
Kabut tipis menyelimuti jalanan disaat Zena tiba di jalan utama kota Elang. Lalu-lalang kendaraan, hiruk-pikuk manusia, dan kebisingan mesin-mesin industri hal yang biasa di kota besar tersebut.
Zena tersenyum, menatap lurus ke depan. Pada jalanan yang dipenuhi kendaraan. Sepagi buta itu, kemacetan telah mengekor hingga puluhan meter panjangnya. Cheo menyalakan musik, hanya untuk mengusir penat sambil menunggu kemacetan terurai.
"Kakak, apa benar kita akan pulang ke pulau?" tanya Cheo.
Wajahnya berbinar senang disaat mendengar mereka akan singgah di pulau terlebih dahulu sebelum melanjutkan pencarian.
"Benar, Kakak ingin menjenguk Tuma dan Belle. Semoga mereka berdua baik-baik saja," jawab Zena.
Kepalanya menoleh pada Cheo dengan senyum tersemat di wajah. Perasaan lega memenuhi hatinya karena semua permasalahan telah selesai dengan baik. Dalang dibalik semua kekacauan telah ditahan markas besar termasuk para pengkhianat. Biarlah markas yang menangani mereka.
"Bukankah kita akan menyeberang? Bagaimana dengan mobil ini nantinya?" Cheo menatap jok mobil yang ia duduki.
Pandangannya meluas ke atap dan ke segala apa yang dapat dilihatnya. Wajahnya sendu, sangat disayangkan jika mobil itu ditunda begitu saja.
"Kita akan membawanya menyeberang. Lagipula di dalamnya ada Tigris, kita tidak bisa meninggalkan mobil ini. Mulai sekarang ini adalah rumah kita, Cheo," jawab Zena menjelaskan.
Cheo yang bingung mantap Zena penasaran. Gadis itu terkekeh, ia tak lagi berucap disaat jalanan mulai longgar.
"Kau akan melihatnya sendiri nanti," katanya penuh misteri.
Jarak dari mansion dan pelabuhan cukup jauh, perlu menempuh waktu setengah hari lamanya untuk tiba di sana. Wajah Cheo berubah takjub saat melihat kapal-kapal besar terapung di lautan.
"Besar sekali!" pekiknya tanpa berkedip.
"Kita akan membawa masuk van ini ke dalam kapal itu." Zena menunjuk salah satu kapal yang akan mereka naiki.
Bocah sepuluh tahun itu terlihat antusias tak sabar ingin segera menaiki kendaraan raksasa tersebut. Mobil yang mereka bawa masuk dan berkumpul bersama kendaraan lainnya. Zena dan Cheo beralih tempat duduk ke badan mobil berkumpul bersama Tigris.
"Kau di sini saja, mereka semua akan ketakutan saat melihatmu nanti," ucap Zena pada Tigris yang berdiam di kandangnya.
Hewan besar itu menggeram sebagai jawaban atas permintaan Zena. Keduanya beranjak, menuruni mobil mereka.
"Kau mau naik? Di atas sana kau akan melihat pemandangan yang sangat indah," ajak Zena seraya merangkul bahu Cheo dan mengajaknya untuk naik ke atas.
Angin kencang menerpa tubuh mereka disaat baru saja muncul ke permukaan. Cheo dibuat takjub dengan pemandangan laut yang luas.
"Kenapa saat kita pergi dari pulau tidak ada kapal besar ini, Kak?" tanya Cheo.
"Kapal ini masuk ke kota Elang baru-baru ini," jawab Zena.
Mereka berdiri di geladak menatap laut luas tak terbatas. Membiarkan angin menerpa wajah mereka, aroma suasana pulau sudah tercium. Segar dan menyegarkan paru-paru keduanya.
"Aku rindu aroma hutan belakang bukit." Cheo bergumam sambil memejamkan mata. Kapal yang mereka naiki tidak singgah di dua pulau sebelumnya. Kapal itu terus maju dan berhenti di pelabuhan pulau Liman.
"Sepertinya pulau kita sudah modern. Aku sedikit cemas, kuharap bukit hijau dan rumah kita masih ada tidak ada siapapun yang mengganggu." Zena ikut bergumam memikirkan tentang rumah yang ia tinggalkan.
Cheo mengangguk betapa dia mengerti perasaan Zena saat ini. Hanya mampu berharap dalam hati semoga tempat yang akan mereka kunjungi belum tergerus kemodernan.
Selama sehari semalam mereka terapung di lautan, siang itu kapal yang mereka tumpangi berhenti di pelabuhan pulau Liman. Sebuah dermaga modern menyambut mata keduanya, lagi-lagi Cheo dibuat takjub. Kali ini Zena setuju.
Keduanya masuk ke dalam van mengantri untuk keluar.
"Kuharap kita tidak lupa jalan pulang," ucap Cheo antusias.
Lihat puncak bukit hijau di sana, lembayung akan menyinari puncak tersebut. Ke sanalah mereka akan pulang.
"Rumah. Aku rindu." Cheo membuka kaca mobil. Menyapa setiap warga yang mereka lintasi dengan ramah.
Kehidupan di pulau Liman memang sudah banyak berubah, tapi tidak dengan penduduknya. Mereka masih menanam sayur dan buah di ladang-ladang. Sangat jelas terlihat dari jalanan yang sedang mereka lintasi saat ini.
Pandangan Zena tertuju pada satu arah, perkebunan jeruk dan tomat milik pak Karim. Yang tak lain adalah ayah Ciul. Dalam hati berharap laki-laki itu ada di sana, membantu ayahnya berladang sehingga ia tak perlu lagi jauh-jauh mencari.
"Kakak, kita akan tiba di rumah. Kira-kira seperti apa sekarang keadaannya?" Cheo menghela napas.
Rimbun semak belukar menjadi tanda rumah mereka telah dekat. Zena tersentuh saat melihat sebuah tulisan yang melarang penggarapan lahan tersebut termasuk bukit hijau di sana. Penduduk di pulau Liman masih sangat menghormati kedua orang tuanya.
Mobil tersebut ia parkir di jalanan karena untuk menerobos semak rasanya tidak mungkin. Zena dan Cheo berniat membuka jalan agar benda tersebut dapat masuk hingga ke halaman rumahnya.
Keduanya bahu membahu memberantas semak belukar, pepohonan tinggi menjulang yang menutupi rumah mereka sebagian telah rapuh dimakan usia. Jalan terbuka sampai di kaki bukit hijau. Zena kembali ke mobil membawa masuk benda itu, sementara Cheo termangu di depan pintu rumah mereka.
Rumah yang hanya terbuat dari papan kayu itu telah keropos, sebagian ada yang roboh bahkan atapnya telah hancur. Ia menghela napas, rumah yang dia rindukan sudah tak dapat ditempati lagi.
"Rumah kita sudah hancur, Kak," adunya disaat Zena berdiri di samping.
Gadis itu menghela napas, masih banyak barang-barang peninggalan orang tuanya di dalam rumah tersebut. Ia menatap nanar rumah sederhana, tapi menyimpan berjuta kenangan indah bersama kedua orang tua.
"Kau tunggu saja di sini, Kakak hanya ingin mengambil barang-barang yang tertinggal di dalam," pinta Zena sebelum perlahan melangkah menapaki papan kayu rumahnya.
Benar-benar menyedihkan, rumah itu tak dapat lagi dipertahankan. Letaknya yang tersembunyi dan tak ada warga yang tahu, selain Ciul, membuatnya tak terjamah.
Zena menyingkirkan puing-puing kayu yang menghalangi jalannya, masuk ke dalam kamar orang tua dan memeriksa setiap benda berharga peninggalan mereka, termasuk seragam Elang Putih dan berbagai peralatan mata-mata yang selama ini tak Zena ketahui.
Buru-buru dia mengambil semua, membungkusnya dan membawa benda-benda itu keluar rumah. Ia berhenti melangkah saat melintasi ruang tengah tempat mereka sering berkumpul. Matanya awas melirik sebuah pigura besar yang terpasang miring di dinding rumah.
Zena mengambilnya, mengusap wajah-wajah dalam gambar tersebut dengan penuh kerinduan. Tak ingin berlama-lama, Zena keluar rumah dan memasukkan semua barang itu ke dalam van. Ia yakin suatu saat benda itu pasti akan berguna.
"Cheo, bantu Kakak memetik bunga," pintanya sambil memetik bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitar bukit.
"Untuk apa, Kak?" Tak urung tangannya ikut memetik setiap bunga yang ia jumpai.
"Kakak ingin mengunjungi kedua orang tua Kakak," katanya sedikit lirih.
Zena mengajak Cheo memutari bukit hijau, makam keduanya berada sedikit jauh dari rumah karena dibantu warga sekitar saat pemakaman.
Zena kembali terhenyak ketika melihat sebuah bangunan yang mengurung makam keduanya. Di atas pintu bangunan itu tertulis kata-kata yang membuat Zena terharu.
Makam sang pahlawan.
Faris Bazleen dan istri.
Ia yang awalnya ragu, seketika tersenyum. Membuka pintu tersebut dengan pelan dan hati-hati. Sebuah bangunan yang bersih dan rapi, sangat terawat. Tanpa sadar air matanya menetes, di depan sana dua makam berjejer sangat indah. Zena menjatuhkan diri di antara keduanya, menangis pilu.
"Zena!"