Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Penyusup



Malam terus merangkak menuju puncaknya, tapi Zena sama sekali belum dapat memejamkan mata. Berguling di atas kasurnya ke kanan dan kiri, terlentang sambil membentang kedua tangan menatap langit-langit kamar.


"Kenapa mataku enggan terpejam?" Ia bergumam seraya beranjak duduk memeluk lutut. Jendela kamar dibiarkannya terbuka, angin menerbangkan tirai dengan lembut. Zena beranjak duduk di tepi ranjang, memandang gelapnya langit malam tanpa bintang.


Lampu kamar yang tak pernah dibiarkan menyala disaat tidur, membuat kamarnya seolah-olah tak berpenghuni. Ia melangkah pelan mendekati tingkap, menyandarkan dirinya pada salah satu tiang, memandang rembulan yang kesepian dalam kesendirian tanpa bintang gemintang.


"Ayah, Ibu, sedang apa kalian? Apa kalian sedang memperhatikan aku dari tempat kalian? Jangan khawatir, aku baik-baik saja di sini." Zena tersenyum sambil menatap langit seolah-olah di balik awan sana menyembul gambar kedua orang tuanya.


Zena memejamkan mata saat sebuah angin aneh melesat melewatinya. Pandangannya berubah tajam dan dingin, waspada dan terjaga.


"Penyusup?" Ia bergumam. Menatap kosong ke depan pada udara yang tak nampak oleh mata.


Zena mengganti pakaiannya, ia mengenakan penutup wajah sebelum melesat keluar dari jendela mengikuti ke mana arah angin tadi pergi. Tanpa suara, ia terus melompat ke atas genting, berjalan pelan dan mengendap menyembunyikan diri di dalam gelap.


Sebuah udara yang melompat menerbangkan debu, Zena gegas membawa dirinya ke lain arah untuk memapak langkah angin tersebut. Sosok seorang ninja berpakaian hitam itu menuju mansion Chendrik melalui atap rumah belakang yang dihuni Zena.


"Ninja? Siapa yang mengirimnya?" Lisannya kembali bergumam sambil memperhatikan sosok yang terus melompat dengan lincah dan gesit di atas atap mansion besar milik Chendrik itu. Gerakannya sangat ringan hingga tak menimbulkan suara saat ia menapak.


Zena mengeluarkan sebuah belati, dan siap memindai. Bergerak tanpa suara mendekati sosok berpakaian serba hitam yang berdiri di atas atap kamar Cheo. Sosok itu turun dengan gesit di balkon kamar Cheo, dari gelagatnya ia mengincar anak itu.


"Kau mengincar anakku, jangan harap!" Zena melempar belati di tangan, melesat tak terlihat terbawa udara. Tepat disaat kaki penjahat itu hendak memasuki jendela kamar Cheo, belati Zena menancap di salah satu kakinya.


Ia mengerang dan merintih, sambil memegangi kaki yang tertancap belati Zena. Darah segar mengucur dari luka tersebut, ia mencabutnya dengan paksa meski harus sakit yang teramat. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok yang mengganggu aksinya. Sayang, sosok itu tak terlihat.


"Amatiran!" Suara dingin Zena mengusik telinganya, ia berdiri waspada sambil mengacungkan belati di tangan. Suara seorang wanita yang terdengar marah muncul dari dalam gelap.


"Lancang sekali kau menyusup di rumah ini!" sentak Zena masih dengan alunan nada yang sama.


Si penyusup itu mulai panik, melilau ke segala arah mencari sosok yang berbicara padanya.


"Siapa kau? Tunjukkan dirimu jika kau memang berani berhadapan denganku!" ucapnya dengan napas tersengal-sengal dan tubuh yang waspada.


"Siapa pun aku, yang pasti aku tak akan membiarkanmu lolos dari tempat ini." Zena menyahut, sedangkan sosoknya terus bersembunyi dalam gelap.


"Tunjukkan dirimu, jangan bersembunyi seperti pengecut!" teriaknya lagi semakin panik karena Zena datang menghantarkan suasana yang berbeda. Dingin dan mencekam.


"Pengecut? Bukankah julukan itu pantas untukmu? Kau datang sembunyi-sembunyi menyusup ke rumah orang. Kaulah pengecutnya!" Zena tertawa kecil, tawa yang memberikan ancaman mematikan untuk mata-mata yang dikirim musuh ke rumah tersebut.


Ketukan langkah Zena membuatnya panik, tanpa berpikir lagi ia terus masuk ke kamar Cheo. Niat ingin menjadikan anak itu sebagai sandera agar Zena melepaskannya. Namun, itu hanyalah rencana dalam otaknya, semua buyar disaat melihat bocah itu tengah berdiri sambil memegang nunchaku di tangan.


Zena kembali terkekeh melihat kepanikan si penyusup. Sosok itu berbalik hendak keluar dari kamar Cheo, tapi Zena telah berdiri di luar jendela dengan sangat anggun dan mematikan. Hadirnya tak pernah sendiri, ia selalu ditemani malaikat maut saat mendatangi penjahat sepertinya.


Dihadapkan dengan situasi yang tak mendukung, terpaksa penyusup tersebut melakukan perlawanan. Ia menyerang Cheo dengan sebuah belati di tangan. Bocah itu telah memasang kuda-kuda sempurna menyambutnya.


Ia menyerang, sigap Cheo menangkis tangannya hingga belati tersebut jatuh membentur lantai. Cheo tidak berhenti, ia terus mengayunkan nunchaku menyerang. Memukul anggota tubuhnya dengan gerakan cepat nyaris tak terbaca.


Menyudutkan sosok tersebut hingga ke pojokan kamar, Zena terkekeh melihatnya yang kewalahan membalas serangan Cheo itu. Ia melompat masuk ke dalam kamar dan melihat bagaimana anak itu terus memukul meskipun si penyusup sudah tak mampu berdiri.


"Cukup, Cheo! Kita membutuhkannya untuk mendapatkan informasi," sergah Zena membuat Cheo berhenti memukuli.


Tak lama pintu kamar terbuka, Chendrik datang membawa senjata dengan panik.


"Cheo!" Ia berlari menghampiri putranya yang mematung di hadapan si penyusup, "apa yang terjadi?" tanyanya sambil memperhatikan wajah Cheo yang berkeringat.


Bocah itu menunjuk si penyusup dengan nunchaku di tangan tanpa kata.


"Dia menyusup dan memata-matai rumahmu ini, Chendrik. Kau akan membutuhkannya untuk mendapatkan informasi. Bawa dan tangani dia dengan benar," ucap Zena masih berdiri di tempatnya.


Chendrik menatap nyalang laki-laki yang menutupi seluruh tubuhnya itu menggunakan kain hitam. Tiga orang pekerjanya datang dan sigap membawa penyusup itu keluar kamar Cheo. Mereka akan membawanya ke markas untuk keperluan interogasi.


"Mau pergi ke mana kau?" sergah Chendrik pada Zena disaat gadis itu hendak melangkah keluar dari jendela.


"Hish ... aku akan kembali ke kamarku. Aku mau tidur sebelum besok kembali ke sekolah yang penuh misteri itu," katanya, seraya melanjutkan langkah keluar dan berlari di atas atap kembali ke kamarnya.


"Cheo! Kau tak apa? Apa ada yang terluka?" tanya Chendrik panik. Ia memeriksa seluruh tubuh anak itu khawatir ada luka yang terlewat.


"Tidak, Ayah. Aku tidak apa-apa, tidak terluka sama sekali," katanya membuat Chendrik mendesah lega. Ia menggendong Cheo ke kasurnya, menurunkan bocah itu di atas sana dan memintanya untuk kembali tidur.


"Tidurlah! Besok kau harus kembali ke sekolah," ucapnya seraya mengecup dahi sang putra sebelum beranjak mendekati jendela dan menutupnya.


"Ayah, akan pergi ke mana?"


"Ayah akan ke markas untuk menangani penyusup tadi. Kau tenang saja, Ayah akan menempatkan penjaga di luar kamarmu. Tidurlah!" jawab Chendrik. Mengusap kepala anaknya itu sebelum meninggalkan kamar.


Meskipun tertidur, tubuh Cheo selalu waspada. Ia akan terjaga disaat mendengar langkah mendekat. Mengintai dan mengawasi sosok yang datang mengganggu. Ia memejamkan mata berharap mimpi akan membawanya ke pulau tempat tinggalnya dulu.


*****


Selamat hari raya idul Fitri, semua pembaca Zena. Mohon maaf lahir dan batin, semoga kita semua kembali fitrah.