Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Arabella



Di posisi Arabella, gadis itu kebingungan saat suara-suara gaduh mengusik sel tempatnya dikurung. Ia yang sepanjang siang dan malam terus menangis, dikejutkan oleh kedatangan para mafia yang mendorong pasukan Chendrik ke dalam sel dan membebaskan semua tawanan markas.


Pasukan wanita juga laki-laki dipisahkan di sel berbeda. Banyak di antara mereka yang terluka bahkan ada pula yang memiliki luka gores bekas sayatan senjata tajam. Bella mendekat, di sampingnya dikurung adalah kelompok pasukan perempuan.


"Apa yang terjadi?" tanya Arabella teringin tahu, ia menyusut air matanya dengan cepat begitu salah seorang dari mereka menoleh.


"Ketua! Markas diserang, Master Chendrik menjadi tawanan juga master Adhikari. Semua sudah musnah, kita sudah kehilangan rumah," jawabnya sambil berderai air mata.


Markas itu tak hanya sebuah tempat latihan dan tempat melaporkan misi, tapi juga sebagai rumah tempat mereka berlindung dari hujan dan panas. Tempat mereka kembali pulang dari lelahnya pekerjaan, tempat mereka bersembunyi dari kejaran dunia yang tak pernah usai.


Kenapa?


Hampir seluruh anggota markas adalah anak-anak terlantar di kota Elang sebelum direkrut pemimpin terdahulu. Kecuali, Chendrik yang memiliki latar belakang berbeda dari yang lainnya. Mereka yang tidak memiliki orang tua, tidak diketahui sanak saudaranya, diambil pemimpin terdahulu dan diberikan pelatihan secara khusus. Lalu kemudian dijadikan satu pasukan yang dapat diandalkan.


Adhikari salah satu pemimpin yang melakukan hal itu, ia seperti seorang Ayah bagi semua pasukan yang ada. Dihormati, disegani, dan sangat disanjung tinggi. Salah satu yang pernah merasakan kasih sayang juga perhatian darinya adalah Arabella. Seorang anak terbuang yang tidak diketahui di mana keluarganya.


Ditemukan Adhikari sedang mengais-ngais sampah mencari sesuatu yang layak dijadikan uang. Laki-laki tua itu membawanya ke markas, memperkenalkan tentang kehidupan di dalam sana. Hingga pada akhirnya, dia berjanji akan mengabadikan diri pada markas karena pertolongan itu. Namun, kini ia melupakan itu semua, lupa pada jalan kehidupannya sehingga bisa sampai seperti saat ini.


Mendengar kata rumah, Arabella menangis. Ia berbalik dan meluruh di lantai sambil tersedu-sedu. Rasa sesal menumpuk di hatinya, mungkin sebab itu Chendrik tidak memberinya hukuman nanti karena ia tahu Arabella salah satu anak yang diasuh secara langsung oleh Adhikari.


"Maafkan aku, maafkan aku, Ayah. Aku menyesal, benar-benar menyesal. Maafkan aku," rintih Arabella terdengar pilu.


Ia tak peduli jika pun menjadi cibiran pada akhirnya, ia tak peduli mereka akan menganggapnya hina. Jika diberi kesempatan dia hanya ingin meminta maaf pada laki-laki tua itu.


"Sudahlah, Bella. Semuanya sudah berlalu, sekarang yang harus kita lakukan adalah membela markas kita sampai titik darah penghabisan. Kau harus membuktikan jika kau benar-benar menyesali semuanya. Kita akan sama-sama berjuang," ucap ketua tim Elang merah yang menggantikan dirinya.


"Aku tidak tahu, apakah Ayah kita akan memaafkan aku? Aku takut dia tidak bisa menerima lagi keberadaanku. Aku takut," lirihnya bergetar.


Mereka saling memandang satu sama lain, melihat kejujuran dan ketulusan dari sosoknya, mereka merasa iba. Arabella mungkin dibutakan rasa cintanya terhadap Chendrik sehingga nekad melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu.


"Semua orang pernah melakukan kesalahan, dan semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya itu. Sama seperti dirimu, buktikan kepada Master bahwa kau benar-benar menyesal," ucapnya lagi menyokong Arabella yang rapuh.


Satu per satu mereka mulai menguatkan hati, menguatkan Arabella yang sedang terpuruk. Meyakinkan satu sama lain untuk saling menyokong. Arabella mengangkat wajah, tekad terpancar di maniknya yang terang. Ia menyusut air matanya seraya menguatkan hati.


"Kalian benar, aku tidak boleh lemah. Markas sedang membutuhkan kekuatan, mari kita bantu markas membebaskan diri dari cengkeraman para penjahat itu," tekad Arabella yang diamini oleh semua prajurit.


Berselang, seekor elang menerobos masuk dari celah-celah ruang tahanan, hinggap di antara sel laki-laki dan perempuan. Sang penguasa langit itu membawa sebuah gulungan di paruhnya yang diletakan di dalam sel laki-laki. Elang itu terbang kembali.


"Kalian dengar, ini perintah dari Master ...."


Ketua dari laki-laki itu menjelaskan apa yang harus mereka lakukan selama berada di dalam kurungan. Ternyata untuk melarikan diri dari tahanan itu cukup mudah, tapi rencana itu mereka simpan dan mengikuti rencana yang dikirimkan Chendrik.


"Arabella, kami tahu kau adalah yang terkuat dan terbaik di antara kami. Kami mengandalkanmu untuk memimpin misi ini," ucap salah satu dari mereka yang diangguki oleh yang lainnya.


Semakin besar tekad dalam hatinya untuk membantu membebaskan markas dari para mafia. Ia mengangguk pasti, memulai rencana sederhana yang berkaitan dengan rencana Chendrik. Pertama-tama mereka harus bisa mengobati teman yang terluka. Memulihkan kondisi mereka yang lemah. Agar saat dibutuhkan kelak mereka sudah siap berperang.


Mereka membuat kegaduhan di dalam sel, saling menyalahkan satu sama lain. Saling berdebat sehingga mengundang perhatian dari para mafia yang berjaga.


Bunyi besi beradu tak juga membungkam kegaduhan itu. Mereka terus saja beradu mulut sampai-sampai membuat penjaga itu jengah.


"DIAM!"


Suara bentakan itu menggelegar memenuhi langit-langit ruang tahanan, mereka semua bungkam dengan dada naik-turun yang cepat. Semua mata tertuju pada penjaga yang melangkah pelan-pelan sambil mengawasi tahanan di kanan dan kirinya.


"Kalian dilarang berbicara sepatah kata pun. Tidak ada yang mengizinkan tahanan untuk berbicara. Diam dan tutup mulut kalian jika tidak ingin kematian datang lebih cepat," ucapnya serius.


Kedua matanya melotot lebar, hampir-hampir biji manik itu melompat keluar. Urat-urat saling berlomba menonjolkan diri di leher dan pelipisnya, menandakan ia tangah kesal.


"Benarkah? Siapa yang melarang seorang tahanan untuk berbicara?" Sebuah suara menyambar di telinga, suara yang datang tepat di belakang tubuhnya.


Ia berbalik, tanpa sempat berteriak Arabella memberikan pukulan telak di bagian lehernya. Penjaga itu jatuh tak sadarkan diri, dua orang laki-laki keluar dan menyeret tubuhnya masuk ke dalam sel. Arabella pun turut kembali memasuki selnya.


Seorang ketua dari tim laki-laki membongkar pakaian si penjaga dan memakaikan pakaiannya. Ia sendiri memakai pakaian tersebut dan berlagak layaknya para mafia yang memeriksa ruang tahanan. Ia keluar, sempat memukul sel tahanan sebelum melenggang dari ruangan tersebut.


Sementara penjaga yang asli, diikat dan dibungkam kuat-kuat mulutnya. Mereka meletakkannya di pojokan agar tidak terlihat oleh penjaga lain.


"Bagaimana? Apa yang mereka ributkan?" tanya penjaga lain yang bertugas di luar.


"Tidak ada, hanya saling menyalahkan satu sama lain," jawabnya dengan tenang meski harus terus waspada khawatir akan dikenali.


"Baguslah, orang-orang lemah hanya bisanya saling menyalahkan satu sama lain," katanya sambil menyantap sebuah roti kukus yang masih mengepulkan asap.


Ketua yang menyamar itu menggeram kesal, ia mengepalkan tangan marah, tapi harus bisa menahannya.


"Ugh, perutku sakit. Kau tahu di mana toiletnya?" Ia berpura-pura meringis sambil memegangi perutnya.


"Itu karena kau terlalu banyak minum, di sana lurus saja dan belok kiri. Kau akan menemukan toiletnya," ucapnya sambil terkekeh-kekeh senang.


Ia mengangguk dan terus berlari menuju toilet. Bukan toilet tujuannya, tapi ia harus pergi ke ruang kesehatan untuk mengambil obat-obatan. Ia kembali berpura-pura memasuki ruangan tersebut dengan sikap yang biasa. Banyak penjahat yang hilir mudik ke ruang itu untuk mengobati luka-luka mereka.


Enak saja kalian menggunakan peralatan dan obat-obatan kami, lihat saja aku akan membawa ini semua setelah kalian pergi.


Ia menggeram sambil memperhatikan gerak-gerik para mafia yang berada di ruangan tersebut. Dia berpura-pura memasuki sebuah ruangan, menunggu semua orang keluar. Para prajurit di dalam tahanan membutuhkan obat-obatan juga makanan dan minuman.


"Jangan gunakan semua, kita akan membutuhkannya lagi nanti. Sebaiknya, kita memastikan mereka yang terluka," ucap salah satu dari mereka diikuti suara langkah yang meninggalkan ruangan tersebut.


Ketua itu keluar berjalan pelan, mengambil sebuah tas dan memasukkan semua yang diperlukan ke dalamnya. Ia menyimpan tas tersebut ke balik pakaiannya sebelum keluar menuju dapur.


"Tunggu! Apa yang kau lakukan di sini?"


Deg!