Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Perhatian



Saat hati telah dikungkung cinta, batu karang tak setegar penampakannya. Gunung es raksasa mencair dengan sendirinya bahkan yang tersembunyi pun muncul ke permukaan menunjukkan eksistensinya. Betapa luar biasa memang, satu kata, satu rasa, mampu merubah kepribadian seseorang.


Tiba giliran kelompok Zena, ketiganya tak sabar ingin segera berhadapan dengan gadis itu. Ia berada di belakang Mirah, di tengah-tengah temannya yang lain.


"Kudengar ada yang sok-sokan ingin mengajari seseorang berkuda. Sementara melihat dirinya saja sungguh tidak meyakinkan," cibir ketua macan putih yang sejak tadi mencari perhatian dari ketiga pelatih itu.


Zena mendelik malas, tak acuh pada kehadirannya. Ia menggigiti kuku mencari pengalihan objek daripada sosok menyebalkan yang tak pernah jera meski Zena sudah membuatnya malu.


"Master, biarkan aku membantu. Mereka kelas paling rendah dan tidak berbakat seperti kelas-kelas lainnya," ucapnya dengan bangga pada Sebastian yang mulai memanggil nama pertama dari kelompok Zena.


Laki-laki berpangkat Jenderal itu melirik tak senang. Dalam hati mengumpat kepercayaan dirinya yang terlalu tinggi dan kesombongannya yang menyentuh langit.


Tidak sepadan dengan Zena, dan dia sombong sekali, tapi baiklah. Lagipula aku cukup lelah, dan yang aku inginkan hanyalah Zena.


"Baiklah, tapi jangan yang satu itu. Dia milikku, aku sendiri yang akan melatihnya," ucap Sebastian menunjuk Zena dengan wajahnya. Peringatan keras, ia telah melarangnya menyentuh Zena.


Gadis itu cemberut, tapi Sebastian tak peduli. Ia lanjut memanggil satu per satu mana siswa dan mulai melatihnya.


"Hmm ... baiklah." Gadis itu pun mulai mengawasi, matanya tajam melirik kepada Zena yang beberapa saat lagi memasuki arena latihan.


Latihan kemiliteran yang sudah Zena jalani sejak usia dini. Ini sangat mudah, dengan mata terpejam saja ia dapat melakukannya.


"Alzena Izz!" Dengan semangat gadis itu memanggil nama Zena.


"Sudah kubilang gadis itu milikku!" geram Sebastian menatap nyalang sang ketua macan putih yang tak mendengar ucapannya.


Tubuhnya terhenyak, menatap Sebastian tak percaya. Dialah yang tercantik, tapi kenapa harus Zena?


"Ba-baik." Kepalanya menunduk takut, ia tak lagi membantu dan membiarkan Sebastian melakukannya sendiri.


"Apa istimewanya gadis itu? Aku tidak mengerti, kenapa mereka bertiga selalu menatap ke arahnya?" gerutunya sambil menjauh dari tempat latihan dan duduk beristirahat.


"Apa aku perlu melakukan ini?" tanya Zena saat berhadapan dengan Jenderal itu.


"Tentu saja, semua siswa melakukannya. Aku akan membantumu jika kau merasa kesulitan," katanya memberikan senyum termanis kepada gadis itu.


"Hmm ... sepertinya ini sangat mudah. Aku akan melakukannya sendiri. Boleh aku melakukannya berdua?" tanya Zena menatap Sebastian dengan mata menggemaskan yang tak dapat ditolaknya.


"Baiklah."


Zena bersorak, lantas memanggil Mirah dan membantunya melewati rintangan. Mereka berdua melewati setiap halang rintang tanpa hambatan, dengan melihat cara Zena melakukannya Mirah dapat melewati semua dengan baik. Sampai pada saat keduanya harus berlari kecil untuk dapat melompati kolam dengan tali menggantung, sebuah tongkat kayu kecil terlempar dan menjegal kaki Zena, gadis itu hilang keseimbangan dan hampir jatuh.


"Zena!"


"Hei, hati-hati!"


Beruntung tangan kokoh Sebastian sigap menangkap tubuhnya. Zena terjatuh ke dalam pelukan laki-laki berpangkat Jenderal itu. Posisi yang intens membuat Chendrik melotot cemburu. Juga laki-laki misterius itu ikut mengetatkan rahang kesal.


"Terima kasih." Zena beranjak dari pelukan sang Jenderal, dengan wajahnya yang memerah karena ditonton banyak orang. Matanya menjegil lebar saat tertuju pada sosok sang ketua macan putih.


"Tidak apa-apa, silahkan dilanjutkan," katanya menahan senyum senang hingga membuat rona merah di pipi. Zena melanjutkan sambil berpegangan tangan kepada Mirah. Melompat dengan baik sampai di seberang.


"Zena, duduk dulu!" pinta Mirah usai melintasi semua halang rintang di kelompok Chendrik. Keduanya duduk menunggu giliran. Mirah memeriksa kaki Zena, terdapat memar kebiruan dan sedikit luka gores pada kulitnya.


"Zena, kau terluka. Apakah sakit?" tanya Mirah cemas. Gadis yang tak merasakan sakit itu melirik kakinya, disapunya luka gores yang sedikit berdarah itu dengan tangannya. Mirah meringis, sedangkan Zena biasa saja.


"Tidak sama sekali. Ini tak akan lama, Mirah. Besok atau lusa pasti sembuh," katanya menenangkan.


"Zena, kau tak apa?" Ben dan Sarah berhambur mendatangi tempat mereka beristirahat.


"Tenang saja, hanya memar sedikit," katanya sambil tersenyum.


"Apa yang terluka?" katanya yang segera berjongkok di hadapan Zena dan langsung memeriksa kaki gadis itu. Dibukanya celana yang menutupi bagian mata kaki, dan nampaklah apa yang baru saja ditutupi Zena.


"Kurang ajar! Siapa yang melakukan ini?" pekiknya tak senang.


Mirah, Sarah, dan Ben meneguk ludah gugup. Mata ketiganya melebar melihat kemarahan Chendrik.


"Hehe, Master, ini tidak apa-apa. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lagipula ini tidak sakit sama sekali," sela Zena sambil menarik kakinya dan menutup kembali luka memar yang tak seberapa itu.


Apa yang ingin kau lakukan, Chendrik? Jangan macam-macam! Hati Zena mengancam.


Kau selalu mengatakan tidak apa-apa, ini tidak sakit sama sekali, padahal jelas-jelas kau terluka. Aku ingin kau mengatakan sakit saat terluka, kau merintih dan meringis saat merasakan sakit. Tidak seperti ini.


Tatapan Chendrik sulit diartikan, membuat Zena menunduk malu hingga semu merah menyembul di kedua pipinya.


"Baiklah. Apa kau masih bisa melanjutkan?" tanya Chendrik terdengar cemas. Ketiga teman Zena masih menahan napas menyaksikan perhatian sang pemimpin markas untuk teman mereka.


"Ah, tidak apa-apa, aku masih mampu melanjutkan latihannya. Jangan terlalu cemas, Master," sahut Zena dengan tegas.


Chendrik beranjak tanpa membuang pandangan dari gadis pujaannya. Takut-takut Zena mendongak, ia meneguk ludah saat mendapati tatapan Chendrik bermakna lain. Tatapan yang sama seperti yang diberikan Ciul saat ia terluka karena melawan sekelompok preman di restoran. Mata yang sama seperti milik Nira pada malam di mana ia menghajar dua orang preman.


Ciul, Kak Nira.


Rindu kembali menyeruak, ingin segara bersua, tapi di mana rimba keduanya tak satupun yang dapat memberitahu.


"Ayo, giliranmu." Chendrik berbalik, kembali ke lapangan tembak dan panahan. Zena terhenyak, gegas ikut beranjak menyusul Chendrik ke lapangan. Ketiga temannya mendesah menghirup udara dengan rakus.


Zena membiarkan Chendrik mengajarinya. Laki-laki itu tepat berada di belakang tubuhnya, memeluk, mengajari Zena membidik sasaran. Sontak hal itu membuat iri semua siswa karena tak satupun dari mereka yang diperlakukan istimewa seperti Zena.


"Aku yakin kau bisa melakukannya," bisik Chendrik.


"Aku memang bisa, untuk itu kau tak perlu terlalu menempel padaku," sahut Zena sengit.


Dor!


Tepat sasaran, semua teman Zena bersorak. Sedari tadi tak satupun yang mampu melakukannya dengan sempurna selain kelompok macan putih itu.


"Hmm ... biasa saja, aku dapat melakukannya lebih dari satu kali tembakan." Ucapan mencibir itu disambut letusan timah panas yang diluncurkan Zena secara sempurna.


Mirah, Sarah, dan Ben sontak berdiri dan bertepuk tangan lebih keras dari yang lainnya.


"Zena!"


"Hebat!"


"Aku padamu, Zena!" Ben berteriak lebih keras.


Puk!


"Aw!"


Ben mengelus kepalanya yang dipukul Sebastian, ia melirik sambil meringis merasakan sakit yang cukup berdenyut.


"Apanya yang aku padamu? Enak saja!" sungut Sebastian melayangkan tatapan mengancam pada sahabat Zena itu.


"Je-jenderal ... sakit!"


Sebastian mendengus.