Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Melawan



"Master!"


Seseorang berseru disaat melihat seekor elang terbang di atas kepala mereka. Chendrik ikut menengadah menunggu kedatangan sang penguasa langit.


"Kakak," gumam Cheo pelan. Ia kenal betul dengan elang yang sedang menukik tajam turun itu.


Chendrik menekuk tangan sebagai tempat untuk sang elang hinggap. Elang itu mendarat di tangan Chendrik, menggerakkan kepalanya agar Chendrik segera mengambil apa yang dia bawa.


Sebuah kertas menyembul dari bulu-bulu lebat itu, Chendrik menarik gulungan tersebut seraya membukanya. Ia membaca tulisan tangan khas dari wanita yang tak pernah mengenal bangku sekolah selama hampir seumur hidupnya itu.


Senyumnya tersungging sinis, ia meremas kertas tersebut dan menatap yakin ke dalam sekolah.


"Kumpulkan semua pasukan, panggil para petinggi ke sini. Kita sudah mendapatkan bala bantuan dan akan melanjutkan penyerangan. Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos dari tempat ini." Chendrik memerintah dengan tegas dan pasti.


"Baik, Master!" Meskipun bingung, tapi prajurit itu tetap berlari ke luar mengumpulkan para petinggi.


"Ayah?" Cheo bersuara ingin bertanya tentang perubahan rencana.


"Zena di dalam, dia bersama semua siswa dan guru. Mereka akan aman. Jika Zena di sini, maka Tigris ...."


"Roarrrr!"


"Dia juga di sini! Pergilah, temui kawanmu itu! Dia menunggumu!" titah Chendrik pada anaknya itu.


Senyum Cheo terbit, mengangguk dan bergegas membawa kedua kakinya berlari menemui Tigris yang berada di samping bangunan sekolah. Sigap Cheo menaiki tubuh berbulu itu dan bersiap untuk memerangi para mafia.


"Ayo, Tigris! Kita hancurkan tubuh mereka hingga tak berupa!" ucap Cheo sembari mengangkat nunchaku di tangan tinggi-tinggi.


Tigris mengaum sebelum memacu keempat kakinya memasuki sekolah tersebut. Chendrik membagi tugas untuk setiap petinggi markas memblokir jalan keluar. Mereka berpencar, mengelilingi seluruh sekolah, mengepung para mafia yang berada di dalamnya.


"Ketua! Markas sialan itu kembali melakukan serangan balik terhadap kita," lapor seorang mafia pada laki-laki yang disebut ketua itu.


"Benarkah?" Dia menggeram, rahangnya mengeras menimbulkan bunyi gemeratak gigi. Kedua tangan terkepal, wajahnya menghitam penuh emosi.


"Baik, jadi itu yang dia inginkan. Sekalian saja kita ledakan ruangan itu agar mereka sadar sedang berhadapan dengan siapa," katanya memicingkan mata tajam.


Ia beranjak diikuti beberapa orang menuju gedung olahraga yang berisi para tahanan.


"Ada yang datang! berpura-puralah seolah-olah tidak ada kejadian apapun di sini. Jangan takut, kalian tidak sendiri," ucap Zena sebelum berlari ke lantai dua gedung tersebut. Dari sana dia dapat melihat berapa banyak musuh yang datang dan apa yang mereka gunakan sebagai senjata.


Brak!


Pintu terbuka dengan keras, mereka masuk dan berhenti saat menyadari sesuatu yang hilang dari ruangan tersebut.


"Ke mana mereka pergi?" tanyanya menggeram.


"Mereka tidak pergi ke mana pun. Kurasa mereka masih di sini," sahut orang yang ikut masuk dengannya.


"Geledah tempat ini, dan temukan hal yang mencurigakan dari mereka!" titahnya.


Para mafia mulai menggeledah sembari menodongkan senjata pada semua orang yang ada. Mereka tetap seperti itu, ketakutan saat melihat moncong senjata mengarah pada mereka.


Para mafia itu menyusuri tempat tersebut, mereka menemukan gumpalan kain yang berlumuran darah, kotak obat, dan melirik kaki Ben yang baru saja diperban Zena. Tersenyum sinis sebelum mengangkat sebelah kakinya untuk menginjak Ben.


"Argh!" Mirah sigap menarik kaki Ben, menjauh dari kaki tersebut. Ia berdiri menodongkan senjata pada laki-laki mafia itu.


Zena membelalak, dalam hati mengumpat. Tak lama sekelompok mafia datang berkumpul di gedung tersebut. Melihat Mirah yang berani, dua orang lainnya yang memegang senjata ikut berdiri menodongkan benda tersebut.


Zena tersenyum, dia menghitung jumlah musuh dan kekuatan yang mereka miliki. Mengeluarkan pisau-pisau kecil dari sakunya, berniat mengurangi jumlah musuh sebelum menampakkan diri.


Prok-prok-prok!


Sebuah suara tepuk tangan muncul dari luar. Semua mafia itu menyingkir memberikan jalan. Sang ketua macan putih muncul diiringi tiga dayang yang selalu mengekor di belakangnya.


Zena terhenyak, ia menarik kembali anak panah yang siap diluncurkan saat musuh utama datang memasuki ruangan.


"Ini dia!" Ia bergumam berganti senjata dengan belati kecil yang sempat dia keluarkan.


Macan putih itu berjalan maju, para guru benar-benar merasa geram sekarang karena tertipu oleh mereka. Ingin melawan, tapi percuma. Mereka tak memiliki kemampuan apapun untuk mengalahkan para mafia itu.


"Bagus! Orang-orang lemah seperti kalian rupanya telah berani melawan. Padahal, kalian sudah tahu tak akan mampu melawan kami! Rampas senjata dari tangan mereka, bila perlu lubangi batok kepalanya jika melawan!" titahnya dengan suara lantang menantang.


Mirah bereaksi, menunjukkan kemampuan, menembak laki-laki yang berada di dekatnya. Tembakannya tepat mengenai dahi laki-laki itu, ia jatuh tersungkur tanpa nyawa.


Ben dan Sarah juga yang lainnya terkejut melihat aksi Mirah yang spontan. Ia bergerak dengan senjata di tangan, berhadapan dengan mereka yang jumlahnya lebih banyak diikuti kedua orang yang memegang senjata dan ditambah satu.


Macan putih tak bereaksi. Tetap berdiri di tempatnya dengan wajah dingin.


"Jangan pernah meremehkan kami! Kalian tidak akan pernah bisa menguasai sekolah kami. Ini milik kami, kalian ... pergilah!" ucap Mirah tanpa getar ketakutan yang terdengar.


Hal itu membuat semangat dalam diri mereka tersulut. Semua orang mulai berpikir untuk melawan dan mempertahankan apa yang menjadi milik mereka.


"Benar, ini bukan tanah kalian. Tinggalkan tempat ini sekarang juga!" sahut sang guru disambut semua orang yang turut berdiri melalukan perlawanan.


Zena yang bersembunyi tersenyum puas, ini memberinya tenaga lebih. Matanya bergulir pada Ben yang dengan susah payah mencoba untuk beranjak. Ia terharu, meskipun terluka laki-laki itu tetap berjuang.


"Perjuangan kalian tak akan sia-sia. Aku akan menghabisi mereka semua. Lihatlah!" gumam Zena bersiap melemparkan belati di tangannya.


"Waw! Aku terkesan. Benar-benar terkesan. Aku tidak tahu dari mana kalian mendapatkan kepercayaan diri yang begitu tinggi seperti sekarang ini. Padahal, kalian hanyalah orang-orang lemah yang tak memiliki kemampuan berperang," sarkasnya sambil tersenyum mengejek dengan kedua tangan terlipat di perut.


"Jika saja Zena di sini-"


"Oh, siapa? Gadis mata-mata itu, ya? Biar ku beritahu kalian ...," selanya menggunakan jari telunjuk yang diarahkan pada semua orang.


"Gadis itu telah tertangkap sebelum pertempuran terjadi, dia berada sangat jauh dari sini. Mungkin saja dia sedang menangis meratapi nasibnya yang malang. Meringkuk di pojokan memeluk lutut. Begitulah keadaannya sekarang." Dia kembali tersenyum.


Namun, Mirah dan Sarah sama sekali tak terkejut karena mereka tahu Zena ada di sana bersama mereka.


"Cukup basa-basi nya, sekarang rampas senjata dari tangan mereka. Ikat mereka dan letakkan di sini sebelum markas itu datang menyerang!" titahnya tegas.


Dor!


Sekali lagi Mirah menembakkan senjata, kali ini meleset.


"Jangan harap!"


"Lumpuhkan gadis itu! Aku sendiri yang akan memberinya hukuman!" katanya lagi kejam.


Mereka mulai bergerak, melihat banyak senjata yang mengarah pada mereka, rasa takut itu kembali datang. Tangan mereka kaku tak dapat digerakkan. Namun, sebelum para mafia itu menyentuh mereka, sebuah serangan tiba-tiba datang. Menumbangkan satu per satu dari para mafia yang bergerak ke depan.


Mereka mematung, mendongak mencari si penyerang. Di atas sana, seseorang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah berdiri gagah menggenggam samurai di tangan.