Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kembali Bangun



"Zena!"


Gadis berambut panjang dengan iris kelam itu menoleh saat sebuah suara memanggil namanya. Senyum mengembang di bibir, maniknya berbinar terang. Ia berlari kecil dan berhambur memeluk kedua orang yang selama hidupnya ia rindukan.


"Ayah, Ibu. Aku merindukan kalian," ucapnya lirih dengan suara yang tercekat di tenggorokan.


"Kami juga merindukanmu, Nak. Kau hidup dengan sangat baik. Kami bangga padamu, sayang. Teruskan perjuanganmu, semuanya berjumlah usai," ucap sang Ibu sembari memberikan sapuan lembut pada rambut panjang putrinya.


Zena melepas pelukan, kedua tangannya saling menggenggam salah satu dari tangan mereka. Tersenyum manis dan hangat sama persis seperti saat ia kecil dulu.


"Kalian tenang saja, aku tidak sendirian. Ada banyak orang yang menyayangiku sekarang." Zena menatap penuh cinta pada kedua orang tuanya. Sekalipun hanya dalam mimpi, tapi itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindu.


"Kembalilah, sayang. Mereka menunggumu," ucap sang Ayah sambil mengusap pipi lembut Zena.


Gadis itu mengangguk dengan mata terpejam, kedua orang tua itu kembali memeluknya. Memberikan rasa hangat sebelum mereka berpisah kembali.


"Zena? Apa dia belum juga sadar?" tanya Sebastian yang baru saja muncul ke ruangan di mana Zena dirawat.


Chendrik yang menjaga bersama Cheo menggelengkan kepalanya tanpa menyahut. Sudah hampir dua malam Zena tertidur menutup mata. Misi yang dijalankannya terlalu berat sehingga membuat lelah baik secara fisik maupun secara mental. Namun, bukan itu yang membuat Zena tertidur panjang kali ini, tapi karena dia ingin berlama-lama bersama mereka di alam mimpi.


Tubuhnya hanya lelah, dia butuh istirahat setelah berhari-hari tak dapat tidur dengan nyenyak karena masalah yang datang silih berganti.


"Zena!" Menyusul suara Mirah dan kedua teman Zena yang lainnya muncul ke ruangan gadis itu.


"Kalian juga datang?" Chendrik menoleh dengan alis terangkat.


Mereka mengangguk, berjalan masuk bersama Ben yang dibantu sebuah tongkat karena cedera di kakinya belum pulih.


"Dia belum bangun, Master?" tanya Mirah setelah berada di sisi lain ranjang di mana Zena masih memejamkan mata rapat-rapat.


"Belum, entahlah. Mungkin dia terlalu lelah karena selama beberapa hari tidak tidur dengan nyenyak," jawab Chendrik penuh perhatian.


Mereka dapat melihat itu, misteri hilangnya Zena disaat pesta belumlah terungkap. Ke mana dia saat itu, dan apa hubungannya dengan kelompok macan putih. Mereka teringin tahu.


Cheo duduk di ranjang tak lepas matanya menatap Zena berharap gadis itu akan segera membuka mata. Harapan hanya tinggal harapan, Zena masih terlelap dalam kenikmatan alam mimpinya.


"Zena, kami datang menjenguk. Semua orang ingin bertemu denganmu. Guru-guru juga ingin menyampaikan banyak terima kasih padamu. Cepatlah bangun, Zena. Kau terlalu lama tertidur," ucap Sarah menatap sendu Zena yang terbaring tak berdaya di atas ranjangnya.


Gadis itu melenguh, kelopak matanya berkedut. Jemari yang digenggam Cheo bergerak lemah, dia bangun.


"Kakak bangun! Aku merasakan tangannya bergerak," ucap Cheo kegirangan. Semua orang antuasias menunggu, Sebastian berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter. Ia kembali masuk bersama tim medis dan meminta ruang pada semua orang untuk memeriksa keadaan Zena.


Ada dokter Adhikari di sana yang secara khusus menangani Zena. Dokter sepuh itu lekas memeriksa keadaannya, ia tersenyum seraya beranjak menjauh.


"Dia sudah stabil, keadaannya baik-baik saja. Mungkin karena terlalu lelah, dan kurangnya istirahat yang membuatnya tertidur lama," ucapnya dengan perasaan lega yang tak terkira.


Zena membuka mata perlahan, silaunya cahaya lampu membuat kelopak itu kembali terpejam. Lantas terbuka setelah menyesuaikan keadaan. Ia tersenyum saat untuk pertama kalinya, wajah lega Cheo yang ia lihat.


"Kau baik-baik saja? Apa semuanya telah berakhir?" tanyanya seraya beranjak duduk. Wajah itu terlihat cemas, pikirannya masih melayang pada pertempuran malam kemarin.


"Kakak tenang saja, semuanya sudah berakhir. Mereka semua di sini mengkhawatirkan Kakak," jawab Cheo sembari menunjuk pada ketiga teman Zena yang berdiri tak jauh dari ranjangnya.


Gadis itu menoleh, melebarkan matanya tatkala melihat mereka baik-baik saja.


Tangannya merentang lebar meminta pelukan dari mereka. Kedua gadis itu beranjak, mendekat dan memeluk Zena. Diikuti Ben yang juga ingin memeluk sahabatnya, tapi kedua tangannya ditahan Chendrik dan Sebastian tak memberikan izin untuk melakukan itu.


Ben meringis, hampir menangis saat mata keduanya menatap nyalang penuh ancaman.


"Kami baik-baik saja, Zena. Kami mengkhawatirkan dirimu yang tertidur sangat lama," ucap Sarah memberitahu Zena perihal kondisinya.


"Oya? Aku tidak tahu itu." Zena nampak terkejut, tak menduga akan tertidur cukup lama. Mirah mengangguk membenarkan. Gadis itu melongo ke belakang tubuh dua temannya, melihat Ben yang tersenyum miris karena tak mampu mendekati Zena.


"Ben! Bagaimana keadaanmu? Kenapa kau hanya berdiri di sana? Apa kau tidak merindukan aku?" cecar Zena antusias.


Ia sama sekali tak terlihat lesu meskipun baru saja bangun dari tidur lamanya. Matanya berbinar menatap Ben, hanya beberapa saat sebelum menangkap masalah yang membuat Ben tertahan.


Bola mata kelam itu melirik pada dua laki-laki yang berada di belakang Ben. Berputar ke bawah dan mendapati tangan mereka mencekal lengan sahabatnya.


"Kenapa kalian berdua menahan Ben? Lepaskan, biarkan dia mendekat ke arahku," bentak Zena dengan kedua bola mata melotot lebar.


Chendrik melepas tangannya diikuti Sebastian. Keduanya terlihat salah tingkah, memalingkan wajah menatap hal lain seraya beranjak duduk di sofa. Ben perlahan mendekat, meskipun takut, tapi dia ingin mendekat kepada Zena.


"Oh, Ben ... maafkan aku, bagaimana lukamu? Apa semakin parah?" tanya Zena dengan nada khawatir yang mengalun lembut.


Ben tersenyum senang, tak peduli pada kedua macan yang mungkin saja menggeram marah.


"Sudah lebih baik, Zena. Kau jangan terlalu mengkhawatirkan aku," jawabnya lugas.


"Cih, cari muka! Padahal, berjalan saja tadi hampir menangis sekarang mengatakan aku baik-baik saja, kau jangan khawatir." Chendrik mencibirkan bibir mengejek Ben.


Remaja laki-laki itu meringis, wajahnya berubah muram. Hatinya perasaan, bertanya-tanya mengapa ia tak disenangi dua laki-laki itu?


"Chendrik!" bentak Zena tak senang.


Laki-laki itu melengos tak acuh. Rasa cemburu dalam hatinya semakin memuncak hingga tanpa sadar gumaman yang ia lakukan terdengar semua orang.


"Awas saja nanti saat Zena sudah menikah denganku, aku tak mengizinkan laki-laki manapun mendekatinya!" Nada yang ia keluarkan terdengar geram dan kesal.


Sebastian yang berada dekat dengannya mengernyitkan dahi tak suka. Sedikit rasa cemburu dan tak senang jika Chendrik memiliki Zena.


"Memangnya kau yakin Zena mau menikah denganmu?" sarkas Sebastian sambil mencibirkan bibir.


Chendrik melirik tajam, sekalipun dia adiknya tetap saja merupakan saingan dalam memperebutkan hati Zena.


"Ada apa denganmu? Apa kau cemburu?" Chendrik balik menyerang.


"Cih! Cemburu pada laki-laki dingin dan tak romantis sepertimu untuk apa? Kau saja tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita." Sebastian tak mau kalah.


"Apa katamu?!" Chendrik berdiri dengan geram.


"Stop! Apa yang kalian lakukan? Kalian tidak malu pada kami, hah? Jika ingin bertengkar jangan di ruanganku! Keluar kalian berdua!" bentak Zena tak tanggung-tanggung.


Cheo terkekeh melihat wajah terkejut dua laki-laki itu, sedangkan ketiga teman Zena melongo tak percaya. Apakah dua orang itu memperebutkan Zena?