
Kemeriahan pesta masih berlanjut meski malam kian larut. Hiruk pikuk anak-anak muda di tengah dentuman musik menggema. Berlenggak-lenggok, meliuk-liuk tanpa peduli udara yang kian memanas. Sebagian memilih menyepi bersama pasangan pilihan masing-masing. Menjauh dari keramaian, asyik masyuk berduaan.
Termasuk Mirah dan Ben yang ikut menghilang dari keramaian. Sekilas Zena bisa melihat ke mana mereka pergi, hanya Sarah yang kini berada di dekatnya dengan wajah cemberut tak senang.
"Jangan cemberut, sayang. Nanti cantiknya hilang," goda Zena sembari mencolek dagu gadis berkulit hitam itu.
Bagaimana tak kesal, laki-laki incarannya memilih wanita lain sebagai pasangan daripada dirinya.
"Laki-laki tidak hanya satu, jika dia tidak menerimamu maka dia bukanlah yang terbaik untukmu. Jangan terlalu memaksakan kehendak, Sarah, karena semua yang dipaksakan biasanya akan memiliki akhir yang tidak baik," tutur Zena menasihati.
Sarah yang menunduk, lambat-lambat mengangkat wajah. Menatap senyum sahabatnya yang selalu berseri setiap hari. Zena adalah sosok gadis yang tak pernah sekalipun terlihat murung apalagi bersedih. Senyum secerah mentari pagi selalu terpatri di wajahnya. Menghangatkan hati siapa saja yang melihat. Tak hanya cantik secara rupa, tapi juga baik hatinya.
Zena mengangkat tangan, meletakkan kedua ujung jari telunjuk di kedua sudut bibir Sarah. Menariknya berlawanan hingga membentuk garis lengkung ke atas.
"Tersenyum, sayang. Kau akan terlihat lebih cantik saat tersenyum seperti ini," katanya mengusap lembut pipi gadis itu layaknya orang dewasa.
"Kau terlihat lebih dewasa dari usiamu, Zena. Aku seperti sedang berhadapan dengan Ibuku, berbicara bijak menasihati, memenangkan hatiku disaat gundah. Terima kasih, aku beruntung mempunyai sahabat seperti dirimu, Zena. Terima kasih, karena kau mau menjadi temanku," ucap Sarah penuh keharuan di hati memancar lewat sorot matanya.
Zena merangkul bahu sahabatnya itu, tersenyum haru karena takdir mempertemukan mereka berdua hingga terjalin persahabatan yang saling menyayangi, saling melindungi, dan saling berbagi beban kehidupan.
"Mmm ... kau tahu, Zena. Sepertinya mereka sedang memperebutkan dirimu, mmm ... maksudku ketiga pelatih berlomba menenangkan hatimu, tapi yang aku lihat dari pancaran mata hitammu ada perasaan yang berbeda terhadap pemimpin markas itu," ujar Sarah tiba-tiba.
Matanya bergulir bergantian pada ketiga laki-laki yang sejak tadi mencuri pandang pada Zena. Gadis itu menoleh, senyum Chendrik dan Sebastian menyambut, tapi tidak dengan laki-laki yang terakhir. Ada kekecewaan di maniknya, juga sedikit rasa benci yang terpancar.
"Satu lagi, kau terlihat memukau saat berdansa dengan bocah itu. Siapa namanya? Dia anak pemimpin markas itu, bukan?" sambung Sarah menunjuk Cheo yang dikelilingi banyak wanita.
Zena terkekeh, sekecil itu sudah memiliki pesona luar biasa. Ia mewarisi karisma sang Ayah, tapi keras kepala seperti Zena.
"Namanya Cheo, setidaknya itulah yang aku dengar. Dia terlihat bingung," ucap Zena sambil terkekeh.
"Itu bukan bingung, tapi dia tidak tertarik sama sekali selain padamu, Zena," sahut Sarah ikut tertawa melihat wajah jengah Cheo di antara wanita-wanita itu.
Celotehan seputar Cheo masih mereka dengungkan, keduanya lupa pada dua orang teman yang telah lama pergi dan belum juga kembali. Tertawa riang seperti anak kecil sambil sesekali Sarah mencicipi makanan dan minuman. Zena sendiri, tak berniat mencicipi apapun di tempat pesta tersebut meskipun banyak makanan menggugah seleranya.
Di sisi lain, dua orang guru laki-laki memindai sambil mengawasi setiap orang yang terlibat dalam pesta. Matanya awas waspada mengamati jalannya pesta.
"Kalian menemukannya?" Salah satu berucap dengan lirih. Mereka saling terhubung satu sama lain untuk selalu menerima informasi yang mereka dapatkan.
"Satu di dalam dapur."
"Satu di tengah-tengah pesta."
"Dua orang di lapangan."
"Bagus, terus awasi dan jika ada kesempatan segara habisi!" titahnya lagi pada semua orang yang terhubung dengannya.
Tanpa ia ketahui, Chendrik sejak dari memperhatikan. Bibirnya mengulas senyum, target yang ditunggunya telah muncul.
"Waspada! Mereka telah menjalankan rencana!" perintah Chendrik lebih seperti bisikan.
"Siap, Master!" Semua menyahut.
Di dapur, di tengah pesta, dan di lapangan, mata-mata yang sengaja lebih menonjol untuk memancing mereka. Sisanya tersembunyi di antara hiruk pikuk keramaian pesta.
"Hati-hati, dua orang mencurigakan menuju tempatmu!" beritahu ia yang berjaga di depan aula pada temannya di dapur.
"Awasi Zena! Jangan lengah!" pinta Chendrik pada semua orang.
"Baik, Kak!" Sebastian memperhatikan gadis yang turut andil dalam misi tersebut. Meskipun bingung, tapi ia tak bisa membantah.
Zena sadar jika sedang diperhatikan beberapa pasang mata, tapi mencoba untuk bersikap senormal mungkin. Ponselnya berdering, ia menunjukkannya pada Sarah meminta izin untuk mengangkatnya sebentar. Zena memasang earphone, dan mendengarkan suara-suara mereka yang saling terhubung satu sama lain. Panggilan itu hanya tipuan.
"Zena, kau yakin dia berkhianat?" Suara Sebastian terdengar.
"Ada apa, Bas? Kita akan tahu jika saatnya tiba nanti," sahut Zena dengan suara berbisik dan lirih.
"Rasanya aku tidak percaya, dia sedang menuju ke arahku saat ini. Apa yang harus aku lakukan?" ucap Sebastian lagi bingung.
"Tidak ada. Bersikaplah biasa saja, Bas, dan tinggalkan obrolan," perintah Zena padanya.
Kemunikasi terputus, Zena menarik earphone dari telinga dan kembali kepada Sarah.
"Ada apa? Ibumu pasti mencemaskan dirimu," sambar Sarah cemburu.
"Kau benar, mereka terlalu mencemaskan aku. Sudahlah, tidak apa-apa," sahut Zena santai.
Seseorang mendekat ke arah mereka, ia nampak ragu dan takut. Langkahnya terhenti sebelum mencapai tempat duduk keduanya, ia menarik napas dalam dan membuangnya perlahan.
Kau pasti bisa. Tenanglah, dia akan bersikap baik seperti biasanya dan pasti akan memaafkanmu! gumamnya dalam hati.
Gadis itu kembali melanjutkan langkah, mendekat ke arah Zena. Sesekali akan menggigit bibir gugup.
"Umh ... Zena, bisa kita bicara?"
Tawa dan celoteh Zena terhenti, ia berbalik seraya tersenyum saat melihat sosok Arabella berdiri di belakangnya.
"Bella? Duduklah!" Zena menunjuk satu kursi kosong di bagian kiri tubuhnya.
"Terima kasih." Arabella duduk sambil mengulas senyum. Wajahnya sulit diartikan, ada sesal dan perasaan yang lainnya berbaur menjadi satu.
"Mungkin sebaiknya aku pergi," ucap Sarah mengerti dengan situasi yang ada.
Zena mengangguk, menatap punggung sahabatnya itu sampai menghilang di antara teman-temannya.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Zena menyelidik.
Arabella membuang pandangan, jemarinya mencengkeram gelas dengan kuat. Gugup itu datang lagi membuat lidahnya kelu tak dapat berucap.
Sekonyong-konyong, ia meletakkan gelas itu di depan Zena. Arabella juga tak segan menggenggam tangan gadis itu sambil menatap sendu penuh penyesalan.
"Zena, atau perlu aku panggil Master-"
"Ah, Zena saja."
"Umh ... Zena, aku sadar selama ini aku telah salah sikap terhadapmu. Aku terlalu sombong dan congkak hingga menganggap semua orang rendah. Tolong, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf padamu, Zena. Aku ingin kita berteman. Sudikah kau memaafkan aku, Zena, dan menjadi temanku?" tutur Arabella setulus hatinya.
Zena tersenyum, ia mengangguk seraya memeluk tubuh Arabella dan mengusap-usap punggungnya.
"Kau tak perlu meminta maaf, Bella. Aku sudah memaafkanmu." Zena mengurai pelukan, tersenyum hangat pada gadis di depannya itu.
"Jika kau memang ingin berteman denganku, maka baiklah ... mulai saat ini kita berteman." Zena mengulurkan tangan disambut segera oleh Arabella.
"Terima kasih." Keduanya tergelak bersama hingga tenggorokan rasanya mengering. Lalu ....