
"Hmm ... wanita angkuh! Kau pikir mampu dan pantas memimpin sebuah pasukan? Jenis yang paling lemah bahkan dari binatang sekali pun, kau hanya akan menyusahkan dan menghambat jalannya pertempuran saja. Lebih baik diam dan tugasmu hanyalah menjaga mereka yang terluka, juga membuatkan kami makanan tentu saja," ungkap sang komandan mendengus sambil mencibir Zena yang tak lepas menatapnya.
Sebastian gelisah, dalam hatinya tak menerima sikap sang komandan yang merendahkan Zena. Jika itu gadis lain, tak akan ia merasa kesal seperti saat ini. Kedua ketua tim prajurit Chendrik bahkan menahan napas mereka, membelalak tak percaya ada yang berani meremehkan master mereka. Namun, semua itu tak berlaku untuk Zena. Ia tertawa disaat semua orang menegang dan hampir meledak.
"Benarkah? Aku tidak tahu jika di sini aku harus merawat yang terluka juga memasak untuk kalian. Bagaimana jika aku menaruh serbuk di atas makanan yang akan aku hidangkan untuk kalian? Senang rasanya saat aku melihat kalian sekarat setelah memakannya. Ah ... jika begitu, aku akan pergi memasak," ucap Zena melebarkan senyum seraya beranjak hendak keluar.
Semua orang melongo dibuatnya, para prajurit mata elang bahkan meneguk ludah takut. Mereka tahu saat Zena mengatakan itu, pasti itulah yang akan terjadi. Kengerian jelas terpancar di wajah mereka, seluruh tubuh bergidik, tangan dan kaki mereka bergetar dan semua itu dilihat oleh komandan militer yang angkuh.
Tawa Zena terdengar semakin jahat dan mengerikan, Sebastian bahkan belum pernah mendengar suara tawa itu. Benar-benar seperti seorang penyihir yang misterius. Sang komandan mengernyitkan kening bingung, padahal menurutnya itu hanya ancaman kacang. Tak akan mungkin dia berani berbuat nekad seperti yang dikatakannya.
"Master! Tunggu!" cegah ketua tim Elang biru sebelum langkah Zena benar-benar melewati garis pintu.
Gadis itu berhenti, memutar kepala menatap sang ketua. Kemarahan jelas terpancar di kedua manik kelamnya. Detik berikutnya, Zena mengulas senyum manis dan terlihat lugu. Sama persis seperti saat Sebastian pertama kali melihatnya.
"Tidak apa-apa, kalian duduk saja di sini. Aku hanya seorang perempuan, satu jenis yang lemah dan tak dapat diandalkan. Hanya menyusahkan kalian saja yang ditakdirkan sebagai laki-laki," ucap Zena sambil melirik tajam sang komandan yang terus terdiam tak lagi bicara. Laki-laki berkumis tebal itu melengos dari tatapan dingin Zena.
Zena kembali melanjutkan langkah, beberapa langkah lagi ia keluar sebuah tangan menariknya.
"Tetaplah di sini, jangan tersinggung. Komandan belum tahu siapa dirimu, aku minta maaf untuk itu. Duduklah lagi, kita lanjutkan diskusi yang tadi," pinta Sebastian sedikit meremas pergelangan tangannya.
Zena menilik kedua manik laki-laki itu, ada rasa tak enak juga sedikit kecewa atas kejadian tadi. Helaan napas terhembus panjang, Zena mengalah. Mengendurkan urat-urat yang menegang, ia terlalu lelah memikirkan semua masalah yang sedang melanda.
"Baiklah. Aku hanya ingin membersihkan diri saja, terlalu lengket rasanya. Boleh aku ke kamar mandi?" ucap Zena dengan gaya polos dan lugunya. Ia bahkan tersenyum manis membuat kedua pipi Sebastian bersemu merah.
"Oh." Tak tahu harus apa, Sebastian menggaruk rambutnya yang tak gatal.
Zena menyerahkan busur serta samurainya kepada Sebastian. Hanya dia yang bisa dipercaya untuk saat ini, dan di perkumpulan ini tentu saja.
"Jaga itu semua seperti kau menjaga nyawamu sendiri," perintah Zena sebelum berlalu meninggalkan ruangan tersebut. Ia memanggil Cheo, mengajaknya untuk membersihkan diri juga.
Sebastian menatap dua senjata yang selama ini menemani perjalanan Zena. Benda keramat yang harus dia jaga dengan baik. Selain untuk menghargai Zena, dia juga harus menghargai pemilik sesungguhnya dari dua benda pusaka tersebut. Sang legenda Elang Putih.
Dengan penuh kehati-hatian Sebastian mendekap benda tersebut, membawanya duduk di tempat semula di bawah tatapan dua pasukan Chendrik. Mereka merasa iri, dalam hati teringin menyentuh benda pusaka itu. Selama ini mereka hanya melihatnya dalam bentuk gambar saja yang dipampang di dinding markas. Senjata pertama yang didesain langsung oleh sang legenda dan ditempa oleh pandai besi kenamaan pada zamannya.
"Apa yang kalian lihat?" sentak Sebastian sembari mengeratkan benda tersebut ke dalam dekapannya.
"Jenderal, boleh kami menyentuhnya? Selama ini kami hanya melihat gambarnya saja, dan baru pertama kali ini melihat secara langsung benda pusaka milik markas kami sendiri," pinta salah satu ketua dengan mata berbinar penuh pengharapan.
Sebastian melirik dekapannya sendiri, menggeleng kuat-kuat saat tatapannya ia jatuhkan pada mereka. Rasa kecewa terus saja terlihat di wajah mereka, seketika mereka menundukkan kepala dan berkali-kali melirik Sebastian dengan iri. Hal itu mengundang para penasaran di hati pimpinan Sebastian.
"Aku hanya ingin melihatnya saja, apanya yang istimewa? Mungkin saja itu hanya tiruan, bukan? Jadi, biarkan aku memeriksanya sebentar," ucap sang komandan sembari menahan geram di hati.
"Maafkan aku, Komandan. Jika Anda benar-benar ingin memastikan, Anda bisa menunggu pemiliknya dan meminta izin padanya," ucap Sebastian jauh dari yang dia harapkan.
Wajah laki-laki berkumis tebal itu semakin hitam dan semakin jelek terlihat. Dia melebarkan matanya, mengancam Sebastian. Namun, Jenderal muda itu tetap bergeming tak membiarkannya menyentuh kedua barang berharga milik Zena tersebut.
"Kau ingin aku pecat! Biarkan aku melihatnya, Sebastian!" ancamnya semakin menggeram tak tertahan.
"Tidak! Anda harus menunggu Zena jika ingin menyentuhnya," jawab Sebastian lagi tetap menolak meskipun terancam.
"Kau-"
"Kakak tidak senang jika barangnya disentuh sembarang orang," tukas Cheo seraya melangkah memasuki ruangan tersebut.
Sang komandan mengalihkan pandangan, menatap seorang bocah kecil yang memiliki wajah serupa dengan pemimpin markas Mata Elang. Ia tersenyum sinis, menegakkan tubuhnya kembali tanpa membuang pandangan dari sosok Cheo.
"Kau bocah tahu apa? Benda seperti itu banyak di pasaran, aku hanya ingin memeriksanya saja. Apakah itu asli milik sang legenda ataukah hanya barang tiruan," ucapnya masih melengos dari perkara keaslian dua senjata Zena.
"Oh, itu artinya kau mengenal dua pusaka itu, dan aku yakin kau juga pasti mengenal siapa pemiliknya, bukan?" tanya Cheo seraya duduk berhadapan dengan sang komandan juga bertepatan di samping Sebastian.
"Tentu saja, siapa yang tidak mengenal legenda itu? Mereka sangat dihormati di kota Elang ini, tapi sayang mereka mati terlalu cepat sebelum menikmati hasil perjuangan mereka berdua," sahut sang komandan lagi sembari mencibirkan bibir.
Cheo tersenyum tajam, ia mengambil samurai Zena tanpa ditolak Sebastian. Kedua mata komandan melebar tak percaya. Sungguh tidak adil rasanya.
"Aku melihat kau begitu iri dengan penghargaan yang diberikan kota Elang kepada mereka berdua. Apa yang sudah kau perbuat untuk kota ini sehingga kau ingin mendapatkan penghormatan yang sama seperti sang legenda kami?" sarkas Cheo tanpa rasa takut apalagi sikap hormat yang dia tunjukkan.
Baginya, siapa saja yang sudah berani merendahkan Zena, mereka tidak pantas untuk dihormati.
"Kau hanya bocah, tahu apa kau soal penghargaan?!" sentaknya tak terima dengan pernyataan Cheo.
Namun, bocah lancang itu bergeming, ia bahkan memiringkan senyum mengejek dirinya. Cheo menarik samurai dari sarungnya, menunjukkan kepada pemimpin markas tentara itu betapa tajam mata samurai Zena.
"Elang Putih yang perkasa. Aku tidak tahu sudah berapa banyak kepala yang terlepas karena sabetannya? Tak terhitung. Di mana kalian bisa mendapatkan samurai dengan pahatan juga ukiran sempurna seperti ini? Meskipun usianya sudah tak lagi muda, tapi ketajamannya tak terkalahkan oleh pedang mana pun," ucap Cheo sembari menunjukkan sisi tajam samurai Zena.
Disaat semua pasukan merasa takjub terhadap benda itu, sang komandan membelalak dengan dada bergemuruh. Ia bahkan menahan napas untuk beberapa saat begitu mengenali ukiran yang khas pada gagang samurai tersebut.
"I-itu ...."