Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Berakhir



"Sial! Hanya dua orang saja, tapi sangat merepotkan," ucap sang ketua dengan napas tersengal-sengal.


Mereka telah melawati pertarungan yang sengit, mayat para mafia itu terkapar di ruangan menyisakan sang ketua laki-laki dan kelompok macan putih. Chendrik melawan sang ketua dan Zena melawan kelompok macan putih.


"Tiga!" seru Zena sambil tertawa tanpa beban. Gadis itu bahkan masih bernapas normal meski telah menghabisi seluruh pasukan mereka.


Tigris mengaum mengingatkan mereka bahwa dirinya ada dan berhasil meninggalkan goresan di pipi sang ketua macan putih.


"Cih!"


Ia berdecih membuang ludah penuh benci. Tatapannya menyalang pada Zena. Di sekelilingnya semua orang tergolek tak bernyawa. Di antara mereka bahkan ada yang kehilangan anggota tubuh. Mengerikan, siswa dan guru yang tak biasa dengan pemandangan itu, tubuh mereka merespon cepat.


Ada yang memuntahkan isi perut, bahkan ada yang pingsan tak sadarkan diri. Wajah mereka memucat, melihat mayat menjadi trauma tersendiri untuk sebagian orang, tapi ada juga yang antusias dan mengagumi aksi keduanya dalam melawan sekelompok mafia.


"Rasanya aku ingin bergabung dengan markas besar itu," celetuk salah satu dari mereka.


"Mereka tidak akan mau menerima orang lemah dan penakut sepertimu," cibir Cheo memandang rendah siswa laki-laki yang asal bicara tadi.


Dia terdiam, apa yang dikatakan bocah itu benar. Dia memang penakut dan hampir-hampir mengompol tadi saat Tigris muncul secara tiba-tiba.


"Bagaimana rasanya melawan jenismu sendiri ... macan putih?" tanya Zena tersenyum mengejek ke arahnya.


Wanita itu menggeram, mengeratkan rahang kesal. Sayangnya, luka cakaran dari Tigris meninggalkan perih yang tak biasa. Wajahnya berkedut, seolah-olah tertarik dan saling mengalahkan.


"Banyak bicara!" Dia berlari diikuti tiga lainnya menyerang Zena secara berkelompok.


Di sisi lain, pertarungan antara Chendrik dan ketua mafia laki-laki masih berlangsung sengit. Kekuatan mereka imbang, saling menyerang dan menangkis menimbulkan bunyi dentingan besi yang tak biasa.


Zena bergeming di tempatnya, ia tetap tenang meskipun dikelilingi oleh musuh. Auman Tigris menjadi nyanyian penyemangat untuknya, hewan besar itu menepi membiarkan sang ibu untuk menuntaskan peperangan.


Mereka menyerang secara bersamaan, tapi Zena dapat menangkisnya dengan mudah. Stamina mereka jauh di bawah Zena, saat mereka kehabisan napas Zena masih bersikap normal.


Pedang-pedang itu mengurungnya, Zena melakukan kayang sebelum mengangkat samurainya membuka jalan keluar. Empat orang itu termundur beberapa langkah, Zena melompat sambil mengangkat sebelah kakinya. Menerjang salah satu di antara mereka hingga terjungkal di lantai.


Samurai di tangan terlepas dan terlempar beberapa jengkal darinya. Zena menendang benda itu semakin menjauh dan dengan cepat mengayunkan samurai menebas lehernya.


"Argh!"


Tak hanya mereka yang menjerit, tapi tiga orang temannya ikut terperangah menyaksikan kekejaman seorang gadis kecil.


"Biadab! Kau iblis!" geram sang ketua bergetar.


"Aku sudah sering mendengar julukan itu dari mulut orang-orang seperti kalian. Orang-orang yang tak menyadari bahwa perbuatannya lebih kejam dari pada pembalasan. Kalian tidak sadar yang kalian lakukan itu, menculik para gadis, menjadikan mereka tawanan, menjual kegadisan mereka kepada laki-laki serakah di luar sana. Apakah tidak disebut kejam? Aku menghukum orang yang bersalah, tapi kalian ... aku tidak akan pernah memaafkan orang seperti kalian!" Zena menghunuskan samurai ke depan wajah sang ketua macan putih.


Mendengar kalimat yang diucapkan Zena, siswa dan guru yang sempat berpikiran betapa kejamnya seorang Zena yang tanpa segan memisahkan kepala seseorang dari tubuhnya, kini berpikir balik. Yang dikatakan Zena benar adanya, dia hanya menghukum orang-orang yang bersalah, dan perbuatan mereka tidak dapat dibenarkan akal pikiran.


"Mereka memang tidak pantas untuk dimaafkan!"


"Mereka pantas mati!"


"Habisi saja mereka!"


Sahut menyahut suara siswa yang menjadi tawanan bagai sekelompok lebah yang datang menyerang. Membuat ketiga macan putih kalang kabut dan hilang konsentrasi.


"Kalian dengar? Jadi, tak satupun dari kalian dapat melangkah keluar dari tempat ini dengan kondisi hidup!" ucap Zena sebelum berlari menerjang ketiga orang yang kembali bersiap melawannya.


Zena mengincar salah satunya sambil menangkis serangan lain yang datang. Mengayunkan samurai ke sana kemari, menyerang dan menangkis sekaligus. Salah satu dari mereka kehilangan samurai di tangan, terbang melayang dan menancap di salah satu sudut ruangan.


Ia tersudut, Zena bergerak ke arahnya. Menendang tubuh di pojokan itu hingga terjatuh di dekat semua siswa dan guru. Lalu, kembali fokus pada dua orang yang menyerangnya secara brutal.


Mereka tersulut, beramai-ramai beranjak mendekati gadis itu. Siswa yang masih sanggup mempertahankan kesadaran mereka setelah melihat mayat bergelimpangan di lantai dan darah yang menggenang.


"Tidak! Jangan! Ampuni aku, maafkan aku!" mohonnya sambil menangkupkan kedua tangan di dada.


Ia tak dapat menggerakkan kaki untuk bangkit, beringsut mundur sambil menjauh, tapi semua siswa telah mengepungnya. Menutup jalan untuk menghindar.


"Tidak ada yang sudi memaafkan penjahat kejam sepertimu!" ucap Mirah seraya menjambak rambutnya tinggi-tinggi. Ia mengayunkan tangan menampar kuat-kuat pipi wanita itu.


Dia menjerit, merintih, dan meringis. Menangis sambil terus memohon. Namun, mereka telah dikuasai amarah sehingga tak dapat berhenti memukuli tubuhnya. Wanita itu terkulai, tak bertenaga. Mati tak bernyawa.


"Kurang ajar kalian!" geram seorang yang melawan Zena. Dia berlari sambil mengangkat samurai tinggi-tinggi ke arah kelompok siswa itu, tapi Zena sigap memblokir jalannya.


Ia melompat menendang punggungnya hingga jatuh tersungkur mencium lantai. Samurai di tangan terlempar, semua siswa yang sempat ketakutan kembali mendapatkan semangat mereka. Melakukan hal yang sama pada wanita kedua. Cheo tersenyum, ia hanya duduk menonton bersama Ben yang tak dapat melakukan apa-apa.


Bocah ini, kenapa dia tidak ketakutan melihat banyak mayat dan darah?


Ben bergumam, untuk pertama kalinya mendapati seorang bocah terlibat dalam peperangan. Padahal, anak seusia Cheo hanya bisa menangis tatkala lututnya luka karena terjatuh.


"Mereka memang patut menerima hukuman," komentar Cheo dengan ringan. Ben meneguk ludah gugup mendengar suaranya yang kekanakan, tapi mematikan.


Tubuh Ben tersentak saat auman Tigris menyambut. Ia menoleh ke samping kiri, hampir menangis saat harimau itu pun menoleh ke arahnya. Pelan-pelan Ben memalingkan wajah menghindari tatapan manik keemasan milik Tigris.


Matilah aku! Kenapa harimau ini ada di sini? Tubuhnya secara spontan bergetar, hampir terkencing di celana.


"Ayo kita akhiri semuanya!" ucap Zena sambil berlari ke arah ketua macan putih yang terlihat kepayahan.


Tak ingin mengalah begitu saja, dia mengangkat samurai di tangan menangkis serangan Zena. Namun, samurai tajam itu justru mematahkan miliknya, meninggalkan goresan yang cukup dalam di bahu kirinya.


"Argh! Sial!" Dia membuang samurai dan memungut milik temannya. Meringis menahan sakit yang mendera bagian tangan kiri. Darah mengucur deras, membuatnya semakin lemah tak berdaya.


Tak lama, dia terjatuh berlutut dengan sebelah tangan berpegangan pada samurai yang ia tancapkan di lantai. Napasnya tersengal, semakin lama wajahnya semakin pucat. Zena diam menunggu, membiarkan ketua macan putih itu mengerang kesakitan.


Zena menggeram, mengingat dirinya yang hampir dilecehkan karena sempat tak sadarkan diri. Kemarahannya kembali muncul hingga tanpa sadar mengayunkan samurai menebas leher wanita itu.


Tak sempat merintih, apalagi meronta, kepala itu sudah terpisah dari tubuhnya. Jatuh menggelinding dan terus bergulir dengan darah yang menyembur deras hingga menabrak jasad salah satu temannya bersamaan dengan jatuhnya tubuh tanpa kelapa itu.


Jeritan histeris menggema, mereka menutup wajah takut. Napas Zena memburu, ia jatuh berlutut bertopang pada samurai di tangan. Bukannya ia tak lelah, tapi sebisa mungkin menahan diri dan tidak menunjukkan kelemahannya di depan musuh.


Chendrik berhasil mengalahkan ketua laki-laki itu. Golok di tangannya mengoyak perut si penjahat, hampir-hampir isi di dalamnya terburai keluar. Dia jatuh, tak lama mengejang dan diam tak berkutik.


Tigris mengaum, bersama Cheo hewan itu menghampiri Zena yang tertunduk dengan napas tersengal-sengal. Tigris menundukkan kepala, meminta Zena untuk menaikinya. Dengan susah payah, gadis itu beranjak dan menjatuhkan diri di atas tubuh Tigris bersama Cheo.


"Zena!" Chendrik datang dengan cemas.


"Kakak hanya lelah," ucap Cheo.


"Buka pintunya!" teriak Chendrik.


Pintu besar itu terbuka, Tigris dengan cepat memacu keempat kakinya meninggalkan gedung tersebut. Chendrik meminta semua siswa dan guru meninggalkan ruangan. Dia membantu Ben secara pribadi, memapahnya berjalan bersama yang lain.


Para mafia telah dikalahkan, tak satupun dari mereka yang tersisa. Kepala sekolah merasa lega karena banyak siswa yang selamat termasuk mereka yang hilang meskipun keadaan mereka sangat menyedihkan.


Para orang tua murid pun berdatangan mendengar kabar anak mereka yang ditawan para mafia. Orang tau Ben menjerit histeris melihat anaknya yang terluka. Polisi setempat datang dan mengamankan lokasi. Mengumpulkan mayat para mafia, sedangkan prajurit membawa rekan mereka ke markas.


Setelah ini apa yang akan dilalui Zena.


Petualangan di desa Hulu.