
Sepuluh tahun silam.
Di malam yang semakin gelap dan sunyi dengan angin yang berhembus menembus pori-pori kulit hingga ke tulang sumsum. Keadaan jalanan malam itu benar-benar sunyi berbeda saat masih di restoran tadi. Zena berjalan menyusuri jalanan sepi seorang diri. Ia merutuki dirinya sendiri dan sesekali menendang kerikil yang dilewati untuk menghilangkan rasa suntuk yang menjalar dalam dirinya.
Terdengar helaan nafas berulang kali dilakukannya. Dan kini, ia berada di halte bus menunggu angkutan umum yang lewat. Namun, setelah setengah jam lamanya menunggu, tak ada satu pun angkutan yang lewat. Zena kembali melangkahkan kakinya menyusuri jalanan sepi malam itu.
"Hah ... coba saja Ciul tidak kencan dengan kak Nira pasti sudah diantar pulang." Zena bergumam sendiri di jalanan dan ketika ia berjalan perlahan di jalanan sepi itu tiba-tiba ....
Bruk!
"Aw!"
Zena jatuh tersungkur di jalanan beraspal, ia meringis merasakan sakit pada sebagian tubuhnya karna terjatuh cukup keras menghantam daratan beraspal.
Ia mendongak menatap lelaki tua yang menabraknya tadi, niat ingin memarahi orang yang menabraknya itu ia urungkan demi melihat wajah tua yang nampak ketakutan. Berkali-kali ia menoleh ke arah belakang seolah-olah sedang memastikan sesuatu.
Zena bangkit perlahan menghampiri lelaki tua yang menabraknya itu.
"Apa Kakek baik-baik saja?" tanya Zena kemudian.
Tak dinyana Kakek itu menyerahkan sesuatu yang ia bawa kepada Zena. Spontan gadis itu pun menangkapnya, ia menunduk melihat apa yang ada di tangannya saat ini. Eh?
'Bayi? Apa ini, kenapa Kakek itu memberikan bayi padaku?' gumamnya dalam hati.
"Tolong selamatkan bayi ini, bawa pergi sejauh mungkin dari sini. Bila perlu bawa ia keluar dari kota ini. Tolong, cepat pergilah! Mereka hampir sampai. Cepatlah!"
Kakek itu berbicara dengan tergesa. Mungkin sesuatu yang buruk sedang datang menghampirinya saat ini. Dan apa ini? Ia memberikan seorang bayi pada gadis berumur 13 tahun? Yang benar saja. Bagaimana Zena akan menjaganya.
"Tapi Kek, aku tidak tahu harus membawa bayi ini ke mana? Bagaimana caraku me-"
Belum sempat ia melanjutkan ucapan, Kakek itu memotongnya dengan segera, "Bawa saja pergi dari sini, selamatkan bayi ini. Aku percaya kau lebih mampu melindunginya dari pada diriku. Cepat, pergilah! Bawa ini bersamamu. Pergilah! Larilah! Lari sekuat yang kau bisa jangan sampai mereka mendapatkan bayi ini. Apa kau mengerti?"
Lelaki tua itu menyerahkan sebuah tas, Zena terpaksa mengangguk. Berselang, mereka mendengar suara derap langkah berlarian mendatangi tempat itu. Semakin dekat semakin terdengar jelas dan banyak. Zena dapat memahami situasinya
"Baiklah, jika Kakek percaya padaku maka aku akan menjaganya dengan nyawaku. Selamatkan juga diri Kakek. Aku pergi." Zena berbalik dan mulai berlari menjauhi si Kakek.
Lelaki tua itu pun berlari kembali ke lain arah untuk mengecoh para pengejarnya. Namun, karna kondisi tubuhnya yang sudah renta, ia tertangkap. Kakek itu dihadang beberapa orang yang berpakaian serba hitam dan rapi.
"Ke mana lagi kau akan lari, Kakek tua?" nentak salah satu penjahat itu.
"Serahkan bayi itu kepada kami!" pintanya. Namun, Kakek itu bergeming, tetap berdiri di tempatnya meski kini puluhan orang menghadang.
"Kalian tidak akan pernah mendapatkannya!" tegas Kakek sambil tersenyum kecil menatap laki-laki yang berbicara tadi.
"Kurang ajar! Di mana kau menyembunyikannya?" Laki-laki itu semakin murka, tapi tak ada kata lagi yang keluar dari mulut Kakek. Seseorang menghampiri mereka dan berbisik kepada laki-laki tadi. Senyum mengembang di bibirnya.
"Ikat dia, kalian kejar gadis itu dan dapatkan bayinya!" Ia menyeringai menatap si Kakek yang kini wajahnya telah berubah pucat pasi.
"Pintar sekali kau, Kakek tua. Kau pikir bisa menyelamatkan bayi itu dengan menyerahkannya pada orang lain? Hah, kau salah! Aku akan tetap mendapatkannya!" ucapnya membuat tubuh Kakek bergetar dan berkeringat dingin.
Beberapa penjahat kini mengejar Zena yang membawa pergi seorang bayi yang masih dalam keadaan merah.
Gadis itu terus berlari tanpa mempedulikan arah mana yang ditempuh, satu yang terlintas dalam pikirannya ia harus mencari laut. Akan tetapi, tiba-tiba dua orang penjahat menghadang jalannya. Di sisi lain, tiga penjahat menghadang dari bagian belakang.
Zena terkepung. Detik kemudian ia mendapatkan celah untuk berlari. Dengan gesit ia melompati semak dan mulai berlari kencang. Sekuat tenaga secepat yang dia bisa menghindari para lelaki bertubuh besar dan kekar yang mengejarnya. Mereka tidak menyangka gadis bertubuh mungil itu dapat melompati semak yang tinggi. Gegas mengejar Zena dengan berpencar ke berbagai arah guna mengepung gadis kecil itu.
Zena tersengal, tapi tak jua menghentikan laju kaki. Meskipun ia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari, tetap saja para lelaki itu dapat mengejarnya. Untuk kedua kalinya ia terkepung dan kali ini para lelaki kekar itu mengelilinginya dari berbagai arah.
"Serahkan bayi itu kepada kami jika kau ingin selamat!" seru salah seorang dari mereka.
Zena semakin mengeratkan pelukannya pada bayi itu. Ia bertekad untuk melindunginya sesuai janji pada si Kakek yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
"Untuk apa aku menyerahkannya kepada kalian?" Akhirnya Zena memberanikan diri untuk berbicara setelah mengatur deru nafas. Ia telah mendapatkan kembali tenaganya dan bersiap untuk lari atau melawan.
"Kau tak tahu apapun tentang bayi itu! Jadi jangan banyak bicara, cepat serahkan dia kepada kami maka kau akan selamat!"
Tangan laki-laki itu terangkat ke udara, tapi Zena menggeleng dan tersenyum sinis. Ia menatap sekeliling dan mencari tempat untuk menyimpan bayi itu sementara.
"Tidak akan! Sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkannya bahkan jika aku harus kehilangan nyawa sekalipun aku tidak akan menyerahkannya pada penjahat seperti kalian!"
Di ujung kalimat Zena menghentak sekaligus melompat salto ke belakang menerjang salah satu penjahat, satu tendangan kuat dan cukup mematikan. Laki-laki itu jatuh tersungkur memuntahkan darah segar.
Zena melompat cukup jauh dari keempat sisanya. Kali ini dia tidak lari, tapi meletakkan bayi bersama tasnya di atas rumput.
"Tunggulah, aku akan menyelesaikannya dulu!" Ia berseru kecil pada bayi itu dan bangkit berdiri menghadap keempat laki-laki penjahat tadi.
"Ternyata kau bernyali besar juga, bocah?" Mata mereka membeliak melihat aksi Zena.
"Tentu saja! Kau pikir aku tidak berani menghadapi cecunguk-cecunguk lemah seperti kalian!" Zena mengangkat jarinya menunjuk mereka semua sambil menyeringai tajam. Tak ada ketakutan sedikitpun yang terlihat di wajahnya meski harus berhadapan dengan empat penjahat bertubuh kekar.
"Beraninya kau mengatakan kami lemah!" geramnya. Kakinya berayun melangkah maju, Zena mendahului dengan menerjang laki-laki lain yang berada di jarak serangnya.
Gadis tiga belas tahun itu melumpuhkannya dengan satu tendangan tak terduga pada bagian vital. Penjahat itu tersungkur di tanah. Zena tak berhenti, terus menerjang yang lainnya dengan mengerahkan seluruh kekuatan. Tekad besarnya melindungi bayi itu seolah membuat tenaganya menjadi tak terbatas.
Zena menarik tangannya dan menginjak tubuh laki-laki itu, memutarnya hingga berbunyi tulang patah.
Ekor mata Zena memindai dengan tajam. Sisa penjahat menatap ngeri pada gadis kecil yang tersenyum aneh. Satu laki-laki berlari ke arahnya, Zena segera bangkit dan menghindar saat sebuah tendangan mengarah padanya. Ia melayangkan tinju pada rahang laki-laki itu dengan telak. Zena terus memberikan ribuan tinju pada bagian perut dan wajahnya secara bertubi-tubi dilakukannya tanpa memberinya celah untuk menyerang.
Laki-laki itu terkapar dengan wajah lebam.
"Tiga!" Zena menyeringai dengan menunjukkan hitungan tiga dengan jarinya. Tinggal dua orang tersisa, tubuh mereka bergetar. Bagaimana tidak? Zena menyerang tanpa memberi ampun lawannya. Melihat Zena yang menyerang tanpa henti membuat mereka berpikir kembali untuk melawannya. Zena mendekat.
"Sekarang majulah kalian berdua! Akan aku layani kalian sekaligus!" ucapnya sambil terus berjalan mendekati sisa penjahat tadi. Mereka terlihat geram dan bersama-sama menyerang Zena.
Ia terkepung, tapi tetap tenang. Zena melihat celah untuk menyerang, melompat dengan mengangkat kedua kakinya memberikan tendangan kanan dan kiri. Membuat jarak antara dua laki-laki itu. Ia menyerang salah satunya sambil menangkis serangan yang datang dari penjahat lain. Gadis itu melompat lagi melayangkan tendangan udara ke arah keduanya, dan mendarat dengan posisi kuda-kuda yang kokoh. Zena tak memberi jeda untuk mereka mengambil napas, ingin segera menyelesaikan semua dan pergi secepatnya.
Melihat semua musuh terkapar, ia berlari ke arah bayi tadi dan menggendongnya kembali. Secepat kilat berlari menuju pelabuhan. Sampai di pelabuhan waktu memasuki dini hari, biasanya seseorang dari pulau seberang akan ada di pelabuhan untuk kembali.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Begitu sampai pelabuhan Zena melihat seseorang yang dikenalnya berada di atas perahu sedang bersiap untuk menyeberang. Zena berlari lebih cepat lagi.
"Paman!" serunya dengan nafas memburu. Paman Okk begitu terkejut melihat gadis itu.
"Zena? A-" Kalimat itu terpotong saat tiba-tiba Zena melompat ke atas perahunya.
"Cepatlah Paman! Jalankan perahunya. Tak ada waktu lagi, aku dikejar beberapa penjahat!" Zena sedikit berteriak pada Paman Okk karena laki-laki itu justru tertegun melihatnya.
"Paman!" seru Zena lantang dan panik, tapi berhasil mengembalikan kesadaran nelayan itu. Gegas Paman Okk menyalakan mesin perahunya dan melaju dengan kecepatan penuh. Berselang, sekelompok laki-laki berpakaian serba hitam berdatangan ke pelabuhan di mana Zena baru saja menyeberang.
*****
Ini kisah sepuluh yang tahun lalu, ya. Di mana Zena yang baru berusia tiga belas tahun, bertemu dengan bayi Cheo.