Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Pertengkaran



"Siapa?" Suara Chendrik bertanya terdengar dingin.


"Apanya yang siapa?" Zena berjengit, kedua alisnya terajut sempurna bingung menatap pemimpin markas yang duduk di sampingnya.


"Laki-laki tadi."


"Laki-laki? Pemuda tadi? Apa kau tuli sampai tidak bisa mendengar perbincangan kami? Dia putra paman Okk," hardik Zena kesal. Kenapa harus mengulang apa yang sudah dia ketahui.


Namun, Chendrik telah merasa dekat dengannya sebab itu harus tahu siapa saja yang pernah dekat dengan gadis itu.


"Ayolah, hanya katakan siapa paman Okk itu?" Chendrik mulai menuntut.


"Apa pedulimu? Kenapa juga aku harus memberitahumu?" Zena bersungut-sungut. Ia melipat kedua tangan di perut menatap jengah lelaki di sampingnya.


"Karena aku perlu tahu siapa saja yang pernah dekat denganmu dan apa statusnya?" terang Chendrik.


Zena mengernyit tak suka.


"Siapa kau hingga harus tahu siapa saja yang dekat denganku? Ayahku? Kakakku? Pamanku?" Zena tak kalah meledak.


Mereka tidak sadar, dua orang yang duduk di belakang sudah gemetar ketakutan. Berkali-kali tangan keduanya mengusap keringat yang tidak dibiarkan jatuh hingga menimbulkan bunyi yang akan mengganggu jalannya pertengkaran bahkan untuk bernapas saja mereka menahannya.


"Ayolah, hanya katakan siapa paman Okk? Kenapa sulit sekali untukmu?" Chendrik ikut merajut alis kesal.


Sungguh Zena tidak mengerti dengan sikap laki-laki pagi itu. Kenapa dia harus mengatakan semuanya? Apakah penting untuk laporan markas? Konyol.


"Kau ingin tahu siapa paman Okk? Dia kekasihku," jawab Zena asal. Ia tersenyum miring disaat Chendrik termangu tak percaya hingga hilang fokus dan hampir terjadi tabrakan jika saja laki-laki yang mengemudi itu tidak membanting setir ke kiri.


Kepala Zena terbentur pintu mobil, begitu juga dengan kedua orang laki-laki di belakang. Untuk mengeluh saja, mereka enggan karena takut mengganggu emosi sang pemimpin. Keduanya meringis tanpa suara.


"Kau gila! Apa kau ingin membuatku celaka?" hardik Zena sembari beranjak duduk kembali.


Chendrik mengambil napas pendek-pendek, terkesan memburu. Kulit wajahnya memerah, asap menyembul dari ubun-ubun dan lubang telinganya.


"Aku akan membunuh setiap laki-laki yang menjadi kekasihmu!" Mata Chendrik berkilat-kilat.


"Jangan mimpi! Sebelum kau melakukannya kau akan berhadapan denganku!" Zena menantang memancarkan hawa membunuh yang membuat sesak kedua orang di belakang mereka.


Tenggorokan keduanya terasa tercekik, meneguk ludah pun terasa sakit. Rongga dada kian menyempit, wajah mereka pucat pasih dan hampir mati terjepit.


Mereka beradu pandang, kilatan api menjilat-jilat dari iris keduanya. Benar-benar menakutkan. Jika sampai mereka menikah, lalu terjadi masalah, maka mansion Chendrik akan menjadi medan perang untuk keduanya. Persis seperti dalam film Mr. And Mrs. Smith yang diperankan oleh Angelina Jolie dan Brad Pitt.


Keduanya bergidik ngeri membayangkan hal itu sampai terjadi. Pertengkaran sepasang suami istri sudah lain ceritanya, tak akan sama seperti pasangan lainnya yang hanya akan beradu mulut saja. Paling-paling barang-barang di dapur pecah dan berantakan.


Membayangkan keduanya beradu senjata, beradu samurai, dengan tingkat keegoisan yang tinggi. Sungguh hal yang mengerikan.


Chendrik melemahkan emosi, menurunkan ego, ia menunduk melepas tatapan dan menarik napas panjang. Laki-laki itu kembali mengangkat pandangan, bersitatap dengan manik tegang di hadapannya.


"Ayolah, Zena. Jangan membuatku terbakar cemburu dan kau mau aku mati karena penasaran?" ucap Chendrik mengendurkan urat-urat di lehernya.


"Siapa yang peduli kau mati atau tidak!" sarkas Zena sambil melengos. Ia menahan senyum hingga membuat kulit wajahnya memerah.


Chendrik mengeluh, semakin dalam menunduk. Tak lagi menuntut, ia berbalik menghadap kemudi lantas menjalankan mobilnya lagi.


Kedua prajurit di belakang mereka mendesah lega. Mereka dapat bernapas dengan normal sekarang. Keadaan tak lagi menegangkan seperti tadi. Beruntung tidak berlarut, jika terus berlanjut mereka akan pingsan karenanya.


Zena melirik Chendrik yang diam seribu bahasa. Mengulum senyum.


"Baiklah. Paman Okk adalah seorang nelayan dari pulau Laes-"


Ketegangan kembali hadir menciutkan nyali mereka berdua.


"Tentu saja kau harus peduli karena dialah orang yang paling berjasa dalam menyelamatkan putramu!" jelas Zena sambil menelisik reaksi Chendrik.


Laki-laki itu bungkam seketika, tubuhnya bereaksi. Kedua prajurit di belakang mereka saling pandang satu sama lain. Ini sudah lain ceritanya.


"Bagaimana mungkin? Bukankah kau yang menyelamatkan Cheo?" tanya Chendrik tanpa menoleh pada Zena yang tersenyum tipis.


Zena mendesah, ia menjatuhkan punggung pada sandaran, memejamkan mata lelah.


"Memang aku, tapi tanpa paman Okk aku mungkin tak akan bisa membawanya lari dari kota ini waktu itu. Kau tahu, sekelompok orang mengejar kami dengan menggunakan senjata, dan paman Okk yang membawaku menyebrang hingga kami bersembunyi di dalam kabut. Dia orang yang paling berjasa menyelamatkan kami waktu itu, Chendrik. Seharusnya kau memberinya penghargaan dengan mensejahterakan hidup keluarganya. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya," papar Zena masih dengan mata terpejam menikmati waktu santainya.


Chendrik terdiam, ia melirik Zena. Gadis itu tak hanya tangguh, tapi dia juga berani mengambil resiko tinggi menyelamatkan bayi merah yang diserahkan seorang asing padanya. Membayangkan dia harus berlari menghindari kejaran pada penjahat, sedangkan usianya waktu itu barulah tiga belas tahun.


Kerasnya hidup Zena, tapi dia bahkan tidak pernah mengeluh.


"Baiklah. Jika semua masalah sudah selesai, antar aku mengunjunginya," ucap Chendrik melemah.


Zena hanya mengangkat jempolnya tanpa membuka suara juga kelopak matanya. Sampai di mansion pun, ia tak lagi bicara.


"Dari mana saja kalian?"


"Roarrrr!"


Langkah Zena dan Chendrik terhenti, begitu juga dua prajurit mereka ketika Cheo dan Tigris menghadang di depan mansion. Zena tersenyum hangat, ia melanjutkan langkah mendekati Cheo. Mengangkat tubuh bocah sepuluh tahun itu dan menempatkannya di atas punggung Tigris.


Mereka berjalan di bawah tatapan mata tiga laki-laki yang masih mematung di dekat badan mobil.


"Kakak menghadiri rapat di gedung parlemen. Kalian tidak bisa ikut karena di sana Kakak tidak bertempur secara fisik," terang Zena sambil mengajak keduanya berjalan menuju mansion belakang.


Cheo mengangkat wajah, gadis itu pun sama menoleh dan mengangguk pelan.


Hari beranjak, pagi telah datang menggantikan malam. Menghadirkan geliat ekonomi di kota padat penduduk itu. Pagi itu Zena kembali mengenakan seragamnya, setelah satu hari libur karena insiden kebakaran villa dibalik kebun karet kemarin.


Secara kebetulan juga, Sebastian kembali ke mansion Chendrik untuk melapor. Zena memasuki ruang makan dan duduk dengan tenang.


"Zena, bagaimana keadaanmu? Kudengar kau melakukan penyerangan tanpa membawa pasukan?" sapa Sebastian dengan ramah. Ia sudah menghabiskan setengah sarapannya, tapi sengaja memperlambat karena kehadiran Zena.


Mendengar penuturan putra bungsunya, Ibu yang bermulut tajam itu bungkam. Tangannya bergetar saat menyuapkan sendok nasi ke dalam mulut.


"Tidak juga, Chendrik dan pasukan datang disaat semua telah selesai," sahut Zena tenang. Ia memulai makannya. Sebastian mengulum senyum disaat melihat wajah sang Kakak memerah malu.


Mereka makan dengan tenang, tanpa kata yang terucap hingga piring-piring itu kosong. Hanya Sebastian yang sesekali kedapatan mencuri pandang ke arah Zena.


"Ah, Zena ... kau tidak meminta uang saku? Aku sudah menyiapkannya," celetuk Sebastian disaat kaki Zena hendak melangkah keluar meninggalkan ruangan.


Gadis itu menoleh, menggeleng tanpa senyum.


"Masih ada," katanya lanjut berjalan yang diikuti Cheo.


Chendrik terkekeh geli mendapati adiknya yang berwajah masam.


"Kalian memperebutkan gadis itu? Seperti tidak ada yang lain saja." Ibu meletakkan sendok, gegas beranjak meninggalkan ruangan.


Siapa peduli? Mereka sedang berjuang mendapatkan hati Zena.