Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Menghadiri Rapat



"Tunggu!"


Suara Zena menghentikan mereka yang baru saja hendak melangkah. Ketiga laki-laki itu menoleh dan seketika tertegun melihat penampilan yang tak biasa dari gadis tersebut.


"M-master?" gumam kedua orang selain Chendrik. Keduanya berubah tegang dan gugup, seolah-olah tak percaya pada apa yang ada di hadapan, mereka mengedipkan mata berulang-ulang.


Zena melangkah penuh wibawa, seragam pemimpin tertinggi markas melekat pas di tubuhnya. Chendrik termangu, ia seperti melihat master Yuki sang elang putih kembali.


"Ada apa? Mengapa kalian termangu seperti itu? Bukankah seharusnya kita segera berangkat?" ucap Zena menyentak ketiga laki-laki yang termangu melihatnya.


Ketiganya sama-sama berbalik salah tingkah. Chendrik mengusap tengkuk serba salah, tersenyum kikuk saat melihat Zena yang mengernyit heran.


"Ayo!" Mereka berjalan bersamaan keluar mansion. Kedua prajurit bahkan saling senggol sambil berbisik-bisik. Lelaki tegap di samping Zena tak henti mencuri pandang ke arahnya.


Ia meneguk saliva gugup sekaligus takjub pada pesona pemimpin tertinggi dari markas besar tersebut.


"Chendrik! Mau ke mana kalian dengan seragam serapi itu?" Ibu Chendrik merajut alis saat mendapati mereka berempat di ruang tengah mansion.


"Ada rapat yang harus kami hadiri, Bu." Chendrik menatap jengah para wanita paruh baya yang memandang mereka lekat itu. Ada hal yang terpancar di matanya dan Chendrik tahu itu, tapi ia berpura-pura.


"Lalu, kenapa gadis itu ikut denganmu?" Jarinya menuding Zena lurus. Gadis itu melengos tanpa berniat meliriknya sama sekali. Menatap lurus ke depan tak acuh pada suara nyaringnya yang membuat telinga berdenging.


Belum menjawab, Zena telah mendahului, "Kita tidak ada waktu, Chendrik." Zena melirik tajam ibu Chendrik membuat wanita itu bergidik ngeri.


Ia segera membawa langkah disusul Chendrik yang tak menyahut pertanyaan ibunya itu. Juga dua orang lainnya yang hanya bungkam tanpa kata.


"Kurang ajar gadis tidak tahu malu itu! Semakin hari semakin berani saja lagipula kenapa Chendrik manut saja padanya?!" gerutunya sambil memandang nyalang pada Chendrik dan yang lainnya.


Mereka memasuki mobil sang pemimpin markas dengan Zena yang duduk di depan samping kemudi. Tak ada siapapun yang boleh mengendarai mobil itu selain sang pemilik.


Mobil melaju melintasi bangunan-bangunan tinggi menjulang. Hiruk-pikuk kehidupan kota pun tak lepas dari pandangan Zena. Hilir-mudik kendaraan di jalan menambah kesan padat pada kota tersebut.


Seperti apa gedung parlemen? Zena tak pernah tahu soal itu.


Mobil Chendrik berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit, nampak megah dan gagah. Zena beranjak turun mengikuti Chendrik yang sudah lebih dulu turun diikuti dua orang lainnya yang ikut bersama mereka.


"Apa mereka di dalam?" tanya Zena melirik Chendrik yang berjalan di sampingnya.


"Ya, mereka semua di dalam. Kau harus bisa menahan diri di hadapan mereka, Zena." Chendrik mewanti-wanti gadis itu. Ia khawatir Zena mengamuk di tengah rapat.


"Tergantung." Kedua prajurit di belakang mereka seketika berubah tegang. Zena memakai penutup wajah menyembunyikan kecantikan luar biasa yang dipahat Tuhan untuknya.


Chendrik tersenyum tipis dalam hati bersyukur Zena mengenakan penutup wajah itu. Mereka berjalan memasuki lobi menemui seorang resepsionis wanita dengan tampilnya yang seksi.


Chendrik menunjukkan identitasnya sebagai pemimpin markas, wanita itu segera membawa mereka ke ruang rapat. Ia membukakan pintu untuk keempat orang utusan markas mata-mata itu sebelum berlalu pergi dan kembali ke tempatnya bekerja.


"Selamat pagi! Maaf, kami terlambat." Sontak semua orang menoleh. Chendrik berjalan berdampingan bersama Zena.


"Zena!" Adhikari berbisik lirih. Anak itu persis ibunya dulu yang juga selalu menyembunyikan wajah saat datang ke sebuah acara.


"Tuan Chendrik, kukira kau tak datang," sambut salah satu Menteri sambil menunjukkan kursi untuk diduduki sang pemimpin.


Namun, Chendrik menarik kursi tersebut untuk diduduki Zena, sedangkan ia duduk di sampingnya. Hal itu membuat semua yang ada saling menatap bingung. Bukankah seharusnya Chendrik yang menempati kursi tersebut?


Zena melayangkan tatapan pada semua orang. Wajah yang tertutupi cadar itu dan hanya menampakkan kedua matanya saja menjadikan ia sosok misterius yang disegani. Maniknya yang kelam berpendar tajam menghujam iris mereka satu per satu.


Deg-deg deg-deg!


Jantung mereka berpacu mendengar suara dingin Zena meluncur sempurna. Memberikan tekanan pada semua orang yang ada. Hawa dingin dari AC super modern tak lagi terasa menyejukkan, mereka diserang hawa panas seketika. Peluh mulai merembes dari pori-pori kulit, jatuh merayap membasahi punggung.


"Maaf, kami tidak pernah melihat Anda sebelumnya. Sebutkan nama Anda dan apa jabatan Anda?" pinta moderator kepada Zena.


Semua anggota rapat yang terdiri dari para menteri, ketua polisi, juga ketua tentara, juga para pengusaha besar, membungkam mulut mereka sendiri.


"Kenapa aku harus menyebutkan namaku?" Zena memicing tak suka.


Laki-laki yang bertanya itu meneguk ludah gugup, tapi ia perlu tahu apa posisi gadis itu sehingga pemimpin markas menyerahkan kursi padanya.


"Ka-kami perlu tahu, agar rapat berjalan lancar," sahutnya gugup.


Zena mendengus, alasan yang tidak masuk akal, tapi baiklah ....


"Bazleen, namaku Bazleen. Apa jabatanku? Kalian tanyakan saja pada Master di sampingku." Zena melirik Chendrik yang menegang di sampingnya.


Entah kenapa, saat nama Bazleen disebutkan Zena, hal itu sontak membuat darah mereka berdesir. Seolah-olah Zena adalah sang legenda yang ditakdirkan hidup kembali.


"Tidak perlu! Lanjutkan saja rapatnya, waktuku amat berharga," sela Zena disaat Chendrik baru saja membuka mulut untuk menjelaskan siapa dirinya.


Adhikari tak berkedip menatap gadis kecil yang tak jauh darinya itu. Matanya berkaca, berharap perpisahan itu tak pernah terjadi. Namun, kenyatannya, sejarah tak akan mungkin berulang.


Sang moderator duduk kembali setelah mempersilahkan seorang menteri untuk membacakan setiap masalah yang terjadi. Ia menyimak dengan baik, memasang tajam-tajam indera rungunya.


Sementara Chendrik di sampingnya, tak henti melirik. Kagum dan segan bercampur jadi satu.


"Seperti yang kita tahu, pasokan ikan di pasaran sudah semakin langka akibat para nelayan yang tak menjual keluar ikan-ikan yang mereka tangkap. Kami mempunyai dua solusi untuk itu. Pertama, tekan para nelayan agar mereka mau memperdagangkan hasil tangkapan laut mereka. Kedua, atau kita berhenti saja mengkonsumsi ikan dan membiarkan mereka bertindak semaunya," ungkap salah satu Menteri dengan yakinnya.


Bisik-bisik mulai terdengar, terutama dari perwakilan rakyat yang sengaja diundang.


"Maafkan kami, Pak Menteri, tapi ikan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Selain harganya yang terjangkau, ikan juga memiliki apa yang tubuh kami butuhkan. Berikan kami solusi terbaik jika untuk berhenti mengkonsumsi ikan, kami tidak bisa, Pak Menteri," tolak salah satu perwakilan rakyat dengan tegas.


Zena melirik, tersenyum dari balik cadar mengamati jalannya rapat.


"Jika begitu, kami akan menekan para nelayan agar mau memasarkan hasil laut mereka," sahutnya dengan yakin.


Desas-desus kembali terdengar, semakin menambah riuh dengan segala komentar yang datang dari belakang tubuhnya.


"Apakah benar itu solusi terbaik?" celetuk Zena yang seketika saja membuat hening ruang rapat. Ia masih duduk dengan santai di kursinya.


Menteri itu melirik tak suka, menurutnya itulah jalan terbaik. Memaksa para nelayan agar mau bekerjasama dengan pemerintah seperti biasa.


"Lalu, apalagi? Jika Anda punya solusi terbaik, katakan saja! Memangnya Anda mengerti soal masalah seperti ini?" cibirnya tak mengenakan hati.


Zena mencegah kedua orang yang bereaksi cepat atas ucapan yang dilontarkan menteri tersebut. Ia tetap tenang, sama sekali tak terbawa emosi.


"Begini ...."


*****


Author bagi-bagi THR untuk pembaca setia Zena. Akan ada enam orang terpilih yang paling aktif di novel ini. THR berupa pulsa yang akan dibagikan sebelum lebaran. Ayo, ikutan!