Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Anak-anak dari Desa Hulu



Zena membawa kelima anak itu berlari ke mobilnya, tak dinyana, mobil Zena sedang dikelilingi oleh orang-orang asing yang membawa senjata tajam. Kakinya berhenti melangkah, menarik semua anak untuk bersembunyi dibalik sebuah batu besar.


"Dengarkan Kakak, kalian tetap bersembunyi di sini. Di mobil itu ada adik Kakak sendirian, Kakak harus menolongnya. Kalian mau berdiam sejenak di sini? Kakak janji tidak akan lama," bisik Zena.


Keempat anak yang sadarkan diri itu saling menatap satu sama lain. Mereka melirik anak yang masih tak sadarkan diri di pangkuan Zena. Ribuan pertanyaan jelas tergambar di wajah polos mereka. Ketakutan yang merajai hati membuat tubuh mereka bergetar hebat. Kedua tungkai terasa lemas, tak mampu untuk digerakkan.


"Jaga teman kalian, jangan sampai ditinggalkan!" titah Zena lagi sebelum beranjak mengendap keluar dari batu.


Zena mengeluarkan belati dari sakunya, berdiri tegak menantang kelompok asing yang mengepung Cheo. Bocah itu terlihat panik, dia berdiri di atap van sambil memegang nunchaku bersiap menyerang.


Cheo melirik Zena, senyumnya mekar sempurna. Dia mengangkat samurai Zena dan melempar benda itu ke arah pemiliknya. Yang dilakukan Cheo menarik perhatian penjahat itu, sontak mereka menoleh dan tersenyum sinis mendapati seorang gadis cantik. Mereka masih dapat melihat dengan jelas wajah Zena meskipun kepalanya tertutup hoodie.


"Siapa kalian?" Suara Zena memecah kesunyian malam.


Seorang laki-laki bertubuh kekar dengan gaya paling mencolok melangkah ke depan. Ia menyampirkan golok di tangannya ke atas bahu, bibir hitam itu tersenyum mesum bahkan dia terlihat menjilatinya berulang kali.


"Gadis yang cantik, dia akan menghibur kita semalaman," katanya seraya tertawa terbahak-bahak disambut kawanannya.


"Oh, kalian ingin bermain?" Zena menggerakkan samurai di tangan.


Kaki jenjangnya mulai berayun pelan, ujung samurai dia biarkan menggesek tanah. Membentuk sebuah garis lurus yang terus memanjang. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyum tajam yang mengancam.


Kelompok orang itu mulai mengelilingi Zena, masih ada sisa tawa yang mereka perdengarkan.


"Kutanya sekali lagi, siapa kalian?" Suara Zena kembali menggema.


"Umh ... suaramu seksi sekali. Bibirmu itu pasti rasanya manis dan gurih. Ayolah, sayang. Cukup bermain-mainnya. Kita mulai saja seka-"


"Ahk!"


Laki-laki bermulut besar itu tak mampu melanjutkan kalimatnya, semua berakhir saat samurai Zena berayun menebas lehernya. Kepala itu jatuh tak jauh dari tubuhnya. Kejadian yang begitu cepat, gerakan yang tak terlihat sehingga membuat mereka lengah dan tak menyadari serangan Zena yang mematikan.


"Aku muak mendengar mulut lancang yang banyak bicara," geram Zena sembari mengayunkan samurai menebas yang lainnya. Pertarungan pun tak terelakan.


Melihat keasyikan Zena, Cheo melompat dan bergabung. Saling memunggungi, saling melindungi, menyerang dan melindungi secara bersamaan. Dua buah senjata berbeda, tapi sama-sama mematikan. Ayunan nunchaku Cheo, amat kuat dan keras. Sekali mengayun, kepala mereka terasa pecah.


Darah mengucur deras dari batok kepala, luka yang serius dan tebasan kedua merenggut nyawanya tanpa ampun. Bahu membahu Cheo dan Zena menghabisi mereka satu per satu. Tak peduli apakah mereka musuh ataukah hanya sebuah kelompok asing yang iseng saja. Tetap saja mereka telah mengusik dan mengganggu ketenangan Zena.


Musuh terakhir, Zena melemparnya kepada Cheo, bocah itu melakukan salto udara sambil mengayunkan nunchaku menghantam kepala musuh. Tubuh itu jatuh berdebam dan tak lagi berkutik.


"Di mana Tigris?" Zena cepat bertanya disaat hanya melihat Cheo seorang diri.


Suara Tigris menyambut dari dalam hutan, hewan besar itu berlari secepat mungkin. Melompat dan mendarat tepat di hadapan Zena. Dari bekas darah yang tersisa di mulutnya, Zena tahu Tigris baru saja pergi berburu mencari makanannya. Ia merasa lega.


Zena berbalik menatap sebuah batu besar tempat semua anak yang dia selamatkan bersembunyi.


"Tunggu di sini!"


Gadis itu berlari mendekati batu tersebut, tersenyum lega saat mendapati mereka yang masih meringkuk duduk di sana. Gegas Zena menggendong salah satu anak yang masih tak sadarkan diri seraya mengajak semua anak untuk ikut bersamanya.


"Hei, ada apa? Tidak apa-apa, dia temanku. Namanya Tigris, dia tidak akan menggigit kalian. Ayo, Kakak kenalkan kalian pada mereka," ucap Zena ikut menjeda langkah saat semua berhenti karena terkejut dan takut melihat hewan besar itu.


Cheo masuk ke dalam mobil dan kembali dengan sebuah tikar yang langsung dibentangkannya untuk mereka duduki. Zena membaringkan anak yang pingsan di atas tikar tersebut.


Bocah itu langsung melaksanakannya, Zena mengajak mereka untuk duduk di atas tikar tersebut, sedangkan Tigris kembali masuk ke kandangnya. Cheo datang membawa berbagai macam makanan juga minuman untuk mereka. Memberikannya satu per satu pada masing-masing anak.


Zena menerima satu botol minuman, menumpahkan sedikit airnya ke tangan dan mengusapkan air tersebut ke wajah anak yang tak sadarkan diri. Berulang kali, Zena juga membaluri tubuh anak itu dengan air. Beruntung, ia tidak terluka. Mungkin hanya tak mampu menahan hawa panas dari api menyebabkannya tak sadarkan diri.


Anak itu melenguh, sebelum mengaduh kesakitan.


"Ibu, sakit! Panas!" racaunya dengan mata tertutup rapat.


"Hei, bangunlah!" Zena mengusapkan air ke wajahnya lagi. Mata anak itu terbuka perlahan, pandangannya memburam dan Zena kembali mengusap wajah itu dengan air.


"Si-siapa kau?" Anak itu beringsut mundur saat melihat Zena.


"Hei, Barry, kau sudah bangun?" Suara anak lain yang menyebut namanya, membuat kepala itu menoleh. Terlihat bingung dengan keadaannya sekarang.


"Kakak ini baik, dia yang telah menyelamatkan kita semua," katanya lagi sambil memberikan makanan juga minuman yang tadi dibawa Cheo.


Anak itu menerima dengan ragu, tapi tak urung juga memakannya. Zena tersenyum, ia tatap satu per satu wajah anak-anak itu. Lalu, pandangnya jatuh kepada Cheo.


"Ini Cheo, anakku. Usianya mungkin sama seperti kalian. Oya, kalian dari mana dan kenapa bisa ada di dalam box tersebut?" tanya Zena ketika teringat kedatangan mereka yang terasa janggal. Jika ia tak salah menebak, anak-anak itu adalah korban penculikan.


Mendengar pertanyaan Zena, anak-anak itu menghentikan makannya. Menunduk dan saling menatap satu sama lain sebelum memandang ka arah Zena. Kesedihan, kesengsaraan, dan juga penderitaan, semua jelas terlihat di mata mereka.


Semua anak itu tertegun untuk beberapa saat lamanya. Tak ada yang menyahut, pancaran rasa takut jelas terlihat di mata kecil mereka. Trauma, itulah yang dapat ditangkap Zena dari raut wajah mereka.


"Mungkin kami bisa mengantar kalian pulang. Jangan takut, kami bukan orang jahat," ucap Zena lagi sambil tersenyum.


Satu anak menunjuk pada kumpulan mayat yang sedikit jauh dari tempat mereka duduk. Zena melirik dan mengerti.


"Mereka menyerang kami, terpaksa kami melakukan itu untuk melindungi diri sendiri. Jika saja mereka tidak mengganggu, maka kami tak akan melakukan hal seperti itu. Kalian mengerti?"


Anak-anak itu mengangguk lemah, pandanganya masih lurus menatap Zena. Pandangan yang sulit diartikan, tapi Zena tetap sabar. Ia harus tahu dari mana asal mereka dan apa sebabnya sehingga mereka terjebak di dalam box mobil tersebut.


"Sebenarnya ada dua mobil box tadi di jalan, aku melihatnya. Box itu berisi anak perempuan, sedangkan anak laki-laki ada di dalam box yang terbakar itu." Seorang anak bercerita sambil mengingat-ingat kejadian semula.


"Kalian diculik?" tebak Zena.


Mereka mengangguk pasrah.


"Pagi tadi kami sedang bermain di lapangan, tiba-tiba sekelompok orang menculik kami. Sebagian dari kami berhasil lari dan kembali ke rumah. Kakak, tolong antar kami pulang. Orang tua kami pasti cemas," pintanya sambil menangis.


Diikuti anak yang lain merengek memohon kepada Zena. Benar dugaannya, mereka diculik.


"Baik, dari mana kalian berasal?" Zena bertekad mengantar mereka semua.


"Desa Hulu."


Gadis itu menegang, tapi tak lama saat Cheo berbisik.


"Ada yang datang!"