Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Tiga Orang Laki-laki



Tak terasa setelah berbincang sambil mengenang kehidupan lama di pulau, Zena dan Cheo terlelap hingga malam menggantikan siang. Zena melenguh, ia meringis merasakan sakit di tangan akibat kram tertindih kepala Cheo.


Zena membuka mata, gelap. Hanya ada bias cahaya yang masuk menyelinap melalui celah jendela. Gadis itu membangunkan Cheo untuk mengajaknya makan malam.


"Kakak, aku masih mengantuk," seloroh Cheo dengan tangan masih melingkar di tubuh Zena.


"Tapi ini sudah malam, Cheo. Kita harus bangun dan ke rumah utama untuk makan malam," ucap Zena lagi terus menggugah tubuh kecil Cheo yang menempel di tubuhnya.


Akhirnya bocah itu pun bangun, ia merentangkan tangan sambil menguap lebar. Matanya menyipit menatap sekitar, Zena beranjak menyalakan lampu dan menyambar handuk masuk ke kamar mandi. Ia terlupa bahwa belum membersihkan tubuh sejak pulang dari sekolah.


"Kakak, aku kembali lebih dulu. Kutunggu Kakak di meja makan, cepatlah!" Cheo mengetuk pintu kamar mandi seraya memanggil Zena.


"Ya, duluan saja!" Zena menyahut dari dalam sana. Bocah itu pergi dari kamar Zena, ia pun belum sempat mandi sore karena tertidur di kamar gadis itu.


"Cheo?" tegur Sebastian saat melihat sesosok tubuh kecil memasuki pintu dapur, "dari mana kau?" lanjutnya bertanya setelah Cheo melihat ke arahnya.


"Aku dari kamar Kakak." Cheo tak menghentikan langkah, terus saja berjalan menuju lantai dua rumah di mana kamarnya berada.


Sebastian menggelengkan kepala, ia kembali membentang koran di tangan, membacanya dengan saksama. Perihal kasus di perbatasan, sudah berhasil ditemukan solusinya. Masalah rumah sakit sudah aman terkendali, tinggal mereka yang masih bersembunyi di gedung sekolah itu.


Cheo datang ke meja makan bersama Chendrik, bocah itu hanya mengganti baju saja tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Kerutan di dahinya terbentuk saat melihat bangku Zena masih kosong.


"Kakak belum sampai, aku mau ke kamarnya dulu." Melepas pegangan Chendrik pada tangannya, gegas berlari meninggalkan dapur dan menuju kamar Zena. Di kejauhan ia melihat Zena yang sedang melakukan sebuah gerakan.


"Kakak!" Gerakan Zena terhenti saat suara Cheo terdengar memanggil. Ia tersenyum lantas menyambut kedatangan Cheo yang segera memeluknya.


"Kakak sedang apa? Kenapa tidak datang ke ruang makan?" tanyanya dengan pelan. Zena mengusap rambut anak itu, lembut dan wangi jika dicium.


"Tidak apa-apa. Kakak hanya merasa perlu melakukan gerakan penenang karena akhir-akhir ini Kakak selalu mudah terbawa emosi. Makanya, Kakak sedang menenangkan diri dengan gerakan tai chi ini. Kau sendiri kenapa malah ke sini?" Zena balik bertanya.


Cheo menjauhkan tubuhnya, ia tahu gerakan yang dilakukan Zena barusan. Belajar untuk tetap tenang dalam kondisi dan situasi apapun.


"Aku menyusul Kakak."


"Mereka masih di sana?"


"Sepertinya sudah selesai. Kakak tidak mau bertemu mereka?"


Zena mengangguk pasrah, ia tidak ingin bertemu dengan kedua laki-laki yang sudah menganggu mood nya dari sejak pagi dimulai. Mendengar kata selesai, Cheo mengajak Zena untuk segera mendatangi dapur. Gadis itu tersenyum saat meja makan sepi dari manusia. Hanya tudung saji saja yang menutup rapat di atas meja makan.


Keduanya makan dengan tenang tanpa gangguan.


"Ayo!" Mereka meninggalkan meja makan dan menuju ruangan benda kotak itu berada. Lagi-lagi merasa beruntung karena tak ada siapapun di ruangan tersebut. Zena mengambil tempat bersama Cheo, menonton acara kesukaan mereka berdua.


"Zena!" Sebuah suara menegur Zena dari belakang tubuhnya. Gadis itu melihat Sebastian berdiri dengan tangan tersembunyi. Zena beranjak duduk, memandang dengan mata sipit penuh curiga.


"Ada apa?" tanyanya saat Sebastian duduk di sofa lain samping Zena.


"Selamat, ya, karena nilai ujianmu bagus-bagus. Ini untukmu, terimalah sebagai hadiah dariku," ucapnya sembari memberikan setangkai bunga mawar merah yang ia sembunyikan sejak tadi. Meski tidak mengerti, tapi Zena tetap menerimanya.


Ia tersenyum dimiringkan sebelum menyahut, "Daripada bunga aku lebih suka cokelat." Ia tersenyum, "tapi terima kasih karena sudah perhatian padaku," lanjutnya lagi penuh syukur.


Sebastian tersenyum lebar, dari situ ia tahu apa yang disukai Zena.


"Oh, jadi kau menyukai cokelat? Baiklah, besok akan aku belikan kau cokelat terenak di kota ini. Tidak apa-apa, bukan?" Zena mengangguk senang. Kudapan yang bisa membuat hati dan pikiran tenang.


"Tidak perlu, aku sudah membelikannya." Chendrik datang tiba-tiba menyela obrolan mereka. Di tangannya membawa sekotak cokelat kesukaan Zena yang tak akan mungkin ditolak gadis itu. Sebastian mendengus kesal.


Hadirnya selalu membuat Zena salah tingkah, gugup menyergap, ritme jantung tak seirama dengan nada lagu melodi merdu. Gadis itu mematung menatap kedatangan Chendrik yang kian mendekat ke arahnya.


"Aku memeriksa hasil ujianmu, dan aku tidak menyangka nilai-nilaimu begitu memuaskan. Aku puas dengan hasil yang kau torehkan untuk pelajaran. Ini sebagai hadiah kecil dariku, jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja padaku. Jangan memendamnya sendirian," ungkap laki-laki bergelar pemimpin markas besar itu sambil menyerahkan sekotak cokelat yang tak dapat ditolak Zena.


"Terima kasih." Zena menerimanya dengan wajah bersemu merah. Sikap Chendrik yang lembut selalu membuat darahnya berdesir panas. Sebastian mencibir, bersumpah dalam hati lain kali ia tak akan mengalah pada Kakaknya itu.


"Zena!" Sebuah suara datang dari arah pintu utama memanggil-manggil Zena. Semua orang menoleh tak terkecuali. Mereka bergegas menemui orang yang memanggil-manggil nama Zena di ruang tengah rumah itu.


Laki-laki tua berdiri di sana, dengan membawa sesuatu yang tak biasa. Berdiri kepayahan menunggu kedatangan gadis yang ia cari.


"Paman?" tegur Zena dengan dahi yang berkerut heran. Wajah tua itu hampir tertutup benda yang dibawanya, untuk menoleh saja ia cukup kesulitan dibuatnya.


"Oh, Zena. Kemari! Ambil ini segera, aku tidak tahan membawanya. Berat sekali, lagipula kenapa ada orang yang mengirimkan ini ke rumah untukmu," ucap Adhikari sembari meletakkan benda yang dibawanya ke lantai.


Napasnya tersengal-sengal, peluh kasar bermunculan di sekitar wajah. Menunggu Zena yang sedang mendekat ke arahnya dengan sekotak cokelat dan setangkai bunga mawar.


"Seseorang datang dan mencarimu. Dia menitipkan ini untuk diberikan kepada gadis yang bernama Zena. Ini, ambillah!" ucap Adhikari seraya menyerahkan sekotak besar cokelat yang sama dengan jenis yang dibelikan Chendrik. Juga seikat buket bunga mawar merah yang segar baru saja dipetik dari tangkainya.


"Siapa yang datang, Paman? Tak ada yang tahu jika aku mencantumkan alamat rumah Paman pada identitas selain pihak sekolah. Pengirimnya pasti dari sekolah." Zena berpikir. Nama Ben sempat melintas, tapi tak mungkin rasanya ia mengirimkan hal seperti itu kepada Zena.


Mata Zena membelalak saat terlintas satu wajah yang akhir-akhir ini juga selalu mengganggu ketenangannya.


"Black Shadow!"