Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Tindakan Tak Terduga



Zena menjauhkan diri dari semua orang, ia duduk menunggu giliran memakan kudapan yang dibawa Ben untuknya. Tak acuh meskipun mendapat intimidasi dari ketua macan putih.


Ia beranjak saat namanya dipanggil, orang-orang yang sempat mengejarnya dengan berbagai pertanyaan antusias ingin melihat aksi Zena.


Gadis itu berdiri tegap dengan kedua tangan lurus di kanan dan kiri tubuh. Membungkuk memberi salam sebelum memulai aksinya. Gerakan-gerakan dasar karate yang diperagakan oleh Zena. Posisi kuda-kuda, berbagai macam gaya menendang juga memukul, tak tertinggal cara menangkis serangan.


Aksi yang tak terduga, tapi walaupun hanya gerakan dasar, penampilannya memuaskan hati penguji. Gerakan-gerakan penting itu ditunjukkan Zena dengan sempurna, energik, dan tentunya memukau.


"Bukankah itu hanya gerakan dasar dari karate? Kenapa terlihat menakjubkan saat gadis itu yang melakukannya?"


"Kau benar, selama ini kita hanya tau namanya saja tanpa tahu bagaimana cara mempraktekannya. Setelah melihat ini, aku jadi tahu apa itu seiken zuki dan bagaimana cara melakukannya."


"Dia benar-benar hebat."


Berbagai ocehan dari peserta ujian karate yang memuji Zena, membuat panas hati sang ketua karena ia merasa lebih baik dari apa yang dilakukan Zena.


"Biasa saja, semua orang bisa melakukannya, bukan?" cibirnya melirik pada peserta yang lain meminta dukungan.


"Tapi yang diucapkan mereka memang benar, murid baru itu terlihat sempurna dalam mempraktekan kihon (gerakan dasar). Aku saja baru pertama ini melihat ada seseorang mempraktekan itu semua," sahutnya kian memanasi hati sang ketua.


"Jadi kau ingin mengatakan jika dia lebih baik dari pada aku?" hardiknya tak senang. Matanya melotot lebar, geram dan ingin melahap manusia rasanya.


"Oh, astaga! Aku tidak mengatakan itu. Kau sendiri yang mengatakannya." Ia mendengus seraya melengos pergi dari sisinya.


"Sial, awas saja kau, Zena!" ancamnya dengan mata berkilat-kilat.


Zena telah menyelesaikan ujiannya, ia kembali berdiri tegak dan memberi salam sebagai penutup. Penguji itu bertepuk tangan sambil tersenyum mendekati Zena.


"Hebat! Luar biasa! Baru pertama ini ada siswa yang menampilkan kihon dengan sempurna. Kau begitu berani," pujinya bangga dengan bahasa Jepang yang sedikit Zena tahu.


"Terima kasih, Master!" sambut Zena dengan bahasa yang sama pula.


"Izin pergi, Master. Aku mau mengikuti ujian Wushu," ucap Zena berpamitan.


"Kau juga mengerti Wushu?" tanyanya semakin takjub dengan gadis di depannya itu.


Zena menggaruk tengkuknya sambil meringis. Mencari jawaban yang tepat agar dapat diizinkan.


"Tidak juga, Master. Aku hanya ingin mencoba yang pernah aku pelajari saat kecil dulu," jawabnya sambil tersenyum jenaka memikat hatinya.


"Oh, baiklah. Silahkan! Seorang Suhu telah menunggumu," ucapnya mempersilahkan Zena ke tempat ujian Wushu.


Gadis itu berjalan pelan, tempat yang ditujunya itu menarik perhatian semua orang. Tak ada siswa yang menjalani ujian beladiri sampai dua jenis. Setiap siswa hanya bisa memilih satu saja dari beberapa jenis beladiri, tapi yang dilakukan Zena benar-benar sesuatu yang berbeda.


"Mungkin di sekolahnya dulu, dia mengikuti berbagai jenis beladiri," celetuk salah satu siswa yang dibenarkan yang lain.


Beruntunglah Zena yang mendaftar sebagai siswa pindahan, jadi orang-orang memberikan spekulasi yang masuk akal. Namun, tidak untuk seseorang yang sudah mulai menyadari tingkah laku Zena.


"Hei, Nak. Kau mau ke mana?" tanya Suhu yang menangani ujian Wushu.


"Maaf, Suhu. Aku ingin mengikuti ujian ini, apa boleh aku melakukannya?" tanya Zena berharap.


Penguji laki-laki itu tersenyum hangat, ia bangga dalam hatinya karena ada seorang siswa yang antusias dalam olahraga beladiri Wushu. Setelah beberapa siswa melewati ujian, tak satupun dari mereka yang memuaskan hatinya.


"Sebenarnya hanya satu cabang saja yang boleh diikuti setiap siswa, tapi tahun ini ada kebijakan lain siswa boleh melakukan dua jenis beladiri. Tidak lebih," ucapnya yang membuat Zena terdiam.


"Dua saja? Itu artinya tidak boleh ketiganya?" Zena mengernyitkan dahi bingung. Ia tidak tahu peraturan tentang ujian beladiri ini.


"Bagaimana? Kau mau Wushu atau yang di sana?" Penguji itu menunjuk bagian taekwondo yang pesertanya bahkan lebih banyak dari pada Wushu.


"Aku di sini saja, Suhu." Zena memutuskan.


Laki-laki itu mengangguk, senyum yang diukirnya teramat ramah. Zena senang melihatnya.


"Baiklah, tinggal satu peserta lagi saja. Setelah ini giliranmu. Bersiaplah!" ucapnya yang diangguki Zena dengan semangat.


Ia memperhatikan seorang siswa perempuan yang sedang memainkan sebuah pedang di tangan. Gerakannya gemulai, tapi mematikan. Dia nampak lincah dan gesit, melompat dengan lembut dan mendarat cukup kuat hingga menerbangkan debu-debu di sekitar tempatnya berpijak.


"Permainan pedangnya sangat indah. Mmm ... maaf, Suhu. Apa boleh mengunakan senjata?" tanya Zena lagi setelah mengamati satu per satu peserta ujian Wushu.


"Tentu saja, hampir semua siswa mengayunkannya. Padahal, Wushu tak hanya tentang pedang dan senjata lainnya. Apa yang ingin kau tampilkan? Apa kau juga akan menggunakan senjata?" ujar Suhu tersebut sambil melirik ke arah Zena.


"Tidak, aku tidak terlalu pandai menggunakan senjata," katanya berbohong. Matanya bergulir saat manik Suhu di sampingnya menilik lebih lekat.


"Aku dapat melihat potensi besar dalam tubuhmu. Jika dilatih secara rutin kau pasti bisa jadi lebih baik dariku," ucapnya memuji.


Kau tidak tahu saja, dia bahkan sudah lebih ahli dari pada dirimu.


Chendrik yang tak sengaja mendengar, bergumam dalam hati menimpali ucapan Suhu tadi. Tiba giliran Zena, semua mata terfokus pada sosoknya. Ia melangkah dengan pelan, sebelumnya ia juga pernah melakukan itu bersama Cheo di sebuah acara yang diadakan sekelompok manusia yang selalu berpindah-pindah.


"Dia tidak membawa senjata? Tidak seperti yang lain?"


"Apa yang bisa diperagakan dalam Wushu tanpa pedang?"


"Aku penasaran apa yang akan dia tampilan."


Sahut menyahut suara orang-orang yang menonton. Adhikari dan Cana mematri pandangan pada sosok jelita di tengah lapangan itu.


Kali ini kejutan apa yang akan kau tunjukkan, Zena?


Chendrik bergumam.


Aku semakin jatuh cinta pada sosoknya.


Sebastian ikut menimpali dalam hati.


Zena memberi salam kepada penguji, kepada penonton sebelum mengambil persiapan. Kedua kaki terbuka tak lebih dari lebar bahunya. Ia memejamkan mata, meletakkan tangan di bawah perut, melakukan pernapasan.


"Tai chi? Menarik." Suhu itu tersenyum melihat Zena yang mulai memusatkan segalanya pada kedua kaki.


Tai chi tak hanya mengandalkan kekuatan gerakan, tapi juga fokus yang bagus. Zena mulai melakukan gerakan, tak peduli pada suara riuh di sekitarnya. Yang ia tahu, tai chi harus bisa menselaraskan antara gerakan dan pikiran.


Ia bergerak lambat, tapi setiap serangan amat mematikan. Zena mengangkat pandangan, tersenyum tajam pada Suhu dan semua orang. Tangannya bergerak dengan gemulai, tetap di posisinya berdiri. Tak tergoyahkan. Satu yang harus dilakukan dalam tai chi adalah, 'mengakar'. Dan Zena melakukannya dengan sempurna tanpa cacat.


Terakhir ia memberi salam, sikapnya setenang air mengalir. Melihat itu, mereka sadar bahwa Wushu tak melulu soal pedang. Ada gerakan lain yang tak kalah lebih indah daripada bermain pedang.


Suara gemuruh tepuk tangan mengiringi langkah Zena dari lapangan tersebut. Ketiga penguji bahkan berdiri sambil bertepuk tangan sebagai bentuk penghargaan untuknya.


Chendrik terperangah, ia tak dapat menahan diri. Berlari menyambut Zena dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Chendrik membawanya berputar, tak peduli pada tatapan aneh semua orang.


"Turunkan aku!"