
"Dengar dulu! Duduklah, akan aku jelaskan," ucap Chendrik menenangkan saat melihat Zena kembali berapi-api.
"Katakan saja, kenapa kau seolah-olah menutup mata soal kasus ini?" tuntut Zena tidak terima dengan sikap Chendrik yang tak bertanggungjawab.
Pemimpin markas itu menghela napas, sungguh hal yang tak terduga bahwa Zena akan meledak seperti saat ini. Chendrik mencoba memahami dari sisi emosional Zena tentang berteman. Teringat saat waktu ia hampir menghancurkan markas seorang diri karena Chendrik sudah berani memburu Tigris.
Pertemanan Zena tulus, siapapun yang menjadi temannya akan dia bela bahkan meski harus mengorbankan nyawa. Namun, jangan sekali-kali coba berkhianat, karena ia tak akan segan mengayunkan samurai menebas batang lehernya.
"Dulu sebelum ada aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, markas masih bisa bertindak sendiri, tapi setelah adanya peraturan baru semuanya berubah. Tak ada yang boleh memasuki daerah lain kecuali mendapatkan perintah langsung dari atasan. Juga, jika ada surat permohonan bantuan datang dari wilayah tersebut maka markas bisa mengirimkan bantuan," ungkap Chendrik.
Keterangan yang dipaparkannya justru membuat Zena semakin bingung. Dulu, saat ia menyerang sarang mafia narkoba, kelompok elang biru datang membantu walau semuanya telah berakhir. Lantas, kenapa sekarang tidak bisa.
"Apa maksudmu?"
"Jika pemerintah di kota tersebut mengirimkan surat permohonan bantuan maka aku bisa menyuruh siapa saja untuk pergi ke tempat itu, tapi jika tak ada maka akan terjadi masalah lainnya."
"Aku tidak mengerti."
"Setiap kota memiliki markas rahasia sendiri-sendiri yang dibentuk oleh pemerintah," ucap Chendrik.
"Tapi Mata Elang tidak. Ayah dan Ibuku yang mendirikannya. Mereka tidak terikat dengan pemerintah, tidak ada yang bisa mengatur Mata Elang karena Mata Elang berdiri di atas kaki sendiri tanpa campur tangan pemerintah."
Keterangan yang diucapkan Zena membuat Sebastian termangu. Hal itu baru didengarnya sekarang karena selama ini yang ia tahu Mata Elang dibawah kekuasaan pemerintah.
"Aku tahu, Zena, tapi markas rahasia di setiap kota pasti akan mengenali mata-mata yang aku kirim dan hal itu justru akan memicu peperangan antara daerah karena dianggap menginjak harga diri mereka."
"Tidak masuk akal! Seharunya sesama agen rahasia saling bekerjasama dan bahu-membahu menyelesaikan masalah bukan malah berperang hanya karena tersinggung."
Zena tak habis pikir dengan semua yang dikatakan Chendrik, terlalu rumit dan berbelit-belit menurutnya.
"Seharunya memang seperti itu, tapi pada kenyataannya terkadang sesama agen rahasia pun akan saling menyerang untuk membuktikan siapa yang terkuat di antara mereka. Jangan salah, Zena. Dunia ini tak semudah seperti yang ada dalam pikiranmu. Sesungguhnya terlalu rumit dan sulit untuk dijelaskan karena memang seperti itu cara kerjanya," ungkap Chendrik semakin membuka pikiran Zena.
"Jika mata-mata milikmu tidak dapat memasuki daerah lain karena akan sangat mudah dikenali, maka aku yang akan pergi sendiri untuk menyelesaikannya karena namaku, wajahku, statusku tak satupun ada yang tahu kecuali kalian yang selalu berada di dekatku."
Mendengar itu, mata Chendrik membelalak begitu pula Sebastian. Tak akan mereka membiarkan Zena terlibat dalam kasus yang lebih berbahaya lagi. Di kota yang sama saja, selalu membuat mereka was-was dan cemas memikirkannya. Terkadang tak dapat makan dan tidur saat belum melihat sosoknya.
"Tidak! Aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke sana! Cukup kau terlibat dalam kasus berbahaya di sini saja, jangan di tempat yang lainnya," tegas Chendrik serius.
"Benar, aku pun tak rela kau pergi ke tempat berbahaya lagi, Zena. Kau sudah membuatku gila karena kasus di kota ini. Hampir setiap malam aku tak dapat tidur, terkadang tenggorokanku tak dapat menelan makanan jika belum tahu kabar tentangmu. Apalagi sampai ke luar kota yang sangat jauh ...."
"Kalian tidak dapat melarangku, kalian juga tidak dapat mencegahku, aku bukanlah pekerja yang harus patuh pada majikannya. Aku bukanlah budak yang harus menuruti perintah Tuannya. Aku manusia bebas, bebas menentukan pilihanku sendiri." Zena mengepalkan kedua tangan erat, bersumpah dalam hati setelah kasus di kota Elang selesai sampai ke akarnya, ia akan segera pergi berpetualang ke lain tempat.
"Aku ikut, ke mana pun Kakak pergi aku akan ikut." Zena mendelik pada bocah sepuluh tahun itu.
"Sama seperti Kakak, aku juga manusia bebas. Tak terikat pada perintah siapapun, tak harus mematuhi orang lain. Aku bebas menentukan jalan takdirku sendiri, aku akan ikut ke mana pun Kakak pergi," tegas Cheo.
Pandangan matanya lebih tegas dari yang dimiliki Chendrik. Tekad dan keyakinan yang ada dalam dirinya, tak tergoyahkan oleh siapapun bahkan oleh Chendrik, sekalipun dia adalah Ayah kandung Cheo.
"Tidak, Cheo, kau tidak bisa ikut!" Kali ini Zena yang melarang.
"Kenapa? Kita pernah menyerang markas mafia narkoba bersama-sama, kita juga pernah menggagalkan perdagangan manusia bersama-sama, bahkan baru-baru ini kita menyerang sarang pemangsa gadis remaja dan menghancurkan semuanya bersama-sama. Jadi, apa yang Kakak takutkan? Aku sudah terbiasa berada dalam lingkaran bahaya, tapi selama ada Kakak di sisiku, aku yakin tak akan ada yang mampu melukaiku," ungkap Cheo dengan serius.
Sebastian dan Chendrik termangu mendengar kalimat panjang bocah itu. Bukan karena panjangnya kalimat yang diucapkan Cheo, tapi rentetan peristiwa berbahaya itu yang membuat mereka rasanya tak percaya bahwa dia adalah bocah sepuluh tahun.
Gadis itu tertegun, menatap Cheo penuh arti. Sungguh ia tak menduga bahwa bocah itu memiliki keyakinan tinggi terhadapnya. Ia tersenyum, lantas mengangguk mengiyakan keinginan Cheo untuk ikut. Berbagai macam bahaya telah mereka lewati bersama, pertempuran yang mempertaruhkan nyawa pun telah mereka hadapi tanpa rasa takut.
"Kukira aku sudah mendapatkan jawaban, dan sekarang ... apakah tawaran makan malam dari Jenderal masih berlaku? Aku lapar," pungkas Zena mengakhiri diskusi malam itu. Padahal, Chendrik belum memutuskan, Sebastian masih termangu.
Mendengar makan malam, Chendrik membelalak.
"Kenapa tidak makan di sini saja?" ucap Chendrik mencegah keduanya agar tidak jadi pergi.
"Tapi Bas mengajakku makan di luar. Aku sudah menyetujuinya, dan sepertinya aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi," sahut Zena.
Senyum yang sempat hilang dari bibir Sebastian, kembali terbit dengan sempurna. Betapa senang hatinya saat Zena menepati janji.
"Aku ikut, aku tidak dapat membiarkan kalian berdua saja," sambar Chendrik tak ingin dibantah.
"Tidak mungkin, Kakak. Jika Zena terlihat bersamamu di luar sana, maka itu akan semakin membuatnya dalam bahaya. Bukankah kau juga sedang diawasi? Kali ini, aku yang akan menjaganya. Ayo, Zena. Kita pergi!" ucap Sebastian menembak sisi lemah Chendrik.
Pemimpin markas itu hanya bisa menggeram, tapi tak dapat melakukan apapun untuk mencegah mereka pergi.
"Oya, Cheo. Aku tidak yakin usiamu itu barulah sepuluh tahun, mungkin saja kau reinkarnasi dari manusia yang berusia beberapa abad." Sebastian menoleh sebentar kepada Cheo hanya untuk mengatakan itu.
"Jika begitu, panggil aku Master. Kau berada jauh di bawahku, Jenderal Sebastian!" sahut Cheo jumawa.
Sebastian menyurutkan senyum, dan senyum Chendrik yang kali ini terbit bersambut dengan tawa kecil dari Zena.