Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Cemas



"Aku lebih suka Kakak yang datang," celetuk Cheo di dalam mobil.


Matahari telah bergulir dari puncaknya, perlahan menyusuri langit menuju peraduan. Chendrik membawa Cheo ke sebuah tempat makan untuk mengisi perut keduanya.


"Sudah Ayah katakan, Zena sedang ujian olahraga di sekolah. Dia tidak bisa sembarangan izin keluar kecuali telah selesai," jawab Chendrik sembari menoleh ke kanan dan kiri mencari tempat makan yang pas untuk dinikmati bersama Cheo.


"Bukankah Ayah yang melatih Kakak? Lalu, kenapa Ayah bisa berjalan-jalan keluar?" selidik Cheo dengan mata tajam memicing ke arah Ayahnya.


Chendrik terkekeh sebelum menyahut, "Itu karena Ayah pelatih. Bagian Ayah sudah selesai semua, tinggal satu bagian lagi yang harus dijalani Kakakmu, tapi bukan Ayah sebagai pelatihnya," sahutnya lagi menjelaskan.


Bibir Cheo membentuk bulatan, ia mengerti sekarang. Bocah itu mengangkat alis bingung saat melihat Chendrik menoleh ke kanan dan kiri.


"Ayah, apa yang Ayah cari?" tanya Cheo dengan kerutan di dahi.


"Kau lapar?" Chendrik balik bertanya sambil memutar kemudi mengambil belokan ke kiri.


"Mmm ... kurasa tidak terlalu, tapi tak apa jika kita akan makan," jawab Cheo yang kebetulan perutnya itu merasa lapar, tapi malu mengakui.


"Baiklah." Chendrik menepi di depan sebuah restoran bernuansa lokal. Makanan yang disajikan pun khas kota Elang. Daging burung dara menjadi menu utama sekaligus andalan di restoran itu.


"Ayah, kita akan masuk ke sini? Di sini seperti sarang burung. Banyak sekali burung hinggap di sekitar tempat ini," seloroh Cheo sembari memindai pemandangan sekeliling restoran.


Restoran itu berada di tempat terbuka, ada sebuah danau buatan yang indah di dalamnya. Mata akan disambut bunga-bunga juga air mancur begitu melewati gerbangnya.


"Benar, Cheo. Di sini tempat pemeliharaan burung karena menu utama di sini adalah daging burung," jelas Chendrik sambil terus menuntun Cheo memasuki restoran tersebut.


"Kau pernah memakan daging burung?"


"Mmm ... sering. Aku yang memanahnya sendiri saat berburu ayam hutan di hutan belakang bukit."


Kenangan saat di pulau kembali menguar, menyibak rindu yang sedang tertidur dengan nyaman. Menimbulkan resah dan gelisah yang tak menentu.


"Baiklah. Kita duduk di sana."


Chendrik membawa putranya ke sebuah gazebo yang terpisah dari kursi pengunjung lainnya. Keduanya duduk dengan tenang menunggu makanan yang sudah dipesan sebelumnya.


"Daging burung ini mengingatkan aku pada kehidupan di pulau bersama Kakak. Lain waktu aku akan mengajak Kakak ke sini," ucap Cheo setelah menerima makanannya dan memulai gigitan pertama.


Chendrik tersenyum mendengarnya, berselang ia mengangkat alis dengan manik yang berbinar senang saat menemukan ide brilian untuk menyenangkan hati Zena.


Benar juga, aku akan membawa Zena ke sini.


Dalam hati tertawa puas, matanya melirik Cheo yang begitu lahap menyantap daging burung itu.


"Terima kasih, Nak."


*****


"Kakak, kau di dalam?" Cheo mengetuk-ngetuk pintu kamar Zena sepulangnya dari sekolah.


"Kakak! Tolong buka pintunya, aku mau bicara," ucapnya lagi sambil tak henti mengetuk pintu kayu tersebut.


Tetap tak ada sahutan, setelah lima menit lamanya ia memanggil Zena.


"Ke mana Kakak, ya? Apa Kakak belum pulang?" Cheo bergumam seraya berbalik menatap sekeliling. Tiba-tiba terpikir Tigris, kemungkinan gadis itu sedang bersama Tigris sekarang.


Ia membawa langkah keluar dari kamar berjalan menuju lapangan latihan, ke hutan tempat Tigris berada.


"Master kecil!"


Langkah kaki Cheo berhenti, ia berbalik dengan dahi mengernyit melihat seorang pekerja Ayahnya berdiri di depan kamar Zena.


Anak dan Ayah sama saja. Sama-sama dingin dan jarang tersenyum, tapi tampan!


"Mmm ... apa Anda mencari master Zena? Saya rasa Master belumlah pulang karena sejak tadi saya membersihkan tempat ini dan belum melihat Master datang," katanya memberitahu Cheo perihal Zena yang belum kembali.


"Benarkah?"


"Saya yakin, Master."


Cheo melengos, berjalan kembali menuju mansion utama untuk menemui Chendrik. Langkah kecilnya tergesa, wajahnya tegang hingga beberapa urat menonjol. Napasnya tak henti mendengus kasar, kesal dan cemas menjadi satu. Biasanya Zena menemui masalah jika pulang terlambat seperti ini.


"Ayah! Ayah di dalam?" Cheo mengetuk ruang kerja Chendrik tanpa tahu sang empu di dalam atau tidak.


"Cheo? Ada apa?"


Chendrik datang dari arah belakang tubuhnya, ia mengenakan pakaian rumah biasa dengan rambut yang masih meneteskan air beberapa helai.


"Ayah, Kakak tidak ada di kamarnya. Kakak belum kembali? Ke mana Kakak pergi, Yah? Biasanya Kakak mendapat masalah setiap kali pulang terlambat," cecar Cheo.


Rasa cemas tak dapat disembunyikan, jelas terlihat di garis wajahnya yang tegang dan sedikit berkeringat. Laki-laki di hadapannya mengernyitkan dahi, ia sama sekali tidak menerima laporan setelah pulang dari sekolah Zena tadi.


"Benarkah?"


"Benar, Ayah. Pekerja Ayah sendiri yang mengatakannya padaku. Apa mata-mata Ayah tidak memberikan kabar soal Kakak?" ucap Cheo lagi semakin merasa cemas melihat respon Chendrik yang hanya termangu di tempat.


Pemimpin markas itu buru-buru mengeluarkan ponselnya, mengecek informasi yang dikirimkan mata-mata untuk mengawasi Zena. Sebuah pesan singkat masuk begitu ia membuka benda pipih itu.


Black Shadow mengikuti master Zena, Master. Master tidak akan pulang ke mansion, beliau pulang ke rumah master Adhikari untuk mengecohnya.


Kedua alis Cheo turun berikut kerutan yang muncul di antaranya melihat Chendrik nampak geram setelah membaca laporan.


"Ada apa, Ayah?"


"Seseorang membuntuti Zena pulang. Mungkin beberapa hari ke depan, dia tidak pulang ke sini." Chendrik bernapas lega.


"Kenapa?"


"Zena pulang ke rumah dokter Adhikari, masuk akal karena dia terdaftar sebagai anak beliau," jawab Chendrik merasa lebih lega setelah mendapat kabar tentang Zena.


"Oh, syukurlah jika Kakak baik-baik saja." Chendrik mengangguk sambil mengusap kepala anaknya itu.


Berselang, notifikasi pesan masuk kembali berbunyi. Kali ini datang dari Zena, senyumnya mengembang sempurna, terang seperti rembulan di tengah kegelapan malam.


Aku tidak akan pulang ke rumahmu untuk beberapa hari ke depan. Kau pasti sudah tahu alasannya.


Katakan saja pada Cheo, beberapa hari ke depan aku tidak akan menjemputnya ke sekolah. Aku tak sengaja mendengar mereka menyebut-nyebut soal adik.


Aku menemukan sesuatu di atas atap sekolah, Paman akan membahasnya pada rapat besok.


Aku sudah mengirimkan semua yang aku temukan. Kau harus melihatnya, Chendrik.


Beberapa pesan masuk secara bertubi-tubi. Wajahnya berubah-ubah saat membaca satu demi satu pesan yang dikirimkan Zena.


"Ayah? Pesan dari siapa?" Cheo menatap aneh Chendrik. Kerutan di dahi kecilnya menumpuk, jelas wajahnya itu menggambarkan kebingungan.


"Oh, dari Zena. Untuk beberapa hari ke depan dia tidak akan pulang ke sini juga tidak akan menjemputmu. Ada benarnya juga, misi yang sedang dijalaninya sangatlah berbahaya. Dia tidak ingin kau terlibat di dalamnya. Jadi, untuk beberapa hari ke depan sampai kelulusan, Ayah yang akan menjemputmu," ucap Chendrik sembari membuang napas lega.


Cheo cemberut tak senang, tapi meskipun begitu ia dapat mengerti keputusan Zena. Menahan beberapa hari, rasanya ia tidak akan sanggup membayangkannya saja. Cheo tak lagi bicara, ia melengos masuk ke kamarnya berniat melakukan penggilan video bersama Zena.