Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Cinta



"Kenapa kau tertawa?" sengit Zena seraya mendaratkan bokong di atas kursi berhadapan dengan Chendrik.


Laki-laki itu menyudahi tawanya, menyusut air yang menggenang di pelupuk, wajahnya memerah karena tawa yang ia perdengarkan cukup menggelegar.


"Kenapa kau berpakaian seperti ini di rumah?" tanya Chendrik sembari menahan tawa hingga membuat kulit wajahnya semakin memerah, "ini bukan musim dingin, tapi kau berpakaian penuh seperti itu," cibirnya lagi menunjuk pakaian yang Zena kenakan.


Gadis itu mendengus, tak acuh pada cibiran laki-laki di depannya.


"Aku waspada pada seekor binatang buas," celetuk Zena nyaris tak terdengar.


"Binatang buas? Di sini tidak ada binatang buas kecuali Tigris," sahut Chendrik seolah-olah tak mengerti ke mana arah pembicaraan Zena.


Gadis itu berdecih kesal, "Aku harus waspada dari terkaman binatang buas yang saat ini ada di depanku." Mata sipit gadis itu memicing.


Chendrik mengusap tengkuk setelah terbengong mendengar ucapan Zena. Ia lantas tertawa kecil, usai mencerna kalimat yang dilontarkan gadis di hadapannya.


Ia mengangkat bahu tak peduli pada sebutan yang diberikan Zena untuknya. Duduk bersandar sembari menumpuk kedua kaki. Dua benda yang dibawanya ia sembunyikan di balik tubuh.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" ketus Zena bertanya. Tak ingin berbasa-basi lebih lama dengan binatang buas di hadapannya.


"Ah, iya, tapi tunggu ...." Chendrik mengeluarkan sesuatu yang ia bawa dan memberikannya kepada Zena.


Gadis itu mengangkat sebelah alisnya, melirik Chendrik dengan ekor mata, curiga.


"Ini untukmu sebagai permintaan maaf dariku karena sikapku yang keterlaluan," ungkap Chendrik kali ini dengan senyum hangat tersemat.


Zena melirik kedua tangan laki-laki itu, menimbang permintaan maaf darinya sebelum ia benar-benar memaafkan semuanya.


"Cokelat? Untuk apa?" Polos nian kau, Zena. Lihat wajahnya yang lugu itu, ia persis anak kecil yang tak tahu apapun.


"Untukmu, ambillah!" katanya dengan sabar.


"Baiklah. Aku ambil cokelat ini saja, tapi itu aku tidak memerlukannya. Di belakang kamarku ada banyak sekali, kenapa kau memberikan itu padaku?" Zena mengambil cokelat di tangan kanan Chendrik. Mengupasnya seraya mengigit sedikit merasai kudapan berwarna coklat kehitaman tersebut.


"Mmm ... enak." Chendrik menunduk menahan tawa, sebelah tangannya masih tergantung di udara belum juga diambil Zena.


"Aku membelinya khusus untuk meminta maaf padamu, ini berbeda dari yang ada di belakang kamarmu. Terimalah!" ucap Chendrik menghentikan laju geraham Zena yang sedang mengunyah cokelat.


"Hhmmm ... baiklah, karena kau memaksa dan untuk menghargai dirimu aku terima bunga ini." Zena menerima buket bunga mawar merah yang dipesan Chendrik secara khusus langsung dari perkebunan.


Laki-laki itu tersenyum melihat wajah Zena yang memerah. Gadis itu mendekatkan hidungnya mengendus bau harum yang segar dari bunga tersebut.


"Mmm ... baunya harum dan segar. Apa ini baru saja dipetik?" Zena menatap Chendrik dengan binar di matanya.


Bangga karena bunga yang ia siapkan disukai gadis sang pujaan.


"Yah, aku memesannya langsung dari perkebunan. Bunga itu memang baru saja dipetik dari pohonnya, masih segar," jawab Chendrik dengan senyum yang menghangatkan hati Zena.


Sejenak ia lupa bahwa laki-laki yang memberinya bunga adalah binatang buas yang siap menerkam kapan saja dia mau.


"Ah, iya-"


"Stop! Tetap di sana jangan beranjak sedikitpun!" sergah Zena dengan tangan terangkat mencegah Chendrik yang hendak terbangun dari duduknya.


Laki-laki yang membungkuk itu mendongakkan wajah menatap Zena yang kembali bersikap waspada. Matanya berkedip, Zena melotot ke arahnya. Ia pun duduk kembali di tempat semula. Mendesah panjang sambil mengulum senyum merasa gemas terhadap sikap yang ditunjukkan Zena.


"Aku hanya ingin berpindah tempat duduk ke sampingmu, kenapa kau seperti melihat hantu begitu?" ucap Chendrik melipat kedua tangan di dada sambil menyandarkan punggung.


Zena mengendurkan ketegangan, kakinya yang ia angkat ke atas kursi diturunkan kembali. Pandangannya tak berkedip dari sosok laki-laki buas di sana.


"Jika kau hantu, aku tak akan pernah takut apalagi menghindar. Kau itu binatang buas yang selalu membuat jantungku mau lepas dari tempatnya. Aku tidak ingin mati mendadak, lagipula aku masih terlalu muda untuk dipertemukan dengan Malaikat Maut," sungut Zena sambil mendengus kesal.


Sekonyong-konyong senyum Chendrik terbit sempurna, ia melepas kedua lipatan tangan dengan cepat dan mencondongkan tubuh ke depan mendekati Zena. Lagi-lagi gadis itu berjengit kangen. Mengangkat kedua kaki dan memeluknya dengan waspada.


"Kau merasakannya?"


"Merasakan apa?" bentak Zena dengan napas memburu. Kesal karena sikap Chendrik yang akhir-akhir ini selalu membuat jantungnya berdentam-dentam.


"Perasaan itu?" Masih dengan nada menggoda. Tersenyum jenaka sambil memainkan alisnya naik dan turun.


"Perasaan apa? Jangan meracau aku tidak mengerti," sahut Zena lugas dan lantang. Sikapnya yang waspada membuat Chendrik mengulum senyum dengan gemas.


"Perasaan itu." Alis laki-laki itu terangkat menunjuk bagian atas tubuh Zena. Sigap kedua tangan gadis itu menutupi bagian yang ditunjuk Chendrik. Laki-laki itu terkekeh tertahan, ia menutup mulut tanpa menjauhkan wajah dari Zena.


"Jangan macam-macam, Chendrik! Sebenarnya apa tujuanmu datang ke kamarku? Kau ingin menggodaku atau ingin membahas sesuatu?" hardik Zena mengepalkan kedua tangan bersiap melayangkan bogem pada wajah yang memerah di hadapannya.


"Aku tidak sedang menggodamu, tapi kau sendiri yang mengatakannya jika jantungmu selalu berdegup saat dekat denganku," sahutnya berkedip nakal. Zena melongo tak percaya, ia sendiri tidak tahu apa yang sudah diucapkannya tadi.


"Memangnya apa yang salah?"


"Tidak ada yang salah, Zena." Chendrik kembali bersandar, tapi raut wajah yang merona masih jelas terlihat. "Itu artinya kau merasakan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Cinta." Chendrik berbisik di ujung kalimat.


Zena mengernyit, ia mendengus mendengar satu kata yang tabu di telinganya.


"Cinta? Memangnya kau tahu apa itu cinta?" Zena mencibir. Seolah-olah dirinya adalah ahli cinta tiada banding.


"Tentu saja. Disaat kau merasa ingin selalu bertemu, bayang wajahnya selalu di pelupuk, dan jantungmu yang berdegup tak karuan saat dengan diriku, itulah cinta. Apa kau merasakan itu?" Chendrik mempertajam netranya melihat reaksi Zena setelah mendengar deskripsi cinta menurutnya.


Zena tertawa kecil, ia mengibaskan tangan menolak penjabaran yang diucapkan Chendrik barusan.


"Kau ingin tahu apa itu cinta?" katanya. Chendrik mengernyit, lantas mengangguk ingin mendengar arti cinta untuk seorang gadis pulau yang lugu.


"Cinta, disaat kau berdiri tegak dan berani menantang seluruh dunia hanya untuk membela dia yang berada di sisimu. Itulah cinta, Chendrik."


Terbayang saat Nira hampir saja dilecehkan, meski usianya barulah tiga belas tahun, tapi Zena mampu melawan dua preman bertubuh kekar. Terbayang saat tiba-tiba Zena mendapatkan keberanian melihat Cheo terluka, terbayang saat Zena tanpa segan menghabisi satu pasukan Chendrik yang menyerang Tigris, terbayang saat ia hampir saja memporak-porandakan markas Mata Elang, hanya demi membela mereka yang teramat berharga untuk hidupnya. Cheo dan Tigris juga Nira yang entah di mana keberadaannya saat ini.


Chendrik tertegun, mencintai Zena itu artinya bersiap untuk jadi yang terdepan dalam membelanya. Tak hanya dirinya, tapi semua orang yang berada di dekatnya. Tentu saja.