
"Kakak!"
Suara teriakan dari anak-anak menggema di dalam hutan. Zena gegas menghampiri, tapi terlambat. Semua anak telah ditemukan dan dijadikan sandera oleh ketujuh penculik mereka.
Zena menyimpan samurai di belakang punggung, bersembunyi dibalik sebuah pohon besar.
"Tunjukkan dirimu jika kau ingin anak-anak ini selamat!" pinta salah satu dari mereka.
Lima orang menyandera anak-anak itu, dan dua lainnya berdiri di depan dengan senjata api di tangan. Zena berpikir, semua harus diperhitungkan secara matang. Mencari apa yang dapat ia gunakan sebagai senjata rahasia yang mematikan.
Sial! Aku tidak membawa busur.
Menggerutu dalam hati, tapi dia tidak kehilangan akal. Zena mengambil lima buah batu, merayap ke dahan pohon. Mulai membidik mereka yang mencekal kelima anak.
Syut!
Satu per satu batu-batu itu dilemparkan Zena, melayang tak terlihat, menghantam kepala para penjahat. Pegangan mereka terlepas, semua anak berlari saling berpegangan tangan.
"Kurang ajar!"
Dua orang itu menembak asal ke segala arah karena tak dapat menemukan sasaran. Pakaian hitam yang dikenakan Zena menyembunyikan dirinya di dalam gelap. Belati kecil itu ia lemparkan, tepat mengenai tangan salah satu penculik yang memegang senjata.
"Argh! Tanganku!" pekiknya sembari memegangi tangan yang tertusuk belati. Senjata di tangannya terlepas, ia mengerang kesakitan, belati itu menancap sangat dalam di urat nadinya.
Zena mencabut samurai, melompat turun sambil menebas yang lain. Melihat kedatangan Zena, kelima orang yang jatuh karena hantaman batu segara beranjak. Mereka hendak mengambil senjata, tapi Zena menyerang secara brutal.
Gadis itu tidak membiarkan mereka mengambil senjata, terus menebas memukul mundur kelima orang hingga menjauh dari lokasi senjata.
Merasa ada kesempatan, laki-laki yang tertusuk belati mencabut benda tajam itu. Berniat menyerang Zena dari belakang, dia berjalan tanpa suara mendekat. Tangannya diangkat tinggi-tinggi bersiap menusukkan benda itu di leher Zena.
Jleb!
Samurai Zena mendahului, meski dalam posisi memunggungi ia tak salah menghunuskan benda itu. Darah menyembur dari mulutnya, belati di tangan terlepas. Zena menarik samurai dengan kejam, tubuh itu ambruk di tanah terkapar meregang nyawa.
Kelima orang yang berhadapan dengan Zena mulai panik. Tak ada senjata di tangan mereka, bermodalkan tekad mereka menyerang Zena secara keroyokan. Gadis itu melompat sambil menendang senjata-senjata yang mereka jatuhkan. Benda itu hilang di dalam semak. Tak sempat mencari karena Zena mengayunkan samurai di tangan lagi.
Terpaksa melawan dengan tangan kosong, sayatan demi sayatan diterima tubuh mereka bahkan sebagian ada yang kehilangan salah satu tangannya. Mereka yang semakin lemah dan tak dapat menghindar dari serangan Zena, harus rela menerima hantaman benda tajam itu.
Satu demi satu jatuh tak bernyawa, terkapar dalam kegelapan hutan. Zena menatap semua mayat itu sebelum mencari keberadaan anak-anak yang melarikan diri.
"Anak-anak! Di mana kalian?" teriak Zena sambil berjalan menyusuri hutan.
"Jawablah, semuanya sudah aman. Kalian sudah aman." Dia kembali berteriak berharap anak-anak itu akan mendengar.
"Keluarlah, kalian sudah aman sekarang!" pinta Zena lagi dengan suara yang menggema di dalam gelap.
"Kakak!"
Zena berbalik, mereka berada di belakangnya bersembunyi di dalam semak. Zena berlari dan memeluk mereka semua.
"Kalian tidak apa-apa?"
Kelima anak itu mengangguk. Belum lega rasanya jika belum meninggalkan tempat itu. Zena menggiring mereka semua keluar hutan. Tigris menggeram, bangkit dari duduk melihat kedatangan sang Tuan.
"Kakak! Ada harimau."
Salah satu anak menarik diri, menolak mengikuti Zena diikuti yang lainnya. Mereka takut melihat hewan besar itu berjalan mendekat.
"Tidak apa-apa, dia teman Kakak. Tidak apa-apa, dia tidak akan menggigit. Ayo, kita harus cepat," ucap Zena sambil membawa mereka semua mendekati mobil.
Anak-anak itu berpindah ke sisi tubuh Zena yang lain demi menghindari tatapan Tigris. Cheo melompat turun dari atap mobil, sigap membukakan pintu untuk mereka.
"Ayo, masuk. Mungkin kalian mengenal semua anak di dalam sana," titah Zena sambil mendorong satu per satu punggung mereka.
Tigris kembali masuk ke kandang. Cheo menutup pintu mobil dan menguncinya. Dia akan duduk di depan di kursi samping kemudi. Jeritan anak-anak bertemu dengan temannya mengharu biru. Mereka saling mengenal satu sama lain, dan mulai bercerita.
Mobil melaju meninggalkan lokasi berbelok dan kembali ke arah sebelumnya. Cheo membuka penghalang, melihat keadaan mereka semua.
Semua anak mengangguk pasti. Mereka senang akan kembali pulang. Cheo melihat wajah Zena yang berpeluh banyak, ia tahu gadis itu lelah.
"Kakak, sebaiknya kita beristirahat. Kakak terlihat lelah, tidak baik mengemudi dalam keadaan lelah. Kakak harus tidur," ucap Cheo mengingatkan.
"Kau benar, kita akan berhenti setelah melewati lokasi terjunnya mobil itu," sahut Zena.
Secara kebetulan, mereka berpapasan dengan mobil polisi yang memeriksa jurang. Tak ada kecurigaan sama sekali, Zena menghela napas lega. Matanya memindai mencari tempat untuk berkemah.
Zena memutuskan untuk berkemah di parkiran sebuah ruko tak jauh dari tempat pengisian bahan bakar. Ia dan Cheo tidur di depan, dan membiarkan semua anak berdesakan di belakang.
******
Pagi menjelang, gadis itu sudah bangun lebih dulu dan mencari sarapan. Mereka perlu mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan. Semua anak-anak terbangun, keadaan mereka sudah lebih baik. Zena tidak mengizinkan mereka untuk turun dari mobil.
Perjalanan dilanjutkan setelah mengisi full bahan bakar. Semua anak menjadi petunjuk jalan menuju desa mereka. Tak ada hambatan berarti selama perjalanan ke desa tersebut. Anak-anak bahkan sudah lebih ceria, mereka bernyanyi dan bercerita.
Zena tersenyum lega, setidaknya dia bisa menyelamatkan anak-anak itu sebelum bertemu dengan Ciul dan Nira.
"Kakak berasal dari mana?"
Salah satu anak bertanya. Dia mendekatkan wajah ke depan, ingin tahu dari mana asal penolong mereka itu.
"Kami datang dari jauh, hanya seorang petualang. Dari kota Elang kami berasal," jawab Zena sedikit mengulas senyum di bibir.
"Kota Elang?" pekik anak laki-laki yang pingsan semalam. Dia berhambur mendekat, ingin mendengar lebih jelas.
"Iya, kau tahu?" Zena melempar lirikan.
"Aku tahu, Pamanku tinggal di sana. Aku sering mengunjungi pulau di kota Elang, tapi tak pernah mendatangi kotanya," jawab anak itu lugas.
Zena tertegun, mendengar kata pulau ia teringat dengan pak Karim yang merindukan cucunya.
"Ayahnya kepala desa kami, dia sangat baik kepada semua penduduk," sahut yang lain menimpali.
Pulau? Kepala desa?
"Tunggu! Ayahmu seorang kepala desa?" Zena memastikan.
"Benar, dialah Ayahku," jawabnya dengan bangga.
Teringat akan cerita Ben, saudaranya adalah kepala desa di desa Hulu.
"Kau kenal dengan laki-laki bernama Ben dari kota Elang?" tanya Zena menebak-nebak.
"Ah, dia yang aku maksud. Dia pamanku. Kakak mengenalnya?" Bocah itu berseru senang, balik bertanya kepada Zena.
Merasa konyol sendiri, Zena menertawakan dirinya sendiri. Dia menggigit bibir gemas setelah mengetahui salah satu anak yang dia selamatkan adalah keponakan Ben.
Zena tidak menjawab, dia meminta Cheo menghubungi Ben lewat sambungan video.
"Hallo, Zena. Bagaimana kabarmu?" Suara Ben terdengar senang di seberang telepon.
"Aku punya kejutan untukmu," ucap Zena sambil terus mengemudi dan ponsel di pegang Cheo.
Ia menggerakkan ponsel tersebut ke arah anak-anak.
"Paman Ben!" pekik bocah tersebut dengan riang.
Ben melongo tak percaya, tapi anak itu justru tertawa melihatnya.
"Anak nakal, bagaimana kau bisa bersamanya? Jangan bilang kau berkeliaran jauh dari rumahmu. Ingat, desa Hulu sedang tidak aman. Kembali ke rumah dan jangan melakukan kenakalan! Kasian Ayah dan Ibumu ... bla ... bla ... bla ....."
Oh, Ben cerewet ternyata.