Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Komandan yang Angkuh



Zena mengudara, memperhatikan keadaan kota Elang dari atas langit. Sebastian tidak memilih jalur markas untuk menghindari kecurigaan para mafia yang mendudukinya. Gadis itu tak melepaskan pandangan dari jendela, melihat kondisi sebagian kota yang hancur. Hanya sebagian saja Zena sudah tahu seperti apa perang yang dialami Sebastian dalam membebaskan sebagian kota. Ia juga sudah dapat menaksir seberapa besar kerugian yang disebabkan perang tersebut.


"Kau bisa melihatnya sendiri, bukan? Ini hanya sebagian saja, Zena. Kami belum berani melangkah terlalu jauh karena banyak di antara kami yang terluka," ucap Sebastian lirih setelah melirik Zena yang hanya diam tak berbicara.


Gadis itu menghela napas, menjauhkan wajah dari jendela.


"Kita akan menggunakan sisa prajurit untuk melakukan serangan balik. Lagi pula aku yakin, ada pasukan lain yang membantu kalian. Maksudku dari markas Mata Elang," ucap Zena yang tepat sekali.


"Kau benar, kami dibantu salah satu tim markas tersebut," sahut Sebastian tidak menutupi kenyataan.


"Mendaratlah di dekat dermaga, ada yang ingin aku temui di sana," pinta Zena sesaat setelah ia melihat sesuatu di bawah sana.


Sebastian memutar haluan, mendaratkan helikopter di dekat dermaga. Secara kebetulan, tim Elang biru merapat ke dermaga. Mereka baru saja kembali dari menjalankan misi.


"Master!" sapa mereka saat melihat Zena yang berdiri di dermaga.


"Aku suka kerja kalian, tapi perang ini belumlah usai. Aku membutuhkan bantuan kalian untuk merebut kembali markas dari tangan mereka," ucap Zena serius. Kedua tangan yang berpangku di belakang tubuh, membuat wibawanya menguar tak tertolak.


"Siap, laksanakan!" sahut mereka serentak.


Zena menganggukkan kepala, bersama-sama menuju lokasi di mana semua prajurit Sebastian dan tim Elang coklat berkumpul. Malam itu juga Zena akan melalukan penyerangan terhadap mafia di markas Mata Elang.


"Zena, apa dia menyusahkanmu selama perjalanan?" tanya Sebastian. Kedua matanya bermain menunjuk Cheo yang duduk anteng di atas punggung Tigris.


Bocah itu terlihat seperti sosok Tarzan yang baru keluar dari pedalaman hutan.


"Kau bisa tanyakan padanya atau pada hewan yang ditungganginya," sahut Zena tak atuh disambut decakan lidah oleh sang Jenderal.


Rombongan tersebut terus melaju tanpa ada yang mengucap sepatah katapun. Teringat akan ketiga temannya, Zena teringin memastikan keadaan mereka.


"Mmm ... Bas, kau tahu kabar mereka? Aku sama sekali tidak menerima kabar dari mereka semua," tanya Zena tanpa menyebut siapa, Sebastian mengerti mereka yang ditanyakannya.


"Jujur saja aku tidak tahu karena semenjak aku tiba di kota, aku belum memeriksa rumah-rumah penduduk di sini," jawab Sebastian.


Ketiga sosok itu tak ada dalam ingatannya, tapi dalam ingatan Zena juga hatinya, ketiganya adalah orang-orang terpenting untuk diselamatkan. Zena menghempaskan napas kasar, mengurangi rasa sesak yang tiba-tiba menggerogoti ruang dada. Kedatangannya ke kota adalah untuk memastikan keadaan teman-temannya selain membebaskan markas dari cengkeraman para mafia.


"Mereka semua di dalam," ucap Sebastian setelah mereka tiba di sebuah bangunan yang merupakan sebuah gudang penyimpanan makanan.


Sebastian membawa Zena memasuki area tersebut. Terdapat satu bangunan besar dan dua bangunan kecil salah satunya adalah toilet. Orang-orang yang diperintahkan untuk berjaga gerbang menutup dan mengunci rapat kembali pintu yang terbuat dari besi tersebut.


"Selamat datang, Master!" sambut salah satu orang dari tim Elang coklat yang menunggunya di depan gedung.


"Selamat datang, Master!" sapa mereka serentak.


Zena menganggukkan kepala seraya meminta mereka untuk duduk kembali. Di belakangnya menyusul Cheo bersama Tigris, sontak membuat prajurit dari markas tentara terkejut karenanya. Komandan mereka bahkan membelalak, bukan hanya karena kedatangan harimau itu, tapi juga bingung akan sikap hormat para prajurit dari markas besar kepada gadis tersebut.


Zena menjatuhkan tatapan pada komandan militer, tersenyum tipis sambil menunduk sedikit saja. Ia tak pernah merendahkan dirinya di hadapan siapa pun, kecuali hanya sebatas menghargai itu pun dilakukan sekadarnya saja.


"Cheo, pergilah bermain. Kakak ingin berdiskusi dengan mereka," pinta Zena pada Cheo yang masih saja duduk di atas punggung hewan besar itu.


Tanpa membantah, bocah kecil itu mengajak Tigris keluar untuk memutari tempat tersebut. Berkeliling dan bertegur sapa dengan orang-orang yang dikenalnya. Terakhir dia melompat turun dan naik ke atas dahan pohon yang tumbuh rimbun di dalam area gudang. Menyandarkan tubuh pada batang pohon, tertidur melepas lelah setelah setengah hari tak beristirahat. Di bawah, Tigris mengawasi.


"Siapa dia?" bisik sang komandan pada orang di sampingnya. Tak satu pun dari tentara menyambutnya, kecuali beberapa orang yang mencibirnya saat di pulau dulu. Mereka menundukkan kepala.


"Dia teman Jenderal, yang aku dengar begitu. Selebihnya aku tidak tahu siapa gadis itu?" jawabnya tak lepas dari menilik sosok Zena yang mulai duduk dengan penuh wibawa. Ia bahkan tak sempat membersihkan diri sebelum memasuki ruangan tersebut. Di belakangnya tim Elang biru ikut duduk, sedangkan Sebastian bergabung dengan para prajurit lain.


Komandan militer memicingkan mata, sulit untuk diartikan. Namun, ketidaksukaan, jelas terlihat dalam pancaran matanya itu. Zena tak acuh kedatangannya ke tempat itu bukanlah mencari musuh ataupun menarik simpati mereka. Ia menatap prajurit Chendrik, tatapannya tegas dan tajam.


"Kalian mengenal ketiga temanku, bukan? Aku ingin tiga orang di antara kalian mencari tahu kabar tentang mereka. Bisakah?" pinta Zena menegaskan tatapan pada manik sang ketua tim.


"Bisa, Master. Segera saya perintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Anda," sahut sang ketua tanpa ada bantahan. Ia mulai memilih tiga orang yang bisa diandalkan untuk melaksanakan perintah Zena itu.


Hal itu sontak membuat komandan militer tak senang bahkan mengumpati para prajurit Chendrik yang manut saja pada perintah seorang perempuan.


"Hei, tunggu dulu! Kalian mau ke mana? Kenapa mudah sekali menerima tugas yang diberikan wanita itu. Dia bahkan belum memperkenalkan diri siapa dia dan apa jabatannya?" sergah sang komandan yang sontak saja membuat dua pasukan Chendrik tak senang.


Zena menjatuhkan tatapan pada sang komandan, tersenyum tipis meski samar terlihat. Pembawaannya tetap tenang, setengah arus sungai yang dalam.


"Ada apa, Komandan? Kau terlihat tidak senang aku memerintahkan pasukanku sendiri. Bukankah kita seharusnya bekerjasama untuk membebaskan kota dari ancaman para mafia?" sarkas Zena masih mempertahankan posisi kedua garis bibirnya yang tertarik sedikit ke atas.


Komandan itu masih bersikap angkuh, baginya seorang wanita tidak berhak menjadi pemimpin apalagi memerintahkan pasukan.


"Aku hanya belum tahu siapa Anda? Setidaknya perkenalkan dulu siapa nama Anda sebelum meulai memerintah," sahut sang komandan lagi semakin tak senang.


Sebastian menggeleng tak percaya, tak akan mereka bersikap hormat kepada Zena jika gadis itu bukanlah siapa-siapa. Seharusnya cukup melihat itu saja dia sudah tahu seperti apa posisi Zena di mata mereka.


"Apakah itu penting? Tapi kurasa tidak karena aku tidak perlu memperkenalkan diri kepada orang yang selalu memandang remeh orang lain," tegas Zena semakin tinggi menarik garis bibirnya.


Komandan Sebastian menggeram dengan kedua tangan yang dikepalkan. Merupakan sebuah penghinaan baginya disaat seorang gadis berani menentang ucapannya.