Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Posisi Ibu



Sentuhan hangat sinar matahari pagi memberikan semangat dan harapan untuk setiap insan yang menyapanya. Di ufuk timur, ia muncul bagai sang penguasa memberi cahaya. Suguhan indah di pagi hari, menyalurkan kehangatan pada hati setiap mereka yang berjuang.


Gadis itu pula berdiri menyambut kedatangannya, pakaian pasien masih melekat di tubuh. Bosan rasanya berdiam diri, tapi Cana tak ingin ia keluar lebih dulu dari rumah sakit. Wajah Zena yang cantik masih menyisakan pucat yang membuat sisi keibuannya terusik. Zena menjulurkan tangan membiarkan sinar matahari menerpanya.


Bibirnya tersenyum meskipun masih nampak pucat, tapi ia tak terlihat murung dan sakit. Kelopak matanya terbuka dengan lembut, tersentak saat seikat bunga mawar melayang di hadapan wajahnya.


"Selamat pagi, calon istriku!" sapa sebuah suara tanpa rasa malu sedikitpun.


Zena menoleh ke samping kiri tubuhnya, di sana Chendrik dan Cheo berdiri dengan seragam resmi mereka. Ia tersenyum seraya menerima bunga tersebut. Menghendikan bahu tak tahu harus menjawab apa untuk sapaan yang diberikan Chendrik padanya.


"Kau pasti belum makan, aku sudah memasak hari ini khusus hanya untukmu," ucap Chendrik sembari menggenggam jemari Zena dan mengajaknya untuk duduk di sofa.


"Yah, Ayah bahkan bangun lebih awal dari pada para pekerja." Cheo ikut membuka suara sambil tersenyum sedikit memuji usaha sang Ayah untuk menaklukan hati Zena.


"Oya? Aku tidak tahu kau pandai memasak. Aku sama sekali tidak tahu memasak selain daging asap dan ayam bakar saja," ucap Zena sambil menatap kagum wajah Chendrik yang merona.


Pagi itu dia terlihat berbeda, rambut yang selalu apa adanya, pagi itu terlihat lebih rapi. Janggutnya raib, pakaian yang dikenakan pun berbeda dari yang biasanya.


"Makanlah, semoga kau menyukai rasanya," ucap Chendrik seraya membuka kotak bekal yang ia bawa.


"Apa ini?"


"Itu hanya steak yang ditaburi saus barbeque di atasnya. Kau sudah memakan ini sebelumnya, tapi bukan aku yang memasak." Chendrik mengambil alih pisau dan garpu.


Makanan itu masih mengepulkan asap, seperti baru saja diangkat dari api. Laki-laki itu dengan lihai memotong daging menjadi kecil-kecil. Menusuknya dengan garpu dan menyuapkannya pada Zena.


"Aku bisa makan sendiri," tolak Zena secara halus.


Chendrik menggelengkan kepala tidak menerima penolakan.


"Untuk pagi ini biarkan aku yang menyuapimu," ucapnya tak ingin dibantah.


Rasa hangat menjalar di seluruh bagian wajah Zena merambat terus ke telinga. Rona merah mencuat di permukaan kulitnya yang putih. Ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, salah tingkah.


"Makanlah!"


Malu-malu Zena membuka mulut dan menerima suapan dari Chendrik. Mengunyahnya dengan pelan, merasai makanan yang baru saja menyapa lidahnya.


"Mmm ... ini enak. Bagaimana caramu memasaknya?" tanya Zena dengan manik yang berbinar cerah.


Garis bibirnya terangkat ke atas tinggi, mulutnya kembali terbuka meminta suapan selanjutnya. Laki-laki itu terkekeh senang. Senyum terus tersemat di bibirnya yang tipis. Suapan berikutnya meluncur hingga habis tak bersisa.


Suara sendawa keluar cukup nyaring dari mulut Zena.


UPS!


"Maaf," katanya malu.


"Tidak apa. Minumlah!" Chendrik nampak berbunga. Ia menyerahkan sebotol air padanya.


"Terima kasih."


Zena mengambil botol tersebut, tak sengaja tangan mereka bersentuhan. Gelenyar aneh yang mengalir dalam tubuh mereka, membuat keduanya termangu dalam satu garis pandang yang sama. Cheo nampak bingung karena kedua orang itu seolah-olah dihentikan waktu.


"Kakak, hari ini acara kelulusan di sekolahku. Doakan aku semoga lulus dengan nilai terbaik," ucap Cheo memutus pandangan mereka berdua.


Chendrik salah tingkah sendiri, Zena berpaling dengan wajah memerah malu. Tangannya meremas botol minum itu dengan gemas, tersadar ia harus meneguknya. Zena hampir menghabiskan satu botol air tanpa sadar.


"Maaf, bagaimana?" tanyanya setelah menyimpan botol air di atas meja dan menormalkan detak jantung.


Senyumnya terukir kaku, antara malu dan gugup jadi satu.


Zena termangu, ia tak tahu apakah Cana akan mengizinkan dirinya untuk keluar dari tempat membosankan itu.


"Dia akan datang bersama kami. Kalian pergilah lebih dulu, jangan sampai terlambat!" ucap suara Cana yang melangkah pelan memasuki ruangan Zena.


Gadis itu tersenyum senang, ia bahkan menyambut kedatangan dua orang tua angkatnya dengan antusias. Memeluk mereka senang pada akhirnya dapat keluar dari ruangan tersebut.


"Apa artinya aku sudah boleh keluar?" tanya Zena setelah melepas pelukannya.


Cana mengangguk dan dibenarkan Adhikari. Cheo tersenyum senang, ia sangat berharap Zena hadir mewakili ibunya. Lagipula dia tak ingin Ibu yang lain selain Zena.


Chendrik beranjak disusul Cheo, membenarkan jas seraya berjalan mendekati mereka.


"Jika begitu, kami akan pergi lebih dulu." Ia berpamitan pada Zena dan orang tua itu. Cheo bahkan melangkah lebih ringan dari pada saat di rumah tadi.


Semangatnya yang sempat redup kembali membuncah memenuhi hati. Cana membawa Zena duduk di sofa, meletakkan kotak bekal di atas meja. Wajahnya mengernyit melihat sebuah kotak makan teronggok rapi di samping miliknya.


"Kau sudah makan? Ibu bawakan sarapan untukmu, Ibu tidak tahu jika kau sudah makan," katanya lesu sedikit kecewa.


Zena serba salah dibuatnya, berpikir mencari alasan agar tidak menyakiti perasaan semuanya.


"Ah, itu Chendrik yang membawakan. Hanya makanan pembuka, aku memakan itu karena Cheo bilang dia memasaknya sendiri. Ibu masak apa?" ucap Zena sebisa mungkin bersikap biasa sambil melirik kotak makan yang dibawa Cana.


Adhikari tersenyum, ia tahu posisi Zena sedang berada dalam keadaan serba salah. Wajah muram Cana kembali cerah, bersemangat mendengar ucapan gadis itu.


"Ibu masakan makanan yang sehat untukmu. Ini bagus agar kau bisa lebih cepat pulih dan sehat kembali," ucap Cana seraya membuka kotak makan yang ia bawa.


Zena meringis melihat nasi lengkap dengan lauk pauknya bahkan sebotol susu hangat dibawanya pula. Ditambah buah-buahan sebagai penutup.


"Ayo dimakan, kebetulan Ayah juga belum makan. Kita makan sama-sama," ucap Adhikari merasa kasihan melihat Zena yang meringis.


Gadis itu mengangguk senang. Cana pasrah meskipun dalam hati ia ingin Zena sendiri yang menghabiskan makanan tersebut.


******


"Kau sudah siap?" tanya Cana sesaat setelah Zena keluar kamar mandi dengan gaun yang dibawakannya.


"Apa tidak apa-apa seperti ini, Ibu? Ini terlalu mewah," tanya Zena memandangi gaun panjang berwarna salem yang ia kenakan hari itu.


"Tidak, sayang. Mungkin di matamu ini terlalu mewah, tapi untuk semua orang ini hanya gaun biasa. Sudahlah, kau terlihat cantik seperti itu. Biarkan rambutmu tergerai," ucap Cana seraya merangkul lengan Zena dan mengajaknya keluar rumah sakit.


*****


Zena terperangah melihat dekorasi mewah acara kelulusan di sekolah Cheo. Mungkin sekolahnya akan lebih mewah jika saja tak ada kejadian seperti malam kemarin. Pakaian yang dikenakan semua orang nampak mewah dan elegan. Ia melirik gaunnya sendiri membenarkan yang dikatakan Cana saat di rumah sakit.


"Ibu!"


Seseorang berteriak dari dalam gedung, Zena tersenyum dan menyambut kedatangan Cheo dengan pelukan.


"Kenapa kau memanggil Kakak Ibu?" tanya Zena sembari melepaskan pelukan.


"Saat orang tuaku dipanggil ke panggung, aku ingin Kakak dan Ayah yang naik. Bukan wanita iblis yang di sana, aku sudah membicarakan hal ini dengan Ayah dan dia setuju," ucap Cheo.


Zena melirik pada deretan kursi yang disediakan untuk orang tua siswa. Ada Chendrik yang menatapnya sambil tersenyum, ia mengangguk. Juga ada Ibu kandung Cheo yang nampak tak senang dengan kehadiran Zena.


Mengingat cerita Cheo perihal ibu kandungnya itu, membuat hati Zena menggeram. Bagaimana mungkin di dunia ini ada seorang Ibu yang tega membayar orang untuk membunuh anaknya sendiri?


"Baiklah. Jangan biarkan dia mengambil posisi Ibu," ucap Zena tersenyum tajam sambil melirik Clarissa.