Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Pembebasan Sandera



Di kelompoknya, komandan Sebastian tiba lebih dulu. Ia berbalik demi menyusun rencana, tapi alangkah terkejutnya ia saat melihat orang-orang asing tak berseragam ikut bergabung ke dalam pasukannya.


"Siapa kalian? Dan sejak kapan kalian berada dalam kelompok ini?" tanyanya tak senang, beberapa meter lagi mereka tiba di gedung pemerintahan.


Namun, sang komandan memilih berhenti, untuk memastikan kesiapan seluruh pasukannya.


"Maafkan kami, Komandan. Kami hanya warga biasa yang ingin ikut andil dalam pembebasan kota kelahiran kami. Biarkan kami membantu, Pak. Kami berjanji tak akan menyusahkan," jawab salah satu dari mereka dengan tekad memancar di kedua matanya.


Di tangan mereka sebilah bambu runcing digenggam, seperti tombak cukup tajam untuk mengoyak tubuh musuh. Laki-laki berkumis itu menahan napas beberapa saat lamanya, ia melirik satu per satu wajah masyarakat itu. Sebagian di antara mereka ada yang membawa senjata tajam berupa golok dan celurit.


Ia menghela napas, mau bagaimana lagi? Mereka sudah berada dalam kelompok, mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus mengizinkan mereka ikut bertempur untuk malam ini.


"Baiklah, tapi kalian tetap di sini bersamaku. Senjata yang ada di tangan kalian tidak cocok untuk melakukan serangan jarak jauh. Jadi ikuti perintahku, kita akan melakukan serangan jarak dekat disaat orang-orang bersenjata api di dalam bangunan tersebut telah ditaklukkan. Kalian faham!" tegas sang komandan dengan lantang.


"Siap! Faham, Komandan!" sahut mereka selayaknya para tentara terlatih.


Lagi-lagi, ia menarik napas panjang mengurai resah yang tiba-tiba saja melanda hatinya. Selain menyerang, secara otomatis ia juga harus melindungi mereka agar tidak terluka. Berat, sungguh berat, tapi semoga saja keberuntungan berpihak pada mereka.


Dia mulai memberi perintah, mereka yang membawa senjata api berpencar mengelilingi gedung tersebut. Beberapa orang menyelinap masuk ke dalam, memastikan keadaan dalam gedung. Ada sekelompok orang yang sedang duduk melingkar di sebuah meja, di atas meja tersebut botol-botol bekas minuman berbaris.


Mereka merangsek masuk sambil menodongkan senjata dan tanpa basa-basi langsung menembaki semua orang yang ada di dalam ruangan. Sang komandan berlari bersama para penduduk, memasuki ruangan tersebut untuk menyerang para mafia yang menyandera Pemimpin kota bersama para menteri.


"Ada apa di bawah sana?" tanya salah seorang yang bertugas menjaga tawanan di lantai atas.


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya terjadi keributan," jawab yang lain sesekali melongo ke pintu.


"Cepat kau periksa!" titah kawannya.


Ia bergegas keluar dari ruangan untuk memeriksa keadaan lantai satu. Tak lama, tiga orang tentara masuk dan tanpa berucap menembak penjaga yang bertugas. Semua orang terkejut, tapi selanjutnya mereka merasa lega setelah melihat siapa yang datang.


"Kalian baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya tentara itu seraya memeriksa keadaan semua orang di dalam ruangan tersebut.


"Baguslah kalian datang, semua anak di sini terserang demam bahkan dua orang Ibu mereka pun ikut sakit karena hampir dua hari ini kami tidak memakan apapun," ucap sang Pemimpin dengan cepat.


Tiga orang itu bergegas mendatangi tempat anak-anak, memeriksa satu per satu suhu tubuh mereka juga memeriksa keadaan para wanita.


"Sebagian anak demam tinggi," ucap salah satu dari mereka.


"Kita tidak bisa pergi sekarang, di bawah sana mereka sedang berjuang mengalahkan para musuh. Tunggu keadaan menjadi tenang barulah kita akan membawa mereka ke rumah sakit. Sementara, minumlah air putih dulu," ucap tentara itu seraya memberikan beberapa botol minuman kepada mereka semua.


Dengan terpaksa, mereka menerima. Sebungkus roti dan sebotol air sebagai ganjal perut sebelum bisa keluar dari kurungan. Ketiga tentara itu berjaga di pintu dan jendela ruangan memastikan tak ada musuh yang datang mendekat.


Sementara di bawah sana, sang Komandan dan para warga bahu-membahu melawan para musuh. Meski tidak terlatih seperti para prajuritnya, tapi tenaga yang dimiliki para penduduk cukup bisa diandalkan. Mereka mengayunkan golok, menusukkan tombak, menyerang musuh sambil sesekali melindungi temannya dari terjangan musuh.


Sekitar empat puluh mafia yang ditugaskan menjaga gedung tersebut. Tak sebanding dengan jumlah prajurit juga para penduduk yang hampir tiga kali lipatnya. Pertempuran singkat itu dimenangkan secara telak oleh mereka meski tak sedikit dari penduduk yang terluka, tapi mereka merasa cukup puas telah ikut memerangi para penjahat.


"Cepat bawa yang terluka ke dalam truk, mereka harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan!" perintah sang Komandan yang dengan segera dilaksanakan oleh semua orang.


Ia berlari ke lantai dua, membuka pintu dengan cepat dan mengatakan semuanya telah aman. Bahu-membahu membawa anak-anak turun dan menaikkan ke atas truk bersama orang-orang yang terluka. Dua buah truk itu segera meninggalkan gedung dan membawa mereka semua ke rumah sakit. Dikawal beberapa mobil baja khawatir akan ada serangan tiba-tiba di tengah jalan.


"Selanjutnya apa, Komandan?" tanya salah seorang dari mereka. Para penduduk yang masih memiliki tenaga ikut ke dalam perkumpulan tersebut. Mayat-mayat musuh bergelimpangan di lantai, darah berceceran memenuhi ruangan.


"Satukan mayat mereka, kita akan membakarnya!" titah sang Komandan dengan geram.


Mereka membawa jasad-jasad itu keluar gedung. Menumpuknya di tengah lapangan yang ada di belakang gedung tersebut. Tumpukan dibagi menjadi empat kelompok, salah seorang penduduk menyiramkan bensin ke atas jasad-jasad itu.


Terbayang dalam benak, saat rekan dan tetangganya ditembak mati di hadapan mereka. Terbayang saat anak-anak menjerit memanggil Ayah dan Ibu mereka yang telah kaku menjadi mayat. Hal itu, membuat hati para penduduk tak memiliki belas kasih lagi terhadap mereka.


Terus menyiramkan bensin dan tanpa segan menyalakan pemantik membakar semua jasad-jasad tersebut. Mereka menyingkir, menjauh dari bakaran mayat yang secara perlahan mengeluarkan bau tak sedap. Bau gosong yang menyengat indera pembau mereka, menguar bersama asap yang mengepul dan membumbung tinggi ke langit.


Melihat kobaran api itu, air mata mereka berjatuhan. Puas karena dapat membalaskan kematian kerabat, rekan, juga tetangga mereka yang mati lebih dulu oleh timah-timah panas yang mereka luncurkan secara sadis.


"Kalian bisa tenang di alam sana," gumam salah satu penduduk dengan mata sendu memandang kobaran api.


"Benar, mereka yang jahat telah mendapatkan balasannya." Yang lain menimpali.


Jemari mereka saling bertaut satu sama lain, bekerjasama melawan kejahatan membebaskan kota mereka dari penjajahan para mafia.


Sang Komandan yang berdiri di belakang bersama pasukannya menatap haru para penduduk. Ia membiarkan mereka yang melakukannya karena tahu bagaimana perasaan para penduduk itu.


"Mereka bisa menjadi kuat saat ketenangannya terusik. Rasa sakit melihat orang terdekat mati mengenaskan, memberikan kekuatan yang tak terduga pada diri mereka. Demi membela kota juga hak hidup semua orang, kita harus rela berkorban," ucap sang Komandan tak melepaskan pandangan dari para penduduk yang mengelilingi kobaran api tersebut.


Satu tempat telah berhasil dibebaskan.