Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kembali Sekolah



Zena termangu menatap bangunan tinggi berlantai lima itu usai memarkir motor. Dahinya mengernyit, melihat aktivitas yang nampak biasa saja terjadi. Apakah setelah William tiada, ia akan masih mendengar suara jeritan seperti kemarin? Kita lihat saja!


Zena menghela napas sebelum mengayun kedua kaki memasuki lorong sekolah. Berjalan sendirian tiada kawan untuk teman berbincang. Melangkah dengan pelan seolah-olah sedang menikmati cuaca cerah pagi itu.


"Kalian tahu, kudengar William yang misterius itu telah mati kemarin," cetus seseorang yang berjalan di belakangnya.


"Oh, apakah karena itu sekolah ini diliburkan kemarin?" Suara yang lain menimpali. Zena menghening, menajamkan rungu demi mendapat informasi yang belum ia tahu.


"Tentu saja, kudengar dia dekat dengan Kepala Sekolah. Apa, ya ... jika tidak salah, salah satu guru di sini adalah keluarga William. Mungkin untuk menghormatinya maka sekolah diliburkan."


Zena mengernyit, informasi terbaru. Seorang guru yang sudah pasti terlibat dengan William. Ia harus mencari tahu. Zena menghentikan langkah, berpura-pura membenarkan tali sepatu membiarkan ketiga siswa tadi lewat.


Bruk!


"Argh!"


Seseorang menabrak bokongnya, dan jatuh terjengkang ke belakang. Sementara Zena tak bergerak sedikitpun dari tempat semula. Ia menoleh dan mendapati seorang siswi berkulit hitam sedang meringis sambil memegangi bokong.


Zena berdiri tegak, berjalan mendekat dan menjulurkan tangan. Ia tersenyum ramah saat siswi tersebut mendongak ke arahnya. Diraihnya tangan Zena dengan malu-malu dan segan karena gadis itu belumlah terkenal di sekolah tersebut.


"Maaf membuatmu jatuh. Aku Zena." Zena mengulurkan tangannya kembali usai terlepas dari genggaman.


Ia tersenyum kikuk, menjabat tangan Zena dan menyebutkan namanya, "Sarah."


"Apa kau sedang terburu-buru?" tanya Zena menelisik wajah tertunduk Sarah. Ia dari ras kulit hitam dengan rambut yang mengembang seperti sangkar burung.


"Iya. Maaf, aku tak sengaja menabrakmu," katanya bergetar. Ia terus menunduk tak berani mengangkat wajah, jemarinya mendekap erat buku yang ia bawa. Entah mengapa di mata Zena gadis itu tengah ketakutan.


"Hei, Sarah! Kenapa sepertinya kau ketakutan? Apa ada sesuatu yang mengganggu?" tanya Zena sedikit membungkuk demi dapat melihat wajah siswi tersebut.


Wajahnya berkilat karena keringat yang memenuhi, mata itu bahkan berkaca hendak menangis. Ada apa?


"Hei, kau menangis? Ada apa?" Zena kembali bersuara saat melihat bahu siswi tersebut berguncang dengan isak tangis yang terdengar lirih.


"Maaf, maafkan aku. Aku tidak sengaja, tolong jangan hukum aku! Jangan hukum aku! Aku benar-benar tidak sengaja. Maafkan aku!" cerocosnya sambil membungkuk berkali-kali.


Kerutan di dahi Zena semakin dalam, apa yang terjadi? Ia menatap sekitar khawatir ada yang melihat aksi Sarah yang terus membungkuk meminta maaf padanya.


"Hentikan!" Zena sigap memegang kedua bahu gadis itu. Membantunya berdiri tegak, menelisik wajah yang telah dibanjiri oleh air mata bercampur keringat.


"Apa aku terlihat menakutkan di matamu?" Zena mengguncang pelan bahu Sarah, "angkat wajahmu dan lihat aku!" Suara memerintah penuh wibawa tak dapat ditolak gadis berkulit hitam tersebut.


Pelan ia mengangkat wajah dan menatap Zena masih sesenggukan. Dia terlihat ketakutan, matanya memancarkan kegelisahan juga penderitaan yang dalam. Apa yang terjadi?


"Kulihat kau ketakutan? Apa yang terjadi?" Zena menelisik wajah itu, kedua maniknya memindai, menyelam ke dalam iris coklat milik Sarah.


"A-pa ka-kau tidak akan menghukumku?" Sarah bertanya dengan lidah yang kelu dan tersendat akibat isak tangisnya.


"Kenapa aku harus menghukummu?" tanya Zena tidak mengerti.


"Bukankah kau salah satu dari mereka? Lihat kulitmu sangat putih dan bersih, kau juga cantik meskipun tidak berdandan. Kupikir kau dari kelompok itu," ungkapnya masih sedikit gemetar.


"Kelompok? Kelompok yang mana? Aku tidak mengerti. Perlu kau tahu, aku baru sehari sekolah di sini. Tidak tahu apapun soal kelompok yang kau sebutkan tadi," ucap Zena sembari tersenyum tipis. Ini mungkin saja informasi penting untuknya.


"Benarkah?" Zena mengangguk pasti. Sarah mengusap air matanya dengan cepat, sebuah senyum terbit di bibirnya yang bervolume, senang karena Zena bukanlah kelompok yang dia takuti.


"Mereka menamai diri mereka sebagai macan putih, terdiri dari empat orang gadis berkulit putih dengan wajah di atas rata-rata. Mereka jago beladiri, tapi menyalahgunakan kemampuan mereka itu." Sarah menghela napas.


Keduanya melanjutkan langkah bersama menyusuri lorong sekolah. Zena melirik, ia melihat dengan jelas jemari Sarah mendekap erat buku yang dia bawa. Ia ketakutan seperti sedang menceritakan sebuah pengalaman penuh misteri.


"Mereka sering menindas siswi lain yang lebih lemah dari mereka. Apalagi yang berkulit hitam sepertiku. Sehari saja aku tidak boleh terlambat untuk memberi setoran kepada mereka sebagai ganti rasa tenang dan nyaman belajar di sekolah ini," katanya dengan hembusan napas berat dan panjang ia lakukan.


"Setoran? Apakah mereka melakukan pemalakan? Semacam pungli ... seperti itu?" Zena menoleh dengan dahi yang berlipat.


Sarah ikut melihat ke arahnya, ia tersenyum getir menyambut kebingungan Zena. Astaga! Zena mengusap wajahnya, sungguh tak menyangka di sekolah ada yang seperti itu.


"Lalu, kalian diam saja? Tidak mencoba untuk melawan, begitu?" Zena menggebu. Semakin ingin tahu tentang kelompok macan putih itu.


"Bagaimana cara kami melawan? Kekuasaan? Kami tidak memilikinya. Kekuatan? Apa lagi ... aku ingatkan kau, Zena. Jangan sekali-kali mencari masalah dengan mereka karena keempat gadis itu tak akan segan memberimu hukuman bahkan menyakiti fisikmu," ingat Sarah setengah berbisik karena lorong mulai ramai.


Keduanya tak lagi bicara hingga harus berpisah di sebuah persimpangan. Mereka membuat janji pergi bersama ke kantin dan menjalin pertemanan. Tanpa sadar mereka sedang diawasi, empat pasang mata menatap tajam ke arah Zena dari balik sebuah jendela kelas.


"Siapa siswi yang datang bersama si sangkar burung itu?"


"Sepertinya murid baru. Kudengar dia pindahan dan baru satu hari sekolah."


"Oh, sasaran empuk. Lihat penampilannya, sepertinya kita akan mendapatkan banyak uang darinya."


"Kau benar."


Senyum-senyum iblis tercetak kejam di wajah mereka. Keempatnya pergi meninggalkan kelas kosong tersebut membiarkan seorang siswi meringkuk sendirian di dalam sana.


Malangnya siswi tersebut! Bajunya terkoyak, dan ada memar di lengan. Ia mendekap tubuhnya sendiri, duduk di sudut dengan tangis yang pilu. Tubuhnya bergetar, kedua bahu terguncang karena laju tangis yang tak berkesudahan.


Sampai bel tanda masuk berbunyi, ia tidak beranjak dari gudang tersebut.


Zena melangkah perlahan memasuki kelas, ia menunduk disaat semua mata tertuju ke arahnya. Duduk di bangku tanpa berniat menyapa semua teman yang belum dikenalnya itu. Menunggu seorang guru yang akan memberikan materi untuk hari ini.


Brak!


Seseorang menggebrak mejanya. Zena memejamkan mata karena terkejut, tapi berusaha tetap tenang tak terbawa arus. Ia membuka matanya kembali, melirik tangan lancang yang berada di atas meja itu. Ingin ia memotong tangan itu dan memberikannya pada Tigris.


Lancang!