
"Penyusup!"
"Tangkap!"
Suara teriakan itu menggema dari salah satu penjahat, Zena terpaksa menghentikan langkah mematung di tempat. Genggamannya pada gagang samurai mengerat, bersiap untuk melawan kapan saja mereka menyerang.
Derap langkah mereka serentak, berhambur mengelilingi Zena. Gadis itu bergeming, kedua matanya terpejam rapat menahan gemuruh dalam dada. Gagal sudah rencananya untuk membuka jalan bagi mereka. Dia terkepung dari segala arah, tak ada celah untuk keluar.
"Siapa kau? Beraninya masuk ke sarang musuh seorang diri. Merasa hebat?" hardik salah seorang dari penjahat itu.
Lihat saja cara mereka berdiri. Sempoyongan hampir tak dapat menahan beban tubuh sendiri. Zena mencibirkan bibir, meski kalah jumlah bukan berarti dia akan menyerah.
"Siapa aku itu tidaklah penting, tapi apa yang kalian lakukan sangat tidak manusiawi. Aku tidak bisa mengampuni kalian semua," sahut Zena mulai memasang kuda-kuda sembari mengangkat samurainya.
"Hmm ... wanita-"
Kalimatnya tercekat di tenggorokan ketika orang-orang yang mengikuti Zena berhamburan keluar. Mereka mengepung dari belakang. Suara pintu didobrak dengan paksa pun turut menambah rasa panik. Pintu itu terbuka, rombongan lain merangsek masuk mengepung dari sisi lain.
Kecuali, kepala desa dan istrinya juga sebagian yang lain. Mungkin mereka menjaga anak-anak ataupun membawa mereka kembali ke desa.
"Kalian terkepung!" cibir Zena memiringkan senyum.
"Sial!"
Umpatan demi umpatan mereka layangkan, kepanikan jelas terlihat di wajah semua penjahat itu.
"Di mana kalian menyembunyikan semua anak-anak?" tanya salah satu warga sembari mengacungkan golok di tangannya.
Tak ada sahutan, mereka semua bungkam. Zena masih berdiri di sana, di tengah-tengah para penjahat yang mengelilinginya. Seorang penjahat yang berada di belakang tubuh Zena bergerak cepat dengan sebuah pisau berkilat di tangan. Dia berencana menjadikan gadis itu sandera untuk memukul mundur para penduduk.
Namun, langkahnya terhenti beberapa jengkal dari tempat Zena berdiri. Matanya membelalak, mulut terbuka lebar. Tak lama, darah menyembur dari mulutnya. Dia melirik ke bawah, samurai menancap di perut. Dengan kasar Zena menarik benda itu. Tubuh penjahat terjatuh tanpa nyawa.
"Main curang? Baiklah, mari kita mulai!" Zena menyeringai.
Memainkan samurai di tangan, tungkainya menari dengan lincah ke hadapan. Kedua tangan gemulai meliuk-liukkan benda tajam itu. Mereka panik, memasang kuda-kuda bersiap menerima serangan Zena. Gadis itu berputar, lalu melompat.
Satu penjahat terjatuh tanpa kepala. Semua orang tertegun, tak hanya para penculik itu, tapi semua penduduk pun termangu tak percaya. Zena terus bergerak begitu pelan dan ringan, seolah-olah sedang membawakan sebuah tarian pedang.
Dash!
Serangan cepat dan nyaris tak terlihat menghantam kepala musuh. Tanpa sempat menghindar, bertambah nyawa yang melayang.
"Kurang ajar! Habisi penyusup itu, jangan beri dia ampunan!" titah seorang pemimpin dari kelompok penjahat itu.
"Kita harus membantu."
"Benar, kita tidak bisa membiarkannya berjuang sendirian."
"Dia ada di pihak kita, ayo!"
Penduduk yang berada di ruangan tersebut, ikut menyerang bersamaan dengan mereka yang mengeroyok Zena. Perang senjata tajam pun tak terelakkan lagi, bahu membahu para penduduk membantu Zena memberantas semua musuh.
Dengan jumlah penduduk yang melebihi jumlah mereka, akhirnya Zena dan pasukan desa Hulu berhasil mengalahkan mereka semua. Melihat ketidaktegaan di wajah para penduduk dan membiarkan sebagian masih hidup, membuat Zena menggeram kesal.
"Mereka tidak pantas hidup! Mereka tidak pantas mendapatkan pengampunan. Jika kalian tidak sanggup untuk membunuh mereka, lihatlah ke dalam ruangan itu. Kalian akan tahu apa yang telah mereka lakukan kepada anak-anak di desa kalian!" ujar Zena menunjuk ruangan eksekusi di mana tiga anak baru saja mereka cincang hidup-hidup.
"Kau akan menerima nasibmu setelah mereka memeriksa ruangan itu," sahut Zena sembari menahan diri agar tidak mengayunkan samurai di tangan.
Ia menunggu tiga orang penduduk yang memeriksa ruangan tersebut. Sebenarnya, bisa saja Zena menghabisi mereka semua karena sebagian besar dari orang-orang itu telah ia hilangkan nyawanya.
"Bajingan! Iblis jahannam! Kalian memang pantas mati!"
Suara teriakan yang begitu lantang menggema dari dalam ruangan itu. Seorang penduduk berlari dengan sebilah celurit di tangan, penduduk lain yang mengelilingi penjahat menyingkir khawatir benda berbentuk bulan sabit itu mengarah pada mereka.
"Kalian benar-benar keparat! Tidak ada tempat di muka bumi ini untuk kalian!"
Yang lain menyusul, berlari menghujam salah satu dada penjahat dengan goloknya. Tiga orang yang memeriksa tadi mengamuk tak terkendali, menusuk-nusuk tubuh mereka meski sudah tak lagi berkutik.
Zena memejamkan mata, setetes air jatuh dari kedua sudutnya mengingat tiga kepala anak kecil yang ia lihat di kolong meja ruangan itu. Helaan napas lega ia hembuskan, seraya membuka matanya kembali. Zena tak berniat untuk tinggal, tak tega hatinya harus menyaksikan tangisan ayah dari anak-anak itu.
Zena pergi tanpa sepengetahuan mereka, tepat setelah kepergiannya sebuah mobil yang dipimpin kepala desa mendekat ke bangunan tersebut. Sepasang pemimpin desa itu keluar terburu-buru, berharap anak mereka pun ada di antara mereka.
"Bagaimana ... astaga! Apa yang terjadi?" Sang kepala desa berlari terkejut melihat salah seorang penduduknya yang tak henti menusuk-nusuk perut penjahat itu.
Ia terperangah tak percaya, mengusap wajah sebelum melerai warganya.
"Sudah, Pak. Dia sudah mati. Sudah!" katanya sambil menarik tubuh laki-laki itu menjauh dari mayat penjahat.
Dia menangis histeris, meraung tak terkendali. Tubuhnya ambruk di lantai bangunan yang dipenuhi genangan darah. Kepala desa menatap semua orang, hanya mereka bertiga yang tahu apa yang ada di dalam ruangan itu.
"Ada apa? Di mana semua anak-anak?"
"Mereka di sini, Pak. Hanya mereka yang kami temukan. Maaf, kami tidak menemukan anak Bapak," ucap seorang warga yang membawa tiga anak dari ruangan lain.
"Ayah!" Anak-anak itu berhambur menemui ayah mereka. Istri kepala desa menangis, memeluk suaminya dengan lemas. Berselang, tubuh itu ambruk di lantai tak sadarkan diri.
"Tolong, bawa istriku ke mobil!" perintahnya pada dua orang penduduk yang sigap membantu.
"Mereka baru saja memeriksa ruangan di sana, Pak. Tiba-tiba kalap seperti itu," ucap salah satu warga.
"Lalu, kenapa kalian tidak memeriksanya?!" bentak sang kepala desa geram.
Ia berjalan memasuki ruangan diikuti beberapa warga yang penasaran apa yang ada di dalam sana. Tubuh mereka membeku, napas mereka berhenti melihat tiga kepala anak-anak tergeletak di lantai ruangan itu.
Kepala desa menjatuhkan diri di lantai, menangisi ketiga anak itu. Kedua tangannya meraup kepala mereka dan memeluknya. Raungannya terdengar pilu dan benar-benar menyayat hati. Inilah yang tak ingin Zena lihat.
"Periksa ruangan ini, temukan anggota tubuh mereka yang lain. Cepat, kita harus segera pergi dari tempat terkutuk ini!" titahnya sambil tersedu-sedan menyesali keterlambatannya.
Para penduduk memeriksa ruangan tersebut, membuka apa saja untuk menemukan potongan tubuh anak-anak itu. Satu per satu mereka temukan dan dikumpulkan menjadi satu. Mereka bahkan menginjak-injak ketiga mayat yang Zena letakkan di dalam kotak pendingin. Namun, semuanya percuma, ketiga anak itu telah pergi dalam keadaan mengenaskan.
"Bakar tempat ini! Biarkan semua jasad penculik menjadi abu!" perintahnya sebelum beranjak membawa potongan tubuh semua anak bersama yang lain.
Boom!
Api membumbung tinggi mengiringi kepergian mereka.
******
Hallo, terimakasih selalu setia mengikuti kisah Zena. Menuju end, ya.