
Akan aku hancurkan siapa saja yang berani mengusik hidupku, keluargaku, juga teman-temanku sekalipun nyawa menjadi taruhan karena dari merekalah aku mengerti arti cinta, mencintai dan dicintai.
Zena berdiri di atas sebuah kapal cepat, tegak tak tergoyahkan meski ombak sesekali menerjang. Tabung di punggungnya seolah-oleh tak pernah habis, selalu terisi anak-anak panah hasil karyanya sendiri. Di tangan kirinya sebuah busur ia genggam dengan erat, samurai menggantung di pinggang kanan. Ia terlihat seperti seorang prajurit dengan pakaian serba hitam yang membungkus tubuhnya.
Kali ini, Zena tidak lagi mengenakan penutup wajah. Biarkan saja seluruh dunia tahu, sekali berurusan dengannya, maka akan tuntas sampai ke akarnya. Pandangan Zena memicing tajam, seorang penduduk dari pulau Liman bersedia mengantar ke pulau Loa.
"Jangan berhenti di pelabuhan, Paman. Cari saja tempat aman yang sedikit jauh dari pemukiman warga," pinta Zena pada laki-laki paruh baya yang menolongnya.
Tanpa perintah lanjutan, laki-laki itu mengambil jalur Selatan. Sebuah hutan bakau yang jarang dikunjungi penduduk karena tak terawat. Tepat tengah malam, Zena tiba di pulau Loa. Ia bergegas menuruni kapal cepat dan turun di hutan bakau tersebut.
Tanah yang tergenang air laut tak menyurutkan langkah Zena dan Cheo juga Tigris yang mengekor di belakang keduanya. Tak seperti pulau Liman, penduduk di pulau Loa tidak begitu padat meskipun lebih modern dari pulau Liman. Itu dikarenakan kondisi tanah pulau Loa yang tidak sesubur pulau Liman.
"Hati-hati, Cheo. Perhatikan langkahmu!" ingat Zena sembari memimpin jalan di depan.
Ia menyibak dahan-dahan yang menghalangi, membuka jalan untuk Cheo juga Tigris. Tiba di pesisir, keduanya tak mendapati satu rumah pun. Hanya ada hamparan tanah lapang yang biasa digunakan para penduduk untuk menjemur garam.
Ada empang-empang kecil di sekitar daerah tersebut. Namun, untuk rumah para penduduk, tak mereka dapati. Untuk itulah daerah tersebut sangat jarang dilalui warga.
"Kalian dengar?" bisik Zena saat mendengar suara jeritan banyak wanita di kejauhan.
Raungan tangis, juga sumpah serapah ikut meramaikan malam yang seharusnya sunyi itu.
"Ayo, kalian tetap menunggu sampai waktunya tepat barulah kalian boleh muncul." Zena memberi peringatan pada Cheo untuk tetap bersama Tigris mengawasi dari jarak jauh.
Mereka tiba di pemukiman warga setempat, suara tangis anak-anak juga para wanita semakin jelas terdengar. Di pulau ini mereka melecehkan para wanita.
"Ingat, tetap bersembunyi sampai waktunya tepat!" Sekali lagi dia mengingatkan sambil mengangkat jari telunjuknya di depan wajah.
Cheo mengangguk mengerti. Bersama Tigris ia bersembunyi di atas sebuah pohon sembari mengawasi. Zena melangkah memasuki pemukiman, mengangkat busur memasang anak panah tanpa menyurutkan langkah. Membidik penjahat yang hendak melecehkan seorang gadis kecil di hadapan semua penduduk.
Syut!
Cleb!
Tangan lancang yang hendak merobek pakaian anak itu terhenti saat anak panah Zena melubangi pelipisnya. Dia jatuh tanpa sempat mengerang terbujur kaku dibawah tatapan gadis kecil yang berderai air mata. Semua orang menoleh pada arah datangnya anak panah tadi.
Seorang gadis melangkah sembari memasang kembali busurnya. Para mafia yang melihat serentak menoleh dan mengarahkan senjata api pada Zena. Mereka melepas timah panas dari tempatnya, berbarengan dengan Zena yang melesatkan tiga anak panah sekaligus.
Gadis itu melompat dengan gesit menghindari mesiu yang meluncur ke arahnya. Seolah-olah sedang menari, tak lupa menempatkan anak panah pada busur. Zena menerjang dinding sebuah rumah, sambil melepas anak panah. Mendarat dan terus melompat-lompat untuk menghindari timah-timah panas yang terus diluncurkan ke arahnya.
Para penduduk menatap takjub saat satu per satu penjahat jatuh tak bernyawa oleh hantaman anak panah Zena. Ada yang sempat mengerang, ada juga yang menjerit kesakitan, tapi di antara mereka bahkan tak sempat merintih.
"Siapa dia? Bagaimana bisa dia melakukan itu? Rasanya mustahil," celetuk seorang penduduk.
"Dia terlihat seperti seorang gadis," timpal yang lain tak berkedip menatap Zena.
Benar-benar sesuatu yang tak terduga, mereka mengenal gadis itu sebagai gadis kecil yang lugu. Nyatanya, dia seseorang yang menakjubkan.
Tiga penjahat yang tersisa, Zena melempar busur ke tanah. Mencabut samurai dari sarungnya, seraya berlari menerjang ketiga penjahat yang kehabisan mesiu.
Trang!
Krak!
Samurai Zena menghantam golok yang mereka gunakan untuk menangkis, retakan tercipta di golok tersebut sebelum patah dan jatuh ke tanah. Zena tersenyum sinis, berputar sambil mengayunkan samurai menebas tangan si penjahat.
Tajamnya mata samurai Zena, membuktikan puluhan nyawa telah direnggutnya tanpa kesulitan berarti. Satu lagi, nyawa manusia melayang di ujung samurainya. Para penduduk tak tinggal diam, ikut membantu menghukum mafia yang tak berdaya karena amukan si gadis pulau.
"Terima kasih banyak, Pahlawan, berkat bantuan Anda pulau kami kembali aman. Terima kasih banyak," ucap para penduduk usai membantu Zena menghabisi para mafia.
Sama seperti di pulau Liman, Zena meminta kepada para penduduk untuk membuang mayat mereka ke laut. Selanjutnya, kabar tentang pulau Laes. Pulau para nelayan, apa kabar dengan pulau itu? Malam sudah mencapai puncak, sang fajar tak lama lagi bersua. Zena memutuskan beristirahat di pulau Loa sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau Laes dan kota Elang.
"Ada yang tahu kabar tentang pulau Laes? Aku akan menuju ke sana saat pagi datang," tanya Zena pada penduduk yang menerimanya sebagai tamu.
"Kabarnya banyak nelayan yang tak pulang dari melaut, ikan-ikan yang mereka tangkap dirampas para penjahat itu, sedangkan mereka dijatuhkan ke laut. Kapal-kapal mereka juga dirusak hingga mati tenggelam di lautan. Sekarang, penduduk pulau Laes dipaksa bekerja tanpa beristirahat, tanpa diberi makan dan minum. Aku tak sengaja mendengar itu dari percakapan para penjahat," jawab penduduk tersebut sembari mengingat-ingat apa yang sempat ia dengar.
Zena mengangguk, tak lupa mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikannya. Ia dan Cheo bersama Tigris tidur di teras rumah penduduk, menunggu pagi datang. Tubuhnya yang belum beristirahat terasa remuk, cukup satu sampai dua jam tertidur akan memulihkan kondisinya.
Semua penduduk kembali ke rumah masing-masing meskipun sebagian pulang dengan hati yang hancur. Tak sedikit gadis di pulau tersebut telah mendapatkan pelecehan, terlebih itu semua dilakukan di hadapan semua orang.
*****
Sinar matahari pagi mengusik ketenangan tidur Zena, ia menutup wajah dengan tangan sebelum beranjak duduk. Menatap sekeliling, para penduduk sedang bahu-membahu membersihkan sisa pertempuran semalam. Membuang pasir-pasir bernoda darah. Senjata tajam dan senjata api dikumpulkan di tengah-tengah desa.
Zena tersenyum, Cheo ada di antara mereka. Bocah itu sengaja tidak membangunkannya karena tak ingin mengganggu tidur nyenyak sang Kakak.
"Kakak sudah bangun? Ini aku bawakan sarapan dari para penduduk," ucap Cheo sembari memberikan sepiring nasi dan ikan segar yang dibakar.
"Terima kasih. Duduklah, kau sudah makan?" pinta Zena menerima piring tersebut.
"Sudah, Kakak makan saja," katanya.
Sedikit lega hatinya melihat para penduduk yang mulai bisa menerima semua yang telah terjadi. Para gadis dikumpulkan dan diberi nasihat agar tidak menyerah pada hidup. Para penduduk berjanji, seandainya di antara mereka ada yang sampai mengandung, maka mereka akan merawat anak tersebut. Untuk menghibur para gadis dan untuk membuktikan bahwa mereka tetap diterima oleh semua masyarakat.
"Nona, kapal yang Anda minta sudah kami siapkan," ucap sang kepala desa dengan sopan.
Zena mengangguk sambil tersenyum, setelah memastikan semua aman dan terkendali mereka akan segera pergi.