Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kedatangan Adhikari



"Zena!"


Sebuah sang familiar memanggil gadis yang baru saja menghajar sekelompok preman di lapangan sekolah itu. Tubuh Zena menegang sebelum akhirnya berbalik dengan senyum polos yang menampakkan deretan giginya. Ketiga teman Zena juga ikut menoleh dan mendapati seorang laki-laki paruh baya sedang menatapi meraka yang terkapar di tanah.


"Dokter!"


"Ayah!" rengek Zena seraya membawa langkah mendekati Adhikari yang termangu di tempatnya. Gadis itu bergelayut manja di lengan sang master, nampak menggemaskan.


"Apa yang terjadi? Apa semua ini ulahmu?" tanya Adhikari sembari mengusap rambut Zena dengan lembut.


"Dokter!" Pria yang menantangnya tadi datang menghadap Adhikari. Siapa yang tak kenal laki-laki hampir tua itu? Semua orang di kota Elang ini tahu Adhikari adalah dokter terhebat.


"Jadi ... Zena adalah anak Anda?" tanyanya setelah saling berhadapan dengan Adhikari dan Zena yang menempel di tubuh dokter tersebut.


"Iya, ada apa?" Adhikari tetap tenang, ia tahu bukan Zena yang berulah.


"Mereka adalah teman-teman saya, dan anak Anda baru saja menghajar mereka sampai begitu. Mereka perlu perawatan, Dokter. Maaf jika lancang, tapi saya meminta pertanggungjawaban dari putri Anda," katanya panjang lebar.


Zena mendengus, memalingkan wajah dari pria yang sedang menggunakan kesempatan untuk memeras laki-laki hampir tua tersebut.


"Memalak!" gumam Zena cukup keras hingga dapat didengar Adhikari juga pria di hadapan mereka.


"Maaf, Zena, tapi saya sedang tidak memalak. Saya hanya meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kau lakukan pada teman-teman saya," kilahnya tanpa tahu malu.


Mirah melongo, begitu pula dengan Sarah dan Ben. Hanya saja, di antara mereka tak ada yang berani berucap.


"Kalian yang lebih dulu mengganggu Zena. Bukankah Zena sudah meminta kalian untuk tidak mengganggunya? Tapi kalian tetap saja mengganggunya. Sekarang malah menyalahkan Zena dan meminta Zena bertanggungjawab untuk semua kekacauan," sentak Mirah dengan berani.


Pria itu melongo mendengarnya, ia tak menyangka akan ada yang berani membuka suara dan itu datang dari seseorang yang lemah di belakangnya.


"Itu benar, Ayah. Merekalah yang menggangguku, aku hanya membela diri saja," sambung Zena dengan manja.


Adhikari melirik Mirah, ia tersenyum pada remaja itu. Salut dengan keberaniannya mengungkapkan kebenaran. Mata Adhikari kembali melirik pada sekitar, orang yang mengaduh, meringis, berdesis karena merasakan sakit akibat hantaman dua tangan Zena.


"Apa itu benar? Kalian mengganggu putriku?" Adhikari melempar tatapan pada pria yang mengadu padanya tadi. Ia berkeringat gugup, menggeram dalam hati sambil mengancam Mirah dan Zena yang sudah mengadukannya.


"Kenapa diam? Katakan, apa selama ini kalian mengganggunya di sekolah?" tekan Adhikari lagi menakuti mereka semua. Keringat yang mengucur di wajah laki-laki pengaduan itu semakin banyak terlihat hingga jatuh turun ke leher.


Tak satu pun dari mereka yang menyahut, bahkan empat orang kelompok macan putih itu juga mengunci rapat mulut mereka. Mereka mengenal sosok Adhikari yang ramah dan santun, tak pernah marah dan sabar dalam menghadapi berbagai pasien.


"Dengarkan aku! Kau, adikmu kritis di rumah sakit. Aku bisa saja mencabut izinnya dan memulangkan adikmu itu karena biaya yang semakin membengkak." Pria itu terhenyak mendengar penuturan Adhikari tentang kelemahan terbesarnya.


"Maaf, maafkan aku. Aku tidak tahu jika Zena adalah anak Dokter, aku meminta maaf. Mohon jangan keluarkan Ibuku dari rumah sakit, Dokter!" Ia berlutut di belakang Adhikari. Zena menahan tawa membuat wajahnya memerah dan ingin meledak rasanya.


Mirah, Sarah, dan Ben, hanya menonton dalam diam. Mereka tak menyangkan bahwa kelompok itu memiliki sisi kehidupan yang menyedihkan.


"Tergantung pada putriku, apakah dia mau memaafkan kalian atau tidak? Minta maaflah padanya, dan berjanjilah untuk tidak mengganggunya lagi," titah Adhikari dengan tegas.


Zena yang tak tega melihat salah satu dari kelompok macan putih itu menangis sambil memohon, meminta Adhikari untuk tidak menekannya terus menerus.


"Sudahlah, Ayah. Aku sudah memaafkan mereka, tidak perlu lagi diperpanjang apalagi sampai mengeluarkan anggota keluarga mereka dari rumah sakit," ucap Zena dengan sebenarnya. Mendengar Ibu dan Adik disebut, ia teringat pada Cana yang beberapa bulan lalu menderita penyakit aneh. Juga teringat pada Cheo yang kesakitan saat musuh mengalahkannya.


Gadis yang berlutut itu mengangkat wajahnya yang basah. Melongo tak percaya pada Zena yang begitu mudahnya memberi maaf tanpa mendengar ia meminta maaf terlebih dahulu. Gadis itu tersenyum padanya, membuat ia merasa bersalah karena selama ini telah mengganggunya di sekolah.


"Maaf, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan pernah mengganggu Zena lagi di mana pun berada," tuturnya lirih sambil menunduk sesenggukan.


"Baiklah, karena putriku telah memaafkan kalian aku juga akan memaafkan kali ini, tapi tidak untuk ke depannya," tegas Adhikari seraya membawa Zena melangkah bersamanya memasuki gedung sekolah.


Zena sempat melirik pada ketua macan putih itu, hanya dia yang berhasil mempertahankan ekspresi wajahnya hingga Zena menghilang di lorong bersama ketiga temannya. Ia menghentakkan kaki seraya meninggalkan mereka tanpa berucap sepatah kata pun.


"Ayah, kenapa Ayah datang ke sekolah?" tanya Zena sambil menyamakan langkah dengan Adhikari.


"Bukankah pihak sekolah mengundang para orang tua untuk mengadakan rapat? Kupikir semua orang tua telah datang di sekolah," jawab Adhikari. Zena membulatkan mulut, ia tak menyangka Adhikari akan muncul karena surat itu ia berikan pada Chendrik.


"Orang tua kami juga sudah datang, Dokter. Mereka sudah berada di ruang rapat menunggu rapat dimulai," sahut Mirah yang dibenarkan Ben dan Sarah.


Adhikari tersenyum ke arah mereka, ia tak menyangka Zena mampu berbaur dan memiliki teman yang baik seperti mereka bertiga.


"Terima kasih sudah membela putriku, dia baru di kota ini dan belum memiliki teman," ucap Adhikari menatap ketiganya penuh syukur.


"Zena anak yang baik, kami senang berteman dengannya. Anda tidak perlu sungkan, Dokter," timpal Sarah tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih nampak kontras dengan kulitnya yang hitam.


Mereka berpisah di lorong yang bercabang, Zena bersama Ben dan Mirah menuju kelasnya. Sarah bersama Adhikari menuju lorong yang sama karena mereka berbeda kelas.


Sepanjang pelajaran, Zena terus melamun. Ia tak memperhatikan guru wanita di depan kelas yang menerangkan, hal itu membuat Mirah ingin menegurnya.


"Zena, kenapa kau melamun?" Gadis itu tersentak, tersenyum dipaksakan saat menoleh pada Mirah.


"Tak apa, hanya sedang memikirkan sesuatu saja. Maaf jika aku tidak fokus pada pelajaran," katanya sambil terkekeh kecil seraya memfokuskan pandangan ke depan kelas.


Aku harus menyelidiki ketua mereka, kulihat dia biasa saja saat Paman menegur mereka tadi. Apa dia juga seorang mata-mata sepertiku? Aku harus mencari tahu secepatnya.