Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Rahasia



Di tempat lain, tepatnya di sekolah Cheo, bocah itu pun sedang menjalani ujian olahraga. Sama seperti ujian di sekolah Zena, semua yang diujikan di sana, diujikan pula di tempat Cheo.


Berbeda dengan Zena yang mudah akrab dengan teman-temannya, Cheo menutup diri dari semua siswa di sekolah. Disaat yang lain bercengkerama dengan temannya, ia lebih memilih duduk sendiri menunggu giliran.


Hal itu membuatnya kerap menjadi bahan bulian siswa-siswa kaya di sekolah tersebut.


"Hei, anak sombong, minggir!" perintah seorang siswa yang bertubuh paling besar di antara siswa lainnya.


Cheo melirik tajam, ia tak suka ketenangannya diganggu.


"Untuk apa aku menyingkir jika kalian masih bisa duduk di tempat lain? Carilah tempat kalian sendiri, aku tak akan pernah pergi ke manapun." Cheo mendengus.


Siswa laki-laki itu menggeram marah, merasa paling berkuasa di sekolah ia tidak pernah membiarkan siswa manapun berani melawannya.


"Kurang ajar! Kau tahu siapa aku?"


"Siapa peduli." Cheo mendelik malas. Sama sekali tak menoleh pada siswa tinggi itu dan terus fokus menatap kepada siswa-siswi yang sedang melakukan ujian praktek.


"Sialan!" Kedua tangannya mengepal kuat, wajahnya merah padam. Dia melayangkan kepalan tangannya ke arah Cheo, bocah kecil itu sigap menangkapnya.


Cheo menatapnya geram, ia beranjak sambil meremas kepalan tangan itu sampai dia mengasuh kesakitan.


"Aku datang ke sekolah ini untuk belajar, aku tidak berniat mengganggu siapapun di sini. Kenapa kalian selalu saja menggangguku?"


"Argh!" Dia menjerit kuat. Empat orang temannya ketakutan melihat siswa itu sampai berderai air mata.


"A-ampun, sakit. Le-lepaskan tanganku!" mohonnya sambil terus meringis dengan air mata yang sudah menganak sungai.


"Aku berjanji tidak akan lagi mengganggumu, tapi tolong lepaskan tanganku!" katanya lagi terus mengaduh dan meringis kesakitan.


Cheo menghempaskan tangan itu, dan kembali duduk di tempatnya semula.


"Carilah tempat duduk yang lain, dan jangan merasa lebih berkuasa dari siswa lainnya di sekolah ini!" tegas Cheo tanpa memandang wajah siswa itu.


Dia berlari dan terus berlari menjauhi lapangan. Diikuti keempat siswa lainnya yang mengejar. Cheo tak acuh terus melanjutkan menonton menunggu giliran.


Berselang, siswa tadi dan keempat temannya kembali datang bersama Ibu-ibu mereka. Wanita-wanita itu terlihat marah dan kesal mungkin anak-anak itu mengadu kepada mereka perihal apa yang dilakukan Cheo terhadap anak itu.


"Siapa di antara kalian siswa yang bernama Cheo?" teriaknya menggema hingga menembus seluruh gendang telinga para siswa. Serentak semua anak yang ada di sana, menoleh dengan bingung.


"Di sana, Bu. Itu dia yang di sana duduk sendirian!" Siswa itu ikut berteriak sambil menunjuk ke arah Cheo yang berpura-pura tidak melihat.


Gegas mereka membawa langkah mendekat ke tempat duduk bocah yang bertubuh lebih kecil dari anaknya itu.


"Maaf, Bu. Ini ada apa? Kenapa Ibu marah-marah seperti ini?" tegur salah satu guru yang kebetulan mendengar dan melihat kejadiannya tadi.


"Saya ingin menegur anak yang sudah mencelakai anak saya ini. Saya ingin orang tuanya dipanggil ke sekolah untuk bertanggungjawab atas apa yang dilakukan anaknya terhadap anak saya," tegasnya lagi


Guru itu melirik Cheo dan memanggilnya.


"Cheo! Ikut Bapak ke kantor!" katanya.


Dengan malas, bocah yang duduk anteng itu pun beranjak. Mengikuti gurunya menuju sebuah ruangan khusus untuk sidang yang melibatkan orang tua siswa. Pihak sekolah mengubungi Chendrik memintanya untuk datang ke sekolah.


"Duduk dulu, Bu. Kita tunggu Ayahnya datang," ucapnya menunjuk sederet kursi yang ada.


"Zena!"


Ketiga temannya berseru senang, gadis di atas kuda putih itu tersenyum sambil melambaikan tangan. Sementara mereka yang mengharapkan Zena celaka, mengedipkan mata tak percaya. Mulut mereka menganga lebar, pada akhirnya tersedak saat seekor nyamuk merayap ke tenggorokannya.


Chendrik tersenyum puas, ia menghampiri Zena dan menarik tali kekang kuda membawa Zena melangkah perlahan. Tali itu ia ikatkan pada sebuah tiang penyangga, dan menunggu Zena untuk turun.


"Aku bisa sendiri, Master," katanya.


"Tak apa, aku tahu kau mampu melakukannya, tapi biarkan aku sedikit membantu agar terlihat berguna dalam latihan ini," tutur Chendrik merayu.


Zena tersenyum, lantas mengangguk. Ia melompat ke dalam pelukan Chendrik, disaksikan Sebastian dan laki-laki misterius itu yang baru muncul dari menyusul Zena.


"Terima kasih," ucap keduanya hampir bersamaan.


Zena mengernyit, "Untuk apa Anda berterimakasih, Master?" tanyanya bingung.


"Untuk hal kecil yang membuatku sedikit berguna," sahutnya sambil memasang senyum penuh makna.


"Baiklah, sekarang lepaskan aku. Aku ingin mendatangai teman-temanku," ucap Zena. Matanya melirik tangan Chendrik yang masih melingkar di pinggang.


"Oh, maaf." Buru-buru ia melepas tangannya dan mengusap tengkuk salah tingkah. Ia tersenyum licik saat melihat dua wajah sangar di kejauhan.


Akulah pemenangnya. Bergumam dalam hati seraya melengos pergi saat ponselnya bergetar.


Semua murid beristirahat sebelum memasuki jam pulang sekolah. Latihan hari itu telah selesai dan berjalan dengan lancar, artinya masih ada satu kali latihan sebelum memasuki ujian. Yaitu, bela diri.


"Baik, untuk olahraga beladiri. Siapa yang merasa dirinya mempunyai bakat beladiri, silahkan untuk mendaftar. Besok kita akan latihan," ucap Chendrik mengakhiri kegiatan latihan hari itu.


Banyak anak yang pergi mendaftar, sedangkan Zena tidak berminat sama sekali. Ia melengos pergi bersama teman-temannya meninggalkan arena latihan dan pulang.


"Kupikir kau akan ikut latihan beladiri, Zena?" celetuk Ben sedikit kecewa. Zena tersenyum.


"Sejak awal yang tidak berminat sama sekali dengan latihan itu. Aku hanya ingin menunggang kuda karena sekali pun belum pernah melakukannya. Itu saja," ungkap Zena sembari mengangkat bahu pelengkap ucapan.


Keempatnya berjalan menjauh dan hilang di lorong sekolah.


"Zena, kau yakin tak ingin pulang bersama kami?" tanya Mirah memastikan lagi keputusan Zena yang akan pulang sendiri.


"Tidak, kalian duluan saja. Aku ingin ke toilet dulu," sahutnya, seraya berbalik dan pergi ke arah toilet sekolah yang berdekatan dengan pintu menuju atap.


Zena menoleh ke segala arah sebelum menapaki anak tangga menuju atap. Sekali lagi ia melihat tempat yang luas dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit. Zena berkeliling, ia menyusuri setiap tempat mencari sesuatu yang berkaitan dengan laki-laki misterius itu.


"Tak ada apapun di sini, tapi kenapa semua siswa dilarang untuk mendatangi atap?" gumam Zena setelah cukup lama berkeliling di atap sekolah itu.


Ia berbalik hendak kembali turun dan pulang jika saja sesuatu tak mengalihkan perhatian. Tempat tersembunyi di balik tembok pintu akses keluar-masuk. Zena mendekati tempat tersebut, ia terperangah saat melihat sebuah teropong yang mampu melihat sampai jarak ribuan mil.


Zena mendekat, ia mencoba teropong tersebut, sekali lagi terperanjat. Seluruh tempat dapat dilihat dari teropong ini.


"Astaga, jadi selama ini dia memata-matai seluruh tempat? Aku harus lebih berhati-hati mulai dari sekarang." Zena bergumam ngeri, seraya hendak membawa dirinya pergi.


Namun, lagi-lagi sesuatu membuatnya mengurungkan niat, ia melangkah pelan mendekati sebuah studio kecil dengan banyak foto digantung.


"Astaga!" Zena menutup mulutnya. Buru-buru mengeluarkan ponsel dan memotret apa saja yang perlu ia tunjukkan kepada Chendrik nanti. Zena berlari, tapi terlambat. Pemilik atap itu telah datang ke tempatnya.