Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Hampir Saja



"Ada yang datang," bisik Cheo nyaris tak terdengar.


Zena tertegun, menajamkan indera rungunya demi dapat mendengar dengan jelas suara-suara yang datang.


"Bawa mereka semua masuk ke dalam mobil, Cheo. Tutup pintunya, dan biarkan Tigris yang menjaga mereka," titah Zena seraya beranjak.


Dia merayap ke atas atap untuk melihat di kejauhan, sedangkan Cheo membawa masuk semua anak ke dalam van tersebut.


"Diamlah, di sini. Jangan membuat keributan, cukup duduk dengan tenang. Semuanya akan baik-baik aja," ucap Cheo sebelum menutup pintu mobil dan menguncinya.


Tigris sigap berjaga sesuai yang diperintahkan Zena. Sementara mereka berdua menuju lokasi terjunnya mobil box tadi. Sayup-sayup terdengar suara banyak orang di lokasi kejadian.


"Semua anak di dalam box menghilang, hanya ada dua orang dalam kondisi hangus terbakar."


Seseorang berbicara lewat sambungan telepon. Sekitar lima belas orang berseragam resmi menyelidiki tempat itu. Zena dan Cheo bersembunyi di balik sebuah pohon yang tak disinari lampu mobil mereka.


"Kerahkan tim menyusul mobil lainnya, aku yakin semua anak ada di dalam mobil tersebut. Mereka pergi menuju timur!"


Dia berkata lagi. Zena berpikir sejenak sebelum menarik tangan Cheo untuk pergi meninggalkan tempat itu. Keduanya berlari, dan masuk ke dalam van. Jika mereka tetap di sana, polisi itu pasti akan menemukan mereka. Zena malas berurusan dengan aparat.


Gegas menghidupkan mesin mobil dan pergi tanpa suara. Jalanan berkelok dan sedikit menanjak, membuat Zena mengemudi dengan hati-hati. Beberapa saat kepergian mereka, polisi-polisi itu tiba di lokasi Zena berkemah. Mereka menemukan sekumpulan mayat dengan luka tebasan dan hantaman benda tumpul. Mayat-mayat itu dibawa dan akan diperiksa oleh tim forensik.


"Sepertinya baru saja terjadi pertarungan di tempat ini, melihat dari darah yang masih segar ini," ucap salah seorang setelah menjumput setetes darah dan menciumnya.


"Kau benar. Hebat sekali orang yang berhasil mengalahkan preman tak berhati seperti mereka ini. Aku jadi ingin tahu siapa orangnya?" celetuk yang lain dengan mata yang berbinar takjub.


"Sepertinya mereka dua orang. Lihat bekas luka di tubuh mereka, sebagian tersayat benda tajam dan sebagian lagi dihantam benda tumpul." Seseorang berspekulasi.


Mereka menyusuri area sungai tersebut untuk mencari bukti lain dari hilangnya anak-anak di dalam box. Mengira semua anak disatukan dalam box dan yang terjun di jurang hanya untuk mengalihkan perhatian mereka saja.


Sementara Zena yang sudah berada di jalanan utama, menarik napas lega karena telah terlepas dari para polisi di tepi sungai itu.


"Kau dengar yang dikatakan orang-orang tadi? Mereka membawa anak lainnya ke timur. Kita akan menyusul mereka," ucap Zena.


Cheo mengangguk mengerti, dia menoleh ke belakang memeriksa keadaan semua anak. Mereka terlihat buruk, sebagian ada yang tertidur mungkin lelah. Sebagian lagi terus memperhatikan Zena dan Cheo. Dialah anak yang baru saja bangun dari pingsan.


"Ada apa? Kenapa kau terus menatap kami seperti itu?" tanya Cheo sedikit tak senang.


Wajah bocah itu terlihat serius, matanya menyipit menyelidik. Seolah-olah mereka berdua adalah penjahat yang perlu dicurigai.


"Tidak ada. Aku hanya teringat cerita ayahku, dia pernah mengatakan dulu ... sangat dulu saat dia kecil pernah ada seorang gadis kecil pemberani yang tak segan menumpas kejahatan. Hanya itu saja," katanya pasti.


Bola mata kecil itu bersinar memancarkan kejujuran hatinya. Dia polos, lugu, tapi terlihat pemberani.


"Kau terlihat pemberani, tapi kenapa kau tadi pingsan?" selidik Cheo dengan kerutan di dahinya yang kentara.


Anak itu mendengus sambil berpaling muka. Sekilas wajahnya memperlihatkan rasa malu, kedua belah pipinya bersemu merah.


"Aku phobia api," lirihnya pelan.


Cheo mengernyit, menghendikan bahu tak acuh seraya berpaling ke depan. Memperhatikan Zena yang serius mengemudi, matanya fokus lurus ke depan memindai sekitar.


"Aku tahu, kita akan ke timur. Di sana terdapat sebuah pelabuhan kapal yang menghubungkan antara negara," jawab anak itu tak terdengar keraguan dari nada suaranya.


"Kau dengar, Kak? Mobil yang membawa anak-anak itu kemungkinan menuju pelabuhan. Mereka akan menyebrang," ucap Cheo memberitahu Zena.


Gadis itu mendengarnya, melirik semua anak lewat spion tengah memastikan keadaan mereka.


"Pegangan! Kita akan mengebut," perintah Zena seraya menginjak pedal gas lebih dalam lagi.


Mobil bertambah cepat, anak-anak yang duduk di atas ranjang mencari apa saja untuk dijadikan pegangan. Mereka mengunci rapat mulut agar tidak berteriak karena Cheo yang memintanya.


"Apakah mobil yang di depan itu?" tanya Zena.


Matanya yang begitu awas dapat melihat sebuah kontainer melaju dengan lambat di depan jalannya.


"Benar! Itu mereka!" seru bocah tadi dengan lantang.


"Baiklah, misi penyelamatan dimulai! Bersiaplah anak-anak!" Zena mempercepat laju mobil mengejar mobil di depannya.


Jalanan sempit menjadikannya tak bisa menyalip, jadilah hanya membuntuti di belakang mobil tersebut. Sialnya, tak ada yang menggantikannya mengemudi. Meminta Cheo untuk menerobos masuk ke dalam sana, rasanya itu tidak mungkin.


"Kakak, mobil itu .... Apa mereka tahu kita membuntuti?" tanya Cheo sembari memperhatikan laju mobil di depannya.


Tak lama, kontainer itu berhenti. Buru-buru Zena menginjak rem sebelum terlalu dekat. Dua orang bersenjata laras panjang turun, mengitari kontainer sebelum mendekati mobil mereka.


Moncong senjata itu diketukkan pada kaca jendela mobil, meminta Zena untuk turun. Cheo menutup penghalang, berkumpul bersama anak-anak yang lainnya. Dia meminta mereka untuk bersembunyi di bawah ranjang yang berdekatan dengan kandang Tigris.


Pintu mobil terbanting, Zena melangkah turun tanpa segan.


"Truk mu menghalangi jalanku. Bisa kau pindahkan?" ucap Zena menunjuk kontainer yang menghabiskan jalan.


Dia pandai menutupi kegugupannya .Laki-laki itu melirik ke depan, memang benar mobil raksasa itu menghalangi jalan.


"Periksa mobilnya!" titah yang lain.


Laki-laki bersenjata itu memutari van milik Zena. Sebisa mungkin dia menahan diri, menyembunyikan rasa cemas yang memenuhi hatinya. Zena mengepalkan kedua tangan di belakang tubuh, mencoba bersikap biasa saja di depan laki-laki lainnya.


Pintu dibuka, tepat saat laki-laki itu hendak menaikinya Tigris muncul sembari menampakkan taringnya yang tajam. Dia mundur, melongo sebentar ke dalam memastikan isi mobil Zena. Terus berjalan mundur dan menutup pintunya kembali. Melaporkan keadaan mobil tersebut kepada temannya.


Tanpa berucap, dia mengajak rekannya untuk pergi. Masuk kembali ke dalam truk dan menjalankannya. Zena menghela napas lega.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Zena tanpa membuka penghalang.


"Kami baik-baik saja, Kak," jawab Cheo. Tigris kembali ke kandang dan anak-anak itu keluar dari tempat persembunyian mereka.


Perjalanan berlanjut, ditemani deburan ombak di lautan. Angin laut yang kencang, mengingatkan Zena pada pulau yang dia tinggalkan. Beberapa saat mengemudi Zena mengernyit saat melihat kontainer itu berbelok memasuki area perbukitan.


Tak akan mungkin dia mengikuti mereka dengan mobil itu, bukan? Terpaksa Zena terus melaju dan mencari tempat aman untuk menyembunyikan mobilnya. Hutan memang selalu menjadi rumah untuknya, di mana ada hutan di situ dia menemukan rumah.