Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Perang Besar



Malam itu sesuai rencana, tim Elang biru mendatangai dermaga melalui jalur tersembunyi bawah tanah yang dimiliki markas. Ketua tim dan beberapa orang bawahannya menaiki kapal selam. Sedikit demi sedikit mereka akan memutus jalan pulang para mafia itu.


Tim Elang coklat menyelinap ke dalam kota, daripada para mafia tentu saja prajurit Chendrik yang paling hafal seluk beluk kota itu. Mudah saja bagi mereka menyelinap tanpa diketahui. Lalu, berkumpul di beberapa titik. Menyusun rencana melumpuhkan satu per satu mafia yang berjaga di depan rumah-rumah penduduk.


Mereka tiba di kota, bersembunyi di dalam gelap. Beberapa ada yang memanjat gedung mengawasi dari atas sekaligus melumpuhkan mereka yang berjaga di atap. Setiap gedung kota Elang dijaga empat orang mafia yang berdiri di keempat sudut atap gedung.


Mereka memberi kode untuk menyergap musuh diam-diam, mengeluarkan belati kecil dari saku, merayap naik ke atas atap. Lalu, tanpa basa-basi langsung menyayat leher para mafia tersebut. Mereka berganti penampilan, menukar pakaian dengan para mafia dan berjaga. Begitu rencananya.


Hampir semua gedung berhasil mereka rampas kembali, tanpa ada yang menyadari rekan mereka telah digantikan. Selanjutnya, para mafia yang berjaga di setiap jalan kota. Sebagian ada yang berkeliling, sebagian berjaga di setiap tempat tertentu.


"Kalian siap? Ini tak akan semudah yang kalian pikirkan. Tetap berhati-hati dan waspada!" Suara sang ketua menyambar telinga mereka.


Semua mulai bergerak secara perlahan, mengendap bahkan bernapas saja seperti diperhitungkan. Sebagian membidik menggunakan panah, mereka mengawasi jika ada serangan tak terduga yang mengganggu rencana mereka.


Satu per satu mulai di lumpuhkan, para mafia digantikan oleh prajurit Chendrik. Berjaga di sekitar penduduk, mereka bahkan bekerjasama dengan para penduduk untuk tidak melakukan aksi anarkis sampai keadaan benar-benar aman. Para penduduk seketika merasa tenang setelah tim Elang coklat memberitahu identitas mereka.


Sebagian kota Elang berhasil mereka rampas kembali, jasad para mafia disatukan di dalam sebuah gedung yang tak dihuni penduduk.


Sementara tim Elang biru, mulai melakukan misi menyelam ke dasar laut. Mereka bertugas menghancurkan kapal-kapal besar yang bertengger di perairan kota Elang. Berbekal peledak mereka mulai menyabotase kapal-kapal perang tersebut.


Terakhir tiga buah kapal perang di pulau Liman. Pulau di mana Zena baru saja menginjakkan kakinya di sana. Tiga orang penyelam keluar membawa kantong peledak untuk mereka tempelkan di badan kapal. Ketiganya bekerja dengan cepat, kembali berenang dan masuk ke dalam kapal. Selanjutnya, hanya tinggal menunggu kapal-kapal itu meledak.


"Bagaimana? Apa kalian melakukannya dengan baik?" tanya sang ketua setelah mereka berkumpul di satu titik bersama para penyelam lainnya.


"Semua aman, Ketua! Kita akan menyaksikan beberapa ledakan besar terjadi secara serentak malam ini," jawab mereka dengan yakin.


Sang ketua tersenyum puas, setidaknya mereka mengurangi jumlah penjahat sekaligus menutup akses jalan keluar lewat jalur laut. Chendrik sendiri sedang mempersiapkan pengamanan di markas, memperkuat gerbang utama juga meletakkan para pemanah di ketinggian sebagai pasukan cadangan.


Kereta meriam telah bertengger di puncak markas, para penembak jitu bersiap di posisi mereka. Semuanya telah ia persiapkan dengan sempurna untuk menyambut kedatangan para mafia. Menurut berita yang mereka dengar, para mafia itu akan datang besok tidak malam ini.


"Kita harus selalu bersiap, tidak menutup kemungkinan mereka akan datang malam ini setelah ledakan terjadi. Jangan sampai lengah dan tetap waspada!" titah Chendrik pada semua prajurit.


Ia berdiri di samping sebuah kereta meriam di puncak tertinggi markas. Bersama Adhikari mengawasi setiap jalan masuk yang mengarah ke markas. Teropong besar dipasang untuk mengawasi pergerakan musuh di kejauhan.


Boom!


Beberapa ledakan terjadi mengguncang bumi kota Elang, bangunan di sekitar pesisir pantai banyak yang roboh bahkan sebagian tanah mengalami keretakan. Hirata yang sedang menyusun rencana di gedung kepresidenan terhenyak di tempat, napasnya terhenti beberapa saat sebelum dia beranjak keluar gedung untuk mendapatkan informasi.


"Ketua!"


"Apa yang terjadi?" tanya Hirata tak menutupi kecemasan di wajahnya.


"Kapal-kapal kita semuanya meledak, Ketua. Tak satupun tersisa," ucap si pelapor dengan napasnya yang tersengal.


Saking marahnya, Hirata menarik pistol dan menembak kepala orangnya sendiri. Berkali-kali sampai rupa laki-laki tadi tak dapat dikenali lagi karena lubang yang ditinggalkan timah panas Hirata.


"Brengsek! Bedebah kau, Chendrik!" umpatnya seraya berbalik dengan amarah yang bergejolak.


"Perintahkan semua orang untuk menyerang markas itu malam ini juga! Pinta mereka yang berada di tiga pulau untuk menghancurkan pulau itu! Aku mau melihat penderitaan Chendrik," titahnya sembari mengepalkan kedua tangan.


Malam itu juga, Hirata dan semua anteknya bergerak menuju markas Mata Elang. Mereka datang dari berbagai arah, mengepung tembok tinggi yang menutupi keadaan markas tersebut. Mobil perang mereka bergerak secara bersamaan menerobos semakin memasuki kota.


Namun, di kejauhan, barikade prajurit Chendrik berbaris menghadang jalan mereka. Ketua tim Elang coklat berdiri dengan gagah di barisan paling depan. Meskipun hanya berbekal senjata yang mereka sendiri sadar tak akan mampu menghentikan laju kendaraan perang tersebut, mereka tetap berdiri dengan gagah.


Tak lama tanah yang mereka pijak bergetar, sontak semua orang menoleh dan di belakang mereka, sepuluh mobil baja merangsek ke hadapan. Sebastian yang memimpin, ia memerintahkan mereka untuk menyingkir dari jalanan. Ini adalah perang mobil terkuat di dunia.


"Menyingkir! Itu tank dari markas tentara!" perintah sang ketua seraya berlari menjauhi arena tempur. Senjata mulai diluncurkan, balas membalas tanpa takut terluka.


Mobil para mafia itu membentuk formasi piramid, tapi tank milik Sebastian terus bergerak melingkar. Di tengah pertempuran itu, ketua tim Elang coklat bersama empat orang bawahannya. Menaiki tank milik para mafia. Mereka melakukan serangan langsung pada pengemudi mobil-mobil baja tersebut.


Perkelahian sengit pun terjadi, senjata ditembakkan, tapi sang ketua dengan mudah dapat menghindari. Ia menggunakan belatinya untuk menikam tengkuk musuh seraya menyayatnya hingga meregang nyawa.


Dia berinisiatif menggantikan pengemudi mengacaukan formasi yang mereka bentuk sedemikian rupa. Para mafia itu mulai waspada, tak membiarkan siapapun lagi menaiki kendaraan mereka.


Sebuah peledak diluncurkan, salah satu tank yang dikendarai bawahan Sebastian meledak. Darah menyembur bersamaan dengan daging dan anggota tubuh mereka yang telah lebur. Berceceran di tanah, hal itu membuat Sebastian meradang.


"Hancurkan mereka semua! Jangan ada yang berhasil meloloskan diri!" perintahnya sembari menunjuk pada mafia yang tak henti menyerang. Lebih banyak peledak lagi diluncurkan, tapi kali ini mereka sudah lebih waspada.


Adu kekuatan pun tak terelakan lagi, mereka saling menabrak dan saling menembak. Beruntung, lokasi perang tersebut berada jauh dari pemukiman warga. Namun, perang itu mengakibatkan banyak gedung runtuh, rusak, dan lain sebagainya. Sudah dapat ditaksir berapa kerugian yang disebabkan oleh perang mobil baja itu.


Sementara di markas Mata Elang, Chendrik bersiap menyambut kedatangan Hirata dan anteknya. Melalui teropong dia bisa melihat sebuah pasukan besar yang sedang bergerak menuju ke gerbang utama. Namun, bukan itu yang membuat Chendrik cemas, di atas mobil truk yang mereka bawa, sebuah meriam besar siap ditembakkan.


Chendrik memerintahkan untuk menembak, disaat itu juga sebuah bola api besar meluncur ke arah markas.


Boom!


Gerbang utama dihancurkan hanya dengan sekali hantaman. Akan tetapi, tak sedikit juga dari musuh yang terpental mundur akibat serangan Chendrik. Beberapa mobil bahkan terguling dan terbakar. Menciptakan kobaran api yang membumbung tinggi ke langit.


"Jangan takut! Gerbang itu telah kita hancurkan! Terus maju dan hancurkan Mata Elang!" seru salah satu ketua dengan lantang.


Suara gemuruh menyambut seruannya, mendengarnya membuat seluruh tubuh bergidik ngeri.


"Mereka tidak menyerah!"