Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Ben Terluka



"Sarah?"


Semua yang berada di dalam ruangan itu gemetar ketakutan. Mereka saling berdesak-desakan, saling memeluk, dan menguatkan satu sama lain.


"Tenanglah. Kalian jangan panik," ucap Sarah dengan bisikan.


Suara derap langkah itu semakin dekat dan banyak. Sarah melangkah turun, dia yang bertanggungjawab atas mereka dalam ruangan itu.


Kau harus menjadi kekuatan untuk Zena, Sarah. Jangan jadi kelemahannya, kau harus berani. Kau berani, Sarah!


Ia menyemangati dirinya sendiri sambil menapaki anak tangga yang mengarah ke lantai. Berdiri berhadapan langsung dengan pintu raksasa ruangan tersebut. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada tongkat baseball, bersiap untuk segala kemungkinan yang ada.


Di belakangnya, siswa laki-laki dan perempuan yang memegang alat olahraga turut berdiri. Mereka siap berjuang bersama Sarah membebaskan sekolah dari para mafia.


Pintu digedor dari luar banyak suara siswa yang terdengar meminta pintu dibukakan.


"Sarah! Buka pintunya, cepatlah! Biarkan kami masuk!" pinta salah seorang siswa laki-laki yang menggedor pintu tersebut.


"Mereka teman kita!"


Sarah dan yang lainnya bergegas mendekati pintu, membukanya secara bersama-sama. Sisa siswa yang diselamatkan Ben dan Mirah berhamburan memasuki gedung olahraga tersebut. Buru-buru Sarah dan yang lain menutup pintu dan menguncinya setelah memastikan semua orang berada di dalam.


Mereka berkumpul dengan yang lain, dada mereka naik-turun. Bernapas terputus-putus. Keringat membanjiri tubuh dan baju yang mereka kenakan.


"Apa yang terjadi? Di mana Ben dan Mirah?" tanya Sarah menatapi mereka semua satu per satu.


"Kacau, di luar sangat kacau. Siswa perempuan ... mereka menangkap siswa perempuan dan membawa mereka secara paksa. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi? Banyak orang-orang membawa senjata di luar. Beruntung, Ben dan Mirah datang dan meminta kami untuk datang ke sini," ucap salah satunya dengan napas tersengal-sengal.


"Ben dan Mirah di mana? Di mana mereka?" Sarah menjerit kuat. Panik dan takut kedua sahabatnya itu ikut tertangkap.


"Mirah, mereka ...."


"Ben tertembak di kakinya, Sarah. Dia tertinggal dan meminta kami untuk pergi lebih dulu. Mirah membantunya mungkin mereka sedang menuju kemari," ucap mereka bergantian memberitahu Sarah soal dua sahabatnya itu.


"Apa?" Mata Sarah melotot lebar, "tidak mungkin!" katanya lirih. Bahunya jatuh ke bawah, ada kesedihan di matanya mengingat kedua temannya itu.


Sementara Ben dan Mirah berada dalam hiruk-pikuk perang senjata di dalam sekolah. Satu-satunya tempat yang paling aman adalah gedung olahraga.


"Ben, kau tak apa? Kau masih bisa berjalan?" tanya Mirah panik saat tubuh Ben meluruh ke lantai. Mereka bersembunyi di bawah tangga, menghindari orang-orang yang mengejar mereka.


"Sakit ... kakiku sakit, Mirah. Argh ... rasanya ngilu, aku tidak kuat berjalan," ucap Ben terengah-engah. Wajahnya semakin pucat, keringat mengucur deras di seluruh tubuhnya.


Mirah panik melihat darah yang tak henti keluar dari luka bekas tembakan. Ia merobek bawah gaunnya, melilitkan kain tersebut pada kaki Ben yang terluka.


"Setidaknya ini bisa menahan lukanya agar tidak mengeluarkan darah. Ayo, Ben, kita harus cepat, kita tidak mungkin di sini saja. Lihat, gedung olahraga sudah dekat. Ayo, kau harus kuat."


Mirah meletakkan tangan Ben di pundaknya, membantu siswa laki-laki itu untuk beranjak meninggalkan tempat mereka bersembunyi.


Ben mengangkat wajah, napasnya semakin pendek dan terdengar sesak. Samar ia melihat pintu besar tak jauh dari posisi mereka. Ben menguatkan dirinya, menguatkan kakinya agar dapat melangkah mendekati pintu tersebut.


Dibantu Mirah, mereka melangkah pelan. Mirah terus waspada, tak henti kepalanya menoleh ke belakang memastikan tak ada yang mengejar.


"Ada yang datang!" Ben berbisik. Mirah buru-buru menepi, bersembunyi dibalik dinding yang gelap. Keduanya menahan napas saat beberapa orang bersenjata melintas.


"Kurasa sudah. Kita bisa keluar sekarang," sahut Ben dengan susah payah.


Mirah kembali memapah sahabatnya itu, melanjutkan langkah menuju gedung olahraga. Ben dan Mirah tertegun saat beberapa timah panas melayang di hadapan wajah mereka.


Di dalam ruangan, Sarah tak dapat menahan emosi dalam dirinya. Menyalahkan semua yang baru datang ke dalam ruangan.


"Kenapa kalian meninggalkan mereka? Kenapa kalian tidak menolong mereka? Mereka teman kalian! Ada apa dengan kalian? Kenapa hanya mementingkan diri sendiri saja?" teriak Sarah berapi-api.


Wajahnya merah padam, amarah yang memuncak membentuk kepulan asap di ubun-ubunnya.


"Sarah, kami ingin menolong mereka, tapi Ben meminta kami untuk meninggalkannya. Mirah, dia menolak untuk pergi dan lebih memilih menemani Ben. Maafkan kami, Sarah."


"Jika kami tetap bersama-sama, maka mereka semua akan dapat menemukan kami. Setidaknya itulah yang dikatakan Mirah kepada kami."


"Apa yang harus kami lakukan, Sarah? Apa kami harus kembali ke sana?"


Satu per satu dari mereka membuka suara. Mengutarakan apa yang terjadi di luar sana. Sarah rasa tak percaya, ia tak mengatakan apapun selain ikut duduk menghadap pintu.


"Sudahlah, kita tetap di sini. Semoga Ben dan Mirah bisa selamat dan dapat berkumpul bersama kita di sini."


Seorang siswa perempuan mendekati Sarah. Mengusap bahu gadis itu menguatkannya.


"Kita akan berjuang bersama-sama, bukankah ini yang diinginkan mereka? Mereka berjuang menyelamatkan siswa sebanyak-banyaknya. Pengorbanan Ben dan Mirah tak akan sia-sia, Sarah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam ke depan, tapi kita di sini, dan kita akan berjuang bersama-sama membela diri kita sendiri juga sekolah kita."


Yang lain turut memberi semangat Sarah, membangkitkan jiwa pejuang gadis berkulit hitam yang sebelumnya tak mereka percayai, tapi sekarang mereka semua percaya padanya.


Sarah menghela napas, panjang dan berat. Apa yang diucapkan kedua siswa itu benar adanya. Mereka harus bekerjasama melawan para mafia yang menguasai sekolah.


"Kalian benar, kita harus tetap di sini. Jika mereka menemukan kita, maka kita harus bersama-sama melawan. Jangan takut, jika kita tetap bersama kita akan menjadi kuat!" Sarah kembali bersuara lantang. Ia berdiri menatap pintu raksasa tersebut sambil terus berharap kedua sahabatnya muncul dengan selamat.


Zena, jika kau ada di sini, mungkin perjuangan kami tak akan seberat ini.


Sarah bergumam dalam hati, berharap Zena akan kembali menjadi penolong seperti sebelumnya.


Ben, Mirah, kumohon selamatlah! Kalian orang-orang yang kuat dan berani. Lebih kuat dan lebih berani dari pada aku. Tolong selamatlah! Kumohon!


Sarah meneguk ludahnya sendiri menahan tangis yang menyeruak ke permukaan. Matanya masih menatap pintu. Telinganya fokus mendengar. Semua siswa yang ada dalam ruangan itu, berharap yang sama sepertinya.


Tok-tok-tok!


"Sarah! Cepatlah, Ben terluka!"


Sarah terhentak, berlari cepat ke arah pintu bersama yang lainnya. Mereka membuka pintu tersebut dan membelalak saat mendapati Ben tergeletak di lantai dan Mirah yang lemas tak bertenaga.


"Cepat, bawa masuk!"


Seorang siswa laki-laki mengangkat tubuh Mirah, dan Ben diangkat dua siswa lainnya. Sarah dengan cepat menutup pintu dan bergegas menghampiri keduanya.


"Ben, Mirah!"