Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Di Mana Zena!



Chendrik berjalan memutari area pesta, memindai manusia-manusia yang mencuri perhatiannya. Berkeliling ke segala tempat, menelusuri aula yang berdekatan dengan lapangan.


Banyak muda-mudi yang sedang memadu kasih di tempat-tempat sepi dan jarang dikunjungi. Termasuk teman Zena. Chendrik tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia sempat cemburu berlebih pada remaja itu karena dia pikir Ben menyukai Zena.


Perjalanan terus berlanjut, ia juga melihat Black Shadow berjalan seorang diri ke lorong sekolah yang sepi. Mengingat cerita Zena, tempat laki-laki itu adalah di atas atap.


"Kesempatan untuk aku tahu siapa kau sebenarnya?" gumam Chendrik yang diam-diam mengikuti. Ia bersembunyi di balik pilar sekolah menghindari kecurigaan.


"Mau ke mana dia?" Dahi Chendrik mengernyit saat laki-laki misterius itu justru berbelok ke parkiran. Tak berhenti sampai di sana, Chendrik terus mengikuti.


"Kau ingin pergi, tapi ke mana?" Chendrik bergumam.


"Bas, bisa kau ikut mobil laki-laki itu? Target kita pergi!" pinta Chendrik pada adiknya.


"Baik, Kak!" Sebastian menjawab seraya keluar dari area pesta dan diam-diam memakai mobil Ben yang dibukanya secara paksa.


"Kau mencuri mobil anak itu, Bas!" Chendrik tersenyum melihat keahlian lain dari adiknya itu.


"Untuk menghindari kecurigaan, Kak. Katakan saja padanya, aku meminjam." Sebastian melaju tanpa menggunakan kunci. Dia ahli memodifikasi kendaraan jenis apapun.


Sementara Sebastian mengikuti, Chendrik kembali ke dalam pesta. Mengawasi jalannya acara yang diisi oleh anak-anak remaja itu.


"Mata 005 awasi Laila! Sebastian dalam misi keluar!" titah Chendrik.


"Baik, Master!"


Chendrik terus melanjutkan langkah, tapi terhenti saat sebuah suara menyeruak ke dalam rungunya.


"Master, Mata 002 tertangkap!" lapor salah satu mata-mata yang ditempatkan Chendrik di bagian dapur. Ia tak menemukan rekannya yang berjaga di bagian minuman.


"Kenapa kalian lengah? Tetap waspada, jangan lengah!" perintahnya dengan tegas.


"Sial! Kenapa bisa lengah?" Ia mengumpat.


Langkah kaki laki-laki itu bahkan semakin cepat memasuki area pesta. Ia mencari sosok Zena, menatapi setiap wajah gadis yang terlibat dalam pesta.


"Sial! Di mana gadis itu?" umpatnya sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Ayah, apa yang Ayah cari?" tanya Cheo saat melihat Chendrik seperti orang linglung mencari jalan. Ia menggunakan ayahnya untuk dapat lepas dari para wanita yang terus mengelilinginya.


"Zena, kau melihatnya?" tanya Chendrik dengan panik.


"Bukankah Kakak di sana ...!" Cheo berbalik seraya menunjuk tempat Zena duduk bersama temannya yang berkulit hitam.


"Eh? Aku melihatnya beberapa saat lalu di sana bersama temannya yang berkulit hitam," ucap Cheo dengan bingung.


"Kulit hitam?" Cheo mengangguk, keduanya melilau mencari sosok siswa yang berkulit hitam.


"Apakah dia?" Tangan Chendrik menunjuk Sarah yang sedang berbincang dengan Mirah.


"Benar, Ayah. Itu dia."


Keduanya berjalan cepat menghampiri dua teman Zena itu. Mereka terlihat sedang berbincang, membicarakan soal laki-laki sepertinya.


"Maaf, apa kalian melihat Zena?" tanya Chendrik segara setalah tiba di tempat keduanya.


"Zena?" Mirah dan Sarah berjengit bingung.


"Yah, bukankah dia bersamamu tadi?" Chendrik menunjuk pada Sarah. Gadis berkulit hitam itu mengangguk seraya melempar pandangan pada tempat duduknya bersama Zena tadi.


"Benar, itu sebelum gadis lain datang dan berbicara dengannya. Kami duduk di sana," jawab Sarah sambil menunjuk kursi yang ditunjuk Cheo sebelumnya.


"Seorang gadis?" Chendrik dan Cheo terlihat panik. Tak mungkin Zena lengah, bukan?


"Sana! Gadis itu yang datang dan berbicara dengan Zena. Sepertinya mereka berbicara serius tadi, untuk itu aku tinggalkan," ucap Sarah setelah menunjukan keberadaan Arabella yang sedang berbincang dengan guru wanita.


"Bella?"


"Mungkin dia tahu ke mana Kakak, Ayah?" ucap Cheo yang berjalan lebih dulu menemui Arabella.


"Kita juga harus ikut mencarinya, di mana Ben?" Mirah mencari-cari remaja nakal itu. Sejak ia pergi belum lagi melihat batang hidungnya.


"Ayo, kita cari dia!" Keduanya berlari mencari remaja laki-laki itu. Bekerjasama dengan Chendrik untuk mencari Zena.


"Bella?"


"Chendrik? Ada apa?" Gadis itu tersenyum melihat kedatangan sang pemimpin. Ia berpamitan pada guru wanita tersebut untuk menemui keduanya.


"Ada apa?" Bella menangkap raut gelisah di wajah ayah dan anak itu.


"Kau tahu di mana Zena? Temannya yang berkulit hitam mengatakan terakhir kali melihatnya bersamamu," tanya Chendrik menyelidik gadis di hadapannya.


Sebelah alis Arabella terangkat, kerutan di dahinya pun membentuk banyak. Ia nampak bingung dengan pernyataan dari Chendrik.


"Zena?" Ada rasa cemburu membuncah dalam hatinya ketika laki-laki itu menyebut nama gadis yang selama ini ia anggap saingan. Meskipun sudah meminta maaf, tapi tetap saja hatinya merasa sakit karena rasa cemburu itu.


"Yah, kami sempat berbincang tadi, tapi sebelum aku bertemu dengan temanku. Di sana di kursi itu. Kupikir dia masih di sana," ucap Arabella menekan rasa cemburunya. Ia menunjuk kursi yang sama dengan yang ditunjukkan Sarah dan Cheo.


"Astaga! Jadi dia menghilang?"


"Hilang?" beo Arabella mengulangi perkataan Chendrik.


"Jika hilang, maka kita harus mencarinya, tapi bukankah dia selalu bertindak sendiri?" Arabella semakin tidak mengerti dengan situasi yang ada.


Tanpa kata Chendrik meninggalkannya bersama Cheo. "Temukan dia, Bella. Katakan padaku di mana pun posisinya!" perintahnya sambil terus melanjutkan langkah tanpa menoleh.


Arabella mendengus, sikap Chendrik membuatnya terbakar. Dia cemburu. Cheo berbalik, kedua matanya memicing pada mantan petinggi markas itu. Arabella gegas meninggalkan tempatnya, dan ikut mencari keberadaan Zena.


"Cari Zena! Dia tidak ada di mana pun!" Suara bisikan Chendrik memerintah semua mata-mata yang ada di dalam pesta.


"Baik, Master!"


"Ayah, apa mungkin Kakak bertindak sendiri? Kira-kira saat ini di mana Kakak?" tanya Cheo sambil terus berjalan di antara lalu-lalang para siswa.


"Ayah tahu harus ke mana mencarinya!" pekik Chendrik saat teringat sesuatu.


Ia menarik tangan Cheo menyusuri lorong yang sepi. Terus menapaki anak tangga mengarah ke lantai tiga. Atap tujuannya, Zena pernah mengatakan tentang atap dan laki-laki itu.


"Kenapa kita ke atap, Ayah?" tanya Cheo padanya.


"Kita harus mencari petunjuk, Cheo." Chendrik menyusuri tempat tersebut. Ia berlari ke arah tumpukan meja dan kursi yang rusak, mencari-cari tempat yang pernah dikatakan Zena.


Mungkin di sini!


Ia bergumam seraya memasuki sebuah tempat yang membentuk seperti sebuah ruangan.


"Tempat apa ini, Ayah?" Cheo memperhatikan tempat itu. Tak ada pencahayaan kecuali dari sebuah lilin yang hampir padam. Chendrik menyalakan lampu ponselnya, menyoroti setiap tempat itu.


"Zena! Apa kau di sini?" Suara Mirah, Ben, dan Sarah menggema di atap tersebut. Setelah berdiskusi dan memberanikan diri untuk naik ke atap, mereka memutuskan mencari Zena di tempat tersebut.


"Panggil mereka, kita butuh cahaya lebih terang!" titah Chendrik.


Cheo keluar dan memanggil mereka semua, meminta ketiga teman Zena itu untuk ikut masuk menyoroti ruangan tersebut. Semua mata membelalak ketika tempat tersebut sudah menjadi lebih terang.