Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Menyelidiki



"Tunggu! Apa yang kau lakukan di sini?"


Deg!


Seketika jantungnya berhenti berdetak, napas pun tak terhembus. Ia membeku di tempat, tangan dan kaki bergetar, bibir pucat gemetaran. Bulir-bulir berduri diteguknya dengan kepayahan. Ia menunggu dengan was-was.


"Kebetulan, apa kau mau ke dapur?" suaranya melemah, langkahnya mengetuk lantai mendekat.


"I-iya," jawab laki-laki tersebut.


"Hei, kenapa kau gugup sekali? Apa aku mengejutkanmu?"


Sebuah tepukan semakin membuatnya tersentak. Ia memejamkan mata, debaran jantungnya terus memacu tak terkendali.


"Yah, kau mengejutkanku. Aku sangat terkejut," ucapnya segera, lantas membuka mata sebelum orang yang menegurnya berada di hadapan.


Laki-laki berkumis tipis itu tersenyum, tak lama kedua matanya memicing curiga melihat wajah asing tersebut.


"Hei, aku baru melihatmu. Apa kau baru datang?" tanyanya dengan kerutan di dahi yang kentara.


"Tidak, mungkin kita dari distrik yang lain sehingga tidak saling mengenal. Oya, aku akan ke dapur. Apa yang kau perlukan?" ucapnya menahan gugup yang kian meraja di hati.


Sebisa mungkin menahan diri agar tidak bergetar, jika tidak maka hancur semua rencana.


"Ah, kau benar. Pantas saja aku tidak mengenalmu, tapi aku boleh minta tolong padamu, bukan?" ucapnya berbisik di ujung kalimat.


"Yah, tentu saja. Katakan saja apa yang kau perlukan?" Ia meyakinkan diri untuk membantunya.


Laki-laki itu menoleh ke kanan dan kiri juga belakang tubuhnya, seolah-olah memastikan keberadaan orang lain selain mereka berdua.


"Bisa kau bawakan aku wine? Aku sedang ingin meminumnya?" bisiknya pula di telinga.


"Baik. Ke mana harus aku bawa?" Ia melirik melalui ekor matanya.


"Bawakan saja ke ruang tahanan bawah tanah, aku berjaga di sana. Bukan apa-apa, hanya untuk mengusir bosan saja," katanya sambil tersenyum licik.


"Baik. Akan aku antar setelah aku menyelesaikan tugas. Kau tunggulah di sana, tapi maaf jika mungkin agak terlalu lama," katanya, seraya disambut tepukan dua kali di bahu dari laki-laki berkumis tipis tersebut sebelum dia berlalu meninggalkan tempat.


Pada akhirnya, ia dapat bernapas lega usai memastikan kepergian laki-laki tersebut. Langkahnya berlanjut terus menuju gedung belakang, di mana dapur berada. Ada beberapa orang berjaga di luar gedung, tapi tak mencegah siapa saja yang datang untuk mengambil jatah makanan juga minuman.


Prajurit Chendrik itu masuk begitu saja, mengumpulkan banyak makanan juga minuman yang diperlukan. Tak lupa menyelipkan sebotol wine pesanan laki-laki tadi. Ia tak langsung keluar, melainkan menunggu para penjaga lengah. Waktu tidur siang tiba, mereka gunakan untuk berleha-leha karena merasa telah aman.


Ketua tersebut bergegas keluar, langkahnya tak berhenti bergerak. Sesekali akan bersembunyi di balik dinding khawatir dicurigai karena menyembunyikan banyak makanan di balik pakaiannya. Beruntung, nasib baik memihak padanya.


Tak ada satu pun penjaga di depan ruang tahanan tersebut. Ia segera masuk dan membagikan semua makanan juga obat-obatan kepada teman-temannya. Tidak menunggu untuk berpesta, dia kembali keluar dengan sebotol wine pesanan penjaga di ruang tahanan bawah tanah.


Bukankah Master ada di sana? Aku harus memastikan mereka berdua dalam keadaan baik-baik saja.


Hatinya bergumam sepanjang menuju ke ruang bawah tanah. Penjara untuk para penjahat besar yang diisolasi sebelum hukuman mati dijatuhkan. Ia melintasi lorong dengan tangga menjorok ke bawah, tangga kecil yang melingkar dan curam. Salah melangkah, sudah pasti akan terjatuh ke bawah.


"Akhirnya kau datang juga. Apa ada yang melihatmu membawa ini ke sini?" tanyanya segera sembari menerima botol tersebut.


"Kurasa tidak ada, semoga memang tidak ada," katanya tak acuh seraya duduk di bangku bergabung bersama mereka berdua.


Kedua matanya berkali-kali menengok ke arah pintu, teringin memasuki ruang tersebut dan melihat keadaan dua orang di dalam sana.


"Ada apa? Kau terus menerus melihat ke arah pintu tersebut?" tegurnya yang cukup mengejutkan.


Ia tersenyum sambil menggeleng, mencari-cari alasan yang tepat untuk dapat memasuki ruangan tersebut.


"Tidak ada, aku hanya heran. Ternyata mereka memiliki ruang bahwa tanah yang seperti ini, ada banyak udara di sini sehingga tidak membuat dada sesak. Aku penasaran seperti apa dalamnya. Apa kalian sudah pernah melihat ke dalam?" ungkapnya dengan binar penasaran yang ia tampakkan di pancaran kedua matanya.


"Kami tidak tahu karena terlalu malas untuk memasuki ruangan tersebut. Mungkin tidak ada udara, kau bisa merasa sesak jika masuk ke dalam sana. Aku tidak tertarik, lagi pula tugas kami hanyalah berjaga di luar tidak untuk memasukinya," ucap salah satu dari mereka.


Wajah laki-laki itu berubah kecewa seolah-olah ruangan tersebut adalah sesuatu yang patut mereka lihat dan sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.


"Kau ingin memasukinya? Masuklah, dan ceritakan kepada kami seperti apa isi di dalamnya?" perintah mereka sambil meneguk minuman itu segelas demi segelas.


"Benarkah? Tapi kalian tidak akan mengunciku di dalam, bukan?" ucapnya disempurnakan dengan mimik wajah khawatir.


"Tidak akan, masuk saja! Kami ingin minum sampai mabuk hari ini," katanya yang kembali meneguk minuman tersebut.


Ia tidak menunggu lama, membuka kunci ruangan dan melenggang memasukinya. Ada beberapa jeruji besi terpasang di kanan dan kiri. Ia mencari keberadaan mereka berdua tanpa bersuara.


"Ada yang datang!" bisik Adhikari.


Chendrik bergegas kembali memasung dirinya. Menunduk dalam-dalam, seolah-olah menjadi orang lemah tak berdaya.


"Master!" panggilnya pelan.


Chendrik dengan cepat mengangkat wajahnya, senyum lega terbit dari bibir saat melihat salah satu ketua berhasil sampai di ruang tahanan itu.


Ketua itu mengeluarkan makanan juga botol minuman yang ia bawa, membaginya menjadi dua dan menceritakan tentang apa saja yang dia lihat selama penyamarannya. Chendrik tersenyum puas mendengar penuturan itu.


"Maaf, Master. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku harus segera pergi agar tidak dicurigai," katanya segera.


"Pergilah dan berhati-hati!"


Ia menganggukkan kepala seraya beranjak meninggalkan ruang tahanan Chendrik.


"Bagaimana? Apa isi di dalamnya? Apakah seperti hotel berbintang?" tanya mereka berdua tertawa bahagia.


"Hanya ada jeruji besi yang terpasang di dalam saja. Hotel apanya? Menginap semalam secara gratis saja aku akan langsung menolaknya," umpat ketua tersebut seraya membawa langkah meninggalkan ruang bawah tanah.


Tawa mereka berdua masih terdengar menggema sebelum ia sepenuhnya meninggalkan ruangan. Dia menarik napas panjang, merasa lega setelah melihat keadaan dua orang itu dalam keadaan baik-baik saja.


Dia akan berkeliling mencari tahu apa saja yang sedang direncanakan para mafia di markas mereka.