
Suara gaduh yang datang dari halaman markas, mengusik Chendrik dan semua pasukan Mata Elang yang ditawan di dalam penjara.
"Kalian siap?" tanya Arabella sembari mengangkat senjata di tangannya.
"Siap!" jawab mereka serentak.
Arabella memimpin, membuka pintu ruang tahanan mengintip situasi yang ada. Para mafia itu terlihat sibuk berlarian ke sana kemari. Arabella menggerakkan tangannya meminta mereka semua untuk keluar dan berpencar.
Sementara Chendrik dan Adhikari telah menghilang dari penjara. Entah ke mana mereka berdua pergi? Tak ada yang tahu.
"Ketua, ruang senjata itu kosong. Seseorang telah mengambil semua senjata itu dan hanya menyisakan senjata tak berguna ini, Ketua!" lapor salah satu bawahan Hirata sembari meletakkan beberapa senjata yang ditinggalkan salah satu petinggi markas.
"Kurang ajar! Kerahkan semua anggota, kita harus bersiap melawan serangan tak terduga ini!" titahnya seraya berjalan keluar ruangan.
"Baik, Ketua!"
Hirata terus berjalan membawa senjata di tangan, sepasang mata mengintip dari balik sebuah dinding mengawasi pergerakannya.
Bugh!
Langkahnya berbalik mundur setelah mendapat satu pukulan tak terduga tepat di wajah. Hirata memegangi hidungnya yang sedikit berdarah, menyusutnya dengan pelan sambil menahan geram.
Adhikari muncul dari balik tembok, di usia yang tak lagi muda itu pukulannya masih sangat kuat. Ia tersenyum melihat Hirata yang berdiri di hadapannya.
"Kesalahan besar untukmu karena telah menyerang markas kami. Yang kau tidak tahu adalah kami selalu diawasi dari langit sehingga saat orang-orang sepertimu datang menyerang dan ingin menguasai tempat ini, semua itu tak akan pernah terwujud. Dia tak akan rela rumahnya diusik, apalagi direbut secara paksa!" ucap Adhikari penuh wibawa.
Hirata tersenyum sarkas, menganggap semua yang diucapkan laki-laki tua di hadapannya hanyala sebuah bualan semata.
"Orang mati tak akan mungkin ikut campur masalah dunia. Jangan menceritakan dongeng untuk menakut-nakuti aku, Pak tua! Kau pikir aku akan termakan bualanmu? Heh, jangan mimpi!" tegas Hirata tanpa rasa takut sedikitpun.
Ia tetap berdiri tegak dan angkuh, siapapun yang dimaksud Adhikari tak akan pernah menandingi kekuatan yang dimilikinya.
"Kau yakin? Apa kau tahu semua penjagamu telah menjadi mayat. Itu sebabnya tak ada dentuman meriam menyambut kedatangan pasukannya. Para penembak jitu yang kau tugaskan pun telah terbujur kaku di tempat mereka bertugas, masih tidak yakin? Jika mereka masih ada, tak akan pasukan itu dapat menerobos masuk ke dalam markas," ungkap Adhikari lagi semakin memprovokasi.
Hirata mulai terpancing, urat-urat kekesalan bermunculan di pelipis dan lehernya. Kedua tangan dikepalkan dengan erat, bunyi gemelutuk gigi pun ikut terdengar nyaring saat ia mengeratkan rahang.
"Omong kosong! Aku sudah menaklukan Pemimpin mereka, meski kalian dapat melarikan diri dari tahanan, tapi aku seribu langkah lebih cepat dari kalian!" Hirata mengurai kepalan tangannya, tersenyum puas melihat kebingungan di wajah tua Adhikari.
"Ringkus laki-laki tua ini, dan jadikan dia ancaman untuk menghentikan serangan mereka!" titahnya dan tanpa terduga sebuah balok kayu menghantam tengkuk laki-laki tua itu.
Adhikari jatuh terkapar, diikat dan diseret ke atas atap. Di sana, Chendrik pun dalam kondisi yang sama. Dua orang laki-laki bertubuh besar menjaganya, wajah pemimpin markas itu dipenuhi memar. Mereka diikat dan dibiarkan berdiri di atas atap dengan sebuah tiang penyangga.
Hirata menggeram marah, semua meriam miliknya telah rusak. Para penjaga mati dengan lubang di kepala dan dada mereka. Pun dengan para penembak jitu itu, semuanya terkapar tanpa nyawa.
"Kurang ajar! Siapa yang berani melakukan ini! Akan aku habisi nyawanya dan aku cincang tubuhnya hingga tak berupa," ancam Hirata sembari mengepalkan kedua tangannya.
Ia berdiri mengawasi jalannya perang dari atap, di dalam pasukan itu tak satupun terlihat kuat. Mereka hanya para penduduk dengan senjata seadanya. Hanya dua kelompok manusia berseragam yang nampak lihai dalam menyerang. Jelas, mereka pasukan Chendrik yang sudah sangat terlatih.
"Orang-orang bodoh dan lemah! Mereka datang hanya untuk mengantarkan nyawa saja," cibirnya seraya berbalik hendak kembali turun mengancam semua penduduk yang menyerang secara membabi-buta.
Di bagian lain bangunan, diam-diam Zena menyelinap masuk ke dalam markas. Ia bersembunyi di dalam gelap, mengawasi situasi yang ada. Satu orang yang ingin dia temui, Hirata. Namun, ia tak tahu, baru saja laki-laki yang dicarinya naik ke atas atap. Samurai sudah digenggamnya dengan erat, matanya awas memindai sekitar. Ia memang tidak tahu seperti apa rupa seorang Hirata, tapi dia yakin hati akan menuntun untuk menemukannya.
Disaat semua mafia berlarian keluar markas, Zena justru masuk lebih dalam mencari keberadaan ketua mereka. Ia melihat seorang laki-laki bertubuh kerdil yang terlihat cemas. Berlari ke segala arah sambil mengumpat tak henti.
"Di mana semua penjaga? Kenapa tidak ada ledakan meriam? Mereka hanya para penduduk yang lemah yang tak memiliki bekal dalam berperang. Hanya sekelompok semut kecil yang menyusahkan saja." Sambil berjalan cepat laki-laki kerdil itu terus meracau tak jelas.
Dia berhenti di depan sebuah meja, membuka laci dan mengeluarkan senjata api dari dalam sana.
"Dasar tukang mabuk, awas saja jika aku melihat mereka turun akan aku lubangi kepala mereka tanpa alasan!" umpatnya lagi dengan geram.
"Mereka telah mati!"
Sebuah suara yang datang dari belakang membuat tubuhnya membeku. Tenggorokan tercekat, meneguk saliva gugup dan gemetaran. Suara asing yang terdengar dingin dan tajam, membuat kakinya bergetar.
"Si-siapa K-kau?" tanyanya terbata.
"Tak perlu tahu siapa aku, yang pasti aku datang untuk menghabisi kalian semua!" ucap Zena datar tanpa ekspresi.
Ujung samurai itu menghunus tengkuknya, rasa dingin meraba permukaan kulit. Tubuh pendek itu meremang, jika diukur tingginya hanya sebatas perut Zena.
"Letakkan senjatamu dan jangan melawan jika tak ingin samurai ku ini merobek kulitmu!" ancam Zena sembari menekan samurainya.
Rasa perih dirasakan laki-laki kerdil itu, cairan hangat merembes dan menetes pada pakaian yang ia kenakan. Pelan tangannya meletakkan senjata dan menjauh darinya sesuai arahan ujung samurai Zena.
"Tunjukkan padaku di mana Hirata?" perintah Zena sembari menendang punggung kerdil itu hingga tersungkur di lantai.
Zena melangkah, menginjak punggung tersebut sembari mengancam, "Awas saja jika kau berdusta. Aku tak akan segan memenggal kepalamu ini!"
Zena melepaskan kaki, meminta laki-laki tadi untuk berdiri. Tubuh kerdilnya gemetaran, berjalan menuju ruangan di mana Hirata berada. Samurai Zena terus mengancam, bergerak sedikit saja sudah pasti kulitnya akan kembali tergores.
"Kau yakin dia di dalam sini?" tekan Zena memastikan.
Itu adalah ruangan yang biasa digunakan Chendrik untuk berdiskusi dengannya dan Adhikari. Bisa dibilang ruangan pribadi di markas milik pemimpin.
"I-iya, setidaknya sebelum aku keluar. Ke-ketua ada di dalam sana," jawabnya sedikit ragu. Pasalnya, sudah beberapa menit berlalu sejak kepergiannya.
"Buka!"
Zena menendang punggungnya menabrak pintu tersebut hingga terbuka lebar. Ia merangsek masuk, dan melihat ke dalam ruangan. Tak ada siapapun di dalam sana.
"Kau bilang dia di sini? Lalu, di mana dia?" bentak Zena menekan punggung pendek itu di atas meja.
"A-aku tidak ta-"
"Akkkh!"
Tak sempat berbicara, samurai Zena mendahuluinya.