
Usai menutup latihan di sekolah Zena, Chendrik tak lagi terlihat batang hidungnya. Ia segera pergi ke sekolah Cheo setelah mendapatkan telepon dari pihak guru. Chendrik tidak terlihat marah, wajahnya datar dan biasa saja. Cheo anak yang baik, tak akan mungkin membuat salah karena selama ini saja ia tak pernah mendengar Cheo berbuat kenakalan.
Chendrik memarkir mobil, dengan sikap biasa ia keluar dan berjalan di lorong sekolah.
"Di mana ruang guru ... ah, ruang sidang?" tanyanya pada petugas kebersihan sekolah.
"Master?" Chendrik tersenyum saat ia begitu mudahnya dikenali.
"Terus saja lurus sampai Anda menemukan tangga di bagian kiri, di sanalah tempatnya, Master," ucapnya menunjukkan jalan untuk Chendrik.
"Terima kasih." Petugas itu mengangguk sopan, ia tak menyangka akan bertemu secara langsung dengan master dari markas besar itu.
"Benar-benar seperti yang diberitakan." Senang bukan main, dapat bertegur sapa secara langsung.
Chendrik mengikuti arah yang ditunjukkan petugas tadi, sampai ia bertemu dengan anak tangga yang mengarah ke bagian kiri. Di sanalah kantor guru berada, berderet dengan bagian-bagian lainnya.
"Anak ini harus diberi pelajaran, bisa-bisanya melakukan kekerasan di sekolah." Suara seorang wanita berapi-api menghardik Cheo.
"Sudah aku katakan, aku tidak melakukan apapun. Dia yang lebih dulu menggangguku." Chendrik tersenyum saat mendengar suara tenang Cheo dalam membela diri.
Langkah kaki laki-laki itu terhenti tepat di depan ruangan di mana keributan terjadi. Ia berdiri di sana, menunggu saat yang tepat untuk masuk.
"Masih kecil sudah pandai berbohong. Apakah orangtuamu mengajarkan kebohongan? Aku tidak mau tahu, beri dia hukuman," ketus suara itu lagi cukup memantik amarah dalam diri Chendrik.
"Sudahlah, Bu. Tenang dulu, kita tunggu orang tua dari Cheo barulah musyawarah akan dimulai," ucap seorang guru wanita dengan lembut dan tenang.
"Permisi! Apa saya terlambat?" Chendrik membuka pintu tanpa mengetuk.
"Kenapa bukan Kakak yang datang? Kenapa Ayah yang datang? Bukankah Ayah sibuk?" tanya Cheo tidak senang.
Chendrik terkekeh melihatnya, itu sudah biasa terjadi, tapi bagi mereka itu adalah hal aneh. Biasanya murid akan senang saat orang tuanya yang datang, tapi Cheo berbeda ia lebih berharap Kakaknya yang datang.
"Kakak sedang ujian sama sepertimu," katanya tanpa peduli pada berpasang-pasang mata yang menatap aneh.
Chendrik berjalan mendekati Cheo, duduk di sampingnya setelah memberi salam kepada dua orang guru yang nampak melongo tak percaya.
"Maaf, jika saya datang terlambat. Saya baru saja dari SMA melatih kelas akhir di sekolah itu," ucap Chendrik tak enak.
Wanita-wanita angkuh tadi mendengus, mungkin saja mereka tidak tahu siapa Chendrik. Lagipula, itu bukan masalah besar untuknya.
"Ah, tidak apa-apa, Master. Silahkan, kita mulai saja musyawarahnya," ucap guru tersebut tak kalah sopan.
Para wanita yang belum mengenal Chendrik, mengernyitkan dahi bingung sekaligus tidak suka dengan sikap guru yang membedakan mereka.
"Jadi, apa yang terjadi?" tanya Chendrik memulai. Cheo tak menyahut, tetap bungkam di sampingnya. Bocah itu berharap Zena yang akan datang, tapi mengingat ujian ia pun dapat mengerti.
"Mmm ... begini, Master-"
"Anak itu mencelakakan anak saya!" sela salah satu wanita dari anak yang bertubuh paling besar. Anak itu sedang menangis tersedu-sedu.
Chendrik menoleh, caranya duduk sangatlah berwibawa bahkan menoleh pun tak menghilangkan wibawanya sebagai seorang pemimpin tertinggi di markas besar itu.
Cheo diam-diam tersenyum bahkan hampir tersedak ludahnya sendiri ketika tangis anak itu tiba-tiba berhenti dan berganti dengan raut gugup. Begitu pula dengan Ibu mereka yang seketika bungkam, dan berubah pucat.
"Bisa saja, apanya yang tidak mungkin! Anak itu nakal sekali, anak saya yang hanya ingin menyapanya langsung saja dicelakakan. Bagaimana cara Anda mendidiknya?" sengit Ibu tadi dengan mata berkilat-kilat penuh amarah.
"Oh, Anda menanyakan bagaimana cara saya mendidik? Katakan, Cheo! Katakan seperti apa kau dididik selama ini?" titah Chendrik menatap tajam pada anak yang kini menyembunyikan dirinya dibalik tubuh sang Ibu.
"Jangan pernah menggunakan kemampuanmu untuk menindas mereka yang lemah, tapi jangan pernah mau harga dirimu diinjak-injak dan direndahkan. Orang-orang seperti itu layak menerima hukuman agar mereka sadar akan kesalahan yang telah mereka perbuat. Jangan pernah mengakui sesuatu yang tidak pernah kau lakukan."
Cheo mengucapkannya dengan lantang dan lugas. Ia tersenyum miring saat mata anak itu melirik ke arahnya. Kedua guru ikut menegang, kehadiran Chendrik saja sudah merubah suasana ruangan.
Chendrik melempar lirikannya pada wanita-wanita itu. Senyumnya menguar penuh ancaman.
Astaga! Anak dan Ayah sama-sama mengerikan.
"Bagaimana? Masih ingin mempertanyakan seperti apa Cheo dididik di rumah? Anak saya bisa saja mematahkan tulang-tulang anak Anda itu jika dia ingin, tapi dia selalu mengingat ajaran yang diterimanya di rumah untuk tidak berlebihan pada seseorang yang lemah, tapi sok berkuasa," cerocos Chendrik masih dengan sikap tenangnya.
"Tetap saja, melalukan ke-ke-kerasan di sekolah itu tidak dibenarkan. Anak Anda tetap salah!" katanya lagi meski sembari menahan getar di lidahnya.
"Baik, apa yang Anda inginkan?" Chendrik menantang melipat kedua tangan di perut menunggu para wanita itu berpikir.
"Kami minta kompensasi untuk anak-anak kami, juga jaminan perjanjian saat dia menyakiti anak kami lagi," katanya tidak tahu malu.
Chendrik bungkam, matanya menyalang pada mereka.
"Cih, kompensasi. Tadi saja sekalian aku patahkan tangannya itu." Cheo menggeram. Mata wanita-wanita itu membelalak sempurna mendengar gumaman itu.
"Astaga! Kau dengar apa yang dia katakan? Dia bahkan berniat mematahkan tulang anak-anak kami," protesnya sembari menunjuk Cheo dengan geram.
Chendrik tertawa geli mendengarnya, sedangkan guru mereka meneguk ludah gugup melihat keadaan tegang di ruangan itu.
"Itu artinya kompensasi tidak diperlukan untuk keadaan anak Anda yang tidak cedera sama sekali," tekan Chendrik.
Wanita-wanita itu gelagapan tak mampu menyahut, ada banyak kata yang ingin keluar, tapi lidah kelu tak terduga.
"Baiklah, saya rasa semua sudah selesai. Saya ingatkan jangan pernah mengganggu anak saya jika tak ingin anak-anak kalian cedera." Ia bangkit usai mengatakan ancaman itu.
"Ayo, Cheo. Kita pulang." Bocah itu ikut beranjak dari duduknya. Ia membungkuk di hadapan kedua guru sebagai tanda salam sebelum meninggalkan ruangan.
"Hei, tu-tunggu-"
"Sudahlah, Ibu-ibu sekalian. Lagipula anak Ibu memang tidak terluka sama sekali, dan juga apa Ibu-ibu sekalian tahu siapa laki-laki tadi?" Salah satu guru menatap dengan senyum tajam.
"Memangnya siapa, kami tidak peduli sama sekali," cetus salah satu Ibu dengan angkuhnya.
"Tentu saja Ibu-ibu sekalian harus peduli karena beliau adalah orang yang paling berjasa dalam menyelesaikan masalah di kota kita. Beliau pemimpin tertinggi markas Mata Elang."
Deg-deg! Deg-deg!
Jantung mereka seolah berhenti berdetak, udara pun tak dapat mereka hirup. Salah besar karena sudah berani berurusan dengan orang yang paling berpengaruh di kota Elang itu. Kedua guru itu pun tersenyum melihat kecemasan di wajah mereka.