
Zena mengulas senyum manis dan ramah, melangkah perlahan memasuki ruangan di mana Laila meringkuk sambil menangis. Gadis itu mendongak, gurat marah dan kesal seketika saja berganti takut.
Terbayang dalam benak, Zena yang menyeret samurai usai menebas leher William, saudaranya.
"Tidak! Jangan! Kumohon jangan lakukan itu padaku. Ampuni aku!" Laila meracau tak jelas, ia membenamkan kepala di atas lutut dengan kedua tangan menutupinya.
Zena mengernyit, tindakannya melakukan pembantaian di depan mata gadis itu membuat mentalnya sakit. Ia mengalami trauma yang teramat membekas usai penyerangan Zena ke villa tersebut beberapa waktu lalu.
Ketukan langkah Zena semakin membuat tubuhnya berguncang hebat. Kilatan wajah Zena yang bagai malaikat maut terus membayang dalam pelupuk.
"Kumohon, jangan! Hentikan! Aku menyerah!" racaunya lagi semakin tak karuan. Di telinganya masih terngiang jelas gesekan samurai Zena dengan lantai. Darah merembes mengikuti setiap ketuk kakinya.
Zena berjongkok di hadapan, mengusap kepala Laila dengan lembut. Usia gadis itu berada jauh di bawahnya. Laila seperti seorang adik sepulangnya dari dirundung oleh teman-teman. Padahal, dialah perundung itu.
"Ada apa denganmu, Laila? Kau takut melihatku?" Suara Zena terlalu takut untuk ia dengar, wajah cantik itu pun terlalu menyeramkan untuk dipandang. Laila menggeleng masih dengan menundukkan kepalanya.
"Laila, bekerjasamalah, maka aku akan mengampunimu mungkin ... juga akan membebaskanmu dan membiarkanmu hidup dengan baik," rayu Zena dengan nada lembut mengalun di telinganya.
Dia hanya berpura-pura, dia sedang memakai kedoknya untuk membuatku tidak takut. Itu bukan dia! Itu bukan dia!
Hati kecilnya terus memprovokasi, meyakinkan pikiran bahwa gadis di depannya tidaklah selugu itu.
"Dengar! Aku tak berniat menyakitimu. Apa kau tahu, usiaku jauh di atasmu. Aku bukanlah seorang siswa yang masih berusia remaja seperti William. Kau tidak perlu takut seperti itu, aku tak akan menyakitimu, Laila." Zena kembali merayu agar Laila mau mengangkat wajahnya.
Perlahan wajah basah dan pucat itu terangkat, menatap Zena dengan maniknya yang menciut takut. Bibirnya gemetaran, wajahnya berkedut tak karuan.
"A-apa yang kau ucapkan itu benar?" tanyanya terbata. Zena tersenyum, lantas mengangguk pasti dan ikut duduk di sampingnya. Memeluk lutut sama seperti dirinya, memposisikan diri sebagai kawan bukanlah lawan.
Ia tahu, Laila memiliki hati yang polos sehingga mudah dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya. Dia masih anak-anak yang labil dan belum memiliki pendirian.
"Laila, apa kau tahu nasib para gadis yang diculik itu?" Zena memulai interogasi. Ia melirik Laila yang diam membeku. Pandangannya kosong ke depan, hampa dan tiada harapan. Diam. Ia terdiam cukup lama belum ingin menyahut pertanyaan Zena.
"Kau masih mengingat soal William? Maafkan aku karena aku terpaksa harus membunuhnya. Dia menyebabkan para gadis remaja hilang di kota, dan membuat sedih orang tua mereka. Bayangkan saja jika posisi orang tuamu ada pada mereka. Siang dan malam menangis, mereka menghabiskan waktu hanya untuk mencarimu. Meminta bantuan ke mana-mana untuk bisa menemukan jejakmu, tapi setelah bertemu ... kondisimu membuatnya terpukul dan semakin terluka. Yang lebih buruknya, orang tuamu tidak dapat menerima kenyataan pada akhirnya memilih meninggalkan dunia."
Zena menjeda ucapannya. Ia menatap ke depan sambil menarik napas, cerita itu bukanlah bualan semata. Ia melihat siaran beritanya di televisi, juga membaca koran yang masuk ke markas besar. Banyak berita-berita pencarian orang hilang yang masuk ke markas.
Laila tetap bungkam, ia tidak tahu soal itu. Yang ia tahu adalah menjaga para gadis yang ditawan sebelum dibawa oleh ketua mereka. Memberi mereka makan dan memakaikan pakaian ganti disaat tuan mereka datang menjemput.
"Jadi, Laila ... apa kau tahu soal macan putih? Sebuah geng di sekolah yang sering menindas siswa-siswi lemah. Kau tahu sesuatu tentang mereka?" tanya Zena melayangkan lirikan pada Laila yang masih mengunci mulutnya rapat-rapat.
Zena menarik napas dalam-dalam, rasanya akan percuma untuk hari ini. Ia memutuskan beranjak dan keluar dari ruangan tanpa kata perpisahan. Besok dan besok ia akan datang lagi melakukan interogasi seperti tadi. Berharap suatu hari nanti hatinya akan melunak dan mau menceritakan semua.
"Apa yang kau lakukan pada tahanan itu?" Suara Chendrik yang tiba-tiba menghentikan laju kaki Zena. Gadis itu tersentak kaget, menggeram tertahan sebelum berbalik menghadap sang pemimpin markas.
"Kau mengikutiku? Kenapa? Apakah karena cemburu? Aku tidak bersama laki-laki sekarang. Lagipula kenapa kau harus cemburu? Aku bukanlah siapa-siapa," cecar Zena membuat Chendrik kehilangan kata-katanya.
Ia kesal karena tidak mendapatkan informasi dari Laila dan melampiaskan kekesalannya pada laki-laki itu.
"Aku hanya mencemaskanmu, Zena. Itu saja, lagipula kau belum sempat memakan apapun," balas Chendrik dengan sikapnya yang tenang. Gurat cemas gelas terpahat di wajahnya yang tampan.
"Cemas? Belasan tahun aku hidup seorang diri di pulau, tanpa teman tanpa saudara. Tak ada yang mencemaskan aku, rasanya terlalu aneh jika sekarang ada seseorang yang mencemaskan aku sampai-sampai membuntutiku ke mana pun aku pergi," ucap Zena karena jujur saja, ia masih kesal dengan apa yang telah dilakukan laki-laki di hadapannya itu.
Chendrik menghela napas, dalam hati terus menyemangati dirinya sendiri agar tidak menyerah mencairkan hati Zena yang nyaris tak ada cinta di dalamnya. Ia melangkah mengikis jarak di antara mereka, semakin mendekat kepadanya.
Secara tiba-tiba Chendrik meriah tangan Zena dan membawanya pergi bersama. Gadis itu tidak menolak, dan menurut saja saat Chendrik memintanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Sekarang kau tidak sendirian lagi, Zena. Ada aku, ada Cheo, ada master Adhikari dan istrinya yang sangat menyayangimu. Sekarang ini kami adalah keluargamu, jangan pernah merasa sendiri lagi," cetus Chendrik tersenyum hangat pada Zena yang termangu mendengarkan.
Gadis itu memutuskan pandangan, menghindari tatapan Chendrik yang menimbulkan getar di hatinya. Mendengar penuturan Chendrik, hati Zena menghangat. Ia diam seribu bahasa saat laki-laki itu mulai menjalankan mobilnya.
Ia akan mengajak Zena berkeliling menikmati makanan yang dijajakan para pedagang di pinggir jalan.
"Kau ingin mencicipi sesuatu? Aku yakin banyak makanan yang belum kau cicipi di sini," tanya Chendrik memecah sunyi karena sejak masuk ke dalam mobil Zena masih tak bersuara.
"Zena?"
"Ya!" Zena tersentak dari lamunan, menoleh cepat pada laki-laki yang sedang menatapnya.
"Kau ingin makan sesuatu?" tanyanya. Tanpa sadar mobil sudah menepi di tempat berbagai macam jajanan dipasarkan.
Zena menoleh ke segala arah, banyak gerobak juga kedai-kedai berdiri di sepanjang jalan tersebut. Ini dunia kuliner malam, berbagai macam jajanan tersedia di sana. Lokasinya berada di pusat kota, dekat dengan rumah sakit juga alun-alun kota.
"Mmm ... aku ingin mencicipi makanan bulat itu, Chendrik. Terbuat dari apa makanan itu?" Zena menunjuk pada sebuah spanduk yang bergambar benda bulat-bulat dalam sebuah mangkuk.
"Oh, itu bakso. Jajanan itu baru saja muncul di kota ini, dibawa oleh seorang pendatang dari luar kota. Kau ingin mencicipinya?"
Zena mengangguk cepat.
"Ayo! Kau akan suka dengan rasanya. Itu dibuat dari daging sapi, dan ada juga yang dari ayam juga ikan, tapi daging sapi yang paling enak," ujar Chendrik memberitahu sebelum beranjak turun dari mobil dan mengajak Zena masuk ke warung makan tersebut.