikan tangis pada telapak tangan Zena, air matanya jatuh tak tertahan. Melihat gadis itu terbaring tak berdaya, nyatanya lebih sakit dari pada luka yang diberikan Hirata.
Cukup lama laju tangisnya mengusik sepi, dia sendirian. Lagi pula Zena masih terpejam. Tak akan mungkin dia akan melihat laki-laki itu sedang menangis.
"Kau ... menangis?"
Suara parau seseorang menyentak rasa dalam hatinya, Chendrik menghentikan isak tangis demi dapat mendengar suara tadi.
"Hei, kau ... uhuk-uhuk!"
Suara itu lagi disusul batuk yang menjengkelkan. Chendrik cepat-cepat mengangkat wajah menatap tak percaya pada gadis yang sedang meringis sambil memegangi lehernya.
Zena menoleh, wajah pucatnya mengernyit karena tenggorokan yang terasa menyempit.
"Bisa kau ambilkan air? A-aku ha-haus," pinta Zena dengan pelan.
Namun, yang dilakukan laki-laki itu hanyalah diam, termangu dengan kedua bibir yang terbelah. Matanya berkedip seolah-olah memastikan penglihatan.
"Hei!"
"Zena!" Chendrik merengkuh tubuhnya dengan erat.
Air mata kembali menetes, tapi kali ini tak dibarengi dengan isak tangis seperti tadi.
"Terima kasih, Tuhan. Akhirnya kau bangun juga," ucapnya tanpa dapat menahan getar di lisan.
"Chendrik, bisa kau lepaskan aku? Sesak," ucap Zena terbata dan pelan.
Buru-buru laki-laki itu melepas pelukannya, ia berpaling sambil menggigit bibir menahan malu yang meliputi hatinya. Menyusut air mata yang meninggalkan jejak di pipi.
"Maaf," katanya dengan wajah berpaling dari Zena.
"Tidak apa-apa. Aku haus, bisa kau ambilkan aku air?" sahut Zena mengulangi permintaannya.
"Ah, iya. Tentu saja. Tunggu, aku ambilkan." Chendrik mengambil gelas yang tersimpan di laci nakas. Menuangkan air dalam botol seraya membawanya pada Zena, dan membantunya untuk minum.
Rasa segar mengalir di tenggorokan. Zena tersenyum, ia beranjak hendak duduk dibantu Chendrik dengan sigap.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Chendrik tanpa segan menggenggam tangan Zena dengan kedua tangannya.
"Sudah lebih baik. Bagaimana dengan yang lain? Apa Cheo baik-baik saja?" Teringat akan kondisi Cheo yang sempat memuntahkan darah sewaktu Hirata menyerangnya.
"Kau tenang saja, setidaknya dia tidak koma sepertimu. Cheo sudah lebih baik dari sebelumnya. Tinggal pemulihannya saja karena ia mengalami luka dalam," jawab Chendrik tak lepas tangannya dari menggenggam Zena.
"Bagaimana dengan Sebastian? Apa dia baik-baik saja?"
Teringat malam itu, sang Jenderal pun terluka cukup parah bahkan Hirata sempat menginjak tangannya.
"Dia sudah lebih baik, hanya saja salah satu tangannya patah dan ... yah, seperti itu," ucap Chendrik tak sanggup mengatakan kondisi sebenarnya dari sang adik.
Zena menghela napas, memikirkan orang-orang yang berjuang bersamanya malam itu membuat hatinya tak tenang sebelum melihat sendiri kondisi mereka.
"Bella? Apakah ...."
Chendrik membelai lengannya, tersenyum saat gadis itu menoleh dengan wajah sendu.
"Semua telah menjadi suratan takdir, dia sudah tenang. Pergi sebagai seorang pahlawan yang jasanya tak akan pernah dilupakan semua orang."
Jatuh air mata Zena mendengar kabar tentang gadis itu. Chendrik beranjak, mengusap air matanya seraya membawa tubuh lemah itu ke dalam pelukan. Disapunya rambut Zena dengan lembut, sesekali mencium ubun-ubunnya tanpa canggung lagi. Ia melepas pelukan, menatap Zena dalam-dalam.
"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang telah terjadi. Juga jangan terlalu memikirkan mereka karena setiap hari mereka tak pernah absen menanyakanmu. Cheo, ingin segera kau bangun dan pulang. Master Adhikari juga istrinya pun turut menunggumu di rumah. Jadi, Zena, cepatlah pulih dan kita akan pulang," ucap Chendrik seraya memberikan kecupan pada punggung tangan Zena.
Gadis itu terenyuh melihat kesungguhan di mata Chendrik. Ia ikut menggenggam tangan laki-laki itu sambil mengulas senyum meski air masih menggenang di pelupuk.
"Baiklah, tapi sekarang aku lapar. Apa ada makanan yang bisa aku makan. Kau setiap hari mengganti bunganya, pastilah tidak lupa membawakan aku makanan," ucapnya.
Kedua pipi gadis itu bersemu, terlebih saat Chendrik menatapnya dalam-dalam sebelum terkekeh. Ia bangkit dan mengambil kotak bekal yang juga tak pernah lupa ia bawa. Masakan Canaya dibuat dengan harapan gadis itu segera membuka mata dan kembali berkumpul bersama mereka.
"Nyonya Cana setiap hari membuatkan masakan untukmu. Dia selalu berharap kau akan bangun dan menghabiskan semuanya, walaupun selama dua hari ini selalu menyambut dengan perasaan kecewa. Hari ini, kau harus menghabiskannya, jangan sampai membuatnya kecewa."
Chendrik membuka kotak bekal dan menyuapi Zena makan. Rasa haru memenuhi rongga dada, tak akan ia mengecewakan seseorang yang begitu menyayanginya. Seseorang yang paling panik saat ia terluka.
Tanpa terasa makanan itu telah dihabiskannya. Dibantu Chendrik yang begitu telaten menyuapi.
"Aku mau pulang. Aku sudah baik-baik saja," celetuk Zena usai menenggak air minum. Air mata menetes tak tertahan, tapi segera dihapusnya.
"Kau belum pulih sebenarnya, Zena. Tunggulah beberapa hari lagi sampai kau benar-benar pulih atau Dokter mengizinkanmu pulang," tolak Chendrik.
"Aku sudah baik-baik saja, Chendrik. Aku tidak ingin dirawat di rumah sakit. Aku ingin di rumah berkumpul bersama kalian." Zena memelas. Tanpa sadar menggenggam tangan Chendrik sambil memohon lewat sorot matanya.
Laki-laki itu mengangkat gadis bibirnya sebelum menyahut, "Baiklah. Hanya jika kau berjanji padaku. Maka aku akan membawamu pulang."
Zena mengerutkan kening curiga, tapi menyahut, "Apa?"
"Menikah denganku dan jangan pergi ke mana pun," ucapnya sambil menatap manik kelam Zena dalam-dalam.
"Katakan padaku, seperti apa kehidupan setelah menikah? Aku perlu tahu itu," tekan Zena.
"Kau bisa menanyakan hal itu pada istri Master Adhikari. Dia yang akan menjawab semua yang ingin kau tanyakan tentang seorang wanita yang sudah menikah. Kau hanya perlu setuju untuk permintaanku, bagaimana?" Chendrik mendekatkan wajahnya pada Zena.
Gadis itu menjauh, dan berpaling menghindari tatapannya. Namun, tangan Chendrik sigap menahan dagunya, membaliknya agar tetap berhadapan. Pandang mereka kembali bertemu, lebih dalam.
"Ya, baiklah. Kita pulang sekarang," putus Zena pada akhirnya.
Chendrik mengulas senyum, semakin berani mendekatkan wajah pada Zena.
"Mau apa kau?" Tangan gadis itu menahan wajahnya.
"Hanya sedikit, Zena. Sedikit saja," lirih Chendrik dengan suara parau dan bergetar.
"Apa yang sedikit? Aku tidak mengerti," tolak Zena lagi gugup.
"Sebagai bukti bahwa kau kini adalah calon istriku. Aku berjanji hanya sedikit," ucap Chendrik lagi menatap penuh cinta pada gadis itu.
"Sedikit? Kau yakin sedikit?"
Chendrik menganggukkan kepala.
"Pejamkan matamu jika kau tak ingin melihat."
"Seperti ini?" Zena melakukan apa yang diminta Chendrik.
Bibir merah alami itu sungguh menggoda kelelakiannya, Chendrik meneguk saliva.
"Cep ... mmmp!"
Zena tak lagi berucap ketika laki-laki itu menabrakkan bibir mereka. Permintaan yang sedikit, nyatanya tidak sesuai yang dijanjikan. Chendrik melakukannya sangat dalam dan juga ... lama.
"*** ... mmmp!"
"Kau bil ... mmmp!"
"Chendrik!" Zena mendorong tubuh laki-laki itu karena ia melakukannya berkali-kali.
Napasnya memburu, kedua mata melotot lebar. Chendrik terkekeh senang, ia tak segan membawa Zena ke dalam gendongan dan keluar dari ruangan. Pulang.
Zena yang sempat terkejut, terus melingkarkan kedua tangan di leher laki-laki itu. Tak peduli tatapan semua orang, ia senang sekarang. Chendrik melakukan check out hari itu juga meski Dokter ingin melakukan pemeriksaan, tapi urung karena Zena menolak.
"Pantas saja Cheo sangat senang digendong seperti ini. Aku juga suka," seloroh Zena sembari meletakan dagu di atas bahu kiri Chendrik.
"Benarkah?"
"Yah, dia manja. Untuk itu Tigris selalu membawanya di atas punggung. Anak itu ... aku merindukannya," ucap Zena sambil tersenyum manis.
"Jika kau suka, aku rela setiap hari menggendongmu. Kau tak perlu lagi berjalan naik turun tangga saat di rumah," janjinya sembari mengulas senyum senang.
"Benarkah? Kau yakin?"
"Tentu saja!"
Zena tersenyum riang, menatap lalu-lalang pasien rumah sakit seolah-olah memamerkan dirinya yang digendong Chendrik. Zena menggigit bibir teringat kejadian di ruangan tadi.
"Mmm ... Chendrik, tadi itu apa?"
"Apa? Yang mana?" tanya Chendrik berpura-pura tidak mengerti.
"Yang kau lakukan padaku tadi? Apa namanya?" jelas Zena tanpa terasa kedua pipinya bersemu merah.
"Bukankah kau pernah melakukannya?" goda Chendrik.
Zena berpikir, mengingat-ingat kembali apa yang dilakukannya tadi.
"Seingatku tak pernah aku melakukan itu. Ini kali pertama aku melakukannya denganmu. Katakan dinamakan apa yang kau lakukan tadi?" ujar Zena lagi setelah mengingat-ingat kejadian yang sama, tapi tak pernah ia temukan.
"Kau yakin ini untuk pertama kali?"
"Hhmm ... aku yakin seratus persen," sahut Zena yakin.
"Baiklah."
Chendrik membukakan pintu mobil, mendudukkan Zena di kursi samping kemudi. Ia membungkuk, berhadapan cukup dekat dengan gadis itu. Tanpa terduga, Zena justru mencium bibirnya walaupun singkat.
"Kau menyukainya?" goda Chendrik sembari menyentuh bibirnya sendiri.
"Aku sering melakukan itu kepada Cheo, tapi tidak di bibir. Di kedua pipi dan dahinya saja. Apakah tadi itu disebut ci u man?" ungkapnya dengan sejuta kepolosan yang ia miliki.
Chendrik terkekeh, memilih tidak menyahut. Ia berjalan dan masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi kemudi, bersiap untuk pergi.
"Tunggu!" Zena menyambar tangannya, "setidaknya jawab dulu apa itu tadi ... mmmp!"
Chendrik menyambar bibir gadis itu membungkam mulutnya yang banyak bicara. Cukup lama sampai-sampai Zena kehabisan napas. Ia melepas pagutan, mengusap bibir tipis gadis itu sambil tersenyum.
"Itu baru namanya ci u man, yang tadi tidak bisa disebut ci u man," katanya.
Dan dimulailah, perjalanan cinta Zena.
\=TEH END\=
Terima kasih banyak kepada yang sudah setia mengikuti kisah Zena. Sampai di sini ya Zena season ketiga. Salam hangat dari author.
Love you all ... sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya.