Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Dilema



"Ke mana mereka membawa gadis itu? Ah ... aku ingin sekali mengikuti mereka, tapi bagaimana dengan belalang itu? Dia akan mengikutiku pulang hari ini. Sial!" gerutu Zena sambil menatap kosong ke dalam kamar mandi di mana sebuah tas teronggok.


Ia memungutnya, memasukkannya ke dalam tas sendiri sebelum meninggalkan kamar mandi. Zena menghela napas panjang menormalkan ekspresinya sebelum berjalan di lorong sekolah yang sunyi.


Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri tak satupun orang yang nampak di gedung bertingkat itu.


"Benar-benar sepi. Pantas saja dijadikan kesempatan untuk berbuat kejahatan. Rasanya, aku sudah muak dengan semua ini, tapi harus bertahan sampai waktu kelulusan tiba," gumamnya sambil terus berjalan seorang diri.


"Bukankah dia gadis itu?"


"Benar, dia memang gadis itu. Aku sangat membencinya."


"Dia sendirian, apa yang akan kau lakukan padanya sekarang?"


"Tidak ada, aku sedang malas berselisih. Biarkan saja."


"Aku menginginkannya."


"Tidak akan mudah."


"Tapi dia terlihat polos."


"Tidak seperti itu, penampilannya seperti kamuflase."


"Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkannya."


"Terserah kau."


Perbincangan rahasia di dalam sebuah gedung. Dua pasang mata itu terus mengawasi Zena yang masih berjalan sendirian di lorong sekolah.


"Aku tidak sendirian di sini. Banyak pasang mata mengawasi termasuk milik Chendrik." Senyum tipis tercetak di bibirnya, tanpa menjeda langkah Zena terus turun ke lantai dasar.


Sama seperti di lantai kelasnya berada, di lantai itupun sepi hanya desiran angin yang menemani. Juga debu yang beterbangan mengotori lantai dan setiap apa yang dilewati.


Zena terus membawa langkah menuju parkiran, mengenakan helm dan sekali lagi memindai. Ia menyeringai saat mendapati dua orang berdiri di balik sebuah jendela. Seringai itu seolah-olah sengaja ia tujukan pada keduanya penuh ancaman.


"Dia melihat kita?"


"Sudah aku katakan dia tidak sepolos yang kau kira."


"Menarik, aku tidak akan menyerah begitu saja."


"Terserah, aku sudah memperingatkanmu."


Lawan bicaranya memilih pergi, tapi ia masih berdiri di sana melihat ke arah Zena. Gadis itu menjalankan motornya, melaju perlahan meninggalkan sekolah sambil berpikir ke mana ia akan pulang. Tak akan mungkin Zena pulang ke mansion Chendrik.


"Ah, bodoh! Ke rumah Paman, dia orang tuamu saat ini!" Zena terkekeh saat mengingat Adhikari dan Cana. Tujuan sudah ditentukan, sekarang menyusun rencana untuk dapat mengungkap ke mana gadis-gadis itu membawa siswa yang tadi.


"Ah, astaga! Rumah itu! Ya, pasti mereka membawanya ke sana. Tidak kusangka mereka beraksi di tengah kota, dan tidak ada yang menyadarinya?" gumamnya lagi.


Benar saja, tak jauh dari motornya, sebuah mobil mengikuti meski tidak mencolok.


"Ini jalan menuju mansion pemimpin markas itu. Ah, aku teringat malam itu aku mengirimkan orang untuk mengawasi mansion-nya, tapi hingga saat ini dia tidak kembali," gumam laki-laki yang membuntuti motor Zena.


"Apa memang seketat itu?" Ia bertanya pada dirinya sendiri sambil menebak-nebak ke mana Zena akan pergi.


"Oh, benar juga. Rumah dokter Adhi ke arah sini. Kenapa aku bisa lupa?" Dia terkekeh sendiri. Menertawakan dirinya yang merasa tertipu oleh tindakan Zena.


Jalanan ibukota yang dipadati bangunan, lalu-lalang kendaraan, juga para pejalan kaki yang hilir-mudik tiada henti. Rumah Adhikari berada beberapa kilometer dari rumah sakit tempatnya bekerja.


"Aku rindu masakan Bibi." Zena mempercepat laju motornya, ingin segera sampai di rumah. Tiba di luar pagar rumah, Zena menghubungi pemiliknya.


"Paman, seseorang membuntutiku. Aku tidak mungkin pulang ke rumah Chendrik. Tolong bukakan gerbangnya, aku menunggu di luar. Katakan pada Bibi untuk berakting, aku yakin dia mengawasi," pintanya dengan berbisik setelah Adhikari mengangkat telepon.


"Baiklah." Ia mematikan sambungan telepon.


Zena menunggu di atas motor, berpura-pura menelpon orang tuanya.


"Ayah, aku di luar. Tolong bukakan pintu untukku!" pinta Zena cukup keras. Ia menyimpan kembali ponselnya dan menunggu gerbang dibuka.


Perlahan gerbang besar itu terbuka, Adhikari dan Cana menyambutnya dengan senyuman. Zena memarkirkan motor, dan mendatangi keduanya. Cana menyambut dengan pelukan, mencium pipi kanan dan kirinya menumpahkan rasa rindu karena tak berjumpa beberapa hari lamanya.


"Hmm ... keluarga yang harmonis. Mereka terlihat manis, beruntung sekali Zena mempunyai orang tua yang menyayanginya. Pantas saja dia selalu terlihat ceria," gumam laki-laki bergelar Black Shadow itu.


Matanya menatap haru pada Zena dan kedua orang tua itu yang merangkul tubuhnya seraya membawa masuk anak kesayangan mereka. Ia menjalankan mobilnya setelah gerbang itu tertutup.


"Siapa yang membuntutimu, Nak?" tanya Cana setelah mereka berada di dalam rumah.


"Black Shadow, Bibi. Dia mencurigaiku, dan semua penjahat di sekolah itu mulai curiga padaku karena kehadiran Sebastian juga Chendrik ke sekolah," katanya cemberut.


Cana membawa Zena untuk duduk di ruang keluarga, bersama Adhikari yang hari itu tidak pergi ke manapun.


"Sebentar, Bibi ambilkan minum," ucap Cana seraya meninggalkan mereka menuju dapur.


"Paman, aku menemukan bukti lain di atap sekolah itu." Zena memperlihatkan ponselnya kepada Adhikari.


Sang dokter membenarkan letak kacamata sebelum melihat apa yang ingin ditunjukkan Zena kepadanya.


"Apa ini?"


"Itu markas Black Shadow di atas atap. Di dalamnya, ada sederet foto para siswi yang hilang juga sedang ditandai termasuk aku. Di bagian lainnya juga ada gambar-gambar laki-laki para prajurit Chendrik yang waktu itu aku selamatkan. Black Shadow bekerjasama dengan para mafia itu, Paman," ungkap Zena menebak-nebak, tapi kenyataannya memang benar.


Itu artinya, Black Shadow masih berkaitan dengan William dan Laila. Apa kabar dengan gadis itu? Apakah dia baik-baik saja? Terbersit dalam hati Zena niat mengunjunginya di dalam tahanan.


Mungkin saja saat ini dia sudah bisa diajak kompromi. Semoga saja.


Berharap dalam hati agar ia segera dapat membuka semua rahasia. Keyakinan Zena bertambah, jika saja Laila dapat diajak bicara secara baik-baik.


"Paman akan membawanya ke markas. Berhati-hatilah, Zena. Bibimu setiap hari bertanya tentang keadaanmu, dia sangat mencemaskan keselamatanmu," ungkap Adhikari.


Zena terenyuh, berselang Cana datang membawakannya minuman juga kudapan sebelum memasuki makan siang.


"Mungkin untuk beberapa hari ke depan, aku akan pulang ke rumah ini. Apa Paman dan Bibi tidak keberatan?" tanya Zena melirik keduanya secara bergantian.


"Benarkah?" Binar di mata wanita itu nampak bercahaya, "tentu saja tidak, sayang. Kami akan senang jika kau ingin tinggal di sini. Jangankan beberapa hari, selamanya saja Bibi akan sangat senang," ungkap Cana dengan tulus.


Benar, wanita itu tak menyembunyikan kebahagiaannya disaat Zena mengatakan hal itu. Ia tersenyum, memeluk Cana penuh syukur.


"Terima kasih, Bibi."