Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Membebaskan Pulau



Dentuman besar menggema di seluruh bumi kota Elang, api membumbung tinggi ke langit, awan hitam mengepul di udara. Zena mendongak, kecemasan seketika melanda hatinya.


"Sebentar, aku akan memeriksa keadaan. Kalian tunggulah di sini," pinta Zena pada semua orang.


Ia berlari ke tepi hutan, memanjat pohon paling tinggi hingga ke puncaknya. Bukit hijau sudah terlihat, tapi ia tak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di pelabuhan. Zena memutuskan turun kembali, dan menghampiri mereka semua.


"Bukit hijau ada dibalik hutan ini, apa kalian akan tetap di sini atau pergi ke sana bersamaku? Aku tidak dapat memastikan apa yang sedang terjadi di pulau," tanya Zena pada semua orang.


"Aku akan ikut bersamamu, Zena, tapi aku tidak ingin Nira dan Barry terlibat," ucap Ciul dilema.


Zena mengerti, pandangannya beralih pada Nira yang mendekap anaknya.


"Kak Nira akan tetap di bukit, Tigris yang akan menjaga mereka juga dua orang penduduk aku minta untuk tinggal. Ciul, kita bisa membiarkan mereka beristirahat di rumah kedua orang tuaku," ucap Zena yang diangguki oleh laki-laki itu.


Ciul hampir melupakan tempat itu, padahal dia sendiri yang membangunnya. Semua telah diputuskan, mereka mulai bergerak meninggalkan hutan. Sebagian menuju bukit hijau, Tigris memimpin rombongan Nira menuju bangunan yang tak jauh dari bukit. Tempat peristirahatan terakhir ayah dan ibu Zena.


Cheo memanjat pohon tertinggi, sedangkan Zena menapaki bukit bersama Ciul dan sebagian penduduk.


"Kapal-kapal mereka terbakar, kemungkinan serangan besar-besaran terjadi malam ini," ucap Zena sambil menatap api yang terus menjilat-jilat udara.


Ia bergegas turun menghampiri Cheo yang sedang merayap turun dari pohon. Malam kelam, tak menjadikan pandangan mereka memburam.


"Apa yang kau dapatkan, Cheo?" tanya Zena setelah bocah itu menapak daratan.


"Aku melihat para mafia itu sedang menghancurkan rumah-rumah penduduk, Kak. Banyak anak-anak dan wanita dijadikan sandera, dan para lelaki siapa saja yang melawan akan langsung ditembak mati," jawab Cheo meski sedikit ragu, tapi ia tetap harus mengatakannya.


"Kau yakin?" Zena memastikan informasi yang diberikan Cheo.


"Aku tidak tahu karena jaraknya sangat jauh, tapi aku yakin para mafia itu sedang melakukan sesuatu pada para penduduk di pulau ini," jawab Cheo dengan tegas.


Zena mendongak sembari menghela napas panjang. Pandangannya menatap rembulan yang menggantung di langit malam.


"Baiklah, kita harus membagi diri menjadi tiga kelompok. Aku akan pergi sendiri, Ciul bawa sebagian orang dan pergi ke arah Timur, Cheo dan sisanya pergi ke arah Utara, kita bertemu di tengah pemukiman warga," ucap Zena serentak dilaksanakan oleh mereka.


Ciul dan beberapa orang penduduk, pergi ke ujung Timur pulau. Cheo melakukan penyerangan dari bagian tengah, dia sendiri akan langsung ke tempat yang disebutkan Cheo tadi. Zena melangkah menyusuri tepi pantai, di laut api masih berkobar tinggi. Ia nampak tenang dan santai, berjalan perlahan tanpa tergesa-gesa.


Gerbang desa yang dibuat permanen dari semen, menyambut kedua matanya. Hiruk-pikuk suara penduduk bercampur dengan tangisan juga jeritan dari wanita dan anak-anak. Zena mulai berlari, mengambil busur berikut anak panahnya. Ia membidik seorang mafia yang sedang menodongkan senjata di kepala kepala desa. Yang tak lain adalah pak Karim, ayah Ciul.


Syut!


Cleb!


Panah itu tepat mengenai lehernya, ia terjatuh tanpa nyawa membuat semua orang terperanjat. Tak hanya para mafia, tapi juga para penduduk yang seketika terdiam meski isak tangis masih terdengar. Zena berbelok ke sebuah tikungan, memanjat rumah-rumah penduduk dan berlari di atas atap.


Ia kembali membidik, tiga anak panah diluncurkan sekaligus, dan menancap di masing-masing kepala mafia. Zena menarik samurai sebelum melompat turun sambil menebas kepala mafia yang berada di jarak serangnya. Tubuh lincah itu mendarat nyaris tanpa suara tepat di hadapan pak Karim.


"Ze-zena?" Pak Karim meneguk ludah gugup dan takut melihat darah yang terus menetes dari samurai gadis itu.


Untuk seumur hidupnya, dia tidak pernah melihat sisi bengis Zena. Gadis yang mereka hormati sebagai satu-satunya keturunan pahlawan di pulau Liman itu.


"Siapa kau? Beraninya menganggu kami?" bentak salah satu mafia sambil mengangkat golok di tangan.


Ia mulai melangkah, menyeret samurainya yang berdarah. Cairan merah terus menetes meninggalkan jejak di atas pasir pulau tersebut.


"Berhenti di sana! Atau-"


"Atau aku cincang tubuh kalian semua jika berani menyentuh mereka seujung kuku kalian!" tegas Zena tak segan melompat sambil mengayunkan samurai.


Trang!


Bunyi besi beradu menciptakan percikan api di udara.


"Serang!"


"Maju!"


Suara Ciul yang lantang membuat pak Karim merasa lega sekaligus cemas secara bersamaan. Anaknya itu berlari dengan membawa senjata tajam di tangan bersama beberapa orang.


Tak lama, menyusul Cheo yang dengan cekatan mengamankan para penduduk dari arena tempur.


"Anakku! Anakku di sana, dia di sana. Tolong selamatkan dia!"


Seorang wanita muda memohon sambil menangis kepada Cheo yang membawanya pergi ke perkumpulan penduduk. Tangan wanita itu menunjuk pada seorang anak kecil yang sedang menangis sendirian mencari Ibunya. Kedua mata Cheo membelalak saat melihat seorang mafia mendekati anak tersebut.


"Pergilah ke sana, aku akan menyelamatkan anakmu!" pintanya seraya berlari menuju tempat di mana anak itu berada.


Namun, langkah kaki Cheo kalah cepat, mafia itu sudah sangat dekat dengannya. Ia berniat mengambil anak tersebut sebagai sandera agar Zena lengah, tapi sebelum tangan itu berhasil menggapai tubuh si anak, sebuah samurai mendahului menebas tangannya hingga putus dan terlempar jauh. Zena melompat sambil menyambar tubuh anak kecil itu, dan melemparkannya ke arah Cheo.


Seperti sebuah boneka, hal itu mengundang jerit kengerian dari ibu si anak. Namun, bocah sekecil Cheo, nyatanya mampu menangkap tubuh anak itu dan bergegas menghampiri ibunya. Zena tak memberinya waktu untuk merintih dan mengeluh, dia melayangkan samurai memisahkan kelapa dengan tubuhnya.


Pak Karim rasa tak percaya, gadis kecil polos dan lugu yang pernah bekerja di ladangnya, memiliki sisi kejam seperti gadis di hadapannya kini. Namun, kembali lagi, semua itu bukan tanpa sebab Zena lakukan. Ia melakukan itu untuk membela semua penduduk dan membebaskan pulau dari ancaman para mafia.


Terlebih saat netra tuanya menangkap sosok kecil yang tak kalah brutal mengayunkan nunchaku di tangan. Seharusnya dia ketakutan dengan tubuhnya yang kecil, juga usia yang mungkin saja seusia cucunya itu, tapi Cheo tidak terlihat seperti anak-anak kecil yang lain. Disaat mereka semua menangis ketakutan, bocah itu justru berlari ke tengah arena perang.


"Luar biasa!" Tanpa sadar ia bergumam kagum pada sosok kecil itu.


Bibirnya tersenyum menatap satu-satunya anak lelaki yang dia miliki. Ciul nampak gagah melawan para mafia meskipun Zena masih menjadi pelindungnya.


Satu per satu para mafia jatuh tanpa nyawa, tapi beberapa penduduk mengalami luka di tubuh mereka. Sebagian bahkan terluka cukup besar karena sayatan senjata tajam.


"Ayah?" Ciul berlari menghampiri pak Karim, memeluknya sambil menangis. Lega rasanya melihat laki-laki tua yang dia sayangi dalam keadaan baik-baik saja.


"Ayah bangga padamu, Ciul!" katanya sambil menepuk-nepuk bahu Ciul.


"Satukan mayat mereka dan lempar ke laut. Biarkan mereka menjadi santapan ikan-ikan di pulau." Suara lantang Zena menggema.


Para penduduk turut membantu, membawa satu demi satu jasad para mafia dan membuangnya ke laut.


"Bawa mereka yang terluka ke rumah-rumah penduduk untuk diobati. Aku harus segera pergi!" perintah Zena lagi.


Ciul tidak bisa menerima, tapi mau bagaimana lagi? Kota membutuhkan dirinya. Setelah menjemput Nira dan Barry, ia mengobati para penduduk yang terluka, sedangkan Zena pergi bersama Cheo dan Tigris menuju pulau selanjutnya. Pulau Loa.