
Chendrik tersenyum-senyum sendiri sambil membawa langkah keluar dari kamarnya. Ibu menatap anak itu dengan bingung, pasalnya Chendrik dikenal sebagai anak yang jarang tersenyum kecuali hatinya sedang dalam keadaan baik.
"Chendrik? Kau baik-baik saja, Nak?" tegurnya sembari memindai penampilan sang anak yang biasa saja.
Senyum di bibir pemimpin markas itu pudar begitu melihat Ibu yang baru saja datang berbelanja dengan menenteng berbagai kantong belanjaan. Ia mengernyit tak suka, melangkah pelan menghampiri wanita tua yang masih berdiri di bawah tangga itu.
"Belanja lagi?" Ibu hanya melirik kedua tangannya yang dipenuhi tas belanja. Ia mengangkat bahu sambil menatap Chendrik yang kian mendekat.
"Sebenarnya apa saja yang Ibu beli? Kenapa hampir setiap hari keluar untuk berbelanja? Bukankah sayang uangnya jika hanya dibelikan barang-barang yang mudah rusak seperti yang Ibu beli itu?" ujarnya mengungkap apa yang selama ini ia pendam.
Wanita tua itu cemberut, ia bahkan mendengus tak senang.
"Kau terlalu perhitungan kepada Ibumu sendiri, sedangkan untuk gadis itu ... apapun kau berikan padanya," sungutnya kesal sembari menghentakkan langkah meninggalkan Chendrik. Ia bahkan menyenggol bahu putranya itu sebagai bentuk protes terhadap ucapannya.
Chendrik mendesah frustasi, ia terus membawa langkah keluar mansion menunggu sesuatu. Kepalanya celingukan ke kanan dan kiri, menunggu tak sabar sesuatu yang entah apa.
"Master? Apa yang Anda tunggu? Biar kami yang menunggu, Anda cukup duduk santai saja di dalam," tegur dua orang pekerja di mansion. Keduanya tak sengaja melihat Chendrik yang terus berdiri di halaman dengan gelisah.
Setelah berpikir Chendrik akhirnya menerima tawaran mereka berdua.
"Jika sudah sampai antarkan ke ruang kerjaku!" pintanya sebelum pergi meninggalkan halaman.
"Baik, Master!" Jadilah mereka berdua yang menggantikannya menunggu di halaman. Kedua pekerja itu duduk di sebuah bangku sambil bercengkerama. Bergosip tentang master mereka yang akhir-akhir nampak berbeda.
Chendrik berlari kecil menaiki anak tangga, gegas memasuki ruang kerja, mengawasi dari jendela besar apa yang tadi ditunggunya.
"Kenapa gelisah sekali? Tak sabar rasanya aku menunggu. Apa seperti ini rasanya menunggu?" Ia bergumam sambil menutup pintu ruangan dengan pelan. Bibirnya tersungging gemas.
Sesuatu yang teronggok di lantai mengalihkan perhatiannya. Dahi Chendrik mengernyit melihat tas Zena yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia memungut tas tersebut dan melihat isinya. Membuka buku catatan Zena, memeriksa apa saja yang ditulis gadis itu.
Tak satu pun pelajaran ditulis Zena. Semuanya tentang kegiatan siswa yang mencurigakan, dan sebuah fakta baru tentang macan putih juga Laila. Catatan itu yang paling mencolok, Chendrik menjadi penasaran dibuatnya.
Dimasukkannya kembali tas Zena ke dalam tas, lagi-lagi perhatiannya tersita oleh sebuah benda pipih. Ia mengambil gawai milik Zena dan memeriksanya. Yang pertama dia buka adalah kontak pertemanan, wajahnya mengernyit jelek saat ia membaca nama Ben di sana.
Tangannya bergulir membuka aplikasi pesan, memeriksa setiap pesan yang masuk dan keluar. Namun, tak ada pesan apapun di dalam sana. Semakin penasaran, ia membuka galeri. Chendrik tercengang begitu melihat foto-foto yang diambil Zena.
Ia tersenyum sinis, ibu jarinya terus bergulir melihat lebih banyak gambar.
"Aku harus meminta penjelasan Zena. Siapa mereka ini? Kenapa dia mengambil gambar mereka? Dia ...." Matanya menatap pada seseorang di dalam gambar tersebut. Ada dendam terpancar di maniknya yang berwarna coklat. Chendrik mengirimkan foto-foto tersebut ke ponselnya. Itu akan menjadi bahasan dalam rapat bersama para petinggi markas setelah mendengar penjelasan Zena.
"Master! Pesanan Anda sudah datang." Sebuah ketukan di pintu juga seruan dari luar ruangan menyadarkan Chendrik dari apa yang sebenarnya ingin dia lakukan.
Senyum yang sempat hilang tadi kembali terbit. Ia membawa serta tas Zena berniat akan menyerahkannya pada sang pemilik sekaligus bertanya soal gambar di ponselnya.
"Terima kasih," katanya, seraya mencium benda tersebut sebelum membawa langkahnya pergi meninggalkan lantai dua mansion.
Kedua pekerja itu saling menatap satu sama lain, bahu mereka terangkat. Tak lama, gelak tawa yang ditahan pecah dari keduanya. Mereka tergelak sambil meninggalkan lantai dua tersebut.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Master?" racau salah satu dari mereka dengan sisa tawa yang membuat kulit wajahnya memerah.
"Entahlah, master Zena memang hebat. Mampu mencairkan gunung es yang selama ini terus membeku." Keduanya kembali tergelak saat membayangkan wajah Chendrik yang tadi menerima pesanannya.
Laki-laki itu berjalan menuju kamar Zena, dua buah benda kini berada dalam genggamannya. Tas Zena ia sampirkan di bahu kiri, tersenyum. Sesekali ia akan melirik bergantian kedua benda di tangannya.
Sepi. Mansion tempat tinggal Zena terlihat lengang. Tak ada siapapun di sana bahkan para pekerja tak satu pun terlihat. Chendrik terus maju menuju kamar Zena, ia menghela napas sebelum berseru memanggil nama gadis itu. Gugup sekali.
"Zena! Kau di dalam?" Chendrik memanggil. Tak ada sahutan, ia pun berdiam sejenak. Memilih duduk di kursi menunggu sang empu membukakan pintu.
Zena yang baru saja keluar kamar mandi, mengernyitkan dahi saat seseorang memanggil namanya. Dengan hanya berbalut handuk, ia mendekat ke arah jendela guna mengintip siapa yang memanggil.
Tepat disaat ia berdiri di balik jendela kaca, Chendrik yang kebetulan duduk menghadap ke arah tersebut, menyeringai dengan wajah yang memerah. Lagi-lagi kepolosan Zena tentang laki-laki membuatnya tak sadar bahwa Chendrik sedang menatap buas ke arahnya yang hanya dibalut handuk saja.
Hampir mengekspos semua bagian tubuhnya kecuali dua lokasi yang rawan saja. Melihat Chendrik yang tak berpaling darinya, dahi gadis itu mengkerut. Tak lama ia menatap tubuhnya sendiri dan seketika tertegun dengan mata melotot. Semu merah menyembul di kedua pipinya, buru-buru Zena menutup tirai dan berlari ke kamarnya.
"Astaga! Binatang buas itu, mau apa dia di depan kamarku? Sial!" Zena menggerutu, bersandar pada pintu kamar dengan jantung yang berdegup tak karuan.
"Oh, jantungku! Kurang ajar Chendrik, kenapa dia selalu membuat jantungku mau lepas seperti ini?" umpatnya lagi sambil memegangi bagian dada kirinya yang tak henti memukul-mukul.
Zena menarik napas pendek-pendek guna mengurai sesak akibat jantung yang tak mau berhenti berdetak. Setelah cukup tenang, ia berjalan ke lemari mencari pakaian yang akan menutupi seluruh tubuhnya.
Sebuah kaos lengan panjang dengan hoodie yang akan menutupi kepalanya, ia kenakan dengan cepat. Tak lupa ia mencari celana panjang yang longgar, meski tubuhnya terasa panas karena darah seolah-olah bergejolak, ia tetap memakai pakaian tersebut untuk menemui Chendrik di depan kamarnya.
"Zena, keluarlah! Ada yang ingin aku tanyakan!" teriak Chendrik lagi dengan cukup kencang.
Mulut Zena komat-kamit merututki Chendrik, matanya membesar kesal. Kedua gigi beradu meski bergumam.
"Sungguh tak tahu malu!" umpatnya sebelum keluar kamar dan menemui Chendrik.
"Ada apa?" ketus Zena.
Melihat penampilan Zena yang hanya memperlihatkan bagian wajahnya saja membuat Chendrik tak kuasa menahan tawa. Tawa laki-laki itu pecah hingga membuatnya terpingkal. Zena berkacak pinggang jengah, matanya menyalang.
"Sudah selesai?"