
Zena berdiri mematung di tempatnya, menatap kepergian kelompok macan putih dari kantin tersebut. Wajahnya yang polos benar-benar membingungkan semua orang, sesaat tadi mereka lihat Zena yang menyeramkan.
Gadis itu menghendikan bahu, berbalik dan tersenyum canggung pada penjaga kantin yang melongo menatap pecahan beling di lantai kantinnya.
"I-ibu, aku ganti botolnya yang pecah, ya?" katanya seraya mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari sakunya, "apakah ini cukup?" lanjutnya lagi sambil memberikan uang tersebut kepada Ibu penjaga kantin yang masih termangu.
Zena berbalik sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mendapat tatapan aneh dari semua orang membuatnya merasa tidak nyaman. Ia menemui kedua temannya yang termangu di tempat, terlalu syok dengan aksi Zena yang berani melawan kelompok mereka.
"Kalian tidak apa-apa? Kenapa bengong? Maaf, uangku habis dan tidak dapat membawa minuman untuk kalian," katanya penuh sesal. Ia duduk di tempatnya tak acuh pada kedua teman juga semua orang yang seolah-olah mematung.
Grasak-grusuk, keduanya buru-buru duduk menggamit Zena, rapat sekali. Kepala gadis itu menoleh bingung dengan mulut yang dipenuhi mie.
Brugh!
Zena tersentak tatkala seseorang duduk dengan kasar di hadapannya. Kedua bola matanya menjegil hampir keluar karena rasa terkejut yang diterima jantungnya.
"Ada apa dengan kalian?" Ketiganya masih bungkam menatap Zena dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ini minum kalian." Penjaga kantin meletakkan tiga botol minuman lainnya di depan mereka.
Zena menelan sekaligus mie di mutunya, tersenyum pada penjaga kantin yang baik hati. "Terima kasih," katanya sopan.
"Zena, kau berani sekali!" Akhirnya siswa laki-laki yang duduk di hadapan membuka suara. Zena menghendikan bahu dan melanjutkan makannya.
"Apa kau tidak takut? Mereka pasti membalas dendam padamu, Zena," timpal Mirah dengan nada cemas yang tak ia tutupi. Lagi-lagi, gadis itu mengangkat bahu seolah-olah tak peduli.
"Kalian tidak lihat, hanya sekali pukul hidungnya langsung berdarah. Padahal, tangan Zena tidak sekeras itu. Bagaimana kau melakukanya?" Sarah ikut bersuara sambil memeriksa tangan kiri Zena dan membolak-baliknya berulangkali.
"Benar, kau memang luar biasa, Zena. Selama ini tak ada yang berani melawan mereka apalagi sampai bersentuhan secara langsung seperti tadi." Siswa laki-laki tadi bersemangat, entah mengapa dia tertarik mendekat kepada Zena.
"Ben, benar. Mungkin kau orang pertama yang berani melawannya," timpal Sarah yang ikut menggebu mengeluarkan suara.
"Tapi tetap saja. Aku mencemaskan dirimu, Zena. Aku takut mereka akan membalasmu dan membuatmu celaka." Mirah bergetar, ia tak dapat membayangkan jika saja mereka mengeroyok Zena dan membuatnya terluka seperti kebanyakan siswa.
"Mirah, kenapa wajahmu pucat? Rasa takutmu berlebihan." Siswa bernama Ben mengernyit heran mendapati Mirah yang dibanjiri keringat.
Gelisah. Itulah yang ditangkap mereka. Mirah mencondongkan tubuh, yang lain ikut termasuk Zena. Mungkin petunjuk lain.
"Kalian lupa ... mungkin Zena belum tahu karena dia masih baru. Setiap siswi yang diincar kelompok itu pasti akan menghilang keesokan harinya. Mereka akan memilih pindah sekolah dan mencari sekolah lainnya meskipun di bawah standar. Kalian lupa?" Mirah mulai bercerita sambil menoleh ke kanan dan kiri khawatir ada yang menguping.
Zena memutar bola mata, menolak kemungkinan yang diutarakan Mirah. Kelompok itu pasti bersangkutan dengan hilangnya para remaja. Benar, itu sebabnya dia menanyakan soal William kepada Zena.
Jika benar, maka mereka ikut andil dalam hilangnya gadis remaja di kota ini.
Ia bergumam, desas-desus dari bibir ketiganya masih tertangkap rungu. Namun, ia sibuk dengan isi pikirannya, bergelut dengan kejadian hilangnya para gadis.
Aku akan menanyai Laila soal kelompok macan putih ini. Dia pasti tahu sesuatu.
"Zena, kau tidak bisa sendirian. Tetaplah bersama kami, aku yakin jika kita bersatu mereka tak akan berbuat lebih," ucap Mirah sambil menggenggam hangat jemari Zena.
Gadis itu melirik, pandangannya sendu saat melirik tangan berkulit sawo matang itu menumpuk di atas tangannya.
Tak lama kulit hitam ikut menumpuk di atas tangan Mirah, diikuti tangan Ben yang menggenggam tangan Zena yang lainnya. Zena melirik tangan itu, dan melilau ke sekitar. Ia tahu ada utusan Chendrik yang mengawasi, pastilah akan ada drama lagi setelah sampai di mansion.
"Terima kasih, kalian memang teman yang baik," ungkap Zena penuh haru. Mereka berempat berpelukan, saling mendukung satu sama lain, saling menguatkan hati. Padahal, tanpa dibela, Zena sudah pasti dapat mematahkan kesombongan mereka.
Bel berbunyi, semua orang meninggalkan kantin meski masih menatap penasaran pada sosok Zena. Gadis itu diapit ketiga orang yang bersamanya, melindungi Zena si gadis lemah dan lugu. Astaga! Ia terkekeh dalam hati. Mereka bahkan berjanji akan menemani Zena saat perjalanan pulang nanti.
"Kau membawa motor sendiri?" seru Sarah dengan manik berbinar menatap motor gede yang dinaiki Zena.
Zena terkekeh, di perutnya mendekap helm. Tersenyum menatap Sarah yang memandang kagum pada kuda besi miliknya.
"Mau coba menaikinya? Aku antar kau sampai rumah," tawar Zena. Semakin berbinar mata Sarah mendengar tawaran Zena.
"Bolehkah?" Zena mengangguk.
Gegas ia naik di belakang dan mendekap Zena erat.
"Sial! Kenapa gadis itu mendekap tubuh Zena ... dan dia membiarkan?" Seseorang menggeram kesal di dalam mobil tak jauh dari parkiran sekolah.
Iring-iringan rombongan Zena keluar gedung sekolah. Mobil itu pun sigap membuntuti dengan tetap menjaga jarak. Motor Zena diikuti motor Ben dan mobil Mirah.
"Brengsek! Siapa remaja laki-laki itu? Kenapa dia mengikuti Zena?" Ia kembali mengumpat dengan pandangan tajam menusuk. Ingin rasanya menabrak motor itu dan membuatnya hancur berkeping-keping.
Astaga! Siapa dia? Kenapa sampai berpikiran sejauh itu.
"Di mana rumahmu?" Zena berteriak karena suaranya yang terbawa arus angin.
"Aku akan menunjukkan jalannya padamu, hanya melawati komplek di depan maka rumahku sudahlah dekat," jawab Sarah sambil menunjuk jalanan di depan.
Melawati perkebunan sawit milik pemerintah, jalanan sedikit lengang.
"Apa kau setiap hari akan melawati jalan ini?" Zena kembali bertanya.
"Iya, itu sebabnya Papah tidak mengizinkan aku membawa mobil sendiri karena jalanan di sini sedikit sepi," sahut Sarah menjelaskan situasinya.
Keadaan sudah tak mengenakan, Zena merasakan kejanggalan. Ia melirik spion, debu-debu berterbangan jauh di belakang. Membumbung tinggi ke langit seolah-olah menunjukkan kekuasaan di dalamnya.
Zena tersenyum miring, terus melaju ke depan tanpa memberitahu Sarah yang duduk di belakang sambil menikmati sepoi angin di jalanan teduh itu.
"Mereka diikuti?" gumam orang yang berada di dalam mobil jauh di belakang Zena. Ia melesat mendahului rombongan Zena, guna mencari tempat persembunyian.
Deru suara mobil mengusik Ben di atas motornya.
"Kita diikuti!" serunya saat menoleh ke belakang dan mendapati empat buah mobil mengikuti mereka jauh di belakang.
Mirah merapatkan barisan, sejajar dengan motor Zena juga Ben. Ia membuka kaca mobil dan melihat ke arah mereka.
"Bagaimana? Mereka mengikuti," katanya panik. Sadar akan dirinya yang lemah dan tak mampu melawan.
"Terus maju!"