Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Memulai Rencana



Hari terus beranjak, merangkak menjemput senja. Zena berdiri di atas atap gudang tempat mereka bersembunyi, mengawasi sekitar yang dapat dijangkau kedua netranya. Warna cerah di langit perlahan memudar, semburat jingga samar terlihat di ujung Barat.


Zena mengangkat tangan, bersiul panjang memanggil sang elang. Di bawah, orang-orang yang berlalu-lalang mempersiapkan segala keperluan perang, mendongak penasaran apa yang dilakukan gadis tak biasa itu. Mata-mata mereka membelalak takjub dikala seekor elang besar muncul dari balik awan.


Sang penguasa langit itu menukik tajam, meluncur dari langit ke bumi. Betapa gagah hewan itu, sayapnya yang membentang nampak kokoh tak tergoyahkan. Zena menekuk tangan kanannya, memberikan pijakan pada sang elang untuk mendarat.


Secara serentak, mereka meneguk saliva dengan kedua mata tak berkedip. Khawatir kehilangan momen menakjubkan yang langka terjadi di depan mereka. Zena meletakkan gulungan kertas di leher sang elang, yang mereka tidak tahu apa isi di dalamnya.


"Menyelinaplah ke dalam markas, temukan Chendrik dan Paman. Ingat, jangan sampai mereka melihatmu. Aku mengandalkanmu," ucap Zena sebelum menerbangkan elang tersebut ke langit.


Ia mendongak dengan kedua tangan berpangku di belakang tubuh. Malam ini, rencana penyerangan akan mereka jalankan. Gadis muda berwibawa, aura kepemimpinan menguar kuat dari sosoknya. Dia benar-benar jelmaan sang legenda. Meski tak tahu seperti apa sang Ibu, tapi semua tingkah dan perilaku menyerupai dirinya.


"Dia benar-benar mengagumkan. Aku sangat menyesal karena lambat mengenalnya," gumam sang komandan yang tertangkap indera rungu Sebastian.


Mata sang Jenderal muda itu melirik sinis, beberapa saat lalu dia meremehkan gadis yang tanpa sadar dipujanya itu. Lalu, kini justru mengagumi sosoknya. Ingin rasanya dia mengumpat, dan berteriak soal usianya yang tak lagi muda.


"Memang pantas dia dihormati, dan lebih baik lagi jika bersanding dengan orang hebat sepertiku," lanjutnya semakin membuat jengah Sebastian.


"Sayangnya, semua itu hanya ada dalam khayalan saja. Hanya angan-angan semata yang berakhir menjadi keinginan terpendam." Sebastian tertawa seraya melenggang pergi.


Muak melihat wajah merah padam sang pimpinan karena kesal. Laki-laki berkumis itu menggeram, mengepalkan tangan dengan erat. Tatapannya mengancam punggung Sebastian yang menjauh perlahan. Zena masih berdiri di sana, bagai seekor burung yang menanti sang senja datang. Tegak bergeming, kokoh tak tergoyahkan.


Sang elang terus terbang di langit, mengawasi keadaan kota. Tanpa dicurigai karena di kota Elang itu ada banyak burung elang yang berkeliaran di langit. Berbaur dengan elang lain meskipun ukurannya cukup mencolok. Burung besar itu terbang menukik masuk ke dalam hutan, di sana ada sebuah jalan rahasia yang tersimpan rapi dalam ingatannya.


Elang itu meluncur tajam menembus tanah hutan, dedaunan kering yang menumpuk berterbangan kemudian jatuh ke tempatnya semula. Sebuah jalan bawah tanah yang pernah menjadi tempat persembunyiannya sewaktu sang tuan tiba-tiba menghilang.


Muncul di sebuah ruang pribadi yang tak diketahui siapa pun termasuk Chendrik sendiri. Ruang bawah tanah yang berdampingan dengan tahanan tempat Chendrik ditawan. Elang tersebut mengepakkan sayap perlahan, memindai keadaan. Ia tahu Chendrik berada di ruang bawah tanah karena sudah hafal bau tubuhnya.


Sang elang melesat masuk melalui celah penjara. Terus terbang dan berhenti di depan jeruji yang mengurung Chendrik dan Adhikari.


"Zena?"


Baik Chendrik maupun Adhikari, keduanya lekas berdiri menyambut kedatangan sang legenda. Pemimpin markas itu menjulurkan tangan keluar jeruji membiarkannya hinggap di sana. Sebuah gulungan kertas menyembul dari balik bulu-bulu lebat sang elang.


Chendrik mengambilnya dan membiarkan elang itu menapak lantai.


"Ini dari Zena. Dia meminta kita untuk bersiap, Master. Malam ini, dia akan datang melakukan serangan balik. Aku tidak menyangka, dia yang jauh di sana pun dapat membaca rencanaku," ucap Chendrik sembari mengulas senyum tipis terkagum pada sosok Zena yang cerdik.


"Aku sudah yakin dia akan datang, semua orang juga tahu jika kau tak mudah dikalahkan. Bahkan Zena yang tak melihat pun sudah dapat membaca isi pikiranmu. Jika kau menjadi suaminya kelak, jangan sekali-kali bermain serong di belakangnya, Chendrik," timpal Adhikari terkekeh-kekeh sendiri.


Ia mengadakan perkumpulan di ruang rapat markas, membahas senjata yang dimiliki markas Mata Elang dan berniat mengambil keuntungan darinya.


"Aku tidak menyangka mereka memiliki senjata lengkap di markas ini, kenapa tidak memanfaatkannya? Dasar orang-orang bodoh!" cela laki-laki bertubuh kerdil yang menjadi asisten Hirata.


"Kau benar, malam nanti kumpulkan semuanya. Aku ingin mengirim senjata-senjata itu ke negeri asalku," sahut Hirata disambut gelak tawa yang meremehkan.


"Ketua, apakah Anda tidak ingin memeriksa pemimpin markas itu?" tanya salah seorang dari mereka.


"Tunggu sampai besok, aku ingin membiarkannya merasa tenang di dalam penjara itu. Besok pagi, kita akan membawanya ke alun-alun kota. Lakukan eksekusi untuk dua orang itu di hadapan semua masyarakat kota Elang ini. Agar mereka tahu sedang berhadapan dengan siapa?" ucap Hirata dengan yakinnya.


Merasa puas dengan rencana sang ketua, mereka mengangguk-anggukkan kepala. Menuangkan wine ke gelas masing-masing dan bersulang untuk kejayaan yang mereka peroleh. Semua percakapan mereka didengar oleh sang petinggi markas yang menyamar secara tidak sengaja.


Ia bergegas pergi dari tempat tersebut, berniat mengambil senjata sebelum mereka. Mumpung keadaan sepi karena semua orang sedang berkumpul di ruang rapat. Ia menyelinap ke gudang senjata, memasukkan beberapa senjata yang berharga ke dalam sebuah peti dengan cepat dan menyisakan beberapa senjata biasa yang memiliki nilai rendah.


Ia membuka pintu sedikit, melongo ke sekitar memastikan orang-orang itu masih berada di dalam ruang rapat. Dengan gerakan cepat, pintu itu dibukanya dan mendorong kuat-kuat peti berisi senjata berharga milik markas. Tanpa menunggu, ia menuju ruang tahanan di mana semua prajurit ditahan.


"Mereka berencana mengirimkan semua senjata ini ke negeri asal mereka. Cepat amankan, kita akan sangat membutuhkannya untuk penyerangan nanti," ucapnya seraya mendorong peti tersebut ke dalam sel laki-laki.


"Apa? Berani sekali!" umpat salah satu dari mereka.


"Mereka sedang melakukan rapat. Jika dia bangun, bunuh saja agar tidak membuat kegaduhan," perintahnya sebelum keluar dari ruang tahanan.


Ia berencana mengunjungi ruang bawah tanah, tapi beberapa orang terlihat keluar dari ruang rapat. Beruntung, tujuan mereka berbeda. Ia melanjutkan langkah yang sempat tertunda, terburu-buru menuju ruang bawah tanah.


Dua penjaga di depan sel yang mengurung Chendrik tak sadarkan diri karena terlalu banyak menenggak minuman keras. Dengan mudah dia memasuki ruangan tersebut dan memberitahu semua yang dia dengar.


"Terima kasih, dan tetaplah berhati-hati. Malam ini, kita akan melakukan serangan balik. Tunggu kedatangan sang Master, kita akan menyerang dari dalam," titah Chendrik setelah mendengarkan dengan baik apa yang dia sampaikan.


"Baik, Master!"


Tidak menunggu lama, ia bergegas pergi dari ruang bawah tanah dan kembali ke ruang tahanan para prajurit. Menyampaikan perintah dari Chendrik dan menyusun rencana. Lalu, kembali berpura-pura berjaga di depan ruangan.


"Mmm ... mmm ...."


Mafia yang mereka tawan terbangun, ia menjerit-jerit tak jelas setelah mendapati tubuhnya terikat. Tanpa berkata, seorang di antara mereka menusuk jantungnya dengan belati. Tak menunggu lama tubuh itu menggelepar sebelum diam tak berkutik. Serangan balik sudah dimulai.