Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Tentang Pesta Kelulusan



"Turunkan aku!" geram Zena sambil meremas kuat pundak Chendrik.


Semua mata tertuju pada mereka, bibir semua orang terbuka melongo tak percaya dengan pemandangan langka di depan mata mereka. Ben, nampak terkejut sekaligus patah hati. Pantas saja mereka galak padanya. Ternyata ada hati pada sahabatnya itu.


Ben melirik Sebastian, Jenderal muda itu nampak geram. Wajahnya memerah terbakar api cemburu, kedua tangan mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat di tangan bahkan menonjol memperlihatkan tingkat emosi dalam dirinya.


Ben meneguk ludah, ia tak akan mungkin mampu bersaing dengan keduanya. Biarlah ia menjadi sahabatnya saja, itu sudah cukup. Satu lagi, mata Ben melayang pada semua orang yang nampak termangu.


Satu-satunya orang yang tidak terlihat marah adalah dia. Daripada marah, wajahnya lebih seperti curiga. Ben mengernyit, ia mengikuti arah pandang laki-laki itu tepat pada sosok Zena yang perlahan diturunkan Chendrik.


"Ma-maaf, aku tidak tahu kenapa bisa begitu." Chendrik pergi begitu saja dengan wajah yang merona semerah tomat.


"Zena?" Mirah dan Sarah datang mengejutkan Zena yang tengah melamun sambil menatap ke arah Chendrik pergi. Wajah gadis itu pun sama merahnya seperti laki-laki tadi.


"Kau ... ah, bagaimana mengatakannya?" Mirah menggigit bibirnya bingung kata apa yang harus ia ucapkan untuk kejadian tadi.


"Kau lihat semua orang, mereka ternganga melihat master Chendrik mengangkat tubuhmu!" sambar Sarah berapi-api.


Zena mengedarkan pandangan, benar bahkan beberapa orang masih pada posisi tersebut. Ia mengedipkan mata gugup, ada rasa malu yang menyeruak ke permukaan. Terlebih saat pandangnya jatuh pada Sebastian yang nampak murung dan sendu.


"Aku tidak tahu kenapa dia melakukan itu tadi. Aku sendiri terkejut," ucap Zena sejujurnya.


Tak lama suara Kepala Sekolah menggema menyadarkan semua orang dari keterkejutannya.


"Baiklah, semua ujian telah berakhir. Pekan depan, sekolah akan mengadakan pesta kelulusan. Setiap siswa kelas akhir wajib menghadiri acara tersebut karena di dalamnya akan ada penghargaan untuk siswa-siswi berprestasi. Terima kasih."


Sorak-sorai suara tepuk tangan menggema memenuhi lapangan. Semua orang antusias menyambut hari tersebut. Pesta yang akan diadakan di aula sekolah, dengan tema yang telah ditentukan.


"Tema apa kali ini pestanya? Rasanya aku tidak sabar ingin segera pekan depan," celetuk salah satu siswa perempuan. Wajah mereka nampak berbinar, bersemangat menyambut pesta yang setiap tahun digelar pihak sekolah.


Tak hanya siswa kelas akhir yang hadir, tapi semua siswa di sekolah diperbolehkan turut serta pada acara tersebut.


"Kau benar, semoga saja kali ini temanya putra putri zaman dulu. Aku ingin berdandan seperti seorang putri." Yang lain menyambar tak kalah antusias.


Zena memperhatikan, ia sama sekali tidak mengerti soal pesta.


"Apakah pestanya wajib dihadiri?" tanya Zena sambil melangkah bersama ketiga temannya.


Ada yang kurang dari mereka, seolah-olah salah satu personil hilang entah ke mana. Dia Ben, yang nampak murung dan lebih pendiam dari biasanya.


"Wajib untuk kelas akhir, tapi diperbolehkan untuk yang lainnya. Pesta kelulusan biasanya harus mengikuti tema yang telah ditentukan oleh panitia," jelas Mirah.


Ia dan Sarah juga Ben selalu mengikuti acara pesta tersebut selama dua tahun berturut-turut, dan ini adalah tahun terakhir mereka karena setelah pesta berakhir semua siswa akan dinyatakan lulus dengan nilai akademik masing-masing.


"Jadi, apa tema pesta kali ini?" tanya Zena sedikit penasaran mengenai acara tersebut.


"Kita akan melihatnya di papan pengumuman sebentar lagi." Sarah menimpali.


"Mmm ... Zena, apa kau pandai berdansa? Kurasa tema kali mengusung pesta para bangsawan," ucap Mirah sambil menunjuk ke depan pada sekelompok orang yang sedang sibuk menentukan gaun apa yang akan mereka pakai.


"Kau tidak tahu dansa? Tidak tahu caranya berdansa?" Sarah melebarkan mata tak percaya.


Zena mengangkat bahu tak acuh. "Aku belum pernah pergi ke pesta sekalipun. Acara itu sangat membosankan menurutku, hanya diisi oleh obrolan-obrolan yang tak penting juga kerap menjadi ajang pamer apapun yang mereka miliki," ucap Zena membayangkan keadaan yang membosankan dalam pesta.


"Oh, astaga! Tidak seperti itu, Zena. Di pesta kelulusan, kita bebas memilih pria atau wanita mana saja yang kita suka untuk diajak berdansa. Kita menari, makan dan minum sepuasnya, apa saja bisa kita lakukan dalam pesta tersebut." Ben tiba-tiba antuasias.


"Kau sering melakukannya?" Zena memicing curiga.


Siswa laki-laki itu mengusap tengkuk salah tingkah. Wajahnya memerah seolah-olah tertangkap basah telah melakukan hal yang memalukan.


"Belum pernah karena hanya siswa kelas akhir yang diperbolehkan melakukan itu. Untuk yang lain, hanya menonton dan bersorak saja," jawab Ben tersenyum canggung kepada tiga wanita itu.


"Aku sarankan sebaiknya kau jangan melakukan itu. Yah, pikirkan baik-baik apa yang akan terjadi setelah itu karena kita tidak tahu apa yang ada dalam pikiran setiap orang," ucap Zena menasihati.


Sarah dan Mirah tertegun, keduanya antusias ingin melakukan apa yang diucapkan Ben tadi. Akan tetapi, setelah mendengar nasihat Zena ada benarnya juga.


"Kau benar, apalagi akhir-akhir ini banyak siswa dan remaja perempuan menghilang secara tiba-tiba," sahut Mirah membernarkan apa yang diucapkan Zena.


"Zena, kita harus selalu bersama-sama. Kudengar, setelah pesta berakhir selalu ada siswa perempuan yang menghilang dengan alasan pergi berkencan bersama siswa laki-laki yang dia pilih dalam pesta."


Keterangan yang diucapkan Sarah membuat ketiganya menghentikan langkah serentak. Wajah mereka menoleh dengan mata sedikit melebar mengarah pada gadis berkulit hitam itu.


"Kau yakin?" Zena bertanya.


"Yah, setidaknya itulah yang aku dengar dari sepupu laki-lakiku yang dua tahun tahu lulus dari sekolah ini," jawab Sarah.


Zena berpikir, semua teka-teki akan segera terungkap. Semoga dalam pesta itu ia mendapatkan lebih banyak petunjuk dari sebelumnya.


Aku sudah menemukan dalangnya, tapi siapa saja yang terlibat aku harus memastikannya. Ini tidak boleh berlanjut, semuanya harus segera diakhiri.


Zena bergumam. Keempatnya melanjutkan langkah menemui orang tua mereka.


"Oi, calon menantuku yang cantik!" Seorang wanita paruh baya dengan penampilan mirip boneka berlari ke arah Zena.


Ben menepuk dahinya, tapi Cana tak senang. Buru-buru ia menyusul dan menarik tangan Zena sebelum wanita itu berhasil merengkuh tubuhnya.


"Enak saja mau peluk-peluk. Anakku tidak bisa dimiliki sembarang ORANG!" ketus Cana sambil memeluk Zena posesif.


Gadis yang menjadi trending topik hari itu, melongo bingung. Bertanya dalam hati siapa wanita yang hendak memeluknya itu.


"Ben, bukankah dia kekasihmu?" Wanita itu menatap tajam pada anaknya.


Sementara Ben gugup ditatap tajam oleh Cana.


"Bu-bukan, Bu. Dia hanya temanku. Ibu jangan seperti itu, membuatku malu saja," ucap Ben bersungut-sungut. Ia menarik tangan ibunya menjauh, menemui seorang laki-laki paruh baya dan pergi tanpa pamit lagi.


Zena menggelengkan kepala sambil tersenyum, mereka sangat humoris.