
Peperangan besar tak dapat dihindari lagi, Chendrik lengah dan hanya memfokuskan serangan pada gerbang utama markas. Setengah dari prajurit yang bersiap dibalik gerbang, menunggu kedatangan para mafia dengan pedang di tangan.
Para penembak jitu pun terus menjatuhkan satu demi satu musuh yang seolah-olah tak pernah habis. Selalu datang lagi dan lagi.
"Mereka tidak ada habisnya," umpat salah satu penembak yang terheran-heran dengan situasi musuh saat ini.
"Bukan waktunya untuk bengong, tembak terus!" seru Adhikari sambil berkeliling mengawasi keadaan para prajurit yang terlibat dalam perang.
"Baik, Master!"
Mereka mulai membidik lagi, menembak secara terus-menerus mengurangi jumlah musuh yang berdatangan.
"Argh!"
Mereka terperanjat saat salah satu dari rekan terjatuh dengan dahi tertembus peluru.
"Waspada! Musuh memiliki sniper, cari dan incar. Aku yakin mereka ada di antara orang-orang itu," titah Adhikari.
Laki-laki itu menggunakan teropong untuk melihat letak sniper yang mereka miliki. Dari menara yang hanya memiliki satu lubang jendela, cukup menyembunyikan tubuh mereka dari mata kasar para penjahat.
"Arah jam tiga," ucap Adhikari.
Sniper di sampingnya langsung mengarahkan senjata pada arah yang dia tunjuk. Peluru dilepas dan tepat mengenai sasaran. Ia mulai memindai lagi, mencari keberadaan yang lain.
"Arah jam dua belas tepat! Di dalam mobil truk itu." Adhikari kembali memutar teropong. Jarak musuh dengan markas hanya tinggal beberapa meter saja, tapi musuh seolah-olah tak berkurang sedikit pun.
Satu lagi sniper musuh dapat dikalahkan. Timah panas yang diluncurkan prajurit itu, menembus kaca depan truk dan langsung menancap di dahi targetnya. Lagi-lagi bola api berukuran Besar dilayangkan menghantam dinding penjaga markas.
Chendrik membalas serangan, pertemuan dua mesiu raksasa itu terjadi di udara. Mereka meledak dan menjatuhkan percikan api yang menimpa sebagian orang-orang di bawahnya. Serangan lanjutan diterima Chendrik, kali ini bola api membumbung tinggi ke langit dan jatuh di tempat Chendrik mengawasi.
"Menghindar!" teriaknya seraya melompat bersama mereka yang bertugas menjaga meriam.
Bangunan itu runtuh, rata dengan tanah. Beruntung, mereka semua berlompatan ke gedung yang lain.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus cepat mengakhiri semua ini. Jika tidak, mereka pasti akan berhasil menerobos masuk," ucap Chendrik pada diri sendiri sebelum beranjak berdiri dan menuruni gedung tersebut.
Hal lain yang tak kalah mengejutkan, para pemanah kedatangan musuh dari alah lain. Mereka menghujani para mafia dengan anak panah, banyak dari mereka terjungkal karena tertancap anak panah.
Gebang Utara dan utama markas menjadi kritis. Para mafia tak ada habisnya, terus bermunculan seolah-olah mereka hanyalah robot-robot yang digerakkan oleh sebuah remote kontrol.
"Serang!"
Kedua gerbang itu berhasil dibobol mereka. Perang samurai selanjutnya. Bunyi letusan senjata api terus membahana di langit kota Elang. Para penduduk yang berdiam diri di dalam rumah, tak henti-henti berdoa mendoakan Chendrik dan markas Mata Elang agar bisa mengusir para mafia dari kota mereka.
"Ya Tuhan! Berikan pertolongan-Mu kepada para pahlawan kami. Pinjamkan mereka kekuatan dari-Mu agar dapat menyelamatkan kota kami."
Demikianlah mereka berdoa, untuk terjun langsung ke Medan pertempuran rasanya tidak mungkin karena selain tidak memiliki kecakapan dalam bertempur, mereka juga tidak memiliki keberanian.
Chendrik menarik samurainya, bergabung dengan prajurit berperang di darat. Letusan dari meriam terus bermunculan, kali ini dua peluru sekaligus diluncurkan ke arah meriam musuh. Bunyi dentaman bersamaan dengan bumi yang berguncang saat dua mesiu mendarat tepat si atas truk yang mengangkut meriam musuh.
Serangan udara pun tak luput, pesawat tempur bermunculan menyerang markas dari atas. Bangunan-bangunan di dalam markas milik Chendrik mulai hancur, para prajurit banyak yang tumbang.
Sring!
Hirata menarik samurai dari sarungnya, ia keluar dari salah satu mobil yang ikut serta dalam peperangan.
"Dia bagianku. Biarkan aku yang mengalahkannya," ucap Hirata menuding Chendrik yang membabi buta menyerang orang-orangnya.
Ia berlari sambil menghunuskan samurai ke depan. Chendrik yang sibuk menyerang dikejutkan oleh kedatangan sebuah samurai yang menebas tubuhnya. Hampir mengenai bagian perut jika saja ia tak cepat menghindar.
"Kau ternyata licik, menyerang dari belakang saat aku lengah," ucap Chendrik setelah mengambil jarak dari musuh.
Hirata tertawa, senang sekali mempermainkan emosi Chendrik. Akan tetapi, sang pemimpin itu tetap terlihat tenang tak terbawa emosi.
"Sudah lama aku menantikan ini, berhadapan langsung denganmu dan membuktikan pada dunia siapa yang paling unggul di antara kita," ucapnya dengan lantang.
Chendrik memicingkan mata, menelisik sosok yang begitu ia kenal dan kini menjadi musuh yang ingin menghancurkannya.
"Mari kita buktikan!" tantang Chendrik sembari mengeratkan genggaman pada gagang samurai.
"Owh, baik. Ternyata kau tidak sabaran, ya."
Hirata mulai merangsek maju, berlari ke arah Chendrik sembari mengayunkan samurainya. Di sisi lain, Chendrik juga berlari siap menyambut serangan musuh, atau lebih tepatnya mantan sahabat.
Trang!
Bunyi besi beradu menciptakan percikan api kecil saking kuatnya tenaga yang mereka keluarkan. Terus terdengar sehingga keduanya mengalihkan fokus yang lain. Menyerang, menangkis, secara bersamaan mereka lakukan.
Serangan Hirata lebih agresif dan mengarah pada bagian vital dalam tubuh. Jika lengah sedikit saja maka nyawa akan melayang. Mereka beradu serangan sebelum bersama-sama mengambil jarak.
Samurai Chendrik berhasil menggores kulit wajah Hirata, tapi ia juga terkena sabetan samurai di bagian lengannya. Darah merembes dari kemeja yang terkoyak, tapi Chendrik mencoba untuk menahan pedih demi semua orang yang dia lindungi.
"Sial, tapi aku suka," ucap Hirata sembari mengusap cairan merah di pipi lantas menghisapnya. Hal itu membuktikan jika dia adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang tak kenal ampun.
Serangan kembali terjadi, bunyi samurai berdentang dengan begitu cepat. Gerakan yang dilakukan Hirata masih sangat agresif menebas dengan kekuatan penuh seolah-olah ingin cepat-cepat mengakhiri semuanya.
Rasa ngilu yang dirasakan Chendrik pada luka di lengan, membuat tangannya kekurangan tenaga. Ia mengalihkan samurai ke tangan kirinya, menangkis dan menyerang secara bersamaan berharap dapat memberikan sayatan di tubuh kekar Hirata.
"Argh!"
Keduanya kembali termundur mengambil jarak, satu sayatan lagi diterima Hirata di bagian pundak kirinya. Chendrik menyeringai, setidaknya dia unggul dari mantan sahabatnya itu.
Tidak terima kekalahan, Hirata kembali berlari. Wajahnya menghitam dan jelek, terus menyerang sampai Chendrik dibuat kewalahan. Sampai pada saat di mana dia berhasil menerbangkan samurai dari tangan pemimpin markas itu, dan lalu menghunuskan samurai di tangannya tepat di leher Chendrik.
Ia tersenyum penuh kemenangan, berjalan memutar dengan samurai yang melingkari leher pemimpin markas itu. Hirata menendang kaki Chendrik hingga dia jatuh berlutut. Wajahnya terangkat memandang sekitar.
"Turunkan senjata kalian, jika masih menginginkan pemimpin kalian hidup!"
Suara lantang Hirata menghentikan laju pertempuran. Satu per satu dari prajurit Chendrik melempar senjata mereka, mengangkat tangan dan meletakkannya di belakang tengkuk. Mereka ditendang hingga posisi mereka sama seperti sang pemimpin. Pesawat tempur milik markas tentara menarik diri dari arena perang.
Chendrik menatap para prajurit yang menyerah, mereka diseret ke penjara bawah tanah, dikurung sebagai tahanan. Terakhir, mengikat kedua tangan Chendrik dan membawanya ke sel tahanan. Malam itu, markas besar Mata Elang ditaklukan. Chendrik merasa tidak berguna, dia diam dan tak banyak bicara. Duduk menekuk lutut dengan kepala tertunduk malu.