Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kolaborasi



"Siapa kau?"


Suara sang ketua menggema dingin, tatapannya tajam menusuk menggetarkan hati siapa saja. Keempat orang yang memegang senjata, menurunkan senjata mereka setelah melihat Zena.


"Kau tahu siapa aku," sahut Zena dengan suara yang disamarkan. Ia mengangkat busur di tangannya, membidik dengan empat anak panah sekaligus.


"Tembak dia!" seru sang ketua panik. Mereka mulai menembak, semua peluru diarahkan kepada Zena yang melompat dengan lincah ke sana ke mari menghindari serangan.


Dia seperti menari dengan busur terpasang. Menerjang dinding dan mendarat di pembatas. Anak panah di tangan dilepasnya, melesat cepat dan mendarat tepat di dahi empat orang musuh sambil terus bergerak menghindari serangan peluru.


Zena melakukan salto sambil memasang kembali anak panah dan meluncurkannya dengan cepat. Serangan demi serangan ia berikan sambil menari mengandalkan kedua kaki agar peluru tak dapat menggores tubuhnya.


Setiap ia bergerak, satu orang tumbang. Satu demi satu para mafia berjatuhan hingga menyisakan satu anak panah bertepatan dengan peluru mereka yang habis. Anak panah itu melesat cepat, membidik laki-laki yang disebut ketua. Mereka menembak secara acak dan asal sambil menghindari panah-panah yang diluncurkan Zena.


Namun, serangannya tak begitu kuat, ia hanya ingin menggertak sehingga anak panah itu dapat ditangkap dengan mudah. Ia tersenyum, seraya melompat dari lantai dua dan mendarat dengan sangat mulus.


Zena beranjak berdiri, menatap busur di tangan sambil mencibir.


"Lumayan, aku sudah menghabisi separuh dari kalian," ucap Zena pelan.


Semua orang menahan napas melihat aksi memukau yang dilakukan Zena. Jika itu mereka, maka pastilah sudah menjadi daging cincang dengan banyak lubang. Mata mereka tak berkedip, Ben bahkan meneguk ludah takjub menyaksikan keahlian sahabatnya itu.


Zena melempar busur ke arah mereka, ditangkap sigap oleh Sarah dan didekapnya benda itu meskipun terasa berat. Zena menatap sang ketua macan putih, wanita itu kehilangan fokus karena aksi Zena yang tak biasa. Dinding-dinding di lantai dua berlubang akibat hantaman timah panas mereka. Sebagian menjadi puing dan berjatuhan ke dasar lantai.


"Apakah dia Zena kita?" bisik Ben tak percaya.


"Tentu saja, siapa lagi? Kau lupa, dia seorang master," sahut Mirah mengingatkan.


"Apa?" Beberapa orang yang mendengar memekik terkejut.


"Yah, dia seorang master dari markas besar Mata Elang. Dia menyamar untuk mengungkap misteri hilangnya para gadis dan murid perempuan di sekolah kita." Sarah menjelaskan.


"Apakah kalian juga mengetahui ini semua?" tanya seorang guru tak percaya.


"Tidak sebelum pesta ini, kami mengetahui tentangnya saat dia menghilang dari pesta," sahut Mirah.


Semua orang kini mengembalikan fokus mereka pada Zena yang berhadapan langsung dengan sisa mafia yang ada. Termasuk di dalamnya kelompok macan putih.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya ketua itu sedikit menggeram marah.


"Kau sangat mengenalku, kita bahkan pernah berduel sebelumnya meskipun tidak imbang." Zena memicingkan mata.


Wanita itu terdiam untuk beberapa saat sebelum kedua matanya membelalak hampir melompat keluar.


"Ze-zena?" Orang-orang di belakangnya ikut menegang mendengar nama itu disebut.


Zena terkekeh, senang sekali mempermainkan mereka. Ia menarik penutup wajah dan memperlihatkan senyumnya yang polos lagi lugu. Semakin melebar mata mereka.


"Bu-bukankah kau tidak di sini?" Salah seorang dayang macan putih bertanya terbata.


Zena memiringkan senyum, wajah lugu yang setiap hari mereka lihat, kini berganti dengan rupa dingin tanpa ekspresi.


"Kalian memang membawaku ke sana, tapi apakah kalian tidak tahu ... tempat itu bahkan sudah aku lenyapkan berikut dengan manusia di dalamnya ... oh, aku yakin kalian pastinya belum tahu soal itu," jawab Zena sembari terkekeh melihat ekspresi terkejut dari wajah mereka.


Ia menyeringai menampakkan deretan dirinya yang putih dan bersih.


Sebuah samurai terbang melayang ke arahnya. Satu kali gerakan kecil, dia sudah dapat menangkapnya.


"Kau ingin kita berduel?" Zena mendekat selangkah demi selangkah. Ia menarik samurai dari punggung dan memperlihatkan kilatan cahayanya yang begitu tajam.


Melihat samurai di tangan Zena, ketua macan putih dan yang lainnya tersentak. Beberapa bahkan memundurkan diri mereka spontan menjauh.


"Kenapa? Apa kalian mengenalinya?" tanya Zena mengangkat samurai ke depan wajah dan memperlihatkan betapa ganasnya benda tajam itu.


"Sa-sa-samurai le-genda?" Tanpa sadar seseorang mencicit membentuk senyum sinis di bibir Zena.


"Kalian tahu, sudah berapa kepala yang diambilnya? Tiga kali, dia mengamuk di tangannku, dan sekarang adalah yang keempat kalinya," ucap Zena.


Ia mengangkat samurai tinggi-tinggi ke arah pintu.


"Aku tak ingin ada yang melarikan keluar dari sini. Tutup semua jalan keluar, mereka tak boleh meninggalkan tempat ini!" teriak Zena dengan samurai terhunus.


Beberapa orang berniat melarikan diri, dan itu tertangkap indera penglihatan Zena. Seseorang yang berada di luar gedung, sigap menutup pintu dan menguncinya. Mereka dikurung bersama Zena. Kepanikan juga ketakutan jelas terlihat dari wajah sebagian mereka.


Tak lama sebuah benda jatuh dari langit, mendarat dengan aman di dekat semua orang.


"Argh!" Mereka menjerit, terus bergerak ke pojokan saat seekor harimau dan seorang anak kecil muncul di depan mata mereka.


"Roarrrr!" Tigris mengaum sebelum melangkah menjadi penjaga para tawanan.


Ben dan Mirah yang pernah melihat gambar Tigris dibuat Zena, saling menatap satu sama lain. Keduanya meneguk ludah, meringis karena apa yang dikatakan Zena waktu itu benar adanya.


"Kau menyebut dirimu macan putih, aku ingin melihat seberapa tajam taring dan kuku yang kau miliki. Apakah lebih tajam dari yang dimiliki sahabatku ini?" ucap saja menunjuk Tigris yang mulai menapak mendekati.


Hewan itu menyeringai, menampakkan taringnya yang tajam mencuat.


Sring!


Ia memperlihatkan kuku-kukunya yang tajam, panjang dan runcing. Cukup untuk mencabik dan mengoyak tubuh mereka.


"Harimau Siberia, dialah lawanmu!" Zena menunjuk sang ketua macan putih.


Ia termundur ketakutan melihat tinggi tubuh hewan itu hampir tiga kali lipat dari tubuhnya.


"Cheo, bergabunglah bersama mereka. Biarkan malam ini Tigris mengamuk sendiri. Lindungi mereka!" titah Zena pada bocah yang tenang duduk di atas tubuh hewan besar itu.


Cheo melompat, berlari, kemudian bergabung bersama Mirah dan yang lainnya untuk melindungi mereka yang tak memiliki senjata. Sisanya, melindungi Ben yang terluka.


Zena mengayunkan samurai di tangan, mulai bergerak secara acak sambil menebas. Mereka mengeluarkan samurai yang sama dan bersiap melawan. Empat belas orang termasuk macan putih melawan satu orang dan seekor harimau.


"Jangan takut, dia hanya sendirian!" teriak sang ketua mencoba mengembalikan keberanian.


"Siapa yang mengatakan dia sendirian? Aku bersamanya!"


Entah sejak kapan laki-laki itu datang, tapi dia sudah berada di dalam ruangan tanpa mereka sadari. Di tangannya memegang sebilah golok, Chendrik tersenyum ke arah Zena. Ini pertama kalinya mereka berkolaborasi dalam berperang melawan musuh.


"Dua orang master ditambah seekor Tigris sudah cukup. Aku hanya akan duduk menonton saja," gumam Cheo sembari berjongkok. Ia duduk melantai dan meminta yang lainnya untuk ikut mengendurkan urat-urat yang menegang di tubuh.