
Hari ketiga, waktunya ujian dilangsungkan. Semua siswa telah bersiap di lapangan menunggu waktu ujian tiba.
"Zena, bagaimana caramu menjinakkan kuda putih waktu itu? Kudengar kuda itu masih liar, tapi kau bisa menungganginya tanpa kendala," tanya salah seorang teman Zena yang tiba-tiba duduk tepat di hadapannya.
Tak hanya satu, tapi semua teman yang berada di kelas yang sama dengannya ikut berkerumun mengelilingi Zena. Mereka yang tak acuh pada kehadirannya di kelas, tak pernah mengajaknya berbicara apalagi bersenda gurau. Kini, semua seolah-olah berbalik menemani Zena.
Gadis itu tersenyum canggung, menatapi semua yang ada di depan mata dengan segan. Ia mengusap tengkuk salah tingkah, bagaimana menjelaskannya? Tak akan mungkin Zena mengatakan bisa menjinakkan binatang, bukan?
"Itu tidak benar, yang aku rasakan kuda itu sudah jinak sebelum aku naiki. Dia hanya bersemangat karena sejak awal tak ada siswa yang menungganginya. Haha ... mungkin," ucapnya sambil tertawa canggung di tengah kalimat.
"Oh, benarkah?" Zena mengangguk dengan kedua alis yang terangkat meyakinkan.
Mirah mengernyit, tidak biasanya mereka mengajak Zena mengobrol seperti saat ini. Mereka selalu sibuk dengan diri mereka sendiri, dan tak pernah peduli pada sosok baru di kelas itu.
"Eh, kau tahu tidak? Siswa dengan nilai terbaik selama latihan dua hari lalu, ada di kelas kita." Seorang siswa perempuan antusias memberi kabar tersebut.
"Oya, siapa?" Mirah mengangkat alis tertarik. Pasalnya, selama ini kelas mereka tak pernah menempati posisi terbaik dalam hal apapun.
"Siapa lagi, dia sahabatmu sendiri, Mirah. Zena!" pekiknya sembari menunjuk Zena dengan kedua tangan.
"Aku?" Zena menunjuk hidungnya sendiri. Bingung karena setahunya, pemimpin macan putih itu yang melakukan semua latihan dengan sempurna. Ia bahkan ikut latihan beladiri, sedangkan Zena tidak tertarik.
"Benar, hanya beda tipis saja dengan macan putih. Itu karena kau tidak ikut kelas beladiri kemarin," cetus yang lain menyayangkan.
Lagi-lagi Zena tersenyum canggung. Entah kenapa dikelilingi teman seperti ini, ia merasa lebih hidup.
"Itu karena aku memang tidak bisa beladiri-"
"Omong kosong! Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri kau seorang diri menghajar para preman milik macan putih itu. Jadi sangat mustahil jika kau tidak bisa beladiri," sela salah seorang siswa laki-laki tak percaya.
Yang lain membenarkan, semua orang mendukung Zena untuk ikut ujian beladiri pada tahap akhir ujian nanti.
"Ah, itu hanya kebetulan saja. Mungkin aku sedang beruntung, lagipula mereka hanya mengalah padaku karena aku hanyalah seorang gadis kecil yang lemah. Kalian tahu itu," ucap Zena sambil tertawa garing.
Mirah meliriknya, ada kekaguman di matanya melihat sikap Zena yang rendah hati. Ia sendiri sudah menyaksikannya secara langsung, bagaimana Zena dapat dengan mudah mengalahkan seorang laki-laki bertubuh besar suruhan macan putih saat menghadang jalan mereka menuju rumah Sarah.
Kau memang hebat, Zena. Padahal, aku tahu kemampuan beladirimu, tapi kau tetap tidak mau mengakuinya. Aku bangga menjadi sahabatmu.
Mirah bergumam, bibirnya tersenyum penuh arti. Ia turut merasa senang melihat Zena yang tertawa bersama semua teman sekelasnya.
"Ah ... aku cemburu. Aku ingin bersama mereka!" Sarah menarik baju Ben saat siswa laki-laki itu hendak bergabung bersama kelasnya.
Sebenarnya, ia pun ingin bergabung bersama Zena dan Mirah. Terbesit rasa iri di hati karena ia beda kelas dengan Zena. Tidak seperti Ben, yang seolah dipisahkan secara sengaja oleh ketiga pelatih itu.
"Kau juga iri, 'kan? Kau juga mau bersama mereka, 'kan? Jujur saja, Sarah!" Ben mendengus, rasa iri terlihat jelas di mata Sarah yang berwarna abu-abu.
Sarah mengakui, ia menyandarkan kepala di bahu Ben. Pandangan keduanya terus tertuju pada Zena dan Mirah yang asik bersenda gurau bersama teman sekelas mereka.
"Kau benar, aku memang iri. Aku juga ingin bersama mereka, Ben," bisik Sarah lirih di telinga temannya itu.
Zena yang ceria, supel dan ramah, mudah diterima. Ia tak akan pernah mengusik siapapun yang tidak mengusik hidupnya. Bebas berteman dengan kalangan manapun, tak pandang kaya atau miskin, cantik atau jelek, kulit hitam atau putih, semuanya ia terima sebagai teman jika tidak saling gasak, gesek, dan gosok.
Waktu terus bergulir. Pelatih mulai berdatangan ke lapangan, ke tempat yang telah disediakan pihak sekolah. Ujian akan berakhir hari itu juga.
Chendrik datang terlambat karena ia harus mengantar Cheo ke sekolah. Ia terpaksa meninggalkan ruang rapat di markas karena masalah ujian ini.
Prok-prok-prok!
Sebuah suara tepuk tangan menggema di lorong sekolah yang sepi. Membuat langkah Chendrik terhenti, dan bergeming di tempat.
"Oho ... ini dia sang pemimpin markas besar Mata Elang! Hebat! Haha ...." Tawa itu menggelegar disambut tawa lainnya. Dua orang laki-laki berdiri sambil menertawakan Chendrik.
Namun, ia mencoba untuk tetap tenang dengan menghela napas panjang. Tak sampai hatinya memanas. Chendrik berbalik, mengulas senyum ramah pada kedua teman lamanya itu. Atau sebut saja musuh bebuyutan.
"Hallo, kalian berdua. Apa kabar? Apa kalian masih setia bekerja pada laki-laki kerdil itu?" Chendrik balik bertanya, sikapnya tetap tenang seperti air yang mengalir.
Tawa keduanya terhenti, tapi wajah mengejek mereka tetap terpasang menjengkelkan.
"Untuk apa kau bertanya jika sudah tahu jawabannya. Aku ingatkan kau, Chendrik. Jangan pernah mengganggu pekerjaan kami jika kau dan anakmu yang masih kecil itu ingin tetap selamat," ancam mereka terlihat tidak main-main.
Ancaman yang akan membuat orang tua lain gemetar ketakutan, tapi ini Cheo. Seorang anak yang telah mendapatkan pendidikan keras dari kecil, juga pengalaman di dunia luar yang tak akan pernah bisa didapatkan di dalam sekolah mana pun, membuatnya tak akan mudah dikalahkan. Chendrik tidak menganggap itu sebagai ancaman.
Tawa kecil menguar dari bibirnya, kini ia tahu siapa dalang dibalik menghilangnya para gadis remaja di kota. Tak perlu mencari lagi karena mereka sendiri yang mendatanginya.
Kedua musuhnya mengernyit tak suka. Seharusnya Chendrik takut, dan memohon untuk tidak mengganggu anaknya juga berjanji tidak akan mencampuri urusan mereka dalam hal apapun. Bukan tertawa yang seolah-olah menantang.
"Mulut besar! Aku yakin, jika kalian berdua bersama-sama menyerang anakku itu tak akan membuatnya terluka. Justru kalianlah yang akan pulang dalam keadaan mengenaskan bahkan ... mati." Chendrik kembali tertawa kecil sebelum berbalik meninggalkan mereka.
Beberapa ketukan kakinya melangkah, Chendrik berbalik tiba-tiba dan menatap dua orang yang masih berdiri di tempatnya itu.
"Ingat kata-kataku tadi. Jangan membangunkan singa yang tertidur. Aku tak akan berhenti memberantas semua bisnis haram yang kalian lakukan. Tidak akan!"