Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Ibu?



"Paman, apa Paman tahu di mana Desa Hulu?" tanya Zena setelah mereka kembali ke rumah.


Adhikari yang sedang membaca surat kabar menurunkan benda tersebut dari hadapannya. Ia menatap Zena lekat, ada gurat keheranan yang tercetak di wajahnya.


"Desa Hulu? Sepertinya Paman pernah mendengarnya, tapi samar-samar saja. Jika kau ingin tahu, kau bisa tanyakan itu pada Chendrik. Mungkin saja dia tahu mengingat sebelum menjadi pemimpin dia telah menyelesaikan misi di berbagai daerah," jawab Adhikari yang tak pernah meninggalkan kota Elang kecuali saat penyelamatan Ayah Zena dulu.


"Chendrik? Aku sedang kesal padanya, Paman. Hari ini dia membuatku malu. Kenapa dia melakukan itu? Memalukan saja!" sungut Zena dengan bibir yang mengerucut panjang.


Adhikari terkekeh, merasa lucu sendiri dengan sikap Zena. Kehadiran anak sahabatnya itu menjadikan rumah besarnya lebih hidup, keduanya serasa menjadi orang tua yang sesungguhnya. Ketakutan saat ia sendirian di luar sana, kecemasan, kekhawatiran ketika anak gadisnya pulang telat, semua itu ia rasakan dengan perasaan penuh haru.


"Kau bilang ingin tahu tentang desa Hulu? Sepertinya hanya Chendrik yang tahu tentang keberadaan desa itu," katanya lagi memberitahu.


Zena merenung, ia merebahkan diri di atas sofa yang berhadapan dengan laki-laki tua itu. Adhikari tersenyum tipis melihat tingkah kekanakan Zena yang menggemaskan. Kedua kakinya berayun-ayun menjuntai ke lantai.


"Mmm ... baiklah, demi temanku aku akan pergi menemuinya," katanya memutuskan, menurunkan gengsi karena rasa penasarannya terhadap desa Hulu yang dimaksud Ben.


"Janganlah bersikap tak acuh pada perasaannya, suatu saat ketika kau menyadari perasaanmu sendiri, mungkin semuanya akan terlambat," sambar Cana yang datang dengan nampan berisi makanan ringan yang ia buat sendiri.


Zena mendongak bingung, wanita itu tersenyum saat bertatapan dengannya.


"Kenapa?" Zena beranjak duduk saat Cana mengangkat kepalanya. Mereka seperti Ibu dan anak.


"Kau tidak menyisir rambutmu?" tanya Cana sambil menyisir rambut Zena menggunakan jari.


Gadis itu menoleh sambil tersenyum menggemaskan, menggeleng pelan.


"Malas," katanya.


Cana terkekeh, ia mengambil sisir dari sebuah laci dan mulai menyisir rambut panjang Zena. Gadis itu memejamkan mata, menikmati belaian seorang Ibu.


Mungkin akan seperti ini jika Ibu masih ada, tapi tak apa. Ibu Cana sangat baik kepadaku, dia menyayangiku seperti anaknya sendiri. Oh, Ibu ... bolehkah aku memanggilnya Ibu? Ayah, bisakah aku memanggil Paman dengan sebutan Ayah?


Zena menengadah, meneguk ludahnya sendiri. Belaian Cana benar-benar membuatnya hanyut. Ia tak ingin sentuhan itu cepat berakhir. Entah diapakan rambutnya itu, teringat akan pesta ia ingin membicarakannya dengan mereka.


"Mmm ... Ibu ... eh, Bibi-"


"Ibu saja, rasanya ... umh, luar biasa. Tak apa, bukan?" Cana menyela ucapan Zena yang tanpa sadar.


Gadis itu menoleh dengan cepat, matanya berkedip-kedip lucu.


"Bolehkah?" tanyanya berbinar. Adhikari tersenyum sepanjang penglihatannya tertuju pada dua wanita itu.


"Tentu saja, kenapa tidak? Panggil saja Ibu jika kau tidak keberatan," sahutnya sambil tersenyum.


"Mmm ... baiklah. Ibu, seperti apa pesta para bangsawan itu?" tanya Zena kembali berbalik memunggungi Cana.


Adhikari menyusut air yang tiba-tiba menggenang di sudut mata. Rasa haru tak dapat dibendungnya, adanya Zena benar-benar membuat hidup mereka berarti.


"Maksudmu pesta sekolah itu?"


Zena menganggukkan kepala sebelum menjawab, "Iya, mereka bilang temanya adalah pesta para bangsawan."


Cana menyampirkan rambut panjang Zena yang dikepangnya ke depan. Seumur hidup, Zena tak pernah melakukan itu pada rambutnya. Ia terpukau, dielusnya rambut itu sambil tersenyum senang.


"Cantik, bagaimana Ibu melakukannya? Aku suka," katanya menatap Cana dengan senyum bahagia.


"Kalau kau suka, Ibu akan dengan senang hati melakukanya untukmu. Umh ... masalah pesta bangsawan, biasanya selalu disertai dansa juga minuman beralkohol. Jangan sekali-kali kau menenggaknya karena itu memabukkan," ucap Cana memberitahu.


"Aku tahu, Ibu. Aku akan mengisi perut dulu sebelum berangkat agar tidak tertarik pada makanan di sana," ucapnya lugu.


"Seperti apa itu dansa?"


"Kau ingin tahu?" Zena mengangguk saat Adhikari bertanya.


Dokter sepuh itu mengambil remote menyalakan televisi dan mencari Chanel yang menyiarkan acara pesta dansa.


"Lihat, seperti itulah dansa. Banyak cara dalam berdansa, tapi umumnya yang seperti itu." Adhikari memperlihatkan kepada Zena tarian dansa.


"Eh, apa harus sedekat itu?"


"Tentu saja!"


Suara bel rumah berbunyi menyita obrolan mereka. Cana beranjak seraya melangkah ke depan membukakan pintu.


"Jenderal? Ada apa?" tanya Cana saat melihat Sebastian berdiri di depan rumahnya.


"Mmm ... hallo, Nyonya. Saya mencari Zena, Bocah itu mengatakan jika dia ada di sini ... Bukan apa-apa, aku hanya merasa cemas karena sudah beberapa hari dia tidak pulang ke mansion Kakak," cerocos Sebastian menjelaskan kedatanganya.


Cana termangu sejenak sebelum membukakan pintu lebih lebar lagi.


"Mari, Jenderal. Dia ada di dalam," ucapnya mempersilahkan Sebastian untuk memasuki rumah.


"Terima kasih." Keduanya melangkah masuk menghampiri Zena dan Adhikari yang masih mengobrol soal pesta dansa.


"Selamat sore, Master!" sapa Sebastian.


"Oh, Jenderal. Duduklah!"


"Bas! Kebetulan. Antar aku menemui Chendrik. Ada yang ingin aku tanyakan padanya sekalian saja kau ikut bersamaku untuk membahas kasus baru yang aku dengar," pinta Zena.


Gadis itu tidak peduli pada tatapan penuh kekaguman dari laki-laki itu. Zena terlihat berbeda dengan rambut kepangnya yang dibiarkan menjuntai di bahu kiri. Ia menarik tangan Sebastian kembali keluar untuk segera menemui Chendrik.


"Eh, sayang, mau ke mana?" Cana memanggil. Ia membawakan Sebastian minuman, tapi laki-laki itu telah pergi bahkan sebelum sempat mendaratkan bokong di sofa itu.


"Sudah, biarkan. Mereka akan ke mansion Chendrik," sela Adhikari seraya menyambar gelas minuman yang dibawa Cana untuk Sebastian.


"Mmm ... Zena, aku ingin mengajakmu makan malam di luar. Kau bersedia?" tanya Sebastian sambil mencuri pandang pada gadis di sampingnya.


Sore itu Zena mengenakan jeans panjang dengan kaos polos berwarna Lilac serasi dengan ikat rambut yang menempel pada rambutnya.


"Mmm ... boleh, aku akan mengabari Ibu jika akan makan malam di luar," ucapnya secara langsung menerima ajakan Sebastian tanpa tahu menahu tujuan laki-laki itu.


Sebastian mengulum senyum, ia melempar wajah ke jendela menyembunyikan rasa bahagianya dari Zena.


"Yes!" desisnya pelan. Ia berdehem dan kembali menormalkan sikapnya.


"Oya, untuk apa kau ingin bertemu Chendrik? Masalah baru?" tanya Sebastian kepo.


"Yah, ada masalah baru di suatu tempat, tapi aku tidak tahu di mana persisnya tempat itu." Zena menghela napas, teringat wajah gelisah Ben saat menceritakan perihal saudaranya yang tinggal di desa Hulu.


"Boleh aku tahu?"


"Desa Hulu, di sana sedang terjadi masalah," sahut Zena lirih, terdengar cemas dan panik Sebastian menebak masalah yang terjadi tidaklah main-main.


"Baiklah, ceritakan selengkapnya setelah kita berada dalam satu ruang yang sama!" Zena mengangguk.