Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Black Shadow II



Zena seolah terhipnotis dengan kehangatan sentuhan Chendrik, cukup lama ia mendekap tubuh itu menikmati kehangatan sebuah dekap yang telah lama tak ia rasakan.


"Ciul." Zena bergumam lirih, hal itu sontak membuat Chendrik terkejut tak senang. Pelukan itu diurainya dengan cepat, hatinya memanas mendengar Zena menggumamkan nama asing yang tak ia ketahui.


"Ah ... maaf. Maafkan aku, Chendrik. Aku tidak sadar memelukmu tiba-tiba tadi. Aku permisi." Zena berpaling terburu-buru, wajahnya yang menghangat menciptakan semburat merah di kedua pipi. Gegas ia berbalik dan hendak pergi meninggalkan ruang kerja Chendrik.


Namun, pemimpin markas itu sudah tersulut api cemburu, tak akan ia membiarkan Zena pergi begitu saja. Dicekalnya tangan Zena untuk menahan kepergiannya. Chendrik menarik tangan itu menyentak tubuh Zena secepat kilat hingga menabrak pada tubuhnya.


Posisi mereka kembali berpelukan dengan Chendrik yang mendekap pinggangnya, sedangkan tangan Zena sendiri berada di dada laki-laki itu menahannya agar tetap menjaga jarak.


"Aku mau pergi." Zena meronta.


"Siapa Ciul? Katakan padaku, apakah dia laki-laki ataukah perempuan? Kenapa kau memanggil namanya?" cecar Chendrik menekan nama Ciul yang disebutkan Zena tanpa sadar.


"Ciul ... dia temanku dari pulau. Lepaskan!" sahut Zena tak kalah keras. Ia terus memberontak hingga rangkulan Chendrik di pinggangnya terlepas.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau terlalu memaksa? Ciul, dialah orang yang ingin aku cari. Kau tidak bisa melarangku!" ketus Zena tak lagi bisa menahan dirinya.


Chendrik menghela napas gusar, tanpa sadar membuat emosi Zena naik. Namun, gejolak cemburu yang selalu hadir kian bertambah setiap harinya.


"Menikahlah denganku, Zena. Jadilah milikku, setelah itu aku akan mengurangi rasa cemburuku."


Ah, sayangnya, kalimat itu hanya ia ucapkan dalam hatinya.


"Aku tidak akan melarangmu pergi, Zena, tapi mendengar kau ditandai kelompok Black Shadow itu aku risau memikirkan keselamatanmu." Chendrik menurunkan egonya. Memang benar, keselamatan Zena lah yang ia pikirkan. Sekalipun dia tahu bagaimana keahlian gadis di depannya itu dalam seni beladiri.


"Black Shadow, memangnya apa yang kau takutkan dari mereka? Bukankah kau memiliki pasukan lebih besar dari pada kelompok itu?" ketus Zena. Napasnya masih saja memburu karena kesal terhadap sikap laki-laki yang begitu mengaturnya.


"Kau ingin tahu siapa kelompok itu dan dendam apa yang selama ini aku pendam?" Manik coklat di depannya, berkilat penuh amarah. Bulir dendam memancar seolah-olah menuntut penyelesaian.


Zena bergeming, sorot matanya masih setajam elang menatap mangsa. Kedua tangan dikepalkan dengan kuat, gejolak di hatinya sedang membuncah. Ciul, tak hanya sekedar teman, tapi dia juga Kakak dan orang yang selalu menemani Zena di mana pun. Baik saat di pulau, maupun saat ia merantau ke kota.


"Kau ingat kejadian sepuluh tahun silam, Zena? Saat seorang laki-laki tua memberikanmu seorang bayi? Saat kau dikejar-kejar sekelompok orang berseragam serba hitam? Apa kau mengingatnya?" tanya Chendrik menatap sendu gadis yang mematung di depannya.


Lintasan peristiwa malam itu, kembali terbayang. Di mana seorang laki-laki tua tiba-tiba menyerahkan seorang bayi kepadanya. Di malam itu dia juga harus bertaruh nyawa menyelamatkannya dari kejaran orang-orang yang ingin membunuhnya.


"Tentu saja aku mengingatnya, kau pikir kejadian itu akan mudah aku lupakan begitu saja? Kejadian sengit yang harus melibatkan seorang anak belia berusia tiga belas tahun. Kalian pikir aku tidak takut ketika itu? Memikirkan untuk beristirahat saja rasanya aku tidak bisa," ucap Zena lantang dan tegas.


Ada kegetiran dalam nada yang ia keluarkan, berpikir untuk selamat saja ia tak sempat melakukannya. Yang terpenting untuknya saat itu adalah lari sejauh mungkin demi menghindari kejaran orang-orang berseragam hitam.


"Aku meminta maaf untuk itu dan juga berterimakasih kepadamu." Chendrik berucap tulus.


"Mereka adalah kelompok Black Shadow yang disewa mantan istriku dan keluarganya untuk membunuh bayi itu. Beruntung, Ayah cepat mengetahui dan berusaha membawanya lari. Dia bahkan rela menukar nyawa demi keselamatan anakku. Aku memiliki dendam secara pribadi kepada mereka, Zena." Getir itulah yang ditangkap Zena dari setiap kata yang diucapkan Chendrik.


Zena memicingkan mata, masih tidak terima dia yang berusia sangat muda dan sedang mencari kerja demi merubah nasib harus berhadapan dengan bahaya.


"Kenapa tidak kau musnahkan saja kelompok itu? Cari sarang mereka dan hancurnya sampai ke akarnya. Kau malah membiarkan mereka terus hidup dan merajalela membuat keonaran. Apa kau takut?" sengit Zena sembari menatap malas laki-laki di depannya.


"Ada yang kau tidak tahu tentang kelompok itu, Zena. Mereka tak hanya pandai bersembunyi, tapi juga selalu berpindah-pindah markas. Aku sendiri sudah mencarinya ke segala pelosok Negeri, tapi sampai sekarang belum juga membuahkan hasil. Lalu, kau datang membawa informasi tentang adanya salah satu dari kelompok mereka di sekolah. Ini memberiku harapan untuk dapat membalas dendam kepada mereka. Berhati-hatilah, Zena. Kupikir dia ada maksud lain mendekatimu," ucap Chendrik lagi menatap Zena dengan kecemasan yang tiada terbatas.


Gadis itu membeku, tatapan mata Chendrik sama persis seperti Nira saat ia menghajar dua orang preman untuk menyelamatkannya malam itu. Tatapan kecemasan dan kekhawatiran, tapi bedanya manik Nira selalu basah disaat Zena harus berhadapan dengan bahaya.


"Kau ... mengkhawatirkan aku? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Zena melembutkan urat-urat yang tegang beberapa saat tadi.


Nira dan Ciul adalah dua orang berharga dalam hidupnya. Dia ingin menemukan mereka segera, setidaknya dia tahu keduanya hidup dengan baik selama ini. Di manakah?


"Kau menyadarinya? Aku memang mencemaskanmu, Zena. Setiap kali kau harus pergi keluar, aku tak pernah berhenti untuk tidak memikirkanmu. Itulah kenapa aku mengirim mata-mata untuk selalu mengawasimu dan melaporkan apa saja yang kau lewati saat di luar. Semua itu agar aku dapat datang tepat waktu saat bahaya sedang mengintaimu," ungkap Chendrik.


Pandang keduanya beradu, jarak yang tak seberapa jauh itu membuat mereka dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Zena terenyuh, sebegitu pedulikah laki-laki di depannya itu? Padahal, Zena selalu bersikap tak acuh padanya. Sepertinya, mulai sekarang Zena harus lebih membuka diri untuk menerima sikap Chendrik yang berlebih dengan segala aturannya yang tak masuk akal. Setidaknya itulah yang saat ini ada dalam pikiran Zena.


"Jadi, kelompok itu yang sudah membunuh Kakek?" Suara Sebastian menyambar terdengar geram dan penuh emosi. Zena dan Chendrik sama-sama menoleh, laki-laki berpangkat jenderal itu pun terlihat memancarkan dendam yang sama.


"Maaf, aku lupa jika kalian masih di sini. Ya, Bas. Merekalah yang telah membunuh Kakek malam itu," ucap Chendrik tak enak hati karena melupakan kehadiran Keduanya. Padahal, mereka baru saja masuk kembali.


"Kita harus mengawasi laki-laki itu, Bas, tapi jangan terlalu mencolok. Kau harus bisa menahan diri agar semua rencana bisa berjalan dengan baik." Sebastian mengangguk mengerti.


Mendengar itu, Zena teringat bahwa mulai besok dia akan selalu bertemu dengan dua laki-laki ini di sekolah. Oh, tidak!